PKS Bukan Sekedar Partai Politik

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
News » 05 September 2008 » Hit: 765
PKS Bukan Sekedar Partai Politik
(berita terakhir dari 2 berita)

Serang, Banten – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan salah satu, jika bukan satu-satunya, partai politik (Islam) di Indonesia yang menegaskan dirinya bukan sekedar partai politik. Lebih dari itu, PKS menegasikan garis perjuangannya sebagai partai dakwah yang mempunyai visi kepeloporan kebangkitan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Dalam tradisi politiknya, partai yang bermarkas di TB Simatupang ini tidak saja berpartisipasi dalam setiap pemilihan kepala pemerintahan, melainkan PKS menjadikan para kadernya sebagai figur tauladan yang menjadi panutan dengan tingkat kepekaan sosial yang tinggi.

Tak heran, jika dalam fat soen politiknya setiap aktivis PKS harus mampu menjelma menjadi pribadi-pribadi yang saleh dengan jiwa sosial tinggi. ”Kalau dilihat dari tahapan awal dakwahnya, kader PKS harus mewujudkan dirinya menjadi kader yang saleh. Jadi, kalo datang ke masyarakat dengan tanpa bendera orang akan mengenal bahwa kita adalah kader PKS,” kata Zulkieflimansyah saat memberikan tausiyah politik dihadapan ratusan kader PKS Serang, Banten beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, kesalehan pribadi itu tanpa makna jika tidak dibarengi dengan kesalehan sosial. ”Percuma punya kader yang tiap hari ke masjid, bacaan al-qurannya bagus, tapi kalau ketemu orang lain mukanya menampakkan permusuhan dan tidak menghadirkan diri sebagai figur yang menentramkan,” terang pria yang kerap disapa Bang Zul ini menjelaskan.

Setelah menjadi pribadi yang saleh, kader PKS harus mempunyai makna optimal secara sosial, dan menjadi da’i. Kehadiran para da’i ini nantinya akan melahirkan daya tarik dan simpati dari masyarakat, sehingga orang tanpa diminta pun akan mengerubuti para da’i itu. Dengan pancaran sinar ilahi yang inheren dalam dirinya, da’i tersebut mampu melahirkan ketentraman bagi lingkungan sekitarnya.

Orang yang saleh secara individu dan da’i secara sosial, tentu saja menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. ”Jadi, mereka itu berkumpul dalam golongan orang-orang yang baik,” terang Doktor ekonomi ini.

Meski begitu, orang yang saleh secara individu dan para da’i ini harus mempunyai kerendahan hati untuk dikoordinasi dalam sebuah jamaah atau institusi yang kebetulan di Indonesia disebut PKS. ”Betul memang, partai lain punya uang lebih banyak, punya fasilitas lebih mapan, akan tetapi insyaAllah PKS mempunyai da’i lebih banyak. Dengan kata lain, PKS adalah kumpulan para da’i yang mempunyai kerendahan hati untuk diatur demi tujuan bersama. Itulah bedanya kita dengan partai lain,” katanya.

Tak hanya itu, tahap berikutnya adalah ketika para da’i itu berkumpul dalam satu institusi, jamaah, maupun partai politik, nilai-nilai kebenaran yang dibawa dan kata-kata baik yang diartikulasikan harus bisa menjadi contoh sistem pemerintahan dalam satu lingkup wilayah tertentu. Sejak saat itu, mulailah PKS memilih dan mengusung calon-calon pemimpin kepala daerah.

”Banyak ikhwah yang kita dukung menjadi kepala daerah. Semoga para ikhwah yang saleh dan mempunyai nilai-nilai langit itu bisa menyejukkan hati masyarakat, menyelesaikan pengangguran dan kemiskinan. Kalau kita sukses menjual ’produk’ di daerah, maka kita akan menjualnya di tingkat nasional. Jangan sampai orang takut kalau pemimpinnya PKS bisanya cuma khutbah doang,” pungkas pria murah senyum ini.

Namun, PKS tidak berhenti hanya sebatas menjadikan kadernya sebagai kepala daerah maupun presiden, akan tetapi dengan Islam di dada, PKS ingin memberikan contoh terhadap umat Islam di seluruh dunia.

”Misi kita itu jauh, PKS hadir tidak hanya ingin mendudukkan kadernya menjadi Bupati, Gubernur, dan Presiden, tapi kita ingin merubah dunia. Jadi, kita itu berbeda dengan partai lain yang visinya berjangka pendek,” imbuhnya.

Visi jangka panjang PKS itu juga didasarkan pada realitas sosial dimana fenomena masyarakat sudah frustasi akan masa depan bangsa yang kian suram akibat kebijakan yang tidak populis. Menurut para pengamat, dalam sebuah negara berkembang dengan tingkat ekonomi buruk seperti Indonesia, banyak orang mati di usia 20 tahun namun dikuburnya di umur 60 tahun.

”Masyarakat kita sebenarnya sudah banyak yang mati di usia 20 tahun. Di usia itu, selain tak berarti bagi lingkungan sekitarnya, ia juga tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk masyarakat, agama, dan bangsanya. Orang seperti ini disebut dengan mati sebelum waktunya. Dikuburnya nanti setelah berumur 60 tahun,” pungkas Bang Zul.

Untuk itulah, salah satu visi jangka panjang PKS adalah membangkitkan gairah masyarakat yang kian frustasi dengan menyentuh perasaan dan memeluk hati mereka seraya tiada hentinya menegaskan bahwa harapan itu masih ada. Semoga!.Adi