Menanti Sang Juru Selamat

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Political Update » 19 Agustus 2008 » Hit: 207
Menanti Sang Juru Selamat
Belakangan ini, masyarakat Indonesia kembali dielukan persoalan politik menyangkut rotasi kepemimpinan pada pemilu 2009. Partai politik mulai gencar bersosialisasi dengan menebarkan platform dan isu sebagai salah-satu cara menarik simpati masyarakat. Tak ketinggalan, beberapa elit politik tampil simpatik mewarnai media seraya mengajak seluruh masyarakat bersatu memperbaiki persoalan bangsa.

Di tengah paraunya krisis, tidak berlebihan bila menergantungkan harapan akan munculnya sosok yang mampu mengatasi berbagai persoalan, terutama ekonomi, yang telah menggilas semua sendi kehidupan. Akan tetapi, bagaimanakah kategori “penyelamat” bangsa itu bila dipersonalisasikan kepada seorang figur masih menjadi pertanyaan besar yang menuntut kehati-hatian dalam menentukan pilihan.

Oleh karena itu, sudah saatnya membuka lembaran sejarah, menimba pelajaran atas kesalahan masa lalu. Kita semuanya berharap tidak jatuh untuk kesekian kalinya ke jurang yang sama. Paling tidak, pergantian kepemimpinan sejak pasca reformasi sampai sekarang sudah cukup dijadikan eksprementasi untuk kemudian menempatkan penilaian pada posisi yang semestinya.

Ditilik dari segi personality pemimpin, Indonesia dihadapkan pada krisis kepemimpinan yang membuat macet proyek kebangsaan. Pemimpin yang ada masih terbatas pada wilayah politik sehingga sangat wajar jika cenderung berdiri di atas kepentingan kelompok atau partai. Seringkali kebijakan tidak mengarah pada kepentingan bersama bahkan menyengsarakan rakyat.

Hingga kini, belum ada yang bisa disebut pemimpin bangsa yang mampu menerjemahkan semangat rakyat sebagai pijakan perjuangan. Pola sikap yang kerap diambil hanyalah mengejar keuntungan belaka walaupun harus menjual kehormatan bangsa pada pihak asing. Akibatnya, banyak aset negara yang dijual dan dikuasi asing seolah kita menjadi tamu di negeri sendiri.

Selain itu, krisis kepemimpinan juga bisa dilihat dari stagnannya imajinasi tentang kebangsaan sebagai upaya memecahkan kebuntuan di tengah krisis multidimensi. Inisiatif yang muncul selalu diniatkan untuk kepentingan jangka pendek yang bersifat sektarian, faksional, dan demi kelompok tertentu. Hal ini disebabkan paradigma yang keliru dalam memahami kekuasaan, yaitu sebatas kekuasaan politik bukan kebangsaan. Sehingga, amat wajar bila pemimpin kita tidak berani mengambil kebijakan terbaik buat rakyat tapi pahit bagi diri dan kelompoknya sendiri.

Dalam politik praktis, sangat sulit menemukan sosok yang mempunyai jiwa dedikasi sosial tinggi dan selalu berdiri di atas kepentingan rakyat. Pasalnya, ongkos politik untuk mencapai kekuasaan terlalu mahal serta kesepakatan dalam transaksi politik –tawar-menawar kekuasaan- sangat riskan untuk dilanggar. Namun, hal itu bukan berarti menutup jalan untuk tetap melangkah sesuai kehendak bersama (volonte generale) dan demi kebaikan bersama.

Dari itu, Indonesia ke depan membutuhkan pemimpin bangsa yang kaya akan imajinasi tentang kebangsaan sebagai juru selamat. Dan, sosok itu belum terlihat dalam diri para elit politik lama (generasi tua) yang siap berkontestasi pada pemilu 2009. Bagaimanakah dengan pemimpin dari kalangan pemuda? Yang pasti kategori pemimpin di atas sangat diharapakan demi memperbaiki masa depan bangsa. Semoga!(admin)