Wakil Rakyat Yang Merakyat

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Jumat, 10 September 2010
Kabar Konstituen » 13 Juli 2010 » Hit: 250
Wakil Rakyat Yang Merakyat

Tulisan pertama dari 2 tulisan

Banten – Menjadi wakil rakyat tidak hanya sebatas bertemu dan berjabat tangan dengan masyarakat, tetapi harus mengetahui dan merasakan langsung apa yang dialami masyarakat di pelosok-pelosok desa. Oleh karena itu, mengetahui isi hati masyarakat merupakan keniscayaan yang tak bisa ditawar. Bang Zul yang mewakili Serang dan Cilegon, mempunyai cara tersendiri untuk menyapa dan mengetahui kondisi konstituennya.

Tidak mudah memang menjadi wakil rakyat itu. Selain harus berjibaku dengan rutinitas di DPR, seorang anggota legislatif harus mampu membagi waktunya dengan para masyarakat yang diwakilinya. Masyarakat harus disentuh hatinya dan dipeluk keinginannya untuk kemudian diejawantahkan di parlemen. Sekretariat jenderal DPR RI telah mengalokasikan waktu khusus bagi para anggota legislatif guna menyabangi masyarakat, yaitu reses.

Dalam masa reses ketiga kali ini, guna menyerap aspirasi masyarakat, Bang Zul mengumpulkan semua Dewan Pengurus Daerah (DPD), Dewan Pengurus Cabang (DPC), dan Dewan Pengurus Ranting (Dpra) PKS se-Kabupaten Serang serta Kota Serang dan Cilegon untuk mendengarkan semua aspirasi dan keinginan masyarakat di bawah. Ini cara pertama yang dilakukan doktor lulusan Inggris ini. Tak lupa juga anggota legislatif tingkat kabupaten dan Provinsi juga turut nimbrung dalam serap aspirasi tersebut.

Pertemuan pertama digelar di DPD Kabuten Serang disusul kemudian pertemuan dengan DPD Kota Serang dan Cilegon. Dalam pertemuan ini, inti yang ingin dicapai adalah menyampaikan semua keluh kesah masyarakat terkait dengan keterwakilan mereka di parlemen. Hampir semua sama, dari penuturan DPD, DPC dan DPRa masyarakat umumnya ingin hidupnya lebih sejahtera. Selain itu, ada juga pertanyaan terkait dengan sering meledaknya tabung gas 3 kg yang merupakan bagian kerja Bang Zul di Komisi energi di DPR RI.

Cara pertama ini seringkali digunakan guna mengetahui suasana hati masing-masing kecamatan mengingat waktu reses yang tersedia begitu terbatas. Tiap perwakilan kecamatan itu kemudian melaporkan hasil investigasi mereka kepada Bang Zul. Sementara cara kedua adalah dengan mengumpulkan warga dalam satu forum diskusi dialogis untuk mendengar keluh kesah langsung masyarakat. Sementara cara lainnya adalah dengan mendatangi rumah warga tanpa sepentahuan warga yang dimaksud.

Dari tiga tipologi cara menyerap aspirasi ini, semuanya sudah dilakukan oleh Bang Zul. Cuma cara menyerap aspirasi dengan door to door ke setiap rumah warga masih kurang maksimal karena butuh waktu yang tidak sedikit. Sementara cara pertama dan kedua sering dilakukan bahkan di luar reses sekalipun.

Di sinilah kemudian dibutuhkan kemitraan sejati antara masyarakat dan anggota dewan. Kemitraan sejati ini merupakan sesuatu yang nicaya dalam menumbuhkan relasi yang mutualisme simbosis. Keterbukaan dan kerelaan waktu untuk terus berbagi menjadi syarat utama dalam membangun dan melestaraikan hubungan yang simbiosis mutualis itu. Inilah barangkali aplikasi nyata dari adagium berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, berat sama di pikul, dan ringan sama dijinjing.

Bang zul, seringkali datang menemui konstituennya. Bukan hanya saat reses, tapi di saat ada waktu lowong, doktor penyuka olahraga ini selalu menyapa masyarakatnya. Apalagi saat mencalonkan diri sebagai gubuernur Banten beberapa tahun silam, semakin memperkaya pengelamannya bahwa seorang politisi dan anggota dewan itu mesti dekat di hati rakyanya.

Pernah suatu ketika misalnya, saat berkunjung di pelosok Banten saat nyalon Gubernur, doktor berkaca mata ini sempat tidur di kandang sapi warga hanya karena ingin merasakan langsung beban derita masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Oleh karena itu, keinginan untuk terus dekat dengan masyarakat inilah yang terus digelorakan Bang Zul kepada kader-kader PKS di Serang dan Cilegon. (Bersambung). Adi Prayitno