Islamic Update » 11 Maret 2009 » Hit: 2308
Sekolah Islam Kini
Salah satu keunggulan menjadi staf DR. Zulkieflimansyah adalah kebebasan berapresiasi. Tulisan ini misalnya, meski kurang berhubungan dengan tugas dan fungsi DR. Zul di parlemen namun ia tetap memberikan kesempatan kepada para staf yang ingin menulis bidang lainnya. “Asal itu positif dan untuk kemajuan Islam, silahkan” begitu katanya.
Beberapa waktu di penghujung Februari lalu Tim Zulkieflimansyah yang tergabung dalam Zulspublicservices berkesempatan mengunjungi beberapa Sekolah Islam Terpadu di Jakarta dan sekitarnya. Sekolah yang belakangan ini sedang menjadi trend dikalangan umat Islam. Tujuan kedatangan tim adalah untuk mencari tahu bahwa dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, apa sebenarnya yang menjadi tujuan Sekolah Islam Terpadu atau biasa disebut Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)? Bagaimana peran guru? Bagaimana dengan standarisasinya? Apa kiat-kiat tim manajemen dalam mengelola, mengembangkan dan mempertahankannya? Serta bagaimana dengan lulusannya? Berikut ini hasil liputan kami selama tiga hari berturut-turut:
Semilir angin sepoi-sepoi terasa sangat menyejukkan, pepohonan yangg rimbun, bunga-bunga yang tertata apik terlihat disana-sini memenuhi School of Universe atau biasa disebut Sekolah Alam, serasa berada di hutan kecil nan sejuk. Sekolah ini terletak di Desa Lebak Wangi Parung Panjang Bogor. Sekitar dua jam perjalanan bila kita menggunakan kendaraan pribadi dari Jakarta. Kedatangan kami pagi pukul 10.30 disambut oleh dua orang akhwat berkerudung cantik, biasa disapa Ibu Jusriyah dan Ibu Septri. Dalam wawancara kami banyak dibantu oleh Ibu Septri selaku Public Relations (Humas). Layaknya tuan rumah yang ramah Septri mengajak kami mengelilingi School of Universe seraya bercerita panjang lebar tentang sekolah yang mendidik dan mengembangkan anak berdasarkan pada minat dan bakat. Menurutnya sekolah ini tidak hanya mencetak anak bisa membaca, menghafal kitab suci al-quran, dan pengetahuan umum saja, tapi Sekolah Alam ini juga melatih jiwa entrepreneurship (wira usaha) sejak dini.
“Pengembangan minat dan bakat salah satunya melalui latihan jiwa kepemimpinan dengan cara menyeimbangkan anak dengan alam melalui permainan uji keberanian” kata Septri
Adapun jenis permainan yang tersedia di hamparan tanah seluas hampir dua hektar itu agak mirip dengan permainan di Pramuka, seperti tarik tambang, kawat rintangan dan lainnya. Pihak sekolah yakin seorang anak yang duduk di kelas dua SD misalnya, mungkin dari sisi akademis nilainya sangat bagus, bahkan sangat layak bila langsung dipindahkan ke kelas empat. Tapi biasanya pihak Sekolah Alam tidak serta merta menaikkan sang anak ke kelas empat.
“Kami akan menguji nyalinya dengan permainan seperti lempar lembing, atau permainan lain yang menguji mentalnya. Bila gagal, tentu si anak tidak bisa dipindahkan ke kelas empat karena secara mental belum layak. Inilah yang dimaksud keseimbangan anak dengan alam” tambahnya.
Lantas bagaimana melatih jiwa entrepreneurship-nya? Sedari SD sampai SMA anak sudah dilatih berwira usaha baik secara pribadi maupun kelompok. Contoh, anak SD yang punya karya dengan keterampilan dari tangan mereka sendiri, biasanya mereka jual, bisa ke teman-teman di lingkungan rumah atau kepada keluarga di rumah mereka sendiri.
Siswa yang sudah duduk di tingkat SMA akan diuji keberanian dan kreativitasnya melalui magang kerja sesuai dengan bakat anak di beberapa perusahaan besar yang memang sudah punya link dengan sekolah. Jadi jangan heran kalau Anda berkunjung ke sekolah ini dan bertemu dengan siswa perempuan misalnya, baju dan tas yang mereka kenakan adalah hasil design mereka sendiri alias hand made.
Dunia science juga diperkenalkan kepada anak-anak lewat alam. Melalui menanam bunga misalnya, nilai-nilai islam tentang keindahan akan diintegrasikan ketika menjelaskan pelajaran itu didepan para murid melalui ayat-ayat suci al-qur’an. Sehingga jangan heran kalau kedekatan guru dan murid di sekolah alam sangat menonjol. Ini dikarenakan konsep yang dibangun ‘guru adalah pengganti orang tua di rumah’.
Hal unik lainnya para siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah ini tidak hanya mendapat rapor dalam bentuk angka saja, tapi juga portofolio mereka. “Kami tidak ingin ada persaingan dalam angka-angka saja, karena setiap anak itu berharga. Buktinya mereka mampu menghasilkan harta karun mereka sendiri melalui portofolio” tukas Septri.
****
Hari berikutnya atau tepatnya hari kedua, pagi sekira pukul 10.00 Tim Zulspublicservices berkesempatan mewawancarai Fahmi El-Idrus, salah seorang penggagas SDIT yang juga ikut mendirikan kepengurusan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) sejak tahun 2003. Dalam tanya jawab yang berlangsung hampir dua jam, pria berkacamata itu bertutur panjang lebar perihal latar belakang kenapa SDIT berdiri?
Bagi Ustad Fahmi, begitu ia biasa disapa, asal muasal berdirinya Sekolah Islam Terpadu dikarenakan rasa kurang puas terhadap dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Sekolah Umum itu baik, sekolah madrasah atau pesantren juga baik menurutnya. Tapi apa yang terjadi dengan sekolah madrasah atau pesantren misalnya, disana anak-anak lebih banyak hanya diajarkan menyimak (thalaqi) tanpa mengerti dan memahami ayat apa yang mereka baca, apa maksudnya? dan bagaimana ayat-ayat itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari? sehingga hasilnya anak-anak kehilangan spirit of enquiry (memahami segala sesuatu secara holistic) yang berujung pada lemahnya criticial thingking (konsep berpikir kritis) pada anak. “Padahal dalam al-qur’an ada 42 kali Allah mengulang kata apakah kamu tidak berpikir keras” tuturnya dengan penuh semangat.
Sebagai contoh, membiasakan anak-anak usia SD mulai dari bangun tidur, mandi, pakaian, makan, minum dan lainnya harus membaca doa. Bagi sebagian orang rutinitas itu mungkin hal yang biasa saja, tapi kalau kita terus ingatkan dan beri pemahaman kepada anak, maka diharapkan rasa bersyukur pada Allah akan tumbuh sejak usia dini. Dan ketika umat Rasulullah SAW sudah bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya.
Secara garis besar Ustad Fahmi membagi tiga tahapan yang sudah dan akan mereka lalui terhitung sejak 2003 lalu. Tahap pertama butuh waktu tiga tahun membuat konsep SDIT. Tahap kedua sejak 2006 lalu sampai kini mereka masuk pada standarisasi, namun kenyataan dilapangan berkata lain karena masih banyak perbedaan pendapat pada tahap ini. Sehingga wajar saja kalau SDIT belum mempunyai kurikulum khusus. Biasanya dalam mengajar para guru di SDIT mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam. Setelah tahap standarisasi rampung baru masuk tahap ketiga yakni pengembangan dan suistainable dari Sekolah Islam Terpadu.
Bahkan JSIT sendiri belum mempunyai peraturan baku untuk tiap-tiap SDIT, meski demikian ternyata hal itu membawa hal positif bagi perkembangan tiap-tiap SDIT karena sampai saat ini tiap sekolah punya unique selling point (ciri khas) tersendiri.
Adapun yang menjadi garda terdepan dalam menjalankan dan keberlangsungan SDIT terletak pada pelatihan untuk guru-guru sebagai pendidik atau istilah bekennya Training of Teacher (ToT). “Merekalah (para guru-red) yang langsung berinteraksi dengan murid, dan tahu perkembangan tiap anak. Karenanya ToT menjadi sangat penting” kata Ustad Fahmi. Pernyataan tersebut tak jauh berbeda dengan fakta yang kami temukan dilapangan.
Inilah buktinya, usai kami mewawancarai Fahmi El-Idrus, siangnya kami menyambangi SDIT Fajar Hidayah di Kota Wisata Cibubur. Hanya memakan waktu satu jam perjalanan dari Jakarta dengan mobil pribadi. Sekolah yang terletak di perumahan elit itu terlihat kokoh. Ketika memasuki pintu gerbang, kami diharuskan melepas sepatu yang kami pakai, dikarenakan hamparan karpet merah antara ruang satu dan lainnya. “Hmm… serasa menjadi artis luar negeri yang berjalan di karpet merah untuk mendapat grammy awards” batinku berkata.
Sesampainya di ruang guru, kami disambut tiga orang guru dan satu orang tim manajemen. Mereka sangat ramah dan bersedia bercerita panjang lebar ihwal tujuan berdirinya SDIT Fajar Hidayah. Senada dengan Ustad Fahmi El Idrus, Muhammad Taufik selaku Vice Director juga menuturkan hal yang tak jauh tentang problem yang dihadapi sekolah islam sebelumnya seperti anak sholat sementara gurunya sendiri tidak, anak tidak boleh merokok tapi gurunya sendiri merokok, dan permasalahan lainnya.
Di Sekolah Fajar Hidayah, persoalan seperti itu diharapkan tidak terjadi karena pada saat jam sholat, guru dan murid sholat berjamaah, sementara guru yang merokok akan dipecat. Sekolah ini memadukan 50% kurikulum nasional, dan 50% agama. Jadi pada tiap mata pelajaran pasti memuat nilai-nilai agama. Sebagai contoh ketika belajar Biologi soal reproduksi misalnya, guru akan mengaitkannya dengan al-qur’an surat 23 ayat 14-12. “Disinilah proses integrasi nilai-nilai islam terjadi” ucap Taufik sapaan akrab Muhammad Taufik.
Tidak seperti sekolah pada umumnya, keunikan Fajar Hidayah lainnya juga menerima anak dengan cacat mental seperti autis ataupun cacat fisik. Alasan pihak manajemen menerima mereka yang punya kekurangan tersebut adalah untuk membiasakan anak-anak normal lainnya menghormati mereka yang kurang beruntung.
“Tentu kita punya treatment-treatment khusus untuk kelas yang kebetulan mendapat teman yang spesial ini. Biasanya guru-guru mempersiapkan dulu mental para murid dengan memberitahu mereka bahwa mereka akan kedatangan teman yang sangat khusus, setelah itu baru mental anak yang cacat itu. Biasanya dia juga akan mendapat tambahan guru khusus. Dan demi keberhasilan si anak, interaksi orang tua, guru harus intens demi kemajuan si anak tersebut” urai Taufik lagi. Di samping itu Fajar Hidayah punya filosofi menjadikan para siswanya sebagai anak unggulan. Oleh karenanya meningkatkan kualitas guru tentu menjadi prioritas utama.
Meski berada di kawasan elit, para guru dan tim manajemen Fajar Hidayah menyadari bahwa dibalik tembok sekolah mereka terdapat anak-anak kurang beruntung yang ingin sekolah. Karenanya mereka juga punya semacam kegiatan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibilty (CSR) yang biasanya dimiliki perusahaan besar seperti Chevron, Telkomsel, dan lainnya. Sekolah itu memberikan CSR kepada masyarakat kurang mampu berupa pendidikan gratis yang digelar tiap senin sampai jumat sore. Mungkin karena niat tulus tersebut tak heran kalau sekolah ini mendapat banyak berkah dari Allah. Buktinya meski baru 10 tahun berdiri, mereka sudah punya beberapa cabang seperti di Aceh, Kuala Lumpur, dan di Jakarta sendiri kita bisa menemukannya di Kota Wisata dan Sentul City.
*********
Dihari ketiga atau hari terakhir Tim Zulspublicservices berkesempatan berkunjung ke Jakarta Islamic School yang terletak di Jalan Manunggal I Komplek Kodam Kalimalang Jakarta Timur. Sama seperti dua sekolah terdahulu, sekolah ini juga mempunyai unique selling point tersendiri. Berikut uraiannya:
Tembok dari batu bata kecoklatan itu tersusun dengan rapi, ditambah dengan dua pagar hitam yang mengapit menambah kesan kekokohannya. Itulah Jakarta Islamic School (JISC) yang dibangun dengan konsep SDIT. Pagi itu sekitar pukul sembilan pagi kami disambut seorang lelaki paruh baya perwakilan dari SDIT, biasa dipanggil Pak Uma. Dengan keramahannya Pak Uma memberikan sekilas informasi tentang sekolah JISC, sebelum akhirnya Bu Fifi, sebagai pemilik sekolah bercerita kepada kami.
Dalam hal bermain JISC memberikan kebebasan kepada murid-muridnya, jadi jangan heran kalau kita menemukan anak-anak yang bertelanjang kaki ketika dilapangan, bahkan mereka juga bebas memanjat pohon, tapi tentu dengan pengawasan dari para guru. “Ini seperti konsep rumah, kenapa? Kami memang sengaja membiarkan mereka bebas agar mereka tidak bosan, mengingat kelas mereka akan berlangsung dari pagi sampai sore,” kata Fifi.
Di sekolah ini khusus untuk science yang meliputi matematika, biologi, fisika dan lainnya para guru menggunakan bahasa Inggris dalam mengajar. Soal menghafal alqur’an jangan ditanya lagi, sekolah ini punya konsep yang tidak diragukan. Bahkan sekolah ini punya kelas unggulan bagi anak yang ingin memperdalam al-qur’an.
Lantas bagaimana dengan para lulusannya? “Alhamdulillah tidak diragukan lagi, buktinya Diknas sudah mulai melirik sekolah seperti ini dan bahkan mulai mendukung kami” tutup Fifi
Dari ketiga sekolah tersebut, bisa kita ambil kesimpulan tentang Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) adalah sebagai berikut :
1. Konsep SDIT dirancang sejak 2003 dalam satu forum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).
2. Sampai saat ini JSIT masih berada pada tahap standarisasi.
3. Meski belum terstandarisasi dengan sempurna namun hal itu justru membawa berkah tersendiri pada tiap-tiap SDIT, karena pada akhirnya tiap-tiap SDIT punya unique selling point masing-masing.
4. Guru, menjadi garda terdepan di setiap SDIT. Karenanya guna menghasilkan penerus bangsa yang handal, dibutuhkan pelatihan yang tersistematis. Dan cara yang ditempuh pada tiap sekolah berbeda-beda.
Ingin tahu bagaimana tiap-tiap sekolah ini melatih para gurunya? Serta kiat-kiat apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi guru di Sekolah Islam Terpadu? Kalau tidak ada aral melintang Insyaallah Tim Zulspublicservices akan melakukan liputan investigasi di akhir April mendatang. Bagi pembaca yang ingin menanggapi tulisan ini silahkan mengirimkannya ke zulspublicservices@gmail.com (dewi/tim)
Beberapa waktu di penghujung Februari lalu Tim Zulkieflimansyah yang tergabung dalam Zulspublicservices berkesempatan mengunjungi beberapa Sekolah Islam Terpadu di Jakarta dan sekitarnya. Sekolah yang belakangan ini sedang menjadi trend dikalangan umat Islam. Tujuan kedatangan tim adalah untuk mencari tahu bahwa dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, apa sebenarnya yang menjadi tujuan Sekolah Islam Terpadu atau biasa disebut Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)? Bagaimana peran guru? Bagaimana dengan standarisasinya? Apa kiat-kiat tim manajemen dalam mengelola, mengembangkan dan mempertahankannya? Serta bagaimana dengan lulusannya? Berikut ini hasil liputan kami selama tiga hari berturut-turut:
Semilir angin sepoi-sepoi terasa sangat menyejukkan, pepohonan yangg rimbun, bunga-bunga yang tertata apik terlihat disana-sini memenuhi School of Universe atau biasa disebut Sekolah Alam, serasa berada di hutan kecil nan sejuk. Sekolah ini terletak di Desa Lebak Wangi Parung Panjang Bogor. Sekitar dua jam perjalanan bila kita menggunakan kendaraan pribadi dari Jakarta. Kedatangan kami pagi pukul 10.30 disambut oleh dua orang akhwat berkerudung cantik, biasa disapa Ibu Jusriyah dan Ibu Septri. Dalam wawancara kami banyak dibantu oleh Ibu Septri selaku Public Relations (Humas). Layaknya tuan rumah yang ramah Septri mengajak kami mengelilingi School of Universe seraya bercerita panjang lebar tentang sekolah yang mendidik dan mengembangkan anak berdasarkan pada minat dan bakat. Menurutnya sekolah ini tidak hanya mencetak anak bisa membaca, menghafal kitab suci al-quran, dan pengetahuan umum saja, tapi Sekolah Alam ini juga melatih jiwa entrepreneurship (wira usaha) sejak dini.
“Pengembangan minat dan bakat salah satunya melalui latihan jiwa kepemimpinan dengan cara menyeimbangkan anak dengan alam melalui permainan uji keberanian” kata Septri
Adapun jenis permainan yang tersedia di hamparan tanah seluas hampir dua hektar itu agak mirip dengan permainan di Pramuka, seperti tarik tambang, kawat rintangan dan lainnya. Pihak sekolah yakin seorang anak yang duduk di kelas dua SD misalnya, mungkin dari sisi akademis nilainya sangat bagus, bahkan sangat layak bila langsung dipindahkan ke kelas empat. Tapi biasanya pihak Sekolah Alam tidak serta merta menaikkan sang anak ke kelas empat.
“Kami akan menguji nyalinya dengan permainan seperti lempar lembing, atau permainan lain yang menguji mentalnya. Bila gagal, tentu si anak tidak bisa dipindahkan ke kelas empat karena secara mental belum layak. Inilah yang dimaksud keseimbangan anak dengan alam” tambahnya.
Lantas bagaimana melatih jiwa entrepreneurship-nya? Sedari SD sampai SMA anak sudah dilatih berwira usaha baik secara pribadi maupun kelompok. Contoh, anak SD yang punya karya dengan keterampilan dari tangan mereka sendiri, biasanya mereka jual, bisa ke teman-teman di lingkungan rumah atau kepada keluarga di rumah mereka sendiri.
Siswa yang sudah duduk di tingkat SMA akan diuji keberanian dan kreativitasnya melalui magang kerja sesuai dengan bakat anak di beberapa perusahaan besar yang memang sudah punya link dengan sekolah. Jadi jangan heran kalau Anda berkunjung ke sekolah ini dan bertemu dengan siswa perempuan misalnya, baju dan tas yang mereka kenakan adalah hasil design mereka sendiri alias hand made.
Dunia science juga diperkenalkan kepada anak-anak lewat alam. Melalui menanam bunga misalnya, nilai-nilai islam tentang keindahan akan diintegrasikan ketika menjelaskan pelajaran itu didepan para murid melalui ayat-ayat suci al-qur’an. Sehingga jangan heran kalau kedekatan guru dan murid di sekolah alam sangat menonjol. Ini dikarenakan konsep yang dibangun ‘guru adalah pengganti orang tua di rumah’.
Hal unik lainnya para siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah ini tidak hanya mendapat rapor dalam bentuk angka saja, tapi juga portofolio mereka. “Kami tidak ingin ada persaingan dalam angka-angka saja, karena setiap anak itu berharga. Buktinya mereka mampu menghasilkan harta karun mereka sendiri melalui portofolio” tukas Septri.
****
Hari berikutnya atau tepatnya hari kedua, pagi sekira pukul 10.00 Tim Zulspublicservices berkesempatan mewawancarai Fahmi El-Idrus, salah seorang penggagas SDIT yang juga ikut mendirikan kepengurusan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) sejak tahun 2003. Dalam tanya jawab yang berlangsung hampir dua jam, pria berkacamata itu bertutur panjang lebar perihal latar belakang kenapa SDIT berdiri?
Bagi Ustad Fahmi, begitu ia biasa disapa, asal muasal berdirinya Sekolah Islam Terpadu dikarenakan rasa kurang puas terhadap dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Sekolah Umum itu baik, sekolah madrasah atau pesantren juga baik menurutnya. Tapi apa yang terjadi dengan sekolah madrasah atau pesantren misalnya, disana anak-anak lebih banyak hanya diajarkan menyimak (thalaqi) tanpa mengerti dan memahami ayat apa yang mereka baca, apa maksudnya? dan bagaimana ayat-ayat itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari? sehingga hasilnya anak-anak kehilangan spirit of enquiry (memahami segala sesuatu secara holistic) yang berujung pada lemahnya criticial thingking (konsep berpikir kritis) pada anak. “Padahal dalam al-qur’an ada 42 kali Allah mengulang kata apakah kamu tidak berpikir keras” tuturnya dengan penuh semangat.
Sebagai contoh, membiasakan anak-anak usia SD mulai dari bangun tidur, mandi, pakaian, makan, minum dan lainnya harus membaca doa. Bagi sebagian orang rutinitas itu mungkin hal yang biasa saja, tapi kalau kita terus ingatkan dan beri pemahaman kepada anak, maka diharapkan rasa bersyukur pada Allah akan tumbuh sejak usia dini. Dan ketika umat Rasulullah SAW sudah bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya.
Secara garis besar Ustad Fahmi membagi tiga tahapan yang sudah dan akan mereka lalui terhitung sejak 2003 lalu. Tahap pertama butuh waktu tiga tahun membuat konsep SDIT. Tahap kedua sejak 2006 lalu sampai kini mereka masuk pada standarisasi, namun kenyataan dilapangan berkata lain karena masih banyak perbedaan pendapat pada tahap ini. Sehingga wajar saja kalau SDIT belum mempunyai kurikulum khusus. Biasanya dalam mengajar para guru di SDIT mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam. Setelah tahap standarisasi rampung baru masuk tahap ketiga yakni pengembangan dan suistainable dari Sekolah Islam Terpadu.
Bahkan JSIT sendiri belum mempunyai peraturan baku untuk tiap-tiap SDIT, meski demikian ternyata hal itu membawa hal positif bagi perkembangan tiap-tiap SDIT karena sampai saat ini tiap sekolah punya unique selling point (ciri khas) tersendiri.
Adapun yang menjadi garda terdepan dalam menjalankan dan keberlangsungan SDIT terletak pada pelatihan untuk guru-guru sebagai pendidik atau istilah bekennya Training of Teacher (ToT). “Merekalah (para guru-red) yang langsung berinteraksi dengan murid, dan tahu perkembangan tiap anak. Karenanya ToT menjadi sangat penting” kata Ustad Fahmi. Pernyataan tersebut tak jauh berbeda dengan fakta yang kami temukan dilapangan.
Inilah buktinya, usai kami mewawancarai Fahmi El-Idrus, siangnya kami menyambangi SDIT Fajar Hidayah di Kota Wisata Cibubur. Hanya memakan waktu satu jam perjalanan dari Jakarta dengan mobil pribadi. Sekolah yang terletak di perumahan elit itu terlihat kokoh. Ketika memasuki pintu gerbang, kami diharuskan melepas sepatu yang kami pakai, dikarenakan hamparan karpet merah antara ruang satu dan lainnya. “Hmm… serasa menjadi artis luar negeri yang berjalan di karpet merah untuk mendapat grammy awards” batinku berkata.
Sesampainya di ruang guru, kami disambut tiga orang guru dan satu orang tim manajemen. Mereka sangat ramah dan bersedia bercerita panjang lebar ihwal tujuan berdirinya SDIT Fajar Hidayah. Senada dengan Ustad Fahmi El Idrus, Muhammad Taufik selaku Vice Director juga menuturkan hal yang tak jauh tentang problem yang dihadapi sekolah islam sebelumnya seperti anak sholat sementara gurunya sendiri tidak, anak tidak boleh merokok tapi gurunya sendiri merokok, dan permasalahan lainnya.
Di Sekolah Fajar Hidayah, persoalan seperti itu diharapkan tidak terjadi karena pada saat jam sholat, guru dan murid sholat berjamaah, sementara guru yang merokok akan dipecat. Sekolah ini memadukan 50% kurikulum nasional, dan 50% agama. Jadi pada tiap mata pelajaran pasti memuat nilai-nilai agama. Sebagai contoh ketika belajar Biologi soal reproduksi misalnya, guru akan mengaitkannya dengan al-qur’an surat 23 ayat 14-12. “Disinilah proses integrasi nilai-nilai islam terjadi” ucap Taufik sapaan akrab Muhammad Taufik.
Tidak seperti sekolah pada umumnya, keunikan Fajar Hidayah lainnya juga menerima anak dengan cacat mental seperti autis ataupun cacat fisik. Alasan pihak manajemen menerima mereka yang punya kekurangan tersebut adalah untuk membiasakan anak-anak normal lainnya menghormati mereka yang kurang beruntung.
“Tentu kita punya treatment-treatment khusus untuk kelas yang kebetulan mendapat teman yang spesial ini. Biasanya guru-guru mempersiapkan dulu mental para murid dengan memberitahu mereka bahwa mereka akan kedatangan teman yang sangat khusus, setelah itu baru mental anak yang cacat itu. Biasanya dia juga akan mendapat tambahan guru khusus. Dan demi keberhasilan si anak, interaksi orang tua, guru harus intens demi kemajuan si anak tersebut” urai Taufik lagi. Di samping itu Fajar Hidayah punya filosofi menjadikan para siswanya sebagai anak unggulan. Oleh karenanya meningkatkan kualitas guru tentu menjadi prioritas utama.
Meski berada di kawasan elit, para guru dan tim manajemen Fajar Hidayah menyadari bahwa dibalik tembok sekolah mereka terdapat anak-anak kurang beruntung yang ingin sekolah. Karenanya mereka juga punya semacam kegiatan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibilty (CSR) yang biasanya dimiliki perusahaan besar seperti Chevron, Telkomsel, dan lainnya. Sekolah itu memberikan CSR kepada masyarakat kurang mampu berupa pendidikan gratis yang digelar tiap senin sampai jumat sore. Mungkin karena niat tulus tersebut tak heran kalau sekolah ini mendapat banyak berkah dari Allah. Buktinya meski baru 10 tahun berdiri, mereka sudah punya beberapa cabang seperti di Aceh, Kuala Lumpur, dan di Jakarta sendiri kita bisa menemukannya di Kota Wisata dan Sentul City.
*********
Dihari ketiga atau hari terakhir Tim Zulspublicservices berkesempatan berkunjung ke Jakarta Islamic School yang terletak di Jalan Manunggal I Komplek Kodam Kalimalang Jakarta Timur. Sama seperti dua sekolah terdahulu, sekolah ini juga mempunyai unique selling point tersendiri. Berikut uraiannya:
Tembok dari batu bata kecoklatan itu tersusun dengan rapi, ditambah dengan dua pagar hitam yang mengapit menambah kesan kekokohannya. Itulah Jakarta Islamic School (JISC) yang dibangun dengan konsep SDIT. Pagi itu sekitar pukul sembilan pagi kami disambut seorang lelaki paruh baya perwakilan dari SDIT, biasa dipanggil Pak Uma. Dengan keramahannya Pak Uma memberikan sekilas informasi tentang sekolah JISC, sebelum akhirnya Bu Fifi, sebagai pemilik sekolah bercerita kepada kami.
Dalam hal bermain JISC memberikan kebebasan kepada murid-muridnya, jadi jangan heran kalau kita menemukan anak-anak yang bertelanjang kaki ketika dilapangan, bahkan mereka juga bebas memanjat pohon, tapi tentu dengan pengawasan dari para guru. “Ini seperti konsep rumah, kenapa? Kami memang sengaja membiarkan mereka bebas agar mereka tidak bosan, mengingat kelas mereka akan berlangsung dari pagi sampai sore,” kata Fifi.
Di sekolah ini khusus untuk science yang meliputi matematika, biologi, fisika dan lainnya para guru menggunakan bahasa Inggris dalam mengajar. Soal menghafal alqur’an jangan ditanya lagi, sekolah ini punya konsep yang tidak diragukan. Bahkan sekolah ini punya kelas unggulan bagi anak yang ingin memperdalam al-qur’an.
Lantas bagaimana dengan para lulusannya? “Alhamdulillah tidak diragukan lagi, buktinya Diknas sudah mulai melirik sekolah seperti ini dan bahkan mulai mendukung kami” tutup Fifi
Dari ketiga sekolah tersebut, bisa kita ambil kesimpulan tentang Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) adalah sebagai berikut :
1. Konsep SDIT dirancang sejak 2003 dalam satu forum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).
2. Sampai saat ini JSIT masih berada pada tahap standarisasi.
3. Meski belum terstandarisasi dengan sempurna namun hal itu justru membawa berkah tersendiri pada tiap-tiap SDIT, karena pada akhirnya tiap-tiap SDIT punya unique selling point masing-masing.
4. Guru, menjadi garda terdepan di setiap SDIT. Karenanya guna menghasilkan penerus bangsa yang handal, dibutuhkan pelatihan yang tersistematis. Dan cara yang ditempuh pada tiap sekolah berbeda-beda.
Ingin tahu bagaimana tiap-tiap sekolah ini melatih para gurunya? Serta kiat-kiat apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi guru di Sekolah Islam Terpadu? Kalau tidak ada aral melintang Insyaallah Tim Zulspublicservices akan melakukan liputan investigasi di akhir April mendatang. Bagi pembaca yang ingin menanggapi tulisan ini silahkan mengirimkannya ke zulspublicservices@gmail.com (dewi/tim)