Articles » 05 Oktober 2006 » Hit: 4945
Teknologi Dalam Ilmu Ekonomi
Dalam literatur ekonomi, pentingnya teknologi untuk pertumbuhan ekonomi telah disadari sejak lama. Freeman (1989) misalnya mengemukakan bahwa hanya ada sedikit ketidaksepakatan tentang pentingnya perubahan teknik dalam pengembangan ekonomi. Hampir semua aliran pemikiran ekonomi -Neoklasik, Keynesian, Marxis, Schumpeterian-menerima fakta bahwa pertumbuhan produktivitas sangat banyak tergantung pada pengenalan dan difusi produk dan proses baru yang efisien dalam sistem ekonomi (Huq, 1999). Berdasarkan survey intensif yang meliputi tigaperempat populasi dan pangsa pasar produk dunia, Madison (1994) mengemukakan bahwa mesin utama pertumbuhan ekonomi adalah kemajuan pengetahuan dan teknik yang diinvestasikan dalam sumber daya manusia dan barang modal.
Meskipun kontribusi teknologi kepada pertumbuhan ekonomi telah disadari sejak lama, selama ini ekonom sering mengasumsikan teknologi seperti black box (Rosenberg, 1982; Clark, 1990). Akibatnya masih umum dijumpai, teknologi masih sering direduksi maknanya sebatas mesin dan alat yang terpisah dari sumber daya manusia dan konteks sosialnya. Dalam pengertian ini teknologi didefinisikan secara statis. Teknologi adalah produk, suatu paket yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan dan institusi, dan dikonsumsi atau digunakan oleh pihak lain (Albu, 1997).
Kerangka konseptual yang melandasi pandangan statis ini didominasi oleh pendekatan neoklasik dalam ekonomi. Karena semua perusahaan beroperasi menurut fungsi produksi, usaha yang berhubungan dengan teknologi adalah memilih teknologi yang dianggap sesuai dengan faktor produksi lokal dan harga yang relatif tersedia. Semua perusahaan diasumsikan serta nerta dapat bergeser posisinya dalam fungsi produksi dalam merespon perubahan faktor produksi lokal dan harga relatif karena mereka mempunyai akses yang sama terhadap teknologi global yang tersedia dan dapat secara langsung mengoperasikan teknologi yang dipilih dengan efisiensi yang optimal (Rosenberg & Frischtak, 1985).
Mengikuti pemahaman neoklasik ini, Gerschenkron (1962) berpendapat bahwa negara yang sekarang terbelakang sebenarnya diuntungkan, karena mereka memiliki banyak pilihan teknologi yang dapat digunakan. Mereka tidak perlu lagi memikirkan proses impor dan penggunaan teknologi yang telah “proven” di luar negeri. Untuk mengejar dan mempercepat proses industrialisasi, negara berkembang hanya perlu mentransfer dan menggunakan teknologi yang diimpor dari negara maju.
Jika pasar teknologi berfungsi seperti pasar barang yang dapat ditransfer secara fisik, menghilangkan semua penghalang perdagangan teknologi sudah cukup untuk pembangunan basis teknologi yang optimal di negara berkembang. Tetapi transfer dan penyerapan teknologi tidaklah seperti membeli dan menggunakan barang. Tidak otomatis begitu dipasang langsung dapat berfungsi. Banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar negara berkembang tidak optimal dalam menggunakan teknologi industri. Mereka dengan kata lain tidak efisien secara teknis dalam menggunakan teknologi yang diimpor. Banyak teknologi industri di negara berkembang digunakan pada tingkat yang lebih rendah dibanding yang dilakukan di negara maju.
Menurut Lall (1992, 1993) ketidakefisienan teknis di negara berkembang dapat terjadi dalam beberapa bentuk :
• Ketidakmampuan untuk menemukan, memilih dan menegosiasi teknologi impor yang terbaik (meskipun harga pasar tidak terdistorsi) yang menyebabkan tingginya biaya modal dan rendahnya efisiensi produksi.
• Ketidakmampuan untuk menguasai, dalam bentuk statis, teknologi yang telah diimpor. Penggunaan teknologi masih dibawah tingkat efisiensi normal yang terbaik, membutuhkan banyak masukan untuk menghasilkan luaran tertentu atau yang berkualitas rendah.
• Variasi tingkat efisiensi yang banyak diantara perusahaan-perusahaan di industri yang sama. Ini berarti sumber daya dibuang percuma oleh perusahaan yang berada jauh dibawah tingkat teknologi perusahaan terbaik (yang mungkin saja masih berada dibawah tingkat normal efisiensi dunia).
• Kurangnya dinamika teknologi, kemampuan untuk beradaptasi dan meningkatkan teknologi dengan kondisi dan situasi kemajuan teknologi yang berubah, baik di dalam maupun di luar. Perusahaan di negara berkembang mungkin tetap pada tingkat terendah nilai tambah dari spektrum industri, tertinggal jauh di belakang teknologi terdepan seperti negara maju atau kondisi faktor yang berubah.
Tidaklah mengherankan jika pendekatan statis neoklasik terhadap pengembangan teknologi ditentang secara teoritis maupun empiris oleh pendekatan alternatif yang lebih dinamis, yang mulai muncul pada paruh tahun 70-an. Pendekatan baru yang lebih luas dari persepsi aslinya yang bertahan di tahun 60-an sampai 70-an ini dengan cepat berkembang terutama sejak tahun 80-an dan penyumbangnya antara lain Westphal (1982), Stewart (1984), Teitel (1984), Pack dan Westphal (1986), Dahlman, et al (1987), Enos dan Park (1987), Forsyth (1987), Lall (1987 dan 1992), Nelson (1987), Freeman (1989), Enos (1991), Huq et al (1992, 1993) dan Cooper (1994). Pendekatan ini dimasukkan dalam kategori institusionalis, strukturalis dan evolusionaris. Meskipun mereka semua menggunakan istilah yang berbeda seperti penguasaan teknologi, kapasitas teknologi, kemampuan teknologi, promosi teknologi, pengembangan teknologi, akumulasi teknologi, akuisisi teknologi dan seterusnya, terdapat konsensus tentang arti konsep secara umum, bahwa pengembangan teknologi adalah sebuah proses pembelajaran yang panjang (UN, 1987; Huq, 1999).
Kapabilitas Teknologi : Inovasi dan Difusi
Perubahan teknik di industri secara konvensional secara sederhana melibatkan dua aktivitas. Pertama, proses pengembangan dan komersialisasi awal dari sebuah inovasi yang strategis. Kedua, terjadi aplikasi yang lebih luas terhadap inovasi tersebut secara progresif di dalam suatu proses yang oleh ekonom sering diistilahkan dengan difusi. Aktivitas yang pertama diasumsikan lebih banyak terkonsentrasi di negara maju dan menjadi signifikan di negara berkembang ketika mereka mencapai teknologi dunia yang terdepan, tren yang semakin terbukti pada data terbaru di paten internasional oleh perusahaan-perusahaan di negara seperti Korea dan Taiwan. Sebelumnya negara berkembang diasumsikan hanya mendifusikan teknologi dan karena kegiatan ini hanya melibatkan usaha memilih dan mengadopsi teknologi yang ada, inovasi yang kreatif dianggap tidak relevan. Dari pandangan ini akumulasi teknologi di negara berkembang dilihat sebagai pelibatan teknologi yang tersimpan di dalam stol barang modal beserta pengetahuan pengoperasiannya dan spesifikasi produk yang diperlukan untuk menghasilkan produk tertentu dengan teknik tertentu pada tingkat efisiensi produksi yang terbaik (Bell dan Pavitt, 1997).
Bell dan Pavitt kemudian memberikan pandangan yang lebih realistis tentang sifat teknologi. Menurut mereka pemahaman tentang perubahan teknologi membutuhkan penolakan terhadap ide pembedaan antara inovator dan pengadopsi (Bell dan Pavitt, 1997). Pengadopsian teknologi yang berhasil melibatkan lebih dari sekedar pembelian mesin dan belajar petunjuk pengoperasiannya (Dahlman dan Westphal, 1982). Hal ini sebagian karena sifat tacit dari banyak teknologi yang membuat sulit atau mahal untuk secara efektif mengkomunikasikan keahlian dan pengetahuan yang digunakan untuk melakukan aktivitas yang kompleks. Ini berarti perusahaan tidak dapat bergeser dalam fungsi produksi tanpa adanya usaha (Lall, 1992) atau serta merta mengoperasikan teknik produksi pada tingkat yang optimal. Sehingga untuk perusahaan di negara berkembang transfer teknologi memang diperlukan, tapi itu saja tidak cukup. Pengadopsian dan penguasaan teknologi yang efektif membutuhkan akuisisi pengetahuan tentang seperangkat prosedur, pemahaman mengapa prosedur tersebut dapat bekerja dan keahlian dalam menggunakannya (Albu, 1997).
Menurut Bell dan Pavitt (1997) pengembangan inovasi dan difusi juga melibatkan proses di tingkat perusahaan dimana :
• Karakteristik dasar teknologi diadaptasikan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak tentu dari kondisi spesifik,
• Berbagai modifikasi lanjutan dapat meningkatkan teknologi dan atau mengadaptasikan diri terhadap perubahan masukan atau produk yang diinginkan oleh pasar bebas.
Bukti-bukti dari hasil studi yang cukup intensif tentang industri di negara maju dan negara berkembang mengindikasikan bahwa fase adaptasi membutuhkan aktivitas yang kompleks dan kreatif dan mempunyai potensi untuk menghasilkan peningkatan produksi dan keuntungan ekonomi (Hollander, 1965; Fonseca, 1987). Hal ini menyiratkan bahwa inovasi harus dipahami bukan sebagai penggerak utama dari perubahan teknik dalam produksi tetapi sebagai salah satu bagian dari proses integral yang terjadi di lingkungan perusahaan yang inovatif. Inovasi adalah salah satu diantara proses yang mencocokkan teknologi dan pasar (Freeman, 1982). Lebih jauh inovasi yang bertahap-adaptasi, modifikasi, penyempurnaan produk dan proses yang terjadi di perusahaan mungkin sama pentingnya secara ekonomi dengan investasi besar dalam mesin baru atau perubahan produk yang berasal dari luar perusahaan (Bienayme, 1986).
Usaha dan Mekanisme Pembelajaran Teknologi
Jenis peningkatan kinerja industri yang disebutkan di atas sering diartikan sebagai konsekuensi alami dari kegiatan produksi; hasil proses dari sebuah pembelajaran otomatis (learning by doing) (Arrow, 1962). Meskipun demikian studi tentang infant industry di negara berkembang (Bell et al, 1982) memperlihatkan bahwa pembelajaran tidaklah berlangsung secara spontan.
Perusahaan yang berhasil menguasai teknologi dan memulai proses inovasi bertahap melakukannya sebagai hasil pembelajaran yang intensif, lama, tidak otomatis dan tanpa usaha. Bahkan inovasi kecilpun membutuhkan berbagai keahlian, pengetahuan, kemampuan untuk mencari, memilih, mengasimilasi dan mengadaptasi teknik. Mengembangkan dan menjaga kemampuan tersebut membutuhkan usaha yang secara sadar dilakukan oleh perusahaan dan investasi sumber daya yang memadai (Albu, 1997). Jadi dapat dikatakan bahwa akuisisi kemampuan teknologi tidak hanya muncul karena pengalaman meski itupun penting. Ia datang dari usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja memonitor apa yang dilakukan orang lain, mencoba hal-hal baru, mengikuti perkembangan teknologi global, mengakumulasi kemampuan tambahan dan meningkatkan kemampuan merespon tekanan dan kesempatan baru (Dahlman & Westphal, 1987).
Jika kita menelusuri jejak dari pentingnya pembelajaran dalam analisis pengembangan teknologi, ia terinspirasi oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Nelson dan Winter (1982) dan dijelaskan oleh Nelson (1981, 1987) dan Dosi (1988). Prinsip dasar dari teori-teori ini adalah bahwa perusahaan tidak dapat dianggap beroperasi dalam fungsi produksi yang umum. Pengetahuan teknologi tidak dibagi secara sama diantara perusahaan atau terimitasi dan tertransfer secara mudah. Proses transfer memerlukan pembelajaran karena teknologi bersifat tacit dan prinsip-prinsip yang mendasarinya tidak diketahui secara jelas (Lall, 1992). Jadi hanya untuk menguasai teknologi yang membutuhkan keahlian, usaha dan investasi oleh perusahaan dan tingkat penguasaan yang dicapai tidak dapat dipastikan dan bervariasi diantara perusahaan tergantung masukan yang ada.
Memahami dan membandingkan studi-studi tentang akuisisi kemampuan tidaklah mudah sebagian karena sumber daya perushaan yang terakumulasi sangat luas dan sulit untuk dikategorisasi. Ia terdiri dari kemampuan manusia : keahlian, pengalaman, pengetahuan yang ada dalam diri manusia berikut sumber daya institusi : prosedur internal, petunjuk pelaksanaan dan struktur organisasi perusahaan dan hubungan luar yang terjalin dengan perusahaan dan institusi lain. Jebakan yang mudah muncul adalah mengasosiasikan teknologi hanya kepada aktivitas produksi seperti desain produk, proses manufaktur dan organisasi produksi. Meskipun demikian, studi tersebut mengabaikan pentingnya barang modal dalam suplai bahan baku dan distribusi produk (Lall, 1992; Bell, 1995; Albu, 1997).
Salah satu pendekatan yang umum adalah membedakan tiga tipe kemampuan yaitu : kemampuan produksi, investasi dan inovasi (Lall, 1992; Biggs et al, 1995; Albu, 1997; Romijn, 1999).
Kemampuan produksi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan pabrik dan proses secara efisien untuk memproduksi produk yang telah ada. Kemampuan ini membuat perusahaan dapat memonitor masukan bahan baku, mengatur produksi, mengawasi kualitas luaran, memelihara dan memperbaiki mesin dan secara umum berhubungan dengan persoalan sehari-hari. Kemampuan investasi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumber daya yang dibutuhkan perusahaan untuk memperluas fasilitas produksi, membeli dan memasang perlengkapan standar, juga untuk mencari, mengevaluasi dan memilih teknologi dan sumbernya untuk kegiatan produksi baru. Terakhir dan paling penting adalah kemampuan inovasi dan adaptasi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumber daya yang dibutuhkan untuk mengasimilasi, mengubah dan menciptakan teknologi melalui kegiatan perluasan modal, adaptasi dan modifikasi produk.
Meskipun demikian memberikan penekanan yang sama kepada ketiga kategori kemampuan tersebut menghilangkan dimensi penekanan yang berbeda. Lall menyoroti masalah ini ketika menjelaskan proses pengembangan kemampuan secara bertahap dan kumulatif. Secara umum kegiatan tersebut bermula dari kegiatan rutin yang sederhana dimana pembelajaran didasarkan pada pengalaman sampai kegiatan adaptasi dan imitasi yang kompleks yang membutuhkan fungsi-fungsi pencarian sampai kegiatan yang paling inovatif yang berdasarkan hasil riset yang lebih formal (Lall, 1992).
Bell dan Pavitt (1993) memperkenalkan pembedaan yang umum antara kemampuan produksi dasar dan kemampuan teknologi dinamis. Kemampuan produksi adalah kemampuan statis yang dimiliki perusahaan. Mengetahui kemampuan produksi sebuah perusahaan memberikan gambaran ringkas dari kemampuan perusahaan untuk menggunakan fasilitas produksi, membuat keputusan investasi yang standar dan memperluas proses yang telah ada. Kemampuan teknologi di sisi lain adalah kemampuan dinamis yang terdiri dari keahlian, pengetahuan dan petunjuk pelaksanaan dalam memulai dan mengelola perubahan teknik apakah itu menyangkut aktivitas produksi, investasi atau hubungan dengan perusahaan lain.

Tabel di atas menggambarkan perbedaan antara tipe-tipe kemampuan dengan memperlihatkan kegiatan-kegiatan pada setiap kemampuan.
Bell dan Pavitt menyebut proses pembelajaran dalam membangun sumber daya dinamis sebagai akumulasi teknologi atau pembelajaran teknologi (Bell & Pavitt 1993:164). Hubungan antara istilah dan konsep yang berbeda tersebut dilukiskan dengan skema di bawah ini :

Proses pembelajaran teknologi yang terdefinisi di atas jelas berbeda dari proses perubahan teknik meskipun yang terakhir sering melibatkan pembelajaran (sebagai contoh, teknik dan keahlian mengoperasikan).
Dengan menggunakan model konsep Bell dan Pavitt dengan mudah dapat dilihat bagaimana perusahaan dengan berjalannya waktu dengan seperangkat kemampuan teknologi akan mungkin memulai berbagai peningkatan kemampuan produksi. Peningkatan semacam itu mungkin penting bagi perusahaan dalam memodifikasi dan memperluas skala produksi. Perusahaan yang tidak mempunyai kemampuan teknologi sama sekali tidak akan dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya dan tidak akan bertahan lama. Jika model konseptual ini menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya maka tugas terpenting perusahaan dalam jangka panjang adalah pembelajaran teknologi ; akuisisi dan menguatkan kemampuan teknologi mereka (Albu, 1997).
Pada Gambar 1 hubungan antara pembelajaran teknologi, kemampuan teknologi, perubahan teknik dan kemampuan produksi digambarkan secara sederhana sebagai proses yang linear, A menuju ke B menuju ke C. Padahal secara umum diketahui bahwa proses pembelajaran yang baik lebih merupakan sebuah siklus. Sebagai contoh Van der Heijden (1996) misalnya menggambarkan siklus pembelajaran yang dibuat oleh Dewey, Deming, Kolb dan Kofman seperti terdapat pada Gambar 2.
• Kita memiliki pengalaman yang sebagiannya penting untuk kita. Pengalaman tersebut adalah apa yang kita persepsi sebagai akibat dari tindakan yang lalu.
• Kita merenungkan pengalaman-pengalaman itu, melihat apa yang telah diciptakan oleh tindakan dan dihubungkan dengan kejadian yang lain. Hasil dari perenungan ini adalah kesadaran akan pola dan tren baru dalam kejadian yang tidak kita ketahui sebelumnya. Perenungan terkait dengan kemampuan kita membedakan antara model mental kita dan persepsi realitas yang berbeda.
• Melalui hubungan sebab akibat kita mengembangkan teori baru tentang bagaimana ide kita tentang lingkungan perlu berubah sebagai hasil observasi dan perenungan. Mental model yang lama dan realitas baru terintegrasi dalam suatu teori baru.

• Kemudian kita menggunakan teori tersebut untuk merencanakan langkah-langkah baru dan secara efektif menguji implikasi dari teori tersebut dalam situasi yang baru dengan mengambil tindakan baru.
• Ini semua membawa kita kembali ke atas. Kita mendapatkan pengalaman baru akibat tindakan kita yang hanya sebagian bersinggungan dengan harapan kita.
Begitulah kita melakukan pembelajaran! Perenungan baru kita memperlihatkan bahwa teori kita memerlukan pengembangan lagi. Dan proses pembelajaran tersebut terus berjalan dan berputar.
Dengan analogi, proses siklus yang sama dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dalam organisasi dan perusahaan. Organisasi yang memonitor kinerjanya, menganalisis kekuatan dan kelemahannya, melakukan perencanaan strategis dan seterusnya akan lebih mungkin melakukan pembelajaran dan peningkatan daripada organisasi yang secara terus-menerus dalam kondisi reaktif dengan kondisi eksternal (Albu, 1997).
Mengkombinasikan pandangan siklus pembelajaran dengan sistem pembelajaran teknologi yang digunakan Bell dan Pavitt pada Gambar 3.1, Albu (1997) memberikan sebuah model siklus pembelajaran dengan dua inter-locked yang terlihat pada Gambar 3.
Dalam model ini siklus yang berada di bawah menggambarkan proses perubahan teknik. Pada bagian yang paling bawah kemampuan produksi digunakan untuk mengubah bahan baku material menjadi produk. Pengalaman produksi tertentu (umpan balik pengetahuan) mungkin didapat dari proses produksi dan digunakan untuk memperkuat proses perubahan teknik yang hasilnya adalah peningkatan dalam kemampuan produksi. Patut dicatat bahwa tanpa kemampuan teknologi untuk memulai dan mengelola perubahan teknik, umpan balik dari pengalaman produksi hanya memiliki nilai yang terbatas.
Salah satu kemampuan teknologi yang penting dalam konteks ini adalah kemampuan mengumpulkan informasi secara sistematis dari pengalaman produksi dan menggunakannya untuk menghasilkan pengetahuan tentang proses teknologi yang mendasarinya.
Siklus tersebut menggambarkan proses pembelajaran teknologi yang sesungguhnya. Kemampuan teknologi digunakan untuk menghasilkan dan mengelola proses perubahan teknik yang hasilnya adalah kemampuan produksi. Pengalaman perubahan teknik tertentu (umpan balik pengetahuan) didapat dari proses perubahan teknik dan digunakan untuk memperkuat proses pembelajaran teknologi yang hasilnya adalah peningkatan dalam kemampuan teknologi.
Jika akuisisi kemampuan teknologi adalah proses pembelajaran, maka muncul banyak pertanyaan menarik seperti :
• Apa yang menstimulasi dan membangkitkan proses pembelajaran?
• Umpan balik pengetahuan internal apa yang mendukung proses pembelajaran?
• Apa sumber daya eksternal atau masukan yang mendukung proses pembelajaran?
• Apa cara yang terbaik untuk melakukan proses pembelajaran?
• Dapatkah proses pembelajaran dipercepat?
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting ditanggapi seperti yang dinyatakan oleh De Geus (1997) bahwa proses pembelajaran yang alami sesungguhnya merupakan proses yang lambat.
Banyak sekali stimulus atau penyebab-penyebab pembelajaran teknologi seperti yang dikemukakan oleh Albu (1997) dan Romijn (1999) adalah seperti tekanan internal dan eksternal yang memotivasi perusahaan untuk meningkatkan kemampuannya. Perlu dibedakan antara stimulus umum untuk meningkatkan kemampuan produksi dengan stimulus khusus yang memicu perusahaan untuk melakukan peningkatan jangka panjang dalam kemampuan untuk mengelola dan menghasilkan perubahan teknik. Stimulus umum dapat timbul karena tekanan kompetisi jangka pendek atau perubahan permintaan, sementara stimulus yang khusus dapat timbul dari strategi manajemen, kesadaran akan tren jangka panjang atau bahkan kebijakan pemerintah.

Kemungkinan umpan balik pengetahuan internal telah dijelaskan dalam siklus pembelajaran di atas. Umpan balik yang sistematis dari proses dalam produksi dan distribusi memberikan sumbangan kepada proses perubahan teknik. Sebagai contoh, interaksi dengan konsumen dapat memberikan informasi tentang modifikasi produk yang diinginkan yang menuju pada peningkatan kemampuan produksi. Umpan balik dari proses perubahan teknik contohnya pengalaman membeli dan memasang mesin baru dapat menambah kemampuan perusahaan untuk mengelola investasi masa depan (Albu, 1997; Romijn, 1999).
Sumber daya atau masukan eksternal yang digunakan perusahaan untuk membangun kemampuan terdiri dari berbagai keahlian, pengetahuan, pelayanan teknis dan finansial dari bursa tenaga kerja, dari interaksi dengan pihak lain dan dari institusi pendukung. Sekali lagi, penting untuk membedakan antara sumber daya eksternal yang memberikan sumbangan langsung kepada proses perubahan teknik –sebagai contoh konsultasi teknis dan kredit investasi –dan sumber daya eksternal yang mendukung akuisisi kemampuan teknologi (Albu, 1997; Romijn, 1999).
Jika ketika stimulus dan masukan eksternal dimasukkan ke dalam model pembelajaran teknologi yang dikembangkan di atas, hasilnya adalah model analitis yang lebih komprehensif tentang apa yang disebut Sistem Akuisisi Pengetahuan sebuah perusahaan sebagaimana yang terilustrasi pada Gambar 4. Contoh-contoh ilustrasi stimulus, masukan dan umpan balik yang relevan dengan setiap tingkat pembelajaran terlihat pada Tabel 2.


Penelitian lebih lanjut proses pembelajaran teknologi pada tingkat perusahaan telah mengungkap kompleksitas dari proses pembelajaran. Sebagai contoh, jenis industri di mana perusahaan berada mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku teknologi.
Taksonomi yang paling sering dikutip adalah taksonomi yang diperkenalkan oleh Keith Pavitt (1984) yang membedakan empat tipe industri seperti supplier-dominated (sebagai contoh pertanian, perumahan, jasa dan manufaktur tradisional), scale-intensive (sebagai contoh baja, kaca dan mobil), specialised-supplier (sebagai contoh mesin dan peralatan) dan science-based (sebagai contoh elektronika dan kimia).
Industri supplier-dominated sumber inovasinya sebagian besar dari penyuplai barang modal dan cenderung terkonsentrasi pada pengurangan biaya produksi. Industri scale-intensive terkonsentrasi pada inovasi dari divisi litbang sendiri yang melibatkan peningkatan disain yang bertujuan mengurangi biaya. Sementara ciri specialised-supplier adalah produk baru dan sumbernya berasal dari dalam divisi litbang dan umpan balik konsumen. Industri science-based memiliki inovasi produk dan proses yang menggunakan keahlian dari perusahaan sendiri dan informasi dari penyuplai. Bukti-bukti menunjukkan bahwa sumber teknologi, arah usaha teknologi, cakupan kesempatan teknologi dan ruang untuk improvisasi teknologi lebih banyak tergantung kepada perbedaan antarsektor industri (UN, 1996).
Meskipun proses pembelajaran teknologi berbeda di antara jenis industri, ada sedikitnya tiga pendekatan umum yang biasa digunakan pemerintah dan kalangan bisnis dalam pembelajaran teknologi: pendekatan bertahap, pembangunan institusi dan pertargetan ekonomi (Clark, 1993).
Dalam pendekatan bertahap, pembelajaran teknologi dilihat dalam kerangka proses evolusi yang mengikuti tahapan atau fase menurut kecanggihan. Dahlman dan Westphal (1981) sebagai contoh membagi pelaksanaan proyek menjadi sembilan tahapan yang terpisah yang dimulai dari studi pra-investasi sampai penyelesaian masalah pada fasilitas baru. Pembagian yang lain juga menjelaskan kemampuan perusahaan secara lebih detail lagi. Salah satu yang berguna adalah pembagian Lall (1992) yang didasarkan pada hasil penelitiannya sebelumnya (1987) dan juga Katz (1984) serta Dahlman dan lainnya (1987). Dalam analisisnya Lall membuat matriks –yang menyisakan sebagian pendekatan urutan pembelajaran –yang menghubungkan berbagai kegiatan inovasi dengan berbagai fungsi : investasi (pra-investasi dan eksekusi proyek), produksi (rekayasa proses, produk dan industri) dan linkages dengan kegiatan ekonomi (Lall, 1992). Dalam menganalisis pembelajaran teknologi perusahaan Jepang, Yamashita (1992) juga membagi proses menjadi sembilan tahap dimulai dari pembelajaran mengoperasikan teknologi sampai pengembangan alat.
Pendekatan kedua pembelajaran teknologi, pemberdayaan institusi yang dikemukakan Clark (1993) adalah mengembangkan bentuk baru susunan organisasi yang dibuat untuk mengintegrasikan kegiatan litbang yang dibiayai publik lebih menyatu ke produksi dan akumulasi ekonomi. Pendirian TELEBRAS dalam industri telekomunikasi Brasil adalah contoh yang baik pendekatan ini yang mengungkap peran katalis yang dapat dimainkan institusi litbang.
Pendekatan ketiga adalah pentargetan ekonomi, di mana negara-negara dapat mengembangkan keahlian tekno-ekonomi dengan menghubungkan kemungkinan produksi dengan kebijakan pemerintah yang sesuai untuk mempromosikan pengembangan kemampuan. Dengan menggunakan pengembangan ini, daripada membuat organisasi riset yang didisain untuk menyaingi yang terbaik di dunia, mungkin lebih murah dan mudah untuk berfokus pada kegiatan ekonomi yang spesifik (Clark, 1993).
Sistem Inovasi Nasional
Pengembangan kemampuan teknologi sebuah bangsa ditentukan dan melibatkan banyak sekali aktor yang terhimpun secara sadar atau tidak seperti yang terdapat dalam literatur yang disebut dengan Sistem Inovasi Nasional. Dari hasil empiris yang dilakukan Kim (1997) di Korea nampak sekali bahwa industri adalah aktor yang paling signifikan kontribusinya. Secara lebih jelas aktor-aktor yang berperan penting dalam sebuah sistem inovasi nasional tertera di Gambar 5.
Sebagaimana yang didiskusikan pada bagian sebelumnya, akuisisi pengembangan kemampuan teknologi melibatkan mekanisme umpan balik yang kompleks dan hubungan yang interaktif antara sains, teknologi, pembelajaran, produksi, kebijakan dan permintaan.
Pembelajaran teknologi ini terjadi sejalan dengan berlalunya waktu dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena kompleksnya, perusahaan tidak pernah berinovasi dalam keterasingan. Dalam mengejar inovasi mereka berinteraksi dengan organisasi lain untuk mendapatkan, mengembangkan dan bertukar berbagai macam pengetahuan, informasi, dan sumber daya yang lain. Organisasi ini bisa perusahaan lain (penyuplai, konsumen dan pesaing) tetapi juga bisa universitas, lembaga litbang, bank, sekolah dan kementerian pemerintahan.
Melalui kegiatan inovatif mereka, perusahaan sering menjalin hubungan satu sama lain dan dengan organisasi lain; jadi tidak masuk akal menganggap perusahaan yang berinovasi sebagai unit pengambil keputusan yang tersendiri dan terpisah (Edquist, 1997).
Perilaku perusahaan juga dibentuk oleh institusi yang terdiri dari disinsentif dan insentif untuk berinovasi seperti hukum, regulasi kesehatan, norma budaya, peraturan sosial dan standar teknis. Interaksi antara berbagai organisasi yang berlaku pada konteks institusi yang berbeda penting bagi proses inovasi. Pelaku termasuk juga faktor-faktor kontekstual adalah elemen dari sistem untuk menciptakan dan menggunakan pengetahuan untuk tujuan ekonomi. Inovasi muncul dari sistem seperti itu yang disebut oleh banyak pakar sebagai Sistem Inovasi (Freeman 1987, 1988, 1995; Lundvall 1988, 1992; Nelson 1993; Edquist 1997; Archibugi 1999).
Pendekatan sistem inovasi telah dikembangkan dan berevolusi sejak muncul pertama kali dalam bentuk studi sistem inovasi nasional (SIN) yang disampaikan oleh Freeman (1987, 1988, 1995), Lundvall (1988), Lundvall ed. (1992) dan Nelson ed. (1993). Chris Freeman (1987) adalah termasuk yang pertama menggunakan konsep ini untuk membantu menggambarkan dan menjelaskan kinerja industri Jepang selama periode setelah perang dunia kedua. Ia mengidentifikasi beberapa elemen yang penting dan khusus dalam sistem inovasi nasionalnya yang dapat dijadikan sebab kesuksesan dalam kegiatan inovasi dan pertumbuhan ekonomi (Freeman 1988:338).

Chriss Freeman (1987:1) telah mendefinisikan konsep SIN sebagai ‘jaringan organisasi di sektor publik dan swasta yang interaksi dan aktivitasnya memulai, mengimpor, memodifikasi dan mendifusikan teknologi baru’. Lundvall (1992:12) membedakan antara definisi sistem inovasi yang sempit dan luas. Definisi sempitnya melibatkan organsisasi dan institusi dalam proses mencari dan mengeksplorasi -terdiri lembaga riset, institusi teknologi dan universitas. Sementara definisi luasnya melibatkan semua bagian dan aspek dari struktur ekonomi dan susunan institusi yang mempengaruhi proses pembelajaran dan juga proses mencari dan mengeksplorasi – sistem produksi, sistem pemasaran, sistem finansial menjadi bagian subsistem di mana proses pembelajaran tadi terjadi.
Organisasi kerjasama dan pengembangan ekonomi (OECD) mendefinisikan SIN ‘jaringan organisasi di sektor publik dan swasta yang interaksi dan aktivitasnya memulai, mengimpor, memodifikasi dan mendifusikan teknologi baru’. Alternatif definisi yang lebih luas adalah ‘sistem interaksi antara perusahaan swasta dan publik, universitas dan badan-badan pemerintah yang bertujuan menghasilkan sains dan teknologi dalam batas wilayah negara’. Interaksi di antara unit-unit ini bisa berupa konsultasi teknis, komersial, hukum, sosial dan finansial dan seperti tujuan interaksi itu sendiri yaitu pengembangan, perlindungan, pembiayaan dan mengatur sains dan teknologi yang baru (Green Paper on Science and Technology of South Africa – GP-S&T-, 1996).
Fungsi SIN dapat dibagi menjadi dua bagian seperti yang terlihat pada Gambar 3.6 yaitu fungsi utama pemerintah yang berhubungan dengan kebijakan, alokasi dan regulasi sumber daya dan fungsi implementasi yang berhubungan dengan pembiayaan dan kinerja aktivitas sains dan teknologi, pengembangan sumber daya manusia dan kemampuan serta penyediaan infrastruktur (GP-S&T-, 1996).
Dari Gambar 6, terlihat bahwa elemen utama SIN adalah :
• Sekelompok perusahaan, swasta maupun publik, besar dan kecil yang melakukan investasi dalam kegiatan litbang dan pengaplikasian teknologi baru dengan tujuan lebih memenuhi permintaan masyarakat.
• Badan-badan publik yang mendukung dan melakukan aktivitas litbang dan memfasilitasi difusi teknologi baru
• Universitas dan institusi pendidikan tertier yang melakukan riset dan juga pelatihan teknisi dan peneliti
• Program publik yang mendukung pengembangan dan transfer teknologi
• Perangkat hukum dan peraturan yang mengatur hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan proses inovasi serta fasilitas untuk difusi teknologi baru
Jadi jika ingin menggambarkan, memahami dan menjelaskan proses pembelajaran teknologi, maka harus mempertimbangkan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhinya. Model sistem akuisisi pengetahuan di tingkat perusahaan yang terdapat pada Gambar 6 harus dikembangkan lagi dengan menambahkan pengertian SIN seperti terdapat pada Gambar 7.


Penutup
Dari uraian di atas jelaslah bahwa ilmu ekonomi secara mainstream tidak mempunyai asumsi yang realistis terhadap teknologi dan perannya dalam sistem ekonomi, sehingga ia tidaklah layak untuk dipakai sebagai basis untuk memformulasikan kebijakan untuk mendorong proses pembelajaran teknologi di negara berkembang. Karenanya kehadiran perspektif alternatif yang lebih realistis diperlukan untuk memahami proses yang sebenarnya terjadi. Dengan memberikan definisi yang lebih akurat, karakteristik teknologi dan perannya dalam industrialisasi dapat memberikan pencerahan bagi upaya untuk mengakuisisi kemampuan teknologi tersebut. Pada gilirannya kebijakan-kebijakan yang lahir dari pemahaman yang akurat akan proses pembelajaran teknologi akan memberikan hasil dan harapan bagi negara berkembang untuk mengejar ketertinggalannya.
Meskipun kontribusi teknologi kepada pertumbuhan ekonomi telah disadari sejak lama, selama ini ekonom sering mengasumsikan teknologi seperti black box (Rosenberg, 1982; Clark, 1990). Akibatnya masih umum dijumpai, teknologi masih sering direduksi maknanya sebatas mesin dan alat yang terpisah dari sumber daya manusia dan konteks sosialnya. Dalam pengertian ini teknologi didefinisikan secara statis. Teknologi adalah produk, suatu paket yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan dan institusi, dan dikonsumsi atau digunakan oleh pihak lain (Albu, 1997).
Kerangka konseptual yang melandasi pandangan statis ini didominasi oleh pendekatan neoklasik dalam ekonomi. Karena semua perusahaan beroperasi menurut fungsi produksi, usaha yang berhubungan dengan teknologi adalah memilih teknologi yang dianggap sesuai dengan faktor produksi lokal dan harga yang relatif tersedia. Semua perusahaan diasumsikan serta nerta dapat bergeser posisinya dalam fungsi produksi dalam merespon perubahan faktor produksi lokal dan harga relatif karena mereka mempunyai akses yang sama terhadap teknologi global yang tersedia dan dapat secara langsung mengoperasikan teknologi yang dipilih dengan efisiensi yang optimal (Rosenberg & Frischtak, 1985).
Mengikuti pemahaman neoklasik ini, Gerschenkron (1962) berpendapat bahwa negara yang sekarang terbelakang sebenarnya diuntungkan, karena mereka memiliki banyak pilihan teknologi yang dapat digunakan. Mereka tidak perlu lagi memikirkan proses impor dan penggunaan teknologi yang telah “proven” di luar negeri. Untuk mengejar dan mempercepat proses industrialisasi, negara berkembang hanya perlu mentransfer dan menggunakan teknologi yang diimpor dari negara maju.
Jika pasar teknologi berfungsi seperti pasar barang yang dapat ditransfer secara fisik, menghilangkan semua penghalang perdagangan teknologi sudah cukup untuk pembangunan basis teknologi yang optimal di negara berkembang. Tetapi transfer dan penyerapan teknologi tidaklah seperti membeli dan menggunakan barang. Tidak otomatis begitu dipasang langsung dapat berfungsi. Banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar negara berkembang tidak optimal dalam menggunakan teknologi industri. Mereka dengan kata lain tidak efisien secara teknis dalam menggunakan teknologi yang diimpor. Banyak teknologi industri di negara berkembang digunakan pada tingkat yang lebih rendah dibanding yang dilakukan di negara maju.
Menurut Lall (1992, 1993) ketidakefisienan teknis di negara berkembang dapat terjadi dalam beberapa bentuk :
• Ketidakmampuan untuk menemukan, memilih dan menegosiasi teknologi impor yang terbaik (meskipun harga pasar tidak terdistorsi) yang menyebabkan tingginya biaya modal dan rendahnya efisiensi produksi.
• Ketidakmampuan untuk menguasai, dalam bentuk statis, teknologi yang telah diimpor. Penggunaan teknologi masih dibawah tingkat efisiensi normal yang terbaik, membutuhkan banyak masukan untuk menghasilkan luaran tertentu atau yang berkualitas rendah.
• Variasi tingkat efisiensi yang banyak diantara perusahaan-perusahaan di industri yang sama. Ini berarti sumber daya dibuang percuma oleh perusahaan yang berada jauh dibawah tingkat teknologi perusahaan terbaik (yang mungkin saja masih berada dibawah tingkat normal efisiensi dunia).
• Kurangnya dinamika teknologi, kemampuan untuk beradaptasi dan meningkatkan teknologi dengan kondisi dan situasi kemajuan teknologi yang berubah, baik di dalam maupun di luar. Perusahaan di negara berkembang mungkin tetap pada tingkat terendah nilai tambah dari spektrum industri, tertinggal jauh di belakang teknologi terdepan seperti negara maju atau kondisi faktor yang berubah.
Tidaklah mengherankan jika pendekatan statis neoklasik terhadap pengembangan teknologi ditentang secara teoritis maupun empiris oleh pendekatan alternatif yang lebih dinamis, yang mulai muncul pada paruh tahun 70-an. Pendekatan baru yang lebih luas dari persepsi aslinya yang bertahan di tahun 60-an sampai 70-an ini dengan cepat berkembang terutama sejak tahun 80-an dan penyumbangnya antara lain Westphal (1982), Stewart (1984), Teitel (1984), Pack dan Westphal (1986), Dahlman, et al (1987), Enos dan Park (1987), Forsyth (1987), Lall (1987 dan 1992), Nelson (1987), Freeman (1989), Enos (1991), Huq et al (1992, 1993) dan Cooper (1994). Pendekatan ini dimasukkan dalam kategori institusionalis, strukturalis dan evolusionaris. Meskipun mereka semua menggunakan istilah yang berbeda seperti penguasaan teknologi, kapasitas teknologi, kemampuan teknologi, promosi teknologi, pengembangan teknologi, akumulasi teknologi, akuisisi teknologi dan seterusnya, terdapat konsensus tentang arti konsep secara umum, bahwa pengembangan teknologi adalah sebuah proses pembelajaran yang panjang (UN, 1987; Huq, 1999).
Kapabilitas Teknologi : Inovasi dan Difusi
Perubahan teknik di industri secara konvensional secara sederhana melibatkan dua aktivitas. Pertama, proses pengembangan dan komersialisasi awal dari sebuah inovasi yang strategis. Kedua, terjadi aplikasi yang lebih luas terhadap inovasi tersebut secara progresif di dalam suatu proses yang oleh ekonom sering diistilahkan dengan difusi. Aktivitas yang pertama diasumsikan lebih banyak terkonsentrasi di negara maju dan menjadi signifikan di negara berkembang ketika mereka mencapai teknologi dunia yang terdepan, tren yang semakin terbukti pada data terbaru di paten internasional oleh perusahaan-perusahaan di negara seperti Korea dan Taiwan. Sebelumnya negara berkembang diasumsikan hanya mendifusikan teknologi dan karena kegiatan ini hanya melibatkan usaha memilih dan mengadopsi teknologi yang ada, inovasi yang kreatif dianggap tidak relevan. Dari pandangan ini akumulasi teknologi di negara berkembang dilihat sebagai pelibatan teknologi yang tersimpan di dalam stol barang modal beserta pengetahuan pengoperasiannya dan spesifikasi produk yang diperlukan untuk menghasilkan produk tertentu dengan teknik tertentu pada tingkat efisiensi produksi yang terbaik (Bell dan Pavitt, 1997).
Bell dan Pavitt kemudian memberikan pandangan yang lebih realistis tentang sifat teknologi. Menurut mereka pemahaman tentang perubahan teknologi membutuhkan penolakan terhadap ide pembedaan antara inovator dan pengadopsi (Bell dan Pavitt, 1997). Pengadopsian teknologi yang berhasil melibatkan lebih dari sekedar pembelian mesin dan belajar petunjuk pengoperasiannya (Dahlman dan Westphal, 1982). Hal ini sebagian karena sifat tacit dari banyak teknologi yang membuat sulit atau mahal untuk secara efektif mengkomunikasikan keahlian dan pengetahuan yang digunakan untuk melakukan aktivitas yang kompleks. Ini berarti perusahaan tidak dapat bergeser dalam fungsi produksi tanpa adanya usaha (Lall, 1992) atau serta merta mengoperasikan teknik produksi pada tingkat yang optimal. Sehingga untuk perusahaan di negara berkembang transfer teknologi memang diperlukan, tapi itu saja tidak cukup. Pengadopsian dan penguasaan teknologi yang efektif membutuhkan akuisisi pengetahuan tentang seperangkat prosedur, pemahaman mengapa prosedur tersebut dapat bekerja dan keahlian dalam menggunakannya (Albu, 1997).
Menurut Bell dan Pavitt (1997) pengembangan inovasi dan difusi juga melibatkan proses di tingkat perusahaan dimana :
• Karakteristik dasar teknologi diadaptasikan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak tentu dari kondisi spesifik,
• Berbagai modifikasi lanjutan dapat meningkatkan teknologi dan atau mengadaptasikan diri terhadap perubahan masukan atau produk yang diinginkan oleh pasar bebas.
Bukti-bukti dari hasil studi yang cukup intensif tentang industri di negara maju dan negara berkembang mengindikasikan bahwa fase adaptasi membutuhkan aktivitas yang kompleks dan kreatif dan mempunyai potensi untuk menghasilkan peningkatan produksi dan keuntungan ekonomi (Hollander, 1965; Fonseca, 1987). Hal ini menyiratkan bahwa inovasi harus dipahami bukan sebagai penggerak utama dari perubahan teknik dalam produksi tetapi sebagai salah satu bagian dari proses integral yang terjadi di lingkungan perusahaan yang inovatif. Inovasi adalah salah satu diantara proses yang mencocokkan teknologi dan pasar (Freeman, 1982). Lebih jauh inovasi yang bertahap-adaptasi, modifikasi, penyempurnaan produk dan proses yang terjadi di perusahaan mungkin sama pentingnya secara ekonomi dengan investasi besar dalam mesin baru atau perubahan produk yang berasal dari luar perusahaan (Bienayme, 1986).
Usaha dan Mekanisme Pembelajaran Teknologi
Jenis peningkatan kinerja industri yang disebutkan di atas sering diartikan sebagai konsekuensi alami dari kegiatan produksi; hasil proses dari sebuah pembelajaran otomatis (learning by doing) (Arrow, 1962). Meskipun demikian studi tentang infant industry di negara berkembang (Bell et al, 1982) memperlihatkan bahwa pembelajaran tidaklah berlangsung secara spontan.
Perusahaan yang berhasil menguasai teknologi dan memulai proses inovasi bertahap melakukannya sebagai hasil pembelajaran yang intensif, lama, tidak otomatis dan tanpa usaha. Bahkan inovasi kecilpun membutuhkan berbagai keahlian, pengetahuan, kemampuan untuk mencari, memilih, mengasimilasi dan mengadaptasi teknik. Mengembangkan dan menjaga kemampuan tersebut membutuhkan usaha yang secara sadar dilakukan oleh perusahaan dan investasi sumber daya yang memadai (Albu, 1997). Jadi dapat dikatakan bahwa akuisisi kemampuan teknologi tidak hanya muncul karena pengalaman meski itupun penting. Ia datang dari usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja memonitor apa yang dilakukan orang lain, mencoba hal-hal baru, mengikuti perkembangan teknologi global, mengakumulasi kemampuan tambahan dan meningkatkan kemampuan merespon tekanan dan kesempatan baru (Dahlman & Westphal, 1987).
Jika kita menelusuri jejak dari pentingnya pembelajaran dalam analisis pengembangan teknologi, ia terinspirasi oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Nelson dan Winter (1982) dan dijelaskan oleh Nelson (1981, 1987) dan Dosi (1988). Prinsip dasar dari teori-teori ini adalah bahwa perusahaan tidak dapat dianggap beroperasi dalam fungsi produksi yang umum. Pengetahuan teknologi tidak dibagi secara sama diantara perusahaan atau terimitasi dan tertransfer secara mudah. Proses transfer memerlukan pembelajaran karena teknologi bersifat tacit dan prinsip-prinsip yang mendasarinya tidak diketahui secara jelas (Lall, 1992). Jadi hanya untuk menguasai teknologi yang membutuhkan keahlian, usaha dan investasi oleh perusahaan dan tingkat penguasaan yang dicapai tidak dapat dipastikan dan bervariasi diantara perusahaan tergantung masukan yang ada.
Memahami dan membandingkan studi-studi tentang akuisisi kemampuan tidaklah mudah sebagian karena sumber daya perushaan yang terakumulasi sangat luas dan sulit untuk dikategorisasi. Ia terdiri dari kemampuan manusia : keahlian, pengalaman, pengetahuan yang ada dalam diri manusia berikut sumber daya institusi : prosedur internal, petunjuk pelaksanaan dan struktur organisasi perusahaan dan hubungan luar yang terjalin dengan perusahaan dan institusi lain. Jebakan yang mudah muncul adalah mengasosiasikan teknologi hanya kepada aktivitas produksi seperti desain produk, proses manufaktur dan organisasi produksi. Meskipun demikian, studi tersebut mengabaikan pentingnya barang modal dalam suplai bahan baku dan distribusi produk (Lall, 1992; Bell, 1995; Albu, 1997).
Salah satu pendekatan yang umum adalah membedakan tiga tipe kemampuan yaitu : kemampuan produksi, investasi dan inovasi (Lall, 1992; Biggs et al, 1995; Albu, 1997; Romijn, 1999).
Kemampuan produksi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan pabrik dan proses secara efisien untuk memproduksi produk yang telah ada. Kemampuan ini membuat perusahaan dapat memonitor masukan bahan baku, mengatur produksi, mengawasi kualitas luaran, memelihara dan memperbaiki mesin dan secara umum berhubungan dengan persoalan sehari-hari. Kemampuan investasi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumber daya yang dibutuhkan perusahaan untuk memperluas fasilitas produksi, membeli dan memasang perlengkapan standar, juga untuk mencari, mengevaluasi dan memilih teknologi dan sumbernya untuk kegiatan produksi baru. Terakhir dan paling penting adalah kemampuan inovasi dan adaptasi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumber daya yang dibutuhkan untuk mengasimilasi, mengubah dan menciptakan teknologi melalui kegiatan perluasan modal, adaptasi dan modifikasi produk.
Meskipun demikian memberikan penekanan yang sama kepada ketiga kategori kemampuan tersebut menghilangkan dimensi penekanan yang berbeda. Lall menyoroti masalah ini ketika menjelaskan proses pengembangan kemampuan secara bertahap dan kumulatif. Secara umum kegiatan tersebut bermula dari kegiatan rutin yang sederhana dimana pembelajaran didasarkan pada pengalaman sampai kegiatan adaptasi dan imitasi yang kompleks yang membutuhkan fungsi-fungsi pencarian sampai kegiatan yang paling inovatif yang berdasarkan hasil riset yang lebih formal (Lall, 1992).
Bell dan Pavitt (1993) memperkenalkan pembedaan yang umum antara kemampuan produksi dasar dan kemampuan teknologi dinamis. Kemampuan produksi adalah kemampuan statis yang dimiliki perusahaan. Mengetahui kemampuan produksi sebuah perusahaan memberikan gambaran ringkas dari kemampuan perusahaan untuk menggunakan fasilitas produksi, membuat keputusan investasi yang standar dan memperluas proses yang telah ada. Kemampuan teknologi di sisi lain adalah kemampuan dinamis yang terdiri dari keahlian, pengetahuan dan petunjuk pelaksanaan dalam memulai dan mengelola perubahan teknik apakah itu menyangkut aktivitas produksi, investasi atau hubungan dengan perusahaan lain.

Tabel di atas menggambarkan perbedaan antara tipe-tipe kemampuan dengan memperlihatkan kegiatan-kegiatan pada setiap kemampuan.
Bell dan Pavitt menyebut proses pembelajaran dalam membangun sumber daya dinamis sebagai akumulasi teknologi atau pembelajaran teknologi (Bell & Pavitt 1993:164). Hubungan antara istilah dan konsep yang berbeda tersebut dilukiskan dengan skema di bawah ini :

Proses pembelajaran teknologi yang terdefinisi di atas jelas berbeda dari proses perubahan teknik meskipun yang terakhir sering melibatkan pembelajaran (sebagai contoh, teknik dan keahlian mengoperasikan).
Dengan menggunakan model konsep Bell dan Pavitt dengan mudah dapat dilihat bagaimana perusahaan dengan berjalannya waktu dengan seperangkat kemampuan teknologi akan mungkin memulai berbagai peningkatan kemampuan produksi. Peningkatan semacam itu mungkin penting bagi perusahaan dalam memodifikasi dan memperluas skala produksi. Perusahaan yang tidak mempunyai kemampuan teknologi sama sekali tidak akan dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya dan tidak akan bertahan lama. Jika model konseptual ini menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya maka tugas terpenting perusahaan dalam jangka panjang adalah pembelajaran teknologi ; akuisisi dan menguatkan kemampuan teknologi mereka (Albu, 1997).
Pada Gambar 1 hubungan antara pembelajaran teknologi, kemampuan teknologi, perubahan teknik dan kemampuan produksi digambarkan secara sederhana sebagai proses yang linear, A menuju ke B menuju ke C. Padahal secara umum diketahui bahwa proses pembelajaran yang baik lebih merupakan sebuah siklus. Sebagai contoh Van der Heijden (1996) misalnya menggambarkan siklus pembelajaran yang dibuat oleh Dewey, Deming, Kolb dan Kofman seperti terdapat pada Gambar 2.
• Kita memiliki pengalaman yang sebagiannya penting untuk kita. Pengalaman tersebut adalah apa yang kita persepsi sebagai akibat dari tindakan yang lalu.
• Kita merenungkan pengalaman-pengalaman itu, melihat apa yang telah diciptakan oleh tindakan dan dihubungkan dengan kejadian yang lain. Hasil dari perenungan ini adalah kesadaran akan pola dan tren baru dalam kejadian yang tidak kita ketahui sebelumnya. Perenungan terkait dengan kemampuan kita membedakan antara model mental kita dan persepsi realitas yang berbeda.
• Melalui hubungan sebab akibat kita mengembangkan teori baru tentang bagaimana ide kita tentang lingkungan perlu berubah sebagai hasil observasi dan perenungan. Mental model yang lama dan realitas baru terintegrasi dalam suatu teori baru.

• Kemudian kita menggunakan teori tersebut untuk merencanakan langkah-langkah baru dan secara efektif menguji implikasi dari teori tersebut dalam situasi yang baru dengan mengambil tindakan baru.
• Ini semua membawa kita kembali ke atas. Kita mendapatkan pengalaman baru akibat tindakan kita yang hanya sebagian bersinggungan dengan harapan kita.
Begitulah kita melakukan pembelajaran! Perenungan baru kita memperlihatkan bahwa teori kita memerlukan pengembangan lagi. Dan proses pembelajaran tersebut terus berjalan dan berputar.
Dengan analogi, proses siklus yang sama dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dalam organisasi dan perusahaan. Organisasi yang memonitor kinerjanya, menganalisis kekuatan dan kelemahannya, melakukan perencanaan strategis dan seterusnya akan lebih mungkin melakukan pembelajaran dan peningkatan daripada organisasi yang secara terus-menerus dalam kondisi reaktif dengan kondisi eksternal (Albu, 1997).
Mengkombinasikan pandangan siklus pembelajaran dengan sistem pembelajaran teknologi yang digunakan Bell dan Pavitt pada Gambar 3.1, Albu (1997) memberikan sebuah model siklus pembelajaran dengan dua inter-locked yang terlihat pada Gambar 3.
Dalam model ini siklus yang berada di bawah menggambarkan proses perubahan teknik. Pada bagian yang paling bawah kemampuan produksi digunakan untuk mengubah bahan baku material menjadi produk. Pengalaman produksi tertentu (umpan balik pengetahuan) mungkin didapat dari proses produksi dan digunakan untuk memperkuat proses perubahan teknik yang hasilnya adalah peningkatan dalam kemampuan produksi. Patut dicatat bahwa tanpa kemampuan teknologi untuk memulai dan mengelola perubahan teknik, umpan balik dari pengalaman produksi hanya memiliki nilai yang terbatas.
Salah satu kemampuan teknologi yang penting dalam konteks ini adalah kemampuan mengumpulkan informasi secara sistematis dari pengalaman produksi dan menggunakannya untuk menghasilkan pengetahuan tentang proses teknologi yang mendasarinya.
Siklus tersebut menggambarkan proses pembelajaran teknologi yang sesungguhnya. Kemampuan teknologi digunakan untuk menghasilkan dan mengelola proses perubahan teknik yang hasilnya adalah kemampuan produksi. Pengalaman perubahan teknik tertentu (umpan balik pengetahuan) didapat dari proses perubahan teknik dan digunakan untuk memperkuat proses pembelajaran teknologi yang hasilnya adalah peningkatan dalam kemampuan teknologi.
Jika akuisisi kemampuan teknologi adalah proses pembelajaran, maka muncul banyak pertanyaan menarik seperti :
• Apa yang menstimulasi dan membangkitkan proses pembelajaran?
• Umpan balik pengetahuan internal apa yang mendukung proses pembelajaran?
• Apa sumber daya eksternal atau masukan yang mendukung proses pembelajaran?
• Apa cara yang terbaik untuk melakukan proses pembelajaran?
• Dapatkah proses pembelajaran dipercepat?
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting ditanggapi seperti yang dinyatakan oleh De Geus (1997) bahwa proses pembelajaran yang alami sesungguhnya merupakan proses yang lambat.
Banyak sekali stimulus atau penyebab-penyebab pembelajaran teknologi seperti yang dikemukakan oleh Albu (1997) dan Romijn (1999) adalah seperti tekanan internal dan eksternal yang memotivasi perusahaan untuk meningkatkan kemampuannya. Perlu dibedakan antara stimulus umum untuk meningkatkan kemampuan produksi dengan stimulus khusus yang memicu perusahaan untuk melakukan peningkatan jangka panjang dalam kemampuan untuk mengelola dan menghasilkan perubahan teknik. Stimulus umum dapat timbul karena tekanan kompetisi jangka pendek atau perubahan permintaan, sementara stimulus yang khusus dapat timbul dari strategi manajemen, kesadaran akan tren jangka panjang atau bahkan kebijakan pemerintah.

Kemungkinan umpan balik pengetahuan internal telah dijelaskan dalam siklus pembelajaran di atas. Umpan balik yang sistematis dari proses dalam produksi dan distribusi memberikan sumbangan kepada proses perubahan teknik. Sebagai contoh, interaksi dengan konsumen dapat memberikan informasi tentang modifikasi produk yang diinginkan yang menuju pada peningkatan kemampuan produksi. Umpan balik dari proses perubahan teknik contohnya pengalaman membeli dan memasang mesin baru dapat menambah kemampuan perusahaan untuk mengelola investasi masa depan (Albu, 1997; Romijn, 1999).
Sumber daya atau masukan eksternal yang digunakan perusahaan untuk membangun kemampuan terdiri dari berbagai keahlian, pengetahuan, pelayanan teknis dan finansial dari bursa tenaga kerja, dari interaksi dengan pihak lain dan dari institusi pendukung. Sekali lagi, penting untuk membedakan antara sumber daya eksternal yang memberikan sumbangan langsung kepada proses perubahan teknik –sebagai contoh konsultasi teknis dan kredit investasi –dan sumber daya eksternal yang mendukung akuisisi kemampuan teknologi (Albu, 1997; Romijn, 1999).
Jika ketika stimulus dan masukan eksternal dimasukkan ke dalam model pembelajaran teknologi yang dikembangkan di atas, hasilnya adalah model analitis yang lebih komprehensif tentang apa yang disebut Sistem Akuisisi Pengetahuan sebuah perusahaan sebagaimana yang terilustrasi pada Gambar 4. Contoh-contoh ilustrasi stimulus, masukan dan umpan balik yang relevan dengan setiap tingkat pembelajaran terlihat pada Tabel 2.


Penelitian lebih lanjut proses pembelajaran teknologi pada tingkat perusahaan telah mengungkap kompleksitas dari proses pembelajaran. Sebagai contoh, jenis industri di mana perusahaan berada mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku teknologi.
Taksonomi yang paling sering dikutip adalah taksonomi yang diperkenalkan oleh Keith Pavitt (1984) yang membedakan empat tipe industri seperti supplier-dominated (sebagai contoh pertanian, perumahan, jasa dan manufaktur tradisional), scale-intensive (sebagai contoh baja, kaca dan mobil), specialised-supplier (sebagai contoh mesin dan peralatan) dan science-based (sebagai contoh elektronika dan kimia).
Industri supplier-dominated sumber inovasinya sebagian besar dari penyuplai barang modal dan cenderung terkonsentrasi pada pengurangan biaya produksi. Industri scale-intensive terkonsentrasi pada inovasi dari divisi litbang sendiri yang melibatkan peningkatan disain yang bertujuan mengurangi biaya. Sementara ciri specialised-supplier adalah produk baru dan sumbernya berasal dari dalam divisi litbang dan umpan balik konsumen. Industri science-based memiliki inovasi produk dan proses yang menggunakan keahlian dari perusahaan sendiri dan informasi dari penyuplai. Bukti-bukti menunjukkan bahwa sumber teknologi, arah usaha teknologi, cakupan kesempatan teknologi dan ruang untuk improvisasi teknologi lebih banyak tergantung kepada perbedaan antarsektor industri (UN, 1996).
Meskipun proses pembelajaran teknologi berbeda di antara jenis industri, ada sedikitnya tiga pendekatan umum yang biasa digunakan pemerintah dan kalangan bisnis dalam pembelajaran teknologi: pendekatan bertahap, pembangunan institusi dan pertargetan ekonomi (Clark, 1993).
Dalam pendekatan bertahap, pembelajaran teknologi dilihat dalam kerangka proses evolusi yang mengikuti tahapan atau fase menurut kecanggihan. Dahlman dan Westphal (1981) sebagai contoh membagi pelaksanaan proyek menjadi sembilan tahapan yang terpisah yang dimulai dari studi pra-investasi sampai penyelesaian masalah pada fasilitas baru. Pembagian yang lain juga menjelaskan kemampuan perusahaan secara lebih detail lagi. Salah satu yang berguna adalah pembagian Lall (1992) yang didasarkan pada hasil penelitiannya sebelumnya (1987) dan juga Katz (1984) serta Dahlman dan lainnya (1987). Dalam analisisnya Lall membuat matriks –yang menyisakan sebagian pendekatan urutan pembelajaran –yang menghubungkan berbagai kegiatan inovasi dengan berbagai fungsi : investasi (pra-investasi dan eksekusi proyek), produksi (rekayasa proses, produk dan industri) dan linkages dengan kegiatan ekonomi (Lall, 1992). Dalam menganalisis pembelajaran teknologi perusahaan Jepang, Yamashita (1992) juga membagi proses menjadi sembilan tahap dimulai dari pembelajaran mengoperasikan teknologi sampai pengembangan alat.
Pendekatan kedua pembelajaran teknologi, pemberdayaan institusi yang dikemukakan Clark (1993) adalah mengembangkan bentuk baru susunan organisasi yang dibuat untuk mengintegrasikan kegiatan litbang yang dibiayai publik lebih menyatu ke produksi dan akumulasi ekonomi. Pendirian TELEBRAS dalam industri telekomunikasi Brasil adalah contoh yang baik pendekatan ini yang mengungkap peran katalis yang dapat dimainkan institusi litbang.
Pendekatan ketiga adalah pentargetan ekonomi, di mana negara-negara dapat mengembangkan keahlian tekno-ekonomi dengan menghubungkan kemungkinan produksi dengan kebijakan pemerintah yang sesuai untuk mempromosikan pengembangan kemampuan. Dengan menggunakan pengembangan ini, daripada membuat organisasi riset yang didisain untuk menyaingi yang terbaik di dunia, mungkin lebih murah dan mudah untuk berfokus pada kegiatan ekonomi yang spesifik (Clark, 1993).
Sistem Inovasi Nasional
Pengembangan kemampuan teknologi sebuah bangsa ditentukan dan melibatkan banyak sekali aktor yang terhimpun secara sadar atau tidak seperti yang terdapat dalam literatur yang disebut dengan Sistem Inovasi Nasional. Dari hasil empiris yang dilakukan Kim (1997) di Korea nampak sekali bahwa industri adalah aktor yang paling signifikan kontribusinya. Secara lebih jelas aktor-aktor yang berperan penting dalam sebuah sistem inovasi nasional tertera di Gambar 5.
Sebagaimana yang didiskusikan pada bagian sebelumnya, akuisisi pengembangan kemampuan teknologi melibatkan mekanisme umpan balik yang kompleks dan hubungan yang interaktif antara sains, teknologi, pembelajaran, produksi, kebijakan dan permintaan.
Pembelajaran teknologi ini terjadi sejalan dengan berlalunya waktu dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena kompleksnya, perusahaan tidak pernah berinovasi dalam keterasingan. Dalam mengejar inovasi mereka berinteraksi dengan organisasi lain untuk mendapatkan, mengembangkan dan bertukar berbagai macam pengetahuan, informasi, dan sumber daya yang lain. Organisasi ini bisa perusahaan lain (penyuplai, konsumen dan pesaing) tetapi juga bisa universitas, lembaga litbang, bank, sekolah dan kementerian pemerintahan.
Melalui kegiatan inovatif mereka, perusahaan sering menjalin hubungan satu sama lain dan dengan organisasi lain; jadi tidak masuk akal menganggap perusahaan yang berinovasi sebagai unit pengambil keputusan yang tersendiri dan terpisah (Edquist, 1997).
Perilaku perusahaan juga dibentuk oleh institusi yang terdiri dari disinsentif dan insentif untuk berinovasi seperti hukum, regulasi kesehatan, norma budaya, peraturan sosial dan standar teknis. Interaksi antara berbagai organisasi yang berlaku pada konteks institusi yang berbeda penting bagi proses inovasi. Pelaku termasuk juga faktor-faktor kontekstual adalah elemen dari sistem untuk menciptakan dan menggunakan pengetahuan untuk tujuan ekonomi. Inovasi muncul dari sistem seperti itu yang disebut oleh banyak pakar sebagai Sistem Inovasi (Freeman 1987, 1988, 1995; Lundvall 1988, 1992; Nelson 1993; Edquist 1997; Archibugi 1999).
Pendekatan sistem inovasi telah dikembangkan dan berevolusi sejak muncul pertama kali dalam bentuk studi sistem inovasi nasional (SIN) yang disampaikan oleh Freeman (1987, 1988, 1995), Lundvall (1988), Lundvall ed. (1992) dan Nelson ed. (1993). Chris Freeman (1987) adalah termasuk yang pertama menggunakan konsep ini untuk membantu menggambarkan dan menjelaskan kinerja industri Jepang selama periode setelah perang dunia kedua. Ia mengidentifikasi beberapa elemen yang penting dan khusus dalam sistem inovasi nasionalnya yang dapat dijadikan sebab kesuksesan dalam kegiatan inovasi dan pertumbuhan ekonomi (Freeman 1988:338).

Chriss Freeman (1987:1) telah mendefinisikan konsep SIN sebagai ‘jaringan organisasi di sektor publik dan swasta yang interaksi dan aktivitasnya memulai, mengimpor, memodifikasi dan mendifusikan teknologi baru’. Lundvall (1992:12) membedakan antara definisi sistem inovasi yang sempit dan luas. Definisi sempitnya melibatkan organsisasi dan institusi dalam proses mencari dan mengeksplorasi -terdiri lembaga riset, institusi teknologi dan universitas. Sementara definisi luasnya melibatkan semua bagian dan aspek dari struktur ekonomi dan susunan institusi yang mempengaruhi proses pembelajaran dan juga proses mencari dan mengeksplorasi – sistem produksi, sistem pemasaran, sistem finansial menjadi bagian subsistem di mana proses pembelajaran tadi terjadi.
Organisasi kerjasama dan pengembangan ekonomi (OECD) mendefinisikan SIN ‘jaringan organisasi di sektor publik dan swasta yang interaksi dan aktivitasnya memulai, mengimpor, memodifikasi dan mendifusikan teknologi baru’. Alternatif definisi yang lebih luas adalah ‘sistem interaksi antara perusahaan swasta dan publik, universitas dan badan-badan pemerintah yang bertujuan menghasilkan sains dan teknologi dalam batas wilayah negara’. Interaksi di antara unit-unit ini bisa berupa konsultasi teknis, komersial, hukum, sosial dan finansial dan seperti tujuan interaksi itu sendiri yaitu pengembangan, perlindungan, pembiayaan dan mengatur sains dan teknologi yang baru (Green Paper on Science and Technology of South Africa – GP-S&T-, 1996).
Fungsi SIN dapat dibagi menjadi dua bagian seperti yang terlihat pada Gambar 3.6 yaitu fungsi utama pemerintah yang berhubungan dengan kebijakan, alokasi dan regulasi sumber daya dan fungsi implementasi yang berhubungan dengan pembiayaan dan kinerja aktivitas sains dan teknologi, pengembangan sumber daya manusia dan kemampuan serta penyediaan infrastruktur (GP-S&T-, 1996).
Dari Gambar 6, terlihat bahwa elemen utama SIN adalah :
• Sekelompok perusahaan, swasta maupun publik, besar dan kecil yang melakukan investasi dalam kegiatan litbang dan pengaplikasian teknologi baru dengan tujuan lebih memenuhi permintaan masyarakat.
• Badan-badan publik yang mendukung dan melakukan aktivitas litbang dan memfasilitasi difusi teknologi baru
• Universitas dan institusi pendidikan tertier yang melakukan riset dan juga pelatihan teknisi dan peneliti
• Program publik yang mendukung pengembangan dan transfer teknologi
• Perangkat hukum dan peraturan yang mengatur hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan proses inovasi serta fasilitas untuk difusi teknologi baru
Jadi jika ingin menggambarkan, memahami dan menjelaskan proses pembelajaran teknologi, maka harus mempertimbangkan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhinya. Model sistem akuisisi pengetahuan di tingkat perusahaan yang terdapat pada Gambar 6 harus dikembangkan lagi dengan menambahkan pengertian SIN seperti terdapat pada Gambar 7.


Penutup
Dari uraian di atas jelaslah bahwa ilmu ekonomi secara mainstream tidak mempunyai asumsi yang realistis terhadap teknologi dan perannya dalam sistem ekonomi, sehingga ia tidaklah layak untuk dipakai sebagai basis untuk memformulasikan kebijakan untuk mendorong proses pembelajaran teknologi di negara berkembang. Karenanya kehadiran perspektif alternatif yang lebih realistis diperlukan untuk memahami proses yang sebenarnya terjadi. Dengan memberikan definisi yang lebih akurat, karakteristik teknologi dan perannya dalam industrialisasi dapat memberikan pencerahan bagi upaya untuk mengakuisisi kemampuan teknologi tersebut. Pada gilirannya kebijakan-kebijakan yang lahir dari pemahaman yang akurat akan proses pembelajaran teknologi akan memberikan hasil dan harapan bagi negara berkembang untuk mengejar ketertinggalannya.