Rabu, 08 September 2010
Articles » 05 Oktober 2006 » Hit: 8618
Model Pembelajaran dan Strategi Teknologi Negara Berkembang Dalam Mengejar Ketertinggalannya
Pendahuluan

Dari tulisan sebelumnya telah dipahami bahwa hanya dengan melakukan kegiatan pembelajaran proses pembangunan menjadi bermakna dan bermanfaat. Dengan pembelajaran pula kemampuan perusahaan dan masyarakat dalam melakukan inovasi menjadi meningkat.

Dalam konteks pembelajaran ini maka negara-negara maju secara umum dipahami sebagai pembelajar yang hebat. Mereka mampu menghasilkan pengetahuan baru yang darinya muncul aplikasi-aplikasi dalam bentuk teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk memproduksi barang dan jasa yang baru. Sebaliknya negara berkembang adalah para pemula dalam pembelajaran teknologi serta miskin dalam pengalaman. Sehingga mengejar ketertinggalan bagi negara berkembang adalah sebenarnya sejauh mana meningkatkan kemampuan dari pemula menjadi pembelajar yang berpengalaman dan dinamis.

Realitas menggembirakan yang nampak saat ini adalah fenomena ‘lulus’-nya sebagian negara berkembang menjadi kurang lebih setaraf dengan negara maju dalam bidang-bidang tertentu dalam tempo yang relatif singkat. Korea, Taiwan dan menyusul Cina, dianggap sebagai contoh yang baik untuk menggambarkan sebuah kesuksesan negara berkembang dalam mengejar ketertinggalannya. Ketiga negara tersebut, apabila dianalisis dengan baik, dapat menjadi acuan model yang bermanfaat bagi negara berkembang lainnya dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi. Meskipun pandangan evolusi terhadap pembangunan dan pengembangan ekonomi menyatakan bahwa kesuksesan mustahil dapat diraih hanya dengan mengadopsi apa yang dilakukan oleh orang lain, banyak pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman ketiga negara tersebut bagi negara berkembang. Dengan mempelajari proses pembelajaran yang terjadi di ketiga negara tersebut, paling tidak ada dua hal yang dapat diambil manfaatnya. Bagi individu perusahaan, mereka dapat memahami proses-proses yang terjadi dan harus dilalui bagi sebuah perusahaan untuk meningkatkan kemampuan teknologinya. Sedangkan bagi para perumus kebijakan teknologi di negara berkembang akan menemukan landasan mikro yang kuat bagi suksesnya implementasi kebijakan tersebut.

Beberapa hal yang harus dipahami sebelum membahas model pembelajaran di ketiga negara tersebut adalah bahwa proses pembelajaran haruslah terjadi di dalam perusahaan dan dalam pengertian ini kesuksesan sebuah perusahaan tergantung pada sejauh mana ia berubah dari pemula menjadi inovator yang berpengalaman. Namun demikian secara lebih umum proses pembelajaran dapat dipahami secara agregat dimana indikator yang dapat dipakai adalah tingkat produktivitas dan juga nilai tambah dari setiap produk yang diekspor. Sehingga proses pembelajaran ini dapat dilihat dalam konteks struktur kelembagaan. Konsep sistem inovasi nasional yang telah disinggung dalam Bab 3 bersifat khas untuk setiap negara dan bahwa perusahaan merupakan komponen yang tak terpisahkan yang ada di dalamnya. Setiap negara akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan situasi khas yang melingkupinya, karenanya setiap negara bersifat unik dalam hal sistem inovasi nasional. Meskipun demikian, analisis yang bermanfaat dapat dilakukan dengan melihat indikator yang relevan. Dalam tulisan ini akan dilihat bagaimana struktur perusahaan-perusahaan yang ada menentukan model pembelajaran yang dipilih dan dijalani.

Dalam tulisan ini pula perlu untuk diingatkan kembali tentang konsep pembagian teknologi yang terdiri dari pengetahuan yang unsurnya terkodifikasi dan yang tacit. Pengetahuan yang telah terkodifikasi berarti yang telah tertulis baik berupa jurnal ilmiah, dokumentasi paten, manual penggunaan alat dan lain-lain. Sementara pengetahuan yang tacit adalah yang tidak dapat tertulis dan berada di dalam orang yang bersangkutan. Ketika berbicara mengenai proses pembelajaran, pembagian ini menjadi penting karena hanya pengetahuan yang terkodifikasi saja yang dapat disebarkan kepada orang lain sebagai masukan dalam proses pembelajaran. Sementara pengetahuan yang tacitI tidak dapat disebarkan begitu saja, sehingga proses pembelajaran terjadi hanya dengan mobilitas si pemilik pengetahuan dimana orang lain dapat memperolehnya hanya melalui sebuah aktivitas bersama dan dalam periode waktu yang cukup lama, yang seringkali melibatkan proses uji coba (trial and error).

Di era informasi yang modern sekarang ini, jumlah pengetahuan yang terkodifikasi begitu berlimpah jumlahnya dan mereka dapat diakses oleh siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Ia meliputi publikasi ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal dan buku teks pelajaran serta yang spesifik yang dikembangkan oleh perusahaan baik berupa manual maupun yang terkandung produk yang dihasilkannya. Sehingga penyebaran pengetahuan terjadi melalui proses pengajaran yang terjadi di negara berkembang dengan memanfaatkan pengetahuan yang terkodifikasi tadi. Cara yang lain adalah dengan pembelian barang konsumsi dan barang modal yang terkandung didalamnya teknologi tinggi serta dokumentasi yang menyertainya seperti paten, cetak biru, standar, petunjuk produksi, manual penggunaan dan juga iklan. Sementara pengetahuan yang tacit banyak tersebar melalui jasa yang ditawarkan oleh konsultan rekayasa. Implikasi penting dari hal ini semua adalah bahwa proses pembelajaran dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut, namun di sisi pembelajar yang dalam hal ini negara berkembang harus mempunyai keinginan yang kuat, konsisten dan terarah untuk belajar.

Dalam melakukan pembelajaran, perusahaan menggunakan aset dan basis pengetahuan yang telah dimilikinya. Sebagai penghasil pengetahuan yang selama ini dilakukannya, ada tiga kategori aset yang perlu diperhatikan. Pertama, pemahaman umum akan pengetahuan ilmiah dan teknologi yang terkandung di dalam personal dan karyawannya yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang diperoleh, baik yang bersifat formal maupun informal. Kedua, pengetahuan spesifik yang dimiliki oleh perusahaan baik yang bersifat teknis maupun organisasi. Ketiga, produk atau jasa yang telah dihasilkannya selama ini yang terkandung didalamnya sebagai hasil dari pembelajaran yang spesifik. Dari ketiga kategori ini maka yang perlu mendapat perhatian adalah pengetahuan spesifik perusahaan. Ia meliputi pengetahuan yang digunakan dalam organisasi yang bersifat formal maupun informal berupa rutinitas dan prosedur kerja. Demikian pula termasuk prinsip-prinsip dalam mengambil keputusan serta visi strategis yang diadopsi oleh pimpinan perusahaan. Semua ini diperoleh melalui pengalaman manajerial yang selama ini dilalui oleh perusahaan dan ini diyakini menentukan sejauh mana perusahaan dapat mengelola setiap usaha pembelajaran maupun investasi dalam merespon setiap kesempatan dan tantangan di masa depan. Inilah yang oleh Hamel dan Prahalad sering disebut sebagai kompetensi inti perusahaan.

Dari penjelasan di atas maka proses pembelajaran dalam tulisan ini dipahami secara konseptual yaitu bahwa perusahaan di negara berkembang adalah pemula dalam belajar, bahwa sumber utama pengetahuan mereka berasal dari luar dalam bentuk pengetahuan yang terkodifikasi, bahwa aset penting yang dimiliki oleh perusahaan hanyalah sumber daya manusia yang mampu menciptakan dan memanfaatkan pengetahuan spesifik perusahaan serta bahwa perusahaan belajar dalam sebuah konteks struktur kelembagaan.

Oleh karenanya mengutip Shulin Gu, maka terdapat paling tidak terdapat tiga model pembelajaran yang dapat dilalui oleh negara berkembang. Yang pertama adalah model individual dalam satu perusahaan seperti yang dicontohkan oleh perusahaan besar di Korea. Yang kedua adalah model jejaring seperti yang dicontohkan oleh usaha kecil dan menengah di Taiwan. Terakhir yang ketiga adalah model kombinasi seperti yang dicontohkan oleh perusahaan di Cina selama masa transisi ekonomi.

Model Pembelajaran Individual

Korea dengan sistem ekonomi yang pada waktu itu berorientasi kepada pembentukan perusahaan-perusahaan besar yang tergabung dalam satu grup (Chaebol) menjadi awal tumbuhnya model pembelajaran model individual ini. Untuk memahami mengapa model seperti ini dapat terjadi ada baiknya kita melihat kembali teori siklus hidup teknologi yang diperkenalkan oleh Abernathy dan Utterback. Teori ini menyatakan bahwa laju inovasi baik berupa produk dan proses mengikuti pola umum dalam suatu periode waktu. Ada tiga fase yang dilalui yaitu fluid, transisional dan spesifik.

Dalam fase fluid, terjadi usaha inovasi produk yang luar biasa dalam bentuk eksperimentasi desain dan setiap perusahaan saling bersaing dalam memperkenalkan inovasinya. Sedangkan pada fase transisional, terjadi penurunan intensitas. Upaya inovasi lebih bergeser ke arah proses dan dalam pertengahan tahap ini muncullah yang disebut sebagai desain yang dominan. Akhir dari fase ini ditandai oleh mengerucutnya desain yang dominan menjadi produk yang terstandardisasi yaitu yang paling banyak diminati oleh konsumen penggunanya dan terbukti lulus dalam pasar yang dimasukinya. Fase terakhir yang dialami adalah fase spesifik dimana inovasi baik berupa produk dan proses berlangsung lambat dan bertingkat, teknologi menjadi dewasa dan upaya terfokus pada penurunan biaya, pemanfaatan volume dan kapasitas produksi dalam rangka meraup skala ekonomi sebesar-besarnya. Dalam konteks kodifikasi pengetahuan, maka teknologi yang telah dewasa adalah yang paling terkodifikasi, baik dalam bentuk standardisasi produk maupun barang modalnya. Penerimaan pasar yang baik berarti pula teknologi dewasa ini mempunyai ketidakpastian yang rendah yang memberikan justifikasi terhadap investasi perusahaan multinasional di negara berkembang. Sehingga pada dasawarsa 60-an banyak investasi dilakukan di negara-negara yang tingkat upahnya rendah dalam rangka mengurangi biaya produksi.

Pengetahuan yang terkodifikasi ini memberikan negara berkembang pintu masuk untuk belajar tentang teknologi baru yang diimpornya. Namun demikian investasi tersebut di pihak lain membutuhkan intensitas modal yang tinggi serta bentuk organisasi yang kompleks untuk menanganinya. Sehingga dalam konteks ini hanya perusahaan besarlah yang mampu melakukan pembelajaran teknologi. Karena hanya dengan perusahaan besarlah sumber daya yang jarang dapat dihimpun sehingga mampu mengatasi halangan masuk berupa intensitas modal yang tinggi dan kompleksitas pengelolaan. Inilah yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Korea.

Struktur perusahaan-perusahaan di Korea yang didominasi oleh perusahaan besar yang tergabung dalam Chaebol melakukan pembelajaran secara individual di dalam perusahaan sendiri. Perusahaan-perusahaan besar tersebut berada di beberapa bidang industri seperti otomotif, elektronik konsumen dan semikonduktor. Namun Kim menyatakan bahwa proses pembelajaran yang terjadi di negara berkembang mengikuti siklus yang berlawanan dengan yang diajukan oleh Abernathy dan Utterback di atas.



Hyundai misalnya memulai pembelajarannya dengan teknologi yang tradisional yaitu merakit mobil dengan model FF (mesin dan gardan sama-sama berada di depan). Kim melukiskan ada 4 tahap yang dilalui Hyundai dalam melakukan pembelajaran. Tahap pertama yaitu perakitan (1968-1972). Kemudian berikutnya adalah belajar melakukan imitasi dalam desain mobil (1973-1977) yang dilanjutkan dengan tahap imitasi model yang lebih canggih sampai tahun 1986. Tahap keempat dimulai dengan mencoba memperkenalkan brand dengan desain yang sama sekali baru pada tahun 1984. Dalam proses pembelajaran ini terjadi ketidaksinambungan dalam hal mengakuisisi kemampuan teknologi. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan keahlian dan pengetahuan yang diperlukan dalam melakukan proses perakitan secara efisien dengan membuat desain mobil dengan brand sendiri. Sehingga yang harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di negara berkembang dalam menghadapi ketidaksinambungan tersebut adalah dengan melakukan upaya-upaya yang terencana dan terus-menerus untuk berinovasi. Kalau tidak, mereka akan terperangkap dalam aktivitas produksi yang intensitas pengetahuannya dan yang nilai tambahnya rendah.

Dalam model pembelajaran yang dilakukan secara individual oleh perusahaan besar ini, mekanisme pembelajaran yang terjadi akan dibahas menurut input, proses, output serta organisasi dan pengelolaan pembelajarannya. Input yang menjadi bahan baku utama pembelajaran di perusahaan Korea adalah sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Para perekayasa dan manajer itu walaupun belum berpengalaman mempunyai kemampuan belajar yang luar biasa. Seperti yang diceritakan oleh Kim, dalam mempelajari teknologi perakitan, para insinyur Hyundai dikirim untuk magang beberapa lama di Ford. Ketika mereka memutuskan untuk mengakusisi kemampuan teknologi dalam desain mobil, Hyundai mempekerjakan beberapa ahli yang berkualifikasi S3 yang berpengalaman di perusahaan mobil terkemuka, puluhan tenaga perekayasa yang memperoleh S3 di Amerika serta lebih dari tiga ribu orang berkualifikasi insinyur. Bekal pendidikan formal yang mereka peroleh memberikan kemampuan kepada mereka untuk menyerap pengetahuan baru yang berasal dari luar perusahaan. Mereka inilah yang kemudian membentuk diri menjadi gugus tugas yang membangun pengetahuan yang spesifik yang ingin dimiliki Hyundai. Research & Development (R&D) kemudian mulai dilakukan pada fase kedua dengan membangun fasilitas pengujian yang penting dalam membangun kemampuan rekayasa ulang. Hyundai menitikberatkan pada rekayasa desain sistem mobil dan sedikit pada proses produksinya.

Hyundai mengandalkan pihak luar sebagai sumber pengetahuan dalam membangun kemampuan teknologinya. Sumber pengetahuan mengambil tiga bentuk yaitu yang terkandung dalam barang modal, yang terdokumentasi secara teknis yang didapat melalui lisensi teknologi serta pengetahuan yang tacit dari konsultan rekayasa internasional. Hyundai ternyata sangat cermat dalam mendapatkan teknologi dari pihak luar dengan memilih sumbernya yang tepat berikut pemberi lisensi dan jasa konsultan yang dibutuhkannya. Bahkan dilaporkan Hyundai membutuhkan waktu 14 bulan dalam studi literatur untuk menentukan teknologi CAD/CAM yang akan dibelinya. Hal ini menandakan pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam mencari dan memilah informasi yang bermanfaat tentang jenis dan sumber teknologi yang sesuai dengan daya serap teknologinya.

Proses pembelajaran yang terjadi di Hyundai dan umumnya perusahaan besar Korea lainnya difasilitasi oleh penetapan tujuan pencapaian yang jelas. Tujuan tersebut menjadi agenda utama para pemegang keputusan dalam mengarahkan alokasi sumber daya perusahaan. Keempat fase yang dilalui Hyundai masing-masingnya mempunyai tujuan yang jelas dan meningkat, namun tidak berkesinambungan. Sumber daya manusia yang andal ternyata menjadi pendukung Hyundai dalam menghadapi ketidaksinambungan tahap pembelajaran. Di Hyundai, proses pembelajaran yang terjadi berjalan seiring dengan aktivitas investasi sehingga hasil dari proses pembelajaran secara fisik langsung berupa produk mobil yang dilempar ke pasar.

Dalam model pembelajaran individu seperti yang dicontohkan oleh Hyundai ini karakteristik yang paling menonjol adalah adanya intensitas usaha yang sangat tinggi. Hyundai tidak berleha-leha pada fase yang telah dicapainya, tetapi langsung menetapkan tujuan berikutnya yang lebih tinggi. Setiap gugus tugas yang dibentuk bekerja keras dan di setiap fase, pendekatan utama yang dilakukan untuk belajar adalah uji coba (trial and error). Dilaporkan dalam mengakuisisi kemampuan desain mobil, para insinyur melakukan diskusi setelah lepas kerja selama 18 bulan tanpa berhenti. Bentuk pembelajaran yang partisipatif dan kolektif ini memungkinkan terbentuknya interaksi yang kuat antara pengetahuan yang terkodifikasi dan tacit secara bersama-sama (Nonaka & Takeuchi, 1995).

Hasil proses pembelajaran yang terjadi dalam model individual ini adalah pengetahuan spesifik perusahaan yang hanya diperoleh melalui usaha yang sistematis, baik praktek maupun aktivitas adaptasi pengetahuan yang bersumber dari pihak luar. Secara ekonomi, hasil pembelajaran ini berupa produk yang lulus dan teruji oleh pasar. Penting untuk dicatat bahwa fase-fase yang dilalui oleh Hyundai memberikan basis teknologi yang memberikan arah pengembangan kemampuan teknologi berikutnya (trajectory) yang bersifat path dependent. Pengetahuan spesifik yang diakumulasi oleh Hyundai lebih banyak ke desain mobil dan sistem integrasinya, meskipun kemampuan dalam subsistem atau platform relatif juga telah dimiliki seperti misalnya mesin mobil.

Organisasi dan pengelolaan model pembelajaran individu ini ditandai dengan struktur hirarki organisasi yang relatif datar disertai dengan pemanfaatan fungsi gugus tugas yang intensif. Khusus untuk Korea, peran manajemen puncak sangatlah penting dalam mengarahkan pembelajaran ke tingkat yang lebih tinggi. Semua ini memberikan manfaat berupa fleksibilitas yang besar dalam mengalokasikan sumber daya yang sedikit dalam mencapai tingkat kemampuan teknologi yang lebih tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut, perusahaan Korea terkenal dalam mengimplementasikan manajemen stratejik yang proaktif. Pencanangan fase pembelajaran tahap kedua Hyundai yaitu mengakusisi kemampuan dalam imitasi desain mobil adalah dalam rangka merespon kebijakan pemerintah Korea saat itu yang ingin mempromosikan industri otomotif dalam jangka panjang. Sejak itu visi strategis untuk maju ke depan dimiliki oleh Hyundai dalam hal proses pembelajaran teknologi. Sedangkan fase ketiga dan keempat pembelajaran di Hyundai dipicu berturut-turut oleh adanya dorongan ekspor akibat krisis minyak dan obsesi untuk memenuhi permintaan konsumen dan regulasi lingkungan di Amerika Serikat.

Model Pembelajaran Jejaring

Berlawanan dengan model pembelajaran sebelumnya, maka model pembelajaran jejaring ini terjadi di negara-negara yang struktur perusahaan-perusahaannya tidak didominasi oleh perusahaan besar. Keberhasilan model pembelajaran ini dapat dilihat dari kasus yang terjadi di perusahaan-perusahaan Taiwan. Namun sebelumnya ada baiknya untuk mengajukan ide konseptual tentang spesialisasi dan aksitektur terbuka yang memberikan alasan mengapa model pembelajaran jejaring seperti ini dapat terjadi.

Dalam kondisi ekonomi modern sekarang ini, pembagian tenaga kerja menjadi sangat kompleks. Karenanya spesialisasi dan standardisasi menjadi sarana yang penting bagi aktivitas koordinasi dan integrasi fungsi-fungsi produksi. Kecanggihan dan kompleksitas yang semakin meningkat pada karakteristik teknologi sekarang ini menyebabkan munculnya apa yang disebut struktur modul terutama pada sektor manufaktur diskrit seperti permesinan dan elektronik. Di bidang elektronik misalnya, semakin kompleksnya sistem komputer menyebabkan tidak satupun perusahaan yang memliki sumber daya yang cukup untuk menguasai seluruh teknologi komponen-komponennya. Hal ini menyebabkan pendekatan sistem arsitektur terbuka dilakukan, dimana informasi tentang sebuah sistem dibuka kepada pihak luar sehingga terbukalah kesempatan bagi pemain baru untuk masuk dan menekuni salah satu bidang komponen teknologi yang membentuk sistem arsitektur tersebut. Semua pihak dapat berkontribusi terhadap pengembangan teknologi dengan mengacu kepada sistem yang telah ada, yang melahirkan kolaborasi dan memperbanyak titik pembelajaran dan sekaligus memperkuat infrastruktur teknologi karena disana terjadi komunikasi bersama dalam suatu jejaring. Jejaring ini menjadi tempat pembelajaran dimana proses inovasi terjadi melalui diferensiasi pada struktur platform yang sama.

Khusus di sektor teknologi informasi dan komunikasi, terjadi pemisahan antara yang berorientasi produksi masal dengan produksi yang sedikit namun terspesialisasi. Silicon Valley misalnya didominasi oleh perusahaan yang terfokus pada desain produk yang khusus di bidang semikonduktor, mikroprosesor, komputer dan perangkat lunak khusus. Sementara perusahaan Jepang terfokus pada elektronik konsumen dan semikonduktor sebagai komoditas produk yang masal. Dalam arsitektur sistem yang terbuka, halangan masuk menjadi mudah dari sisi investasi modal dan pengetahuan, yang sekaligus menjadikan pemain baru dengan mudahnya menjadi spesialis. Di Silicon Valley, perusahaan terbagi menjadi dua yaitu yang spesialisasi desain produk dan fabrikasinya. Pada awal tahun 90-an, duapertiga perusahaan di sana tidak memiliki fasilitas produksi dan perusahaan yang memfokuskan diri pada fabrikasi mulai memperkenalkan pabrik mini. Sehingga terlihat bahwa dinamika inovasi yang terjadi di Silicon Valley didasarkan pada ekspansi spesialisasi karena proses pembelajaran yang terjadi dalam sebuah jejaring. Teori siklus hidup teknologi ternyata tidak mampu menerangkan fenomena model pembelajaran jejaring ini. Hal ini mungkin disebabkan antara lain, khusus untuk industri mesin dan komunikasi, oleh fase spesifik yang melibatkan lebih banyak diversifikasi dan ekstensifikasi teknologi. Semua ini memberikan implikasi yang serius bagi negara berkembang karena ia memberikan kesempatan sebagai pintu masuk dalam meningkatkan kemampuan teknologi mereka.

Sebenarnya proses pembelajaran teknologi yang kompleks dapat dilakukan dalam sebuah perusahaan saja dalam bentuk integrasi vertikal. Namun sebaliknya lebih sering dijumpai kemudahan pembelajaran melalui disintegrasi vertikal yaitu melalui jejaring beberapa perusahaan yang membentuk suatu sistem arsitektur yang sama. Dalam hal ini Taiwan dapat menjadi contoh yang baik bagi model pembelajaran jejaring. Berlainan dengan Korea, struktur industri di Taiwan sangatlah terfragmentasi. Khusus untuk sektor permesinan misalnya, 96 grup bisnis terbesar hanya memproduksi 9,8% jumlah total penjualan. Untuk produk elektronik dan peralatan transportasi berturut-turut adalah 22,7% dan 39%. Mengapa hal ini dapat berlainan antara di Korea dan Taiwan? Hal ini mungkin dapat dijelaskan dengan konsep path dependent dimana faktor sejarah yang khas menjadi penyebabnya.

Dalam Gambar 2 dimensi horizontal menunjukkan tingkat intensitas koordinasi di antara kegiatan manufaktur yang terspesialisasi baik melalui manajemen internal maupun mekanisme eksternal pasar, yang dalam gambar tersebut digambarkan kedua negara berada pada tingkat koordinasi yang setara yang diindikasikan oleh kinerja pembangunan yang hampir sama. Sementara dimensi vertikal menunjukkan tingkat integrasi kepemilikan, yang dalam gambar ini masing-masing mempunyai tingkat yang berbeda, dimana Korea berada di atas Taiwan. Dua kurva di atas berasal dari titik yang sama berdasarkan fakta bahwa pada tahun 50-an, perusahaan besar bukan merupakan ciri yang dominan. Gambar di atas menunjukkan bahwa fenomena struktur perusahaan adalah kaku dan mengikuti pola yang sudah ada sebelumnya. Korea misalnya pada awal tahun 80-an mempromosikan usaha kecil dan menengah tidak membuahkan hasil yang menggembirakan. Gambar tersebut di atas juga menunjukkan bahwa dalam menganalisis efisiensi proses pembelajaran di Taiwan, fokus perhatian haruslah diberikan kepada hubungan jejaring antarperusahaan. Kemampuan koordinasi yang mendukung proses pembelajaran ini lebih banyak bersumber dari mekanisme pasar yang ditopang oleh lembaga-lembaga pendukung. Demikianlah model pembelajaran jejaring yang dilakukan oleh perusahaan di Taiwan.



Hobday (1995) menceritakan bagaimana proses pembelajaran yang terjadi di industri mesin jahit dan komunikasi di Taiwan. Mesin jahit adalah industri tradisional yang telah ada sebelum teknologi Singer dari Amerika masuk pada tahun 1963. Mereka terdiri dari perusahaan kecil yang merakit mesin jahit sekaligus memproduksi komponen-komponennya. Kondisi ini terus berlangsung dimana perusahaan kecil tetap mendominasi, yang bahkan menarik investasi langsung dari luar yang membawa teknologi baru, sehingga proses pembelajaran berlangsung dalam suatu jejaring. Hasilnya adalah suksesnya Taiwan menyaingi Jepang pada akhir tahun 70-an sebagai pemasok mesin jahit terbesar di dunia.

Industri informasi dan komunikasi di Taiwan merupakan industri yang baru yang asalnya dari Amerika dan negara maju lainnya. Perusahaan-perusahaan kecil yang mendominasi di Taiwan ini mengejar ketertinggalannya dalam menguasai teknologi melalui dua cara yaitu jalur eksternal melalui sistem arsitektur yang terbuka dalam sektor elektronik dan hubungan dagang internasional serta jalur lokal yang dibantu oleh infrastruktur teknologi lengkap dengan kebijakan dan sistem kelembagaan yang mendukung masuknya perusahaan kecil ke dalam sektor tersebut. Sampai tahun 90-an, sektor industri ini menjadi sektor yang dinamis pembelajarannya dan mampu meraih kesempatan yang diciptakan oleh penemuan teknologi baru. Kekuatan Taiwan di pasar internasional menurut data tahun 90-an adalah produk motherboard dan mouse yaitu memasok sekitar 80% pasar dunia sementara produk seperti scanner, monitor dan keyboard memasok sekitar 50% kebutuhan dunia.

Dalam model pembelajaran jejaring ini, sumber pengetahuan yang dibutuhkan tidak jauh berbeda dengan model yang pertama di atas yaitu dari sumber luar dengan berbagai bentuknya. Namun apa yang terjadi pada setiap perusahaan dalam model ini tidaklah mudah untuk diketahui seperti halnya model pembelajaran individual di atas. Hal ini karena batas komunitas yang terlibat dalam pembelajaran tidaklah begitu jelas. Sehingga intensitas input dalam pembelajaran dapat ditangkap melalui data aliran masuk investasi langsung, biaya lisensi teknologi dari luar serta impor barang modal, yang angka-angkanya dipercaya sangat tinggi untuk Taiwan. Input yang lainnya seperti halnya model yang pertama adalah sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Dari data yang ada, Taiwan menunjukkan warga negaranya mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, setara dengan Korea. Di samping itu, tingkat investasi modal yang tinggi menjadi faktor yang penting dalam pembelajaran jejaring. Ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia harus seiring dengan kondisi sosial dan kelembagaan yang mendukung.

Hasil dari proses pembelajaran model jejaring ini membuat Taiwan sukses dalam menguasai teknologi yang diimpornya. Seperti yang dilaporkan oleh Hobday (1995), Taiwan berubah secara bertahap dari eksportir OEM (Original Equipment Manufacturing) menjadi ODM (Own Design Manufacturing) yang kemudian menjadi eksportir OBM (Own Brand Manufacturing). Semua ini dicapai ketika secara teknologi Taiwan telah menguasai know-how-nya yang diperoleh melalui eksperimen yang intensif dalam mengkodifikasi dan juga merekodifikasi pengetahuan tacit yang diperoleh sebelumnya. Secara ekonomis, hasil belajar ini memberikan manfaat berupa rente inovasi melalui diversifikasi barang dan jasa. Yang membedakan antara Taiwan dan Korea adalah sektor teknologi yang dikuasainya. Di sektor permesinan, Taiwan unggul di mesin kecil seperti mesin jahit dan mesin perkakas, sementara Korea di mesin yang lebih besar seperti misalnya mobil. Sementara di sektor informasi dan komunikasi, kekuatan Taiwan berada pada produk dan jasa yang khusus seperti motherboard, scanner dan monitor, sementara Korea menguasai produk yang sistemnya lebih terintegrasi seperti elektronik konsumen dan memory chip DRAM. Semua yang diraih Taiwan ini dimungkinkan oleh adanya sistem arsitektur yang terbuka.

Bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan perusahaan kecil dalam jejaring dapat membuahkan hasil yang optimal dalam meningkatkan kemampuan teknologi? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan menggunakan konsep eksternalitas pasif dan eksternalitas aktif. Eksternalitas pasif adalah efek ekonomis dan pembelajaran yang terjadi secara insidental pada sekumpulan perusahaan yang berada di wilayah geografis yang sama. Sementara pengertia eksternalitas aktif adalah efek ekonomis dan pembelajaran yang terjadi akibat usaha bersama secara terencana dan sistematis. Eksternalitas aktif inilah yang relevan untuk negara berkembang dan inilah yang menjadi penyebab suksesnya model pembelajaran jejaring.

Dalam kasus mesin jahit di Taiwan, dua unsur utama yang menciptakan eksternalitas aktif adalah tingginya tingkat masuk perusahaan kecil dalam sektor tersebut dan adanya kerjasama antarperusahaan yang erat baik ke belakang maupun ke depan. Tingginya tingkat masuk ini meliputi masuknya teknologi baru dari luar berupa investasi langsung dari investor asing maupun lisensi, masuknya perusahaan kecil lokal yang sebagian besar merupakan sempalan (spin off) dari lembaga litbang setempat. Tingginya tingkat masuk ini menghancurkan titik kesetimbangan yang rendah yang mendorong perusahaan-perusahaan kecil tersebut masuk ke produk yang terspesialisasi dan mereka pun memperbarui pengetahuan dan keahlian mereka dalam bidang tersebut. Sehingga basis pengetahuan pun terbentuk secara dinamis dalam jejaring seiring dengan gelombang perusahaan yang masuk ke sektor tersebut dan peningkatan teknologi terjadi akibat efek hubungan yang terjadi.

Dalam kasus mesin jahit, gelombang pertama terjadi ketika Singer melakukan investasi di Taiwan dengan membawa teknologi baru berupa spesifikasi produk dan komponen, rekayasa produksi dan sistem manajemen. Keahlian dan pengetahuan tersebar selama beberapa tahun dimana 160 dari 250 perusahaan lokal menjadi pemasok bagi Singer. Beberapa perusahaan lokal pun akhirnya muncul dengan memanfaatkan komponen lokal yang berkualitas tinggi sehingga memperkuat jejaring yang ada. Gelombang berikutnya adalah masuk investasi Jepang yang tertarik karena kualitas komponen yang dihasilkan oleh jejaring dan juga jalur pemasaran dan informasi yang disediakan oleh jejaring tersebut. Kasus yang sama terjadi di sektor industri informasi dan komunikasi, dimana gelombang pertama dibawa oleh Phillips dan Sanyo. Setelah jejaring lokal terbentuk dapat memasok mereka dengan baik, masuklah perusahaan lokal yang merupakan spin off dari lembaga litbang lokal. Salah satu perusahaan yang terkenal adalah TSMC yang berasal dari The Industrial Technology Research Institute (ITRI) yang produknya adalah chip khusus. Ia adalah termasuk salah satu perusahaan yang pertama kali menawarkan jasa pabrikasi chip bagi perusahaan di Silicon Valley dan juga perusahaan lokal. Jumlah perusahaan yang mendesain chip di Taiwan pada akhir tahun 80-an telah mencapai 40 buah. Di sektor elektronik konsumen, Tatung adalah salah satu contoh perusahaan milik negara yang telah meraih sukses.

Berkaitan dengan model pembelajaran jejaring ini penting untuk disinggung peran kebijakan dan infrastruktur teknologi yang ada di dalamnya. Karakteristik kebijakan di Taiwan lebih terfokus kepada yang bersifat mendorong terjadinya mekanisme pasar atau yang disebut kebijakan horizontal. Dalam mempromosikan pembelajaran dan peningkatan kemampuan teknologi, diberikan insentif dan dukungan terhadap perusahaan dalam jejaring. Secara umum, masuknya perusahaan baru dipermudah dengan skema penyediaan modal oleh sistem perbankan dengan biaya yang relatif sama. Kebijakan impor teknologi juga disesuaikan dengan tujuan untuk meningkatkan dinamika pembelajaran didalam jejaring. Pemerintah Taiwan juga menyediakan infrastruktur pendukung yang memungkinkan tingkat pengetahuan dan keahlian jejaring lebih meningkat melalui investasi di bidang R&D sebesar 50% dari total kegiatan yang ada. Hal ini menyebabkan terbangunnya basis dan kemampuan teknologi jejaring yang tidak hanya pada hubungan pengguna dan pemasok saja tetapi juga jejaring perdagangan, alumni, organisasi profesional dan juga kalangan akademisi. Jejaring-jejaring ini saling mendukung dan mempunyai kekuatan penetrasi di lingkungan internasional yang menjadi jalur masuknya informasi tentang pasar dan teknologi. Jejaring ini akan terus berekspansi dengan didukung oleh kebijakan yang kondusif dalam mendorong terciptanya eksternalitas aktif secara terus-menerus.

Model Pembelajaran Rekombinasi

Setelah memahami dua model pembelajaran sebelumnya, ada baiknya kita memperluas model pembelajaran dengan mengkombinasikan kedua model tersebut. Istilah kombinasi, rekombinasi dan fusi teknologi seringkali dipakai dalam literatur inovasi teknologi untuk menggambarkan proses dimana ada unsur yang diciptakan dan dikembangkan di tempat lain dikombinasikan dalam sebuah penerapan baru. Namun dalam model pembelajaran rekombinasi ini, yang dimaksud adalah berhubungan dengan restrukturisasi kelembagaan dalam skala yang besar dimana proses pencarian dan pembelajaran teknologi dilakukan secara sistematis untuk mengisi kekurangan yang ada karena transisi ekonomi. Komunitas yang terlibat dalam pembelajaran ini lebih ekstensif dan meluas, yaitu lebih luas dari sebuah perusahaan atau kelompok perusahaan dalam sektor industri tertentu. Sementara model pembelajaran yang pertama dan kedua di atas menggambarkan arah tertentu dari pengembangan kemampuan teknologi, maka model rekombinasi melibatkan adaptasi atau reorientasi dalam arah dan karakteristik kegiatan inovasi yang berarti adanya pergeseran trajektori dari yang selama ini telah terbentuk.

Model rekombinasi ini menurut Shulin Gu dapat ditemui di Cina. Sebelum menjelaskan bagaimana model rekombinasi ini, ada baiknya kita memahami kembali makna trajektori dalam pengembangan kemampuan teknologi. Trajektori menyatakan bahwa arah pengembangan teknologi mengikuti suatu jalur yang memberikan arah kepada pengembangan berikutnya. Fenomena ini muncul karena adanya interaksi antara pembentukan struktur kelembagaan dan tuntutan teknologi yang akan dikembangkan. Siklus hidup teknologi dipahami sebagai sebuah pilihan sosial yang beradaptasi terhadap struktur perusahaan dan fokus kegiatan inovasinya. Perbedaan antara sistem kelembagaan di Korea dan Taiwanlah yang menyebabkan berbedanya pilihan teknologi yang diambil. Korea lebih fokus kepada teknologi untuk produksi masal sementara Taiwan lebih memilih fokus terhadap ceruk produk yang khusus. Bila pembahasan ini dikaitkan dengan arah pengembangan kemampuan teknologi di Cina, maka sebelum reorientasi pada awalnya sektor industri permesinan di sana diarahkan pada spesialisasi yang berorientasi produk. Perusahaan dan lembaga litbang dikelola dalam bentuk integrasi vertikal. Lembaga litbang yang berjumlah sebanyak 200 buah difungsikan sebagai inovator dalam mendiversifikasi produk permesinan tertentu dan sekaligus sebagai pendukung teknis dalam mengkodifikasi pengetahuan berupa standardisasi yang diatur dalam sutau sistem perencanaan terpusat yang khas di negara-negara yang berideologi komunis dan sosialis. Spesialisasi ini ternyata berhasil mengurangi koordinasi dan di awal tahun 50-an Cina telah melakukan aktivitas adaptasi dan inovasi.

Namun demikian sistem ini mempunyai dua kelemahan yaitu adanya pemisahan fungsi inovasi antara aktivitas desain di lembaga litbang dengan proses produksi di perusahaan negara. Akibatnya informasi mengalir secara vertikal dan interaksi antara desainer, produser dan pengguna menjadi lemah dan berjauhan serta sistem perencanaan ekonomi yang terpusatlah yang menjadi satu-satunya pendorong perubahan. Secara umum sektor industri berhasil memproduksi sesuai dengan kuantitas yang diharapkan, namun kurang dari sisi kualitas dan nilai tambah. Industri tersebut akhirnya mengikuti trajektori yang dinamika pembelajarannya lemah. Struktur kelembagaan dalam hal ini merupakan inersia yang menghambat proses perubahan.

Pada tahun 80-an, terjadi restrukturisasi kelembagaan yang ditandai oleh dikuranginya intervensi pemerintah pusat secara langsung dan dibukanya pasar internasional. Lingkungan ekonomi makro berubah drastis menuju tumbuhnya mekanisme pasar dalam mengatur aliran informasi dan alokasi sumber daya. Akumulasi kemampuan teknologi yang selama ini telah terbangun di bidang desain, produksi, litbang dan pengujian diarahkan secara lebih efisien dan produktif dalam rangka merespon permintaan pasar dan tuntutan liberalisasi perdagangan. Terjadilah proses pembelajaran yang intensif untuk mengisi kesenjangan keahlian dan pengetahuan yang selama ini ada. Banyak lembaga kemudian mengikuti arus restrukturisasi dan mendukung pengembangan kemampuan ini.

Hasil nyata yang terlihat dari reorientasi pembelajaran ini adalah adanya peningkatan keahlian dan kemampuan perusahaan dalam pengetahuan dan teknologi yang spesifik. Dari sudut pandang sektoral, industri informasi dan komunikasi menjadi fokus aktivitas inovasi dan menjadi pendorong pengembangan ekonomi selama tahun 80-an. Cina yang pada tahun 80-an mengimpor mesin mencapai 16 kali nilai ekspornya, meningkat pada tahun 90-an dengan hampir berhasil mencapai neraca perdagangan yang seimbang. Sementara di sektor industri informasi dan komunikasi, telah mencapai kesetimbangan pada pertengahan tahun 90-an.

Sehingga dapat dikatakan telah terjadi pergeseran trajektori teknologi dari yang bersifat generik menuju yang spesifik. Reorientasi ini telah menumbuhkan sektor industri di Cina seperti perkapalan, elektronik konsumen, mesin konstruksi dan pertambangan, komputer dan peralatan telekomunikasi yang memiliki daya saing di pasar internasional. Di sisi lain, kelemahan Cina adalah di sektor industri pesawat terbang, mesin perkakas, mesin tekstil dan semikonduktor. Hal ini menunjukkan trejektori yang diambil Cina lebih dekat kepada Korea dibanding kepada Taiwan. Penjelasan yang mungkin terhadap fenomena ini adalah masih berpengaruhnya perusahaan besar milik negara yang terintegrasi secara vertikal, yang selama ini masih memiliki posisi istimewa dalam hal alokasi modal dan sumber daya manusia.

Model pembelajaran rekombinasi ini menuntut adanya keahlian dan pengetahuan yang secara sistematis tidak terbangun selama periode prareorientasi. Dalam sektor industri permesinan di Cina, ketiadaan keahlian terdapat pada manajemen produksi, kepastian kualitas, teknik pengujian, studi kelayakan, teknik dan peralatan desain dan standardisasi. Semua ini dibutuhkan untuk efisiensi desain dan produksi, yang pada masa sebelum reorientasi tidak terbangun secara baik, meskipun dengan hadirnya lembaga litbang dalam jumlah yang banyak. Di sektor industri informasi dan komunikasi, kemampuan mendiversifikasi produk sangatlah lemah karena selama ini memang ditujukan hanya untuk kepentingan produksi peralatan militer. Namun demikian akumulasi kemampuan teknologi yang selama ini dilakukan ternyata memainkan peran yang penting setelah masa orientasi.

Proses pembelajaran besar-besaran terjadi ketika Kementerian Industri Permesinan Cina meluncurkan program impor teknologi secara sistematis. Elemen penting teknologi diserahkan kepada lembaga litbang dan para perusahaan manufaktur yang besar. Perlu sekitar satu dekade untuk mengisi kemampuan teknologi yang tidak terbentuk selama masa prareorientasi. Teknologi yang diimpor terkandung di dalam barang modal dan peralatan, serta jasa konsultan rekayasa internasional. Keahlian dan pengetahuan didapat melalui mekanisme OEM. Sistem arsitektur yang terbuka memungkinkan perusahaan Cina melakukan adaptasi terhadap bahasa perangkat lunak yang disesuaikan bahasa Cina. Bahkan beberapa perusahaan telah berkolaborasi dengan perusahaan dari Silicon Valley untuk memproduksi integrated circuit.

Model rekombinasi ini juga dimungkinkan dengan adanya sumber daya manusia yang unggul. Dengan kemampuan teknologi yang dimilikinya, mereka dapat mengasimilasikan teknologi yang berasal dari luar ke dalam sistem produksi mereka. Dengan kemampuan ini pula, mereka mempunyai akses yang tak terbatas terhadap segala teknologi yang mereka butuhkan baik itu berupa komponen, peralatan maupun jasa konsultan rekayasa.

Yang patut menjadi perhatian dalam model rekombinasi ini adalah adanya inovasi kelembagaan yang intensif. Di sektor permesinan, terjadi restrukturisasi lembaga litbang dimana ikatan terhadap pemerintah dilepaskan dan mereka mencoba mengembangkan fungsinya dalam lingkungan pasar yang kompetitif. Banyak dari mereka yang mengganti afiliasi organisasinya dengan menjadi pusat litbang, desain dan pengujian bagi perusahaan swasta dengan mekanisme merger. Sebagian mereka menjadi lembaga independen yang memasok jasa konsultan, jasa desain sekaligus pengujian. Semua ini menumbuhkan suatu infrastruktur teknologi baru yang mendukung proses pembelajaran. Selama lebih dari 10 tahun, mereka melakukan dekodifikasi sekalgus rekodifikasi terhadap tujuan organisasi, cara kerja, rutinitas, prosedur dan hubungan dengan pemasok dan penggunanya.

Inovasi kelembagaan di sektor industri informasi dan komunikasi terjadi dengan masuknya perusahaan spin off dari lembaga litbang dan universitas. Spin off ini didukung oleh program pemerintah Cina yang diberi nama Torch Program dengan ditumbuhkan zona khusus yang diperuntukkan untuk industri perangkat lunak dan pendukungnya. Data tahun 1999 menunjukkan adanya 52 buah zona yang menaungi 16000 perusahaan yang ada didalamnya yang nilai ekspornya mencapai 8,5 miliar dolar Amerika. Tidak semua perusahaan tersebut adalah hasil spin off. Ada perusahaan-perusahaan lokal biasa yang kebetulan berada di wilayah yang akan dijadikan zona khusus. Mereka kemudian bergabung dalam komunitas pembelajaran dengan mengadopsi standar tertentu yang lebih tinggi.

Yang menarik dari model rekombinasi ini adalah karakateristik pembelajarannya yang lebih bersifat uji coba (trial and error). Pada awalnya tidak ada yang tahu kemana arah pembelajaran ini dilakukan selama restrukturisasi ekonomi. Yang dipahami hanyalah bahwa pasar teknologi haruslah mengikuti orientasi reformasi ekonomi secara umum. Tak lama kemudian disadari bahwa penciptaan pasar teknologi tidaklah cukup memadai, sehingga perangkat kebijakan yang lain pun akhirnya mengikuti seperti merger lembaga litbang dengan perusahaan swasta, program spin off, pendirian pusat rekayasa dan transformasi ke arah penciptaan produk yang komersial. Proses pembelajaran pun akhirnya berlangsung secara dua arah seperti yang digambarkan pada Torch Program yang merespon praktek spin off yang berlangsung alamiah. Proses trial and error pun berlangsung di setiap perusahaan, lembaga litbang dan lembaga pendukung lainnya. Semua ini lambat laun mencapai konsensus bersama membentuk budaya reformasi.

Pelajaran untuk Negara Berkembang Lainnya

Dari model-model pembelajaran di atas, pelajaran apa yang dapat diambil oleh negara berkembang lainnya? Ada beberapa hal yang perlu dicatat dari ketiga model di atas. Pertama, pembelajaran yang dilakukan negara berkembang adalah sebuah proses yang sulit. Ia melibatkan ketidaksinambungan dalam akuisisi keahlian dan pengetahuan serta merupakan proses yang jauh dari titik kesetimbangan permintaan dan penawaran. Kedua, peranan sumber daya manusia yang sangat sentral di dalam melakukan pembelajaran. Ia merupakan sumber input yang utama di setiap model di atas. Ketiga, pengetahuan dan keahlian semakin mudah dipelajari akibat tingkat kodifikasi yang tinggi pada teknologi yang dewasa serta sistem arsitektur yang terbuka memungkinkan negara berkembang melakukan pembelajaran dari berbagai cara dan titik referensi.

Implikasi penting dari kesimpulan di atas adalah terdapatnya skema pilihan strategi yang dapat ditempuh oleh negara berkembang. Dua unsur yang penting untuk diperhatikan adalah pilihan jenis teknologi dan aktivitas inovasi kalangan kerah biru.

Pilihan jenis teknologi yang akan dipelajari oleh negara berkembang merupakan kunci strategis yang harus benar-benar dipertimbangkan secara matang. Ilmu ekonomi konvensional biasanya menerapkan kriteria yang sesuai dengan ketersediaan faktor produksi yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan. Karena ketiadaan modal dan tingkat upah buruh yang murah maka rekomendasi biasanya jatuh pada industri yang tidak padat modal dan yang intensitas teknologinya rendah seperti tekstil dan industri ringan manufaktur lainnya. Menurut Shulin Gu, kriteria ini tidaklah memadai, sehingga diperlukan karakteristik yang lebih mendetail yaitu tingkat kedewasaan teknologi, kompleksitasnya serta karakteristik produksinya (apakah kontinyu atau diskrit). Di sisi pelaku pembelajar, diperlukan pula kriteria kemampuan rekayasa sumber daya manusia yang bersangkutan. Sehingga gambaran pilihan jenis teknologi yang akan dipilih negara berkembang menjadi lebih jelas.

Dari Tabel 1 terlihat pilihan kelompok jenis teknologi yaitu industri tradisional dan produk yang tingkat teknologinya telah dewasa, teknologi dewasa yang komplek dan diproduksi secara masal, teknologi dewasa yang diproduksi secara khusus, produk bahan baku yang tingkat teknologinya telah dewasa, produk barang modal berupa permesinan dan produk barang modal industri informasi dan komunikasi. Dalam tabel itu karakteristik pasarnya dipakai sebagai informasi tambahan yang penting bagi negara berkembang yang jumlah penduduknya besar.



Dari perspektif pembelajaran dan akumulasi kemampuan teknologi, kelompok pertama adalah sebuah pilihan pertama yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Jika negara berkembang mempunyai sumber daya manusia yang baik, kelompok 2, 3, 5 dan 6 menjadi pilihan yang memungkinkan, tanpa adanya investasi yang sangat besar yang juga cukup menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang lumayan. Namun demikian apabila selama periode pengembangan kelompok yang pertama, kemampuan teknologi tidak terbangun maka keempat pilihan tersebut menjadi mustahil. Situasi inilah yang menyebabkan banyak negara berkembang terperangkap dalam industri yang tingkat intensitas teknologinya rendah.

Kasus Korea menunjukkan bahwa mereka setelah memilih kelompok yang pertama berhasil membangun kekuatan di kelompok 2, 3 dan 4. Sementara Taiwan berhasil di kelompok 6 dan sebagian di kelompok 5. Pilihan yang lain dari skema di atas tidaklah terlepas dari peran faktor kelembagaan seperti yang dibahas dalam ketiga kasus di atas. Namun demikian skema ini tidak dapat menjelaskan masuknya ketiga negara ke kelompok teknologi nomor 4. Kecuali Korea yang bertujuan untuk melakukan ekspor, ketiga negara masuk ke kelompok 4 dalam rangka untuk menjaga kestabilan input bahan baku untuk industri hilir lainnya. Pola yang diambil Cina ternyata jauh berbeda dengan Korea dan Taiwan. Setelah masa perang, Cina langsung masuk ke kelompok 3, 4 dan 5 dan tetap berada di sana pada tingkat nilai tambah yang rendah selama 20 tahun. Kondisi stagnan ini disebabkan oleh beban tenaga kerja yang berlimpah di satu sisi yang dibarengi oleh lemahnya dinamika pembelajaran teknologi. Setelah masa reformasi, terjadi peningkatan yang signifikan di kelompok tersebut dan masuklah mereka ke kelompok teknologi nomor 1, 2 dan 6.

Pelajaran penting yang dapat diambil dari ketiga kasus di atas adalah bahwa sumber daya manusia dan kemapuan rekayasa dan teknologi menjadi modal dan faktor utama yang dapat meningkatkan tahapan industrialisasi di negara berkembang. Sehingga yang terpenting bagi negara berkembang adalah sejauh mana dalam setiap tahap pembangunan mereka terjadi akumulasi teknologi dan meningkatnya tahapan pembelajaran dalam menyerap dan mengadaptasi pengetahuan dan teknologi yang diimpornya dari luar. Dalam konteks pembelajaran di negara berkembang ini, aktivitas inovasi yang dilakukan oleh sumber daya manusia berjerah biru menjadi amat penting. Hal ini karena sebagian besar tenaga kerja di negara berkembang adalah mereka yang berkerah biru.

Dua hal dalam karakteristik tenaga kerja di negara berkembang yang menjadi perhatian adalah pertama, jumlah penduduk yang bertambah secara cepat sehingga menjadi beban ekonomi dan kedua, tradisi ilmiah pengembangan sains dan teknologi yang lemah serta dinamika pembelajaran yang kurang dinamis. Kedua hal ini menyebabkan proses pembelajaran secara imitatif dengan mengandalkan sumber dari pihak luar merupakan pilihan awal yang harus diambil oleh setiap negara berkembang. Dengan sedikitnya modal, inovasi di kalangan kerah biru haruslah dibangun menuju suatu proses pembelajaran yang dinamis. Dua arah yang dapat ditempuh dalam hal ini adalah pertama, dengan memanfaatkan teknologi impor sebaik mungkin dan melakukan adaptasi sesuai dengan kondisi lokal. Dan kedua, dengan melaju mengikuti trajektori teknologi untuk mendapatkan rente inovasi tersebut melalui diversifikasi produk dan jasa. Kasus Korea dan Taiwan menjadi contoh yang jelas bagi usaha yang kedua ini. Sementara arah yang pertama dapat dilihat dalam sejarah industri tekstil di Jepang di awal abad ke-20 ini.

Meskipun kondisi dan situasi yang dialami oleh negara berkembang sekarang ini berbeda dengan yang dihadapi oleh Korea, Taiwan dan Cina di masa lalu, analisis tentang proses pembelajaran ini tetaplah relevan untuk negara berkembang. Terbukanya pilihan-pilihan teknologi serta usaha yang keras pembelajaran yang dapat dipercepat dapat menjadi wahana bagi setiap negara berkembang yang ingin maju. Hampir tidak ada yang mustahil. Seperti yang ditulis oleh Linsu Kim dalam bukunya, “Even in ten years, mountains move!”.