Menebak Arah Manuver Partai Demokrat

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
News » 29 Agustus 2009 » Hit: 497
Menebak Arah Manuver Partai Demokrat
Jakarta – Meski dalam suasa ramadhan, suhu politik tanah air tidaklah cukup tenang dan kondusif. Adalah pernyataan wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Achmad Mubarok yang dianggap menyulut suasana ‘panas’ politik jelang detik-detik penyusunan kabinet kerja SBY-Boediono.

Selain mendapat respon keras, pernyataan Achmad Mubarok itu membuat hubungan antar partai politik saling curiga. Golkar sebagai partai yang dulu pernah dibikin pusing oleh pernyataan Mubarok, mengingatkan peserta koalisi pengusung SBY-Boediono untuk berhati-hati menyikapi hal tersebut. Sejak pernyataan itu digulirkan, ragam interpretasi dan spekulasi dimunculkan untuk menterjemahkan manuver politik Partai Demokrat. Apa sebenarnya maksud dari pernyataan itu?

Seperti diketahui, Mubarok membeberkan strategi Partai Demokrat mendekati PDI Perjuangan hanya untuk menekan partai politik peserta koalisi agar tidak macam-macam dalam meminta jatah menteri. Saat ini, menjelang penentuan kabinet Partai Demokrat dan PDI Perjuangan malah kian mesra.

“Pernyataan Mubarok itu sepertinya biasa saja. Tapi, sebenarnya hal itu bagian dari strategi politik,” kata ketua DPP Partai Golakar Burhanuddin Napitupulu, kemarin di Jakarta. Dia mengingatkan mitra koalisi SBY-Boediono utamanya PKS, PAN, PPP, dan PKB bahwa Golkar pernah mengalami pengalaman yang serupa.

Pernyataan Burnap, panggilan akrab Burhanuddin Napitupulu, mengingatkan memori semua orang atas riak-riak politik jelang pemilu legislatif 2009 lalu. Saat itu, Achmad Mubarok juga memberikan pernyataan yang dituding kontroversial soal perolehan suara Golkar yang diprediksi hanya bakal mendapat 2,5 persen suara. Golkar bereaksi keras karena pernyataan itu dianggap melecehkan martabat partai Orde Baru itu.

Bahkah disinyalir sebagai implikasi dari pernyataan Mubarok itu, SBY dan JK pecah kongsi dalam pemilu presiden 2009 lalu di mana akhirnya Golkar memutuskan untuk mengusung calon presiden sendiri hanya demi untuk menjaga gengsi dan martabat Golkar di mata publik.

Saat ini, riak-riak politik yang dilontarkan Mubarok itu seolah dialamatkan kepada partai pendukung SBY-Boediono jelang penyusunan kabinet kerja 2009-2014. Meski begitu, Wakil Sekjen DPP PKS Zulkieflimansyah menanggapi bahwa hingga kini, pihaknya tidak menangkap pernyataan Mubarak tersebut sebagai upaya untuk memancing emosi.

“Yang jelas pernyataan Pak Mubarak itu akan menjadi bahan evaluasi buat kami. Mungkin, pernyataan kami selama ini mengesankan kami banyak menuntut dan lain sebagainya. Bisa jadi itulah cara berkomunikasi beliau,” katanya di depan puluhan wartawan di DPR Jumat siang, kemarin.

Bang Zul menambahkan, kalau ada kalangan yang beranggapan bahwa PKS terlalu banyak menuntut dan menekan soal kabinet akhir-akhir ini, anggapan tersebut patut dipertanyakan. Sebab selama ini, pihaknya berusaha konsisten dengan sistem satu pintu untuk berkomunikasi dengan SBY. Yaitu, hanya melalui Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminudin.

“Ustadz Hilmi Aminudin baru saja pulang dari umrah. Jadi, mana mungkin menekan-nekan,” kata Doktor lulusan Inggris ini menerangkan.

Selain itu, masih menurut Bang Zul, persoalan koalisi diserahkan kepada Presiden. Karena berdasarkan pengalaman berkoalisi 2004, ketika PKS dan Demokrat juga berkoalisi, Yudhoyono konsisten terhadap kesepatan koalosi yang telah dibuat. “Sepanjang untuk kebaikan bangsa kita terima saja,” pungkasnya

Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng mengatakan, upaya menjalin koalisi dengan berbagai pihak bukan didasarkan pada menekan atan ditekan pihak lain.

Andi menambahkan, presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat memang berusaha menjalin silaturahmi dengan berbagai kalangan. Kemungkinan bekerja sama dengan partai non koalisi, termasuk PDIP tidak main-main. “Tetapi, bagaimana bentuk kerja sama tersebut, itu nanti. Tidak pernah ada istilah menekan dan ditekan,” tutur pria kelahiran Makassar itu.

*Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber seperti Kompas, Tempo, Indo Pos, dan lain-lain.