Book Review » 06 Maret 2008 » Hit: 370
"Membangun Indonesia Kembali" (Indonesia Kita), by : Nurcholis Madjid
Bangsa, tulis Benedict Anderson dalam bukunya Imagined Communties, merupakan suatu komunitas terbayang. Menurutnya, setiap anggota yang terdapat dalam sebuah bangsa tidak akan tahu dan tidak akan kenal sebagian besar anggota lainnya, tidak akan mampu saling bertatap muka, bahkan mungkin tidak pula pernah mendengar tentang mereka. Meski begitu, sebuah bangsa dapat berdiri karena adanya perasaan kebersamaan dan persaudaraan sebagai anggota komunitas bangsa tersebut. Rasa kebersamaan dan persaudaraan ini merupakan hal terpenting akan adanya sebuah bangsa. Inilah yang telah memungkinkan begitu banyak orang bersedia berkorban, membangun militansi, dan solidaritas demi pembayangan tentang yang terbatas itu.
Banyak orang yang meyakini semangat kebangsaan ini muncul akibat kuatnya akar-akar nasionalisme yang dimiliki suatu bangsa. Sebuah kekuatan nasionalisme yang juga diyakini sebagai energi positif yang dapat mendorong lahirnya kemerdekaan bangsa Indonesia. Meskipun dalam kondisi saat ini - di tengah derasnya arus globalisasi dan keterpurukan bangsa yang tanpa ada tanda-tanda perbaikan - pertanyaan seputar nasionalisme Indonesia dengan kuat mengemuka kembali?
Buku ’Indonesia Kita’ yang ditulis Cak Nur ini merupakan hasil refleksi dan perenungan yang mendalam dari seorang anak bangsa yang mempunyai kepekaan dan kepedulian terhadap perkembangan serta arah demokrasi di Indonesia. Kondisi bangsa yang semraut akibat sistem pemerintahan yang otoriter merupakan pijakan untuk mengangkat pentingnya sikap nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia.
Perkembangan tidak menggembirakan bagi bangsa dalam beberapa tahun terakhir ini, tentu menimbulkan kegelisahan yang mendalam bagi semua kalangan. Proses demokratisasi di Indonesia yang kini mulai tumbuh ternyata memakan biaya yang sangat mahal. Hal ini semua disebabkan political will yang rendah yang dimiliki para elit politik kita. Lebih jauh lagi, kondisi seperti ini menyulitkan Indonesia untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar peduli dan dibutuhkan rakyat. Yang ada hanyalah pemimpin yang tidak populis dan suka menindas.
Tidak berhenti di situ, masalah kian bertambah dengan persoalan historis berbangsa yang belum selesai telah menempatkan bangsa ini di jurang kehancuran. Marakanya kerinduan akan masa-masa otoritarian orde baru yang identik dengan stabilitas dan beras murah di kalangan masyarakat, tentu menjadi kekhawatiran tersendiri yang tidak bisa diabaikan. Cak Nur sering mengungkapkan salah satu solusi dari kondisi tersebut yaitu dengan menunda kesenangan pribadinya untuk kemaslahatan bersama untuk masa waktu yang panjang. Untuk dapat melaluinya, kita memerlukan komitmen yang kuat dari segenap komponen bangsa.
Dalam uapaya memberikan sumbangan bagi perbaikan bangsa, diperlukan pemanfaatan potensi bangsa yang optimal. Bersama- rekan-rekan yang memiliki kesamaan ide dan kesadaran akan perlunya institusi dalam mewujudkan hal tersebut, Cak Nur membentuk Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia (PMKI). Sebagai sebuah perkumpulan, PMKI diharapkan dapat menghimpun sebanyak mungkin potensi yang dimiliki bangsa sehingga dapat memberikan sumbangan yang sangat signifikan dalam membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Buku ’Indoensia Kita’ merupakan karya Cak Nur, dengan skema menggali akar historis bangsa dengan visi yang tajam untuk perkembangannya. Pemaparan diawali dengan tinjauan histos pra-imperialisme barat hingga situasi bangsa kontemporer dan ditutup dengan menyajikan tawaran solusi untuk kehidupan bangsa yang lebih baik, yang dituangkan dalam sepuluh butir platform membangun Indonesia kembali.
Sepuluh butir platform tersebut meliputi; pertama, mewujudkan good governance pada semua lapisan pengelola negara. Pada poin ini ingin ditegaskan bahwa, untuk mengatasi krisis yang ada, negara harus dikelola dengan baik dan benar serta berkenaan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan penggunanan kekuasaan. Tumpukan krisis yang menggunung harus diselesaikan secara menyeluruh bukan secara parsial.
Kedua, menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen. Pelaksanaan good governance diharapkan akan mendorong pelaksanaan asas hukum dan keadilan secara tegar, tegas, dan teguh. Sebaliknya, tanpa tegaknya asas hukum dan keadilan, pelaksanaan good governance adalah mustahil. Ketiga melakukan rekonsiliasi nasional. Pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa dengan sendirinya mensyaratkan adanya rekonsiliasi nasional dengan dasar sikap yang saling hormat dan saling percaya.
Yang keempat, merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah. Semua usaha tidak akan berjalan seiring dengan adanya kemelaratan rakyat. Kemelaratan adalah salah satu sebab utama kejahatan. Para pendiri republik ini telah menetapkan terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah wajib melakukan pembagian kekuasaan nasional secara adil dan merata. Kelima, mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi seperti kebebasan sipil - khususnya kebebasan pers dan akademik-, pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintahan, perwakilan, dan pengadilan.
Sedangkan yang keenam adalah meningkatkan ketahanan dan keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat personel dan pranata TNI dan Polri dalam bingkai demokrasi. Ketujuh, memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan ke-Bhinekaan dan ke Eka-an, serta pembangunan ekonomi.
Adapun yang kedelapan adalah meratakan dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Nusantara. Bagi Cak Nur tidak ada investasi yang lebih berharga selain investasi atau penanaman modal manusia melalui prasarana pendidikan yang baik, dengan mutu yang tinggi dan jumlah yang merata. Kesembilan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai tujuan bernegara. Sementara yang kesepuluh yaitu mengambil peran aktif dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.
Banyak orang yang meyakini semangat kebangsaan ini muncul akibat kuatnya akar-akar nasionalisme yang dimiliki suatu bangsa. Sebuah kekuatan nasionalisme yang juga diyakini sebagai energi positif yang dapat mendorong lahirnya kemerdekaan bangsa Indonesia. Meskipun dalam kondisi saat ini - di tengah derasnya arus globalisasi dan keterpurukan bangsa yang tanpa ada tanda-tanda perbaikan - pertanyaan seputar nasionalisme Indonesia dengan kuat mengemuka kembali?
Buku ’Indonesia Kita’ yang ditulis Cak Nur ini merupakan hasil refleksi dan perenungan yang mendalam dari seorang anak bangsa yang mempunyai kepekaan dan kepedulian terhadap perkembangan serta arah demokrasi di Indonesia. Kondisi bangsa yang semraut akibat sistem pemerintahan yang otoriter merupakan pijakan untuk mengangkat pentingnya sikap nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia.
Perkembangan tidak menggembirakan bagi bangsa dalam beberapa tahun terakhir ini, tentu menimbulkan kegelisahan yang mendalam bagi semua kalangan. Proses demokratisasi di Indonesia yang kini mulai tumbuh ternyata memakan biaya yang sangat mahal. Hal ini semua disebabkan political will yang rendah yang dimiliki para elit politik kita. Lebih jauh lagi, kondisi seperti ini menyulitkan Indonesia untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar peduli dan dibutuhkan rakyat. Yang ada hanyalah pemimpin yang tidak populis dan suka menindas.
Tidak berhenti di situ, masalah kian bertambah dengan persoalan historis berbangsa yang belum selesai telah menempatkan bangsa ini di jurang kehancuran. Marakanya kerinduan akan masa-masa otoritarian orde baru yang identik dengan stabilitas dan beras murah di kalangan masyarakat, tentu menjadi kekhawatiran tersendiri yang tidak bisa diabaikan. Cak Nur sering mengungkapkan salah satu solusi dari kondisi tersebut yaitu dengan menunda kesenangan pribadinya untuk kemaslahatan bersama untuk masa waktu yang panjang. Untuk dapat melaluinya, kita memerlukan komitmen yang kuat dari segenap komponen bangsa.
Dalam uapaya memberikan sumbangan bagi perbaikan bangsa, diperlukan pemanfaatan potensi bangsa yang optimal. Bersama- rekan-rekan yang memiliki kesamaan ide dan kesadaran akan perlunya institusi dalam mewujudkan hal tersebut, Cak Nur membentuk Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia (PMKI). Sebagai sebuah perkumpulan, PMKI diharapkan dapat menghimpun sebanyak mungkin potensi yang dimiliki bangsa sehingga dapat memberikan sumbangan yang sangat signifikan dalam membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Buku ’Indoensia Kita’ merupakan karya Cak Nur, dengan skema menggali akar historis bangsa dengan visi yang tajam untuk perkembangannya. Pemaparan diawali dengan tinjauan histos pra-imperialisme barat hingga situasi bangsa kontemporer dan ditutup dengan menyajikan tawaran solusi untuk kehidupan bangsa yang lebih baik, yang dituangkan dalam sepuluh butir platform membangun Indonesia kembali.
Sepuluh butir platform tersebut meliputi; pertama, mewujudkan good governance pada semua lapisan pengelola negara. Pada poin ini ingin ditegaskan bahwa, untuk mengatasi krisis yang ada, negara harus dikelola dengan baik dan benar serta berkenaan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan penggunanan kekuasaan. Tumpukan krisis yang menggunung harus diselesaikan secara menyeluruh bukan secara parsial.
Kedua, menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen. Pelaksanaan good governance diharapkan akan mendorong pelaksanaan asas hukum dan keadilan secara tegar, tegas, dan teguh. Sebaliknya, tanpa tegaknya asas hukum dan keadilan, pelaksanaan good governance adalah mustahil. Ketiga melakukan rekonsiliasi nasional. Pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa dengan sendirinya mensyaratkan adanya rekonsiliasi nasional dengan dasar sikap yang saling hormat dan saling percaya.
Yang keempat, merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah. Semua usaha tidak akan berjalan seiring dengan adanya kemelaratan rakyat. Kemelaratan adalah salah satu sebab utama kejahatan. Para pendiri republik ini telah menetapkan terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah wajib melakukan pembagian kekuasaan nasional secara adil dan merata. Kelima, mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi seperti kebebasan sipil - khususnya kebebasan pers dan akademik-, pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintahan, perwakilan, dan pengadilan.
Sedangkan yang keenam adalah meningkatkan ketahanan dan keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat personel dan pranata TNI dan Polri dalam bingkai demokrasi. Ketujuh, memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan ke-Bhinekaan dan ke Eka-an, serta pembangunan ekonomi.
Adapun yang kedelapan adalah meratakan dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Nusantara. Bagi Cak Nur tidak ada investasi yang lebih berharga selain investasi atau penanaman modal manusia melalui prasarana pendidikan yang baik, dengan mutu yang tinggi dan jumlah yang merata. Kesembilan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai tujuan bernegara. Sementara yang kesepuluh yaitu mengambil peran aktif dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.






