Uang Pipis

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Rabu, 08 September 2010
Book Review » 02 Juni 2010 » Hit: 408
Uang Pipis
oleh: Prie Gs

Dalam berbagai kesempatan, saya senang membawa uang recehan. Saya baru mengerti jika darinya, saya bisa memungut berbagai kegembiraan. Di Solo misalnya, saya pernah naik becak dan memberi tambahan sedikit saja kepada pengemudinya, saya langsung dapat keramahan ekstra. Ia membungkuk dalam sekali, tersenyum ramah sekali, dan memanggil saya dengan sebutan gus, sebutan yang menyetarakan saya dengan anak kiai.

Pengalaman menggembirakan di Solo membuat saya ingin mengujinya di Yogya. Jangan-jangan hanya dengan menambah sedikit saja dari tarif yang ditentukan, di kota ini saya akan mendapat sebutan den, yang artinya raden. Jadi, dengan berbekal uang receh, saya akan mendapat gelar kehormatan setara dengan keturunan keraton.

Akan tetapi, meskipun saya senang dengan sebutan-sebutan itu, bukan benar-benar sebutan itu benar yang menjadi sumber kegembiraan saya, melainkan karena kegembiraan pengemudi becak itu. Ia menyebut saya Gus, pasti karena refleks kegembiraan dalam hatinya sendiri, sebuah kegembiraan yang serba tak terduga-duga datangnya. Meskipun ia sederhana, jika tak terduga, akan bikin kaget juga. Dan yang bikin kaget itu, kecil atau besar, jika ia berupa kegembiraan, dampaknya akan luar biasa. Jadi, kegembiraan itu murah sekali harganya. Sering hanya setara dengan duit recehan!

Pernah juga saya memberi seorang peminta-minta dengan jumlah yang tidak ia duga. Tidak besar, tapi sudah dianggap berlebihan baginya. Maka mata orang itu melotot, mulutnya komat-kamit. Setelah tersadar ia mendoakan saya menjadi orang kaya, selalu diberi kesehatan dan lancar rezeki. Saya menjadi optimistis sekali atas doa orang ini. Jangan-jangan jika saya kaya besok, benar-benar karena Tuhan mengabulkan doa pengemis ini.

Pernah pula saya memberikan tukang parkir dengan jumlah yang lebih dari semestinya. Tiba-tiba ia seperti hendak mengulur dirinya sebagai raksasa. Tangannya seolah-olah memanjang dan jika sanggup ia seperti hendak menutup jalan, tubuhnya seolah hendak mengembang demikian besarnya agar seluruh kendaraan jalan raya berhenti demi memberi saya jalan. Tukang parkir ini telah mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk melindungi saya. Ia membungkuk dengan khidmat dan dalam, seperti saya ini adalah presiden Indonesia.

Di mana pun, di ruang-ruang tunggu, mulai dari pompa bensin di terminal hingga bandara, sedapat mungkin saya menyempatkan untuk pipis. Karena tradisi ini membuat kegembiraan ganda. Pertama saya terdidik untuk tidak punya kebiasaan menahan pipis, sebuah kebiasaan yang pasti berbahaya. Kedua, saya belajar jujur dan tahu diri. Karena ada toilet yang menyediakan kotak kebersihan, meskipun tanpa penjaga. Setelah pipis, saya memang bisa pergi, tetapi kotak itu seperti melotot dan mengamati saya sebagai orang yang main gampangan. Yang mudah pergi begitu saja setelah hajatannya terlunaskan. Saya benar-benar pihak yang tidak tau rasa terima kasih. Padahal, saya tahu, berapa besar biaya operasi membuang batu ginjal dan betapa sakitnya penyakit gagal kencing. Mengisi kotak tanpa paksaan ini, pasti jauh lebih murah ketimbang harus tergolek di ranjang rumah sakit karena operasi gagal kencing.

Tetapi, yang lebih menggembirakan saya adalah ke toilet yang berpenjaga. Penjaga itu benar-benar seorang penjaga kebersihan dan bukan pemungut sumbangan, walau mereka tak menolak pemberian. Tapi, betapapun penjaga itu ada dan menunggu diberi tip, saya boleh pergi tanpa ia punya hak melarang saya. Tapi, memberi tip kepadanya, telah saya tetapkan sebagai kewajiban, tak peduli berapapun jumlahnya.

Kenapa? Karena jika jumlah tip itu kecil, tetap tak mengubah kesan di matanya, bahwa saya adalah orang dermawan dibanding orang yang cuma bisa kencing sambil ngeloyor begitu saja. Jika tip saya menurutnya berlebih, ia pasti bukan cuma menganggap saya sebagai si dermawan, tapi manusia luar biasa. Saya pun tergerak menganggap imajinasi ini sebagai target. Karena di matanya, saya sudah dibayangkan sebagai orang luar biasa maka suatu hari kelak, saya harus benar-benar memenuhi bayangannya!

*Dikutip dari Buku Prie Gs dalam Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia halaman 430-432.