Economy » 03 Agustus 2006 » Hit: 744
Pemerintah Kurang Beri Insentif untuk Kembangkan Industri Elektronik
Kalau pemerintah tidak mengatasi apa yang menjadi beban mereka, bisa saja mereka lari atau mencari tempat investasi yang lebih baik. Namun, jika didukung, mereka justru akan menambah volume produksi, bahkan mengajak investor lain di sektor industri komponen, kata pengamat ekonomi, Faisal Basri, Kamis (14/4) di sela-sela kunjungan ke empat pabrik elektronik besar di Cikarang dan Cibitung, Jawa Barat.
Faisal berkunjung bersama pengamat ekonomi, seperti Mudrajad Kuncoro, Aryanto, Gatot Aryaputra, Anggota Komisi VI DPR Zulkiflimansyah dan Nusron Wahid, serta Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan Rachmat Gobel.
Tiga sumber masalah
Sebenarnya hambatan yang dialami dunia usaha ini berpangkal pada tiga masalah utama di institusi pemerintahan. Pertama, institusi yang mengurusi pelabuhan dan infrastruktur lainnya. Kedua, institusi Bea dan Cukai, sementara yang terakhir adalah institusi yang berurusan dengan perpajakan.
Oleh sebab itu, pemerintah seharusnya membuat kebijakan konkret untuk menggerakkan sektor riil. Kebijakan pengembangan industri selama ini, khususnya industri elektronik, kurang jelas dan tidak konkret.
Jika semuanya jelas, menurut Rachmat Gobel, bukan tidak mungkin ekspor elektronika Indonesia akan meningkat. Proyeksi para produsen, nilai ekspor elektronika hingga tahun 2010 mencapai lebih dari 15 miliar dollar AS.
General Manajer PT Toshiba Consumer Products Indonesia (PT TCPI) Hidemori Asano mengatakan, PT TCPI telah menjadi produsen produk televisi terbesar di Asia Tenggara. Tahun 2002, basis produksi di Thailand dipindah ke sini. Tahun lalu, basis produksi di Malaysia juga dipindah ke Indonesia, katanya. Tahun 2004, volume produksi mencapai 1,8 juta unit.
Direktur Produksi PT LG Electronic Stewart J Kim mengungkapkan, nilai penjualan produk elektronik tahun 2004 mencapai satu miliar dollar AS. Hampir 95 produk LG, seperti televisi dan produk audio, diekspor ke mancanegara.
Menurut Manajer PT TCPI Tubagus Faisal, perusahaan berorientasi ekspor seharusnya mendapat insentif dan kemudahan. Namun, de facto, perusahaan berorientasi ekspor justru menghadapi berbagai biaya tinggi. Misalnya soal restitusi pajak yang membutuhkan waktu satu sampai dua tahun.
Rente ekonomi dan infrastruktur tetap jadi masalah besar. Misalnya, biaya bongkar muat di Indonesia mencapai 150 dollar AS per peti kemas ukuran 20 kaki (teus). Biaya bongkar muat di Jakarta International Container Terminal hanya 93 dollar AS per peti kemas. Artinya, selisih biaya kemahalan 57 dollar AS per peti kemas. Padahal, tahun 2004, jumlah peti kemas untuk ekspor PT TCPI sebanyak 12.486 teus. (FER)
Faisal berkunjung bersama pengamat ekonomi, seperti Mudrajad Kuncoro, Aryanto, Gatot Aryaputra, Anggota Komisi VI DPR Zulkiflimansyah dan Nusron Wahid, serta Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan Rachmat Gobel.
Tiga sumber masalah
Sebenarnya hambatan yang dialami dunia usaha ini berpangkal pada tiga masalah utama di institusi pemerintahan. Pertama, institusi yang mengurusi pelabuhan dan infrastruktur lainnya. Kedua, institusi Bea dan Cukai, sementara yang terakhir adalah institusi yang berurusan dengan perpajakan.
Oleh sebab itu, pemerintah seharusnya membuat kebijakan konkret untuk menggerakkan sektor riil. Kebijakan pengembangan industri selama ini, khususnya industri elektronik, kurang jelas dan tidak konkret.
Jika semuanya jelas, menurut Rachmat Gobel, bukan tidak mungkin ekspor elektronika Indonesia akan meningkat. Proyeksi para produsen, nilai ekspor elektronika hingga tahun 2010 mencapai lebih dari 15 miliar dollar AS.
General Manajer PT Toshiba Consumer Products Indonesia (PT TCPI) Hidemori Asano mengatakan, PT TCPI telah menjadi produsen produk televisi terbesar di Asia Tenggara. Tahun 2002, basis produksi di Thailand dipindah ke sini. Tahun lalu, basis produksi di Malaysia juga dipindah ke Indonesia, katanya. Tahun 2004, volume produksi mencapai 1,8 juta unit.
Direktur Produksi PT LG Electronic Stewart J Kim mengungkapkan, nilai penjualan produk elektronik tahun 2004 mencapai satu miliar dollar AS. Hampir 95 produk LG, seperti televisi dan produk audio, diekspor ke mancanegara.
Menurut Manajer PT TCPI Tubagus Faisal, perusahaan berorientasi ekspor seharusnya mendapat insentif dan kemudahan. Namun, de facto, perusahaan berorientasi ekspor justru menghadapi berbagai biaya tinggi. Misalnya soal restitusi pajak yang membutuhkan waktu satu sampai dua tahun.
Rente ekonomi dan infrastruktur tetap jadi masalah besar. Misalnya, biaya bongkar muat di Indonesia mencapai 150 dollar AS per peti kemas ukuran 20 kaki (teus). Biaya bongkar muat di Jakarta International Container Terminal hanya 93 dollar AS per peti kemas. Artinya, selisih biaya kemahalan 57 dollar AS per peti kemas. Padahal, tahun 2004, jumlah peti kemas untuk ekspor PT TCPI sebanyak 12.486 teus. (FER)