Wawancara » 01 Juni 2009 » Hit: 566
Soal Hasil Survei “Ini Peringatan Agar SBY Tidak Over Confident”
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali didera isu tak sedap. Belum usai kontroversi detik-detik terakhir berbelok ke kubu SBY-Boediono, partai pimpinan Tifatul Sembiring itu menuai perdebatan lagi saat Wakil Ketua Bidang Polhukam DPP PKS Zulkieflimansyah membuka hasil survei internal kepada publik soal pilihan capres.
Saat itu, Bang Zul, sapaan akrabnya, berbicara tentang elektabilitas pasangan JK-Win yang naik 10 persen. Mantan cagub banten ini juga memberikan apreseasi terhadap langkah kampanye JK –Win yang ‘jualan’ jilbab.
Buntut dari manuver itu, beredar kabar jika presiden PKS Tifatul sembiring ‘Marah’ dan menegur Bang Zul. Namun, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, pria berkacamata itu membantah rumor itu.
Menurutnya, apa pun yang dilakukan PKS sejauh ini, semata-mata ingin mengamankan kemenangan SBY-Boediono pada pilpres mendatang. Bang Zul khawatir, pasangan SBY-Boediono dan partai partai pendukung koalisi lain terlena dan terlalu percaya diri sehingga mengabaikan para pesaingnya.
Apa sebenarnya maksud Bang Zul membeberkan hasil survei internal ke publik? benarkah PKS tidak bulat mendukung duet SBY-Boediono? kepada Rakyat Merdeka, ia berbicara panjang lebar di Jakarta.
Kabarnya anda ‘dimarahi’ Tifatul Sembiring gara-gara membuka hasil survei internal. Apa itu benar?
Waduh..siapa yang bilang tuh? itu ga benar dan lucu saja dengernya. Sampai detik ini, saya tidak pernah kena tegur ataupun mendapat surat peringatan. Semuanya baik-baik saja. Lagi pula, Pak Tifatul itu orangnya ga pernah marah. I know him so well.
Lantas apa tanggapan Tifatul sembiring dan elit PKS lainnya saat anda membuka hasil survei yang menyoal naiknya elektabilitas JK-Win?
Tidak ada yang marah. Buat apa juga ditutup-tutupin. Kita transparan saja kog. Tentang pembuktian elektabilitas JK-Win dan Mega-Pro naik itu ga usah pakai survei survei segala. Semakin gencarnya kampanye iklan di seluruh media, jelas memberi pengaruh besar pada peningkatan elektabilitas kandidat lain di luar SBY-Boediono.
Peningkatan elektabilitas JK-Win itu apakah disebabkan strategi kampanye yang jitu atau citra SBYBoediono yang turun?
Ini reaksi spontan masyarakat saja. Ditambah lagi liputan media massa yang begitu massif terhadap profil dan kegiatan tiga pasangan capres dan cawapres terebut.
Namun tampaknya, anda memberi apreseasi sekali terhadap kampanye ‘jualan’ Jilbab-nya JK-Win?
Soal jilbab dan tidak pakai jilbab, bagi sebagian masyarakat rasional mungkin tidak terlampau penting. Akan tetapi, di tengah masyarakat yang tingkat pendidikannya kurang memadai, persoalan jilbab akan menjadi isu penting yang bisa mengalahkan isu-isu besar lainnya. Belum lagi, melihat penerimaan publik yang cukup besar atas kunjungan JK-Win ke berbagai daerah, SBY-Boediono dan barisan pendukungnya harus waspada.
Berapa persentase elektabilitas tiga pasangan capres-cawapres yang akan maju dalam pilpres nanti menurut hasil survei?
Hasil survei menunjukkan performa JK-Win dan Mega-pro terus meningkat mendekati SBY-Boediono.
Apa pesan anda ketika berani melansir elektabilitas JK-Win mulai mendekati SBY-Boediono?
Selama ini lemaga-lembaga survei menghembuskan angin begitu segar dan menggairahkan bahwa SBY-Boediono akan menang meyakinkan satu putaran. Nah, kami khawatir ada complacency, perasaan puas dan percaya diri sehinga terbuai. Padahal peperangan belum dimulai. Kami hanya ingin memberikan wake up call untuk segera sadar, jangan terlena dan dininabobokan keadaan. Like or not, geliat para kompetitor kian hari semakin bergairah dan seksi.
Secara komprehensif, apa yang mesti dilakukan SBY-Boediono untuk mengatasi ancaman JK-Win?
Para pendukung koalisi SBY-Boediono jangan terlampau jumawa, merasa sudah menang dan melupakan kerja keras. SBY sebagai capres yang diusung mestinya semakin progresif untuk menggerakkan mesin politik peserta koalisi demi pemenangan pilpres.
Elektabilitas SBY-Boediono juga masih belum cukup aman. Jika tidak dikemas dengan baik, isu pro pasar bebas dan kurang islami akan menjadi amunisi utama untuk menyerang SBY-Boediono. Alasannya, dua kompetitor lainnya menganggap Boediono sebagai titik lemah SBY dengan isu neoliberalismenya yang terus mereka kumandangkan. Hal-hal sederhana seperti memakai jilbab meskipun sensitif jangan diabaikan.
PKS ada niat ‘memaksakan’ Ibu Ani memakai jilbab?
PKS tidak pernah meminta secara resmi agar Ibu Ani Yudhoyono dan Ibu Herawati Boediono mengenakan jilbab. Tetapi semua berpulang kepada niat dan hati nurani masing-masing.
Apakah apreseasi positif terhadap JK-Win menunjukkan kembali citra PKS yang mendua?
Sikap kami itu semata untuk menunjang kinerja pemerintahan yang stabil di masa yang akan datang. Saat ini kami bersama SBY-Boediono. Karena itu, segala sumbangsih dan saran sepahit apapun pasti kami lakukan. Tujuannya, agar SBY-Boediono menang dan pemerintahan ke depan bisa stabil untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat.
Isu PKS minta jatah menteri belum juga hilang. Bagaimana menurut anda?
Jangan munafiklah. Pembicaraan menteri pasti ada. Tapi saat ini pembicaraan masih bersifat umum. Kami belum membicarakan secara spesifik soal pos pos menteri.
Kabarnya PKS minta menteri agama, benarkah?
Tidak benar. Kami tidak pernah meminta minta. Kami masih fokus memenangkan koalisi SBY-Boediono.
*Wawancara ini dimuat di Koran Rakyat Merdeka.
Saat itu, Bang Zul, sapaan akrabnya, berbicara tentang elektabilitas pasangan JK-Win yang naik 10 persen. Mantan cagub banten ini juga memberikan apreseasi terhadap langkah kampanye JK –Win yang ‘jualan’ jilbab.
Buntut dari manuver itu, beredar kabar jika presiden PKS Tifatul sembiring ‘Marah’ dan menegur Bang Zul. Namun, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, pria berkacamata itu membantah rumor itu.
Menurutnya, apa pun yang dilakukan PKS sejauh ini, semata-mata ingin mengamankan kemenangan SBY-Boediono pada pilpres mendatang. Bang Zul khawatir, pasangan SBY-Boediono dan partai partai pendukung koalisi lain terlena dan terlalu percaya diri sehingga mengabaikan para pesaingnya.
Apa sebenarnya maksud Bang Zul membeberkan hasil survei internal ke publik? benarkah PKS tidak bulat mendukung duet SBY-Boediono? kepada Rakyat Merdeka, ia berbicara panjang lebar di Jakarta.
Kabarnya anda ‘dimarahi’ Tifatul Sembiring gara-gara membuka hasil survei internal. Apa itu benar?
Waduh..siapa yang bilang tuh? itu ga benar dan lucu saja dengernya. Sampai detik ini, saya tidak pernah kena tegur ataupun mendapat surat peringatan. Semuanya baik-baik saja. Lagi pula, Pak Tifatul itu orangnya ga pernah marah. I know him so well.
Lantas apa tanggapan Tifatul sembiring dan elit PKS lainnya saat anda membuka hasil survei yang menyoal naiknya elektabilitas JK-Win?
Tidak ada yang marah. Buat apa juga ditutup-tutupin. Kita transparan saja kog. Tentang pembuktian elektabilitas JK-Win dan Mega-Pro naik itu ga usah pakai survei survei segala. Semakin gencarnya kampanye iklan di seluruh media, jelas memberi pengaruh besar pada peningkatan elektabilitas kandidat lain di luar SBY-Boediono.
Peningkatan elektabilitas JK-Win itu apakah disebabkan strategi kampanye yang jitu atau citra SBYBoediono yang turun?
Ini reaksi spontan masyarakat saja. Ditambah lagi liputan media massa yang begitu massif terhadap profil dan kegiatan tiga pasangan capres dan cawapres terebut.
Namun tampaknya, anda memberi apreseasi sekali terhadap kampanye ‘jualan’ Jilbab-nya JK-Win?
Soal jilbab dan tidak pakai jilbab, bagi sebagian masyarakat rasional mungkin tidak terlampau penting. Akan tetapi, di tengah masyarakat yang tingkat pendidikannya kurang memadai, persoalan jilbab akan menjadi isu penting yang bisa mengalahkan isu-isu besar lainnya. Belum lagi, melihat penerimaan publik yang cukup besar atas kunjungan JK-Win ke berbagai daerah, SBY-Boediono dan barisan pendukungnya harus waspada.
Berapa persentase elektabilitas tiga pasangan capres-cawapres yang akan maju dalam pilpres nanti menurut hasil survei?
Hasil survei menunjukkan performa JK-Win dan Mega-pro terus meningkat mendekati SBY-Boediono.
Apa pesan anda ketika berani melansir elektabilitas JK-Win mulai mendekati SBY-Boediono?
Selama ini lemaga-lembaga survei menghembuskan angin begitu segar dan menggairahkan bahwa SBY-Boediono akan menang meyakinkan satu putaran. Nah, kami khawatir ada complacency, perasaan puas dan percaya diri sehinga terbuai. Padahal peperangan belum dimulai. Kami hanya ingin memberikan wake up call untuk segera sadar, jangan terlena dan dininabobokan keadaan. Like or not, geliat para kompetitor kian hari semakin bergairah dan seksi.
Secara komprehensif, apa yang mesti dilakukan SBY-Boediono untuk mengatasi ancaman JK-Win?
Para pendukung koalisi SBY-Boediono jangan terlampau jumawa, merasa sudah menang dan melupakan kerja keras. SBY sebagai capres yang diusung mestinya semakin progresif untuk menggerakkan mesin politik peserta koalisi demi pemenangan pilpres.
Elektabilitas SBY-Boediono juga masih belum cukup aman. Jika tidak dikemas dengan baik, isu pro pasar bebas dan kurang islami akan menjadi amunisi utama untuk menyerang SBY-Boediono. Alasannya, dua kompetitor lainnya menganggap Boediono sebagai titik lemah SBY dengan isu neoliberalismenya yang terus mereka kumandangkan. Hal-hal sederhana seperti memakai jilbab meskipun sensitif jangan diabaikan.
PKS ada niat ‘memaksakan’ Ibu Ani memakai jilbab?
PKS tidak pernah meminta secara resmi agar Ibu Ani Yudhoyono dan Ibu Herawati Boediono mengenakan jilbab. Tetapi semua berpulang kepada niat dan hati nurani masing-masing.
Apakah apreseasi positif terhadap JK-Win menunjukkan kembali citra PKS yang mendua?
Sikap kami itu semata untuk menunjang kinerja pemerintahan yang stabil di masa yang akan datang. Saat ini kami bersama SBY-Boediono. Karena itu, segala sumbangsih dan saran sepahit apapun pasti kami lakukan. Tujuannya, agar SBY-Boediono menang dan pemerintahan ke depan bisa stabil untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat.
Isu PKS minta jatah menteri belum juga hilang. Bagaimana menurut anda?
Jangan munafiklah. Pembicaraan menteri pasti ada. Tapi saat ini pembicaraan masih bersifat umum. Kami belum membicarakan secara spesifik soal pos pos menteri.
Kabarnya PKS minta menteri agama, benarkah?
Tidak benar. Kami tidak pernah meminta minta. Kami masih fokus memenangkan koalisi SBY-Boediono.
*Wawancara ini dimuat di Koran Rakyat Merdeka.