Survei LRI: SBY-Boediono Unggul

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Rabu, 10 Maret 2010
News » 08 Juni 2009 » Hit: 419
Survei LRI: SBY-Boediono Unggul
Zulkieflimansyah.com, Jakarta – Satu lagi lembaga survei yang menempatkan pasangan capres dan cawapres SBY-Boediono memiliki elektabilitas paling tinggi dibandingkan dua pasangan lainnya. Lembaga Riset Informasi (LRI) menemukan elektabilitas SBY-Boediono berada di posisi teratas dengan jumlah pemilih 33,02 %. Diikuti JK-Win 29,29 % dan Mega-Pro 20,09 %. Sisanya adalah 17,59 % responden yang belum memutuskan pilihan.

Penelitian LRI yang dilaksanakan pada 2-5 Juni ini dilakukan dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur di 33 Provinsi dengan metode sampling multistage cluster. Jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 2.096 orang berusia 17 tahun ke atas dan telah menikah. Sementara margin error mencapai 2,2 % pada tingkat kepercayaan 95 %.

Direktur Eksekutif LRI, Johan O. Silalahi mengatakan, survei dilakukan dengan demografi sosial responden antara lain, masyarakat desa 50,43 % dan 49,57 % masyarakat kota. Tingkat pendidikan responden 31,35 % merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD), 20,18 % lulusan SMP, 23,33 % lulusan SMA, dan 4,72 % sarjana.

Dengan temuan ini, LRI semakin menambah daftar lembaga survei yang menempatkan pasangan SBY-Boediono berada di puncak teratas elektabilitas melampaui dua kompetitor lainnya meski dengan jumlah persentase yang berlainan antar lembaga survei.

Sebelumnya, Lembaga Survei Indonesia (LSI) memaparkan hasil temuannya bahwa pasangan SBY-Boediono berada di urutan teratas dengan dipilih oleh 71 % responden, JK-Win 7 %, dan Mega-Pro 21,18 %. Riset LSI ini dilakukan kepada 2.999 responden di 33 provinsi di Indonesia dengan kesalahan 1,8 % pada tingkat kepercayaan 95 %.

Selain LSI, Lembaga Survei Nasional (LSN) juga memposisikan SBY-Boediono sebagai pasangan yang paling banyak dipilih responden. Hasil penelitian LSN yang dilakukan pada 15-21 Mei menunjukkan bahwa SBY-Boediono memperoleh dukungan 67,10 %, JK-Win 6,70 %, Mega-Pro 11,80 %, dan 13,00 % menyatakan tidak tahu. Sementara angka Golput hanya 1,60 %.

Meski ada kesamaan soal penempatan SBY-Boediono dalam posisi puncak elektabilitas, namun temuan LRI dan hasil riset LSI selalu berhadap-hadapkan. Bahkan ada yang menyebut, penelitian yang dilakukan LRI merupakan antitesa dari temuan LSI yang menempatkan posisi SBY-Boediono pada level tertinggi (71 %) yang susah dikejar dua pesaing lainnya. Jika ini yang terjadi di lapangan, pilpres bakal berlangsung satu putaran.

Sementara temuan LRI, meski menempatkan SBY-Boediono pada posisi tertinggi, dengan jelas menunjukkan bahwa elektabilitas JK-Win kian menanjak mendekati SBY-Boediono dengan selisih persentase di kisaran 4 %. Hal inilah yang memperkuat anggapan bahwa Pilpres akan berlangsung dua putaran. Menurut John O. Silalahi, meningkatnya elektabilitas JK-Win disebabkan oleh migrasi pemilih di kalangan muslim dan kelas menengah ke atas.

Dengan temuan mutakhir LRI ini, sepertinya Pilpres bakal berlangsung seru karena elektabilitas masing-masing calon kian dinamis. Memang, terlalu dini untuk menebak siapa pemenang pilpres 8 Juli mendatang, namun perang opini antar lembaga survei akan semakin memanaskan situasi menjelang Pilpres.

Metode Survei LRI Dipertanyakan
Terkait hasil survei LRI, Pengamat politik Charta Politika Bima Arya Sugiarto, mempertanyakan Hasil Riset tersebut yang menyatakan pemilihan presiden akan berlangsung dua putaran. Survei dikhawatirkan tidak akan memenuhi faktor pendukung yang mencakup sumber dana, kesesuaian pengambilan sample dengan Badan Pusat Statistik (BPS), kualitas metodologi, dan rekan jejak lembaga pembuat survei

“Kami khawatir satu dari empat faktor ini tidak terpenuhi,” kata Bima kemarin, di Jakarta. Dalam paparanya, Bima memberi catatan hasil survei itu. Dia mencontohkan, pemgambilan sample dinilai mewakili data BPS.

Dalam demografi, LRI menggunakan persentase masyarakat desa 50.43 persen dari responden dan untuk masyarakat kota 49.57 persen. Menurut Bima, sesuai dengan data BPS persentase penduduk desa mencapai 59 persen. Begitu juga dengan persentase lulusan Sekolah Dasar (SD) tidak sesuai yang hanya 31.35 persen. Padahal, katanya, data BPS menunjukkan bahwa lulusan SD mencapai 60 persen.

Direktur LRI John O. Silalahi memang tidak memerinci asal dananya. Menurutnya, LRI didanai para donatur. John yang merupakan konsultas JK-Win mengatakan, sumber dana LRI tidak berkaitan dengan calon tertentu. Bahkan, John menegaskan lembaganya siap dibubarkan atau dituntut secara hukum jika terbukti dana LRI dari salah satu kandidat tertentu.

Sementara itu, Yuddy Chrisnandy selaku juru bicara tim kampanye JK-Win terlihat lebih landai dan tidak emosional. Berbeda jauh dengan saat menanggapi hasil survei LSI. Menurutnya, meski menempatkan SBY-Boediono dalam posisi teratas, namun hasil survei LRI lebih realistis ketimbang LSI. Baginya, persesntase SBY-Boediono dengan JK-Win tidak jauh beda dengan prediksi timnya. Dia mengakui jika popularitas JK-Win masih kalah dengan SBY-Boediono.

Angelina Sondakh yang mewakili tim sukses SBY-Boediono sepertinya enggan mengomentari terlalu jauh hasil survei LRI maupun LSI yang dirilis lebih awal. Dia hanya mengatakan, bahwa tim kampanye SBY-Boediono menghargai semua hasil temuan lembaga survei manapun, tapi tidak serta merta mempercayainya. Mantan Puteri Indonesi ini juga membantah hasil survei LSI adalah pesanan dan sengaja disetting kubu SBY-Boediono guna mendongkrak popularitas.*(Adi)