Political Update » 12 Maret 2008 » Hit: 1105
Membaca Peluang PKS di 2009
Oleh : Adi Prayitno (Peneliti Laboratorium Politik Islam UIN Jakarta)
Dirubahnya arah dan plat form PKS menjadi inklusif dan pluralis banyak mendapat perhatian dari para pengamat politik. Walaupun ideologi partai bersangkutan tetap berasaskan Islam, paling tidak, terdapat dua alasan logis dari perubahan itu. Pertama, menyangkut kompleksitas persoalan bangsa di mana PKS harus mengambil peran di dalamnya dan sebab itu perubahan adalah keniscayaan. Kedua, karena alasan political strategy untuk mencapai target suara 20 persen pada pemilu 2009.
Secara evolusionis, setiap partai pasti akan dihadapkan pada kondisi tertentu yang menuntut untuk segera diadaptasi agar berjalan berkesinambungan. Tetapi, seberapa jauh perubahan itu memberi dampak positif bagi partai menjadi kalkulasi politik tersendiri demi masa depan partai yang sangat bergantung pada jumlah pemilih.
Pada pemilu 2004 lalu, PKS memang memperoleh suara 7 % lebih dengan sikapnya yang eksklusif sebagai partai Islam yang mencitrakan diri bersih dan peduli. Dengan bertumpu pada kaderisasi yang berorientasi Islamisme, banyak orang memprediksi PKS akan menjadi partai besar yang bisa menyaingi PDI-P maupun partai Golkar. Kini setelah Mukernas di Bali, mulai muncul keraguan dari berbagai pihak karena menempatkan partai ini pada posisi yang tidak jauh beda dari partai Islam lain.
Dampak Moderasi
Tampilnya PKS dengan wajah inklusif dan pluralis secara otomatis menghadirkan tantangan tersendiri ketika dihadapkan pada kekuatan partai politik terutama yang beraliran nasionalis. Sebab, moderasi bisa dinilai sebagai sebuah strategi politik untuk menggaet konstituen partai yang masih ragu akan keberadaan partai Islam padahal condong terhadap Islam.
Biasanya, tipe pemilih semacam ini berada di luar kategori organisasi Islam semisal NU atau Muhammadiyah yang mempunyai kendaraan politik cukup jelas, yakni PKB dan PAN. Maka, tidak salah kemudian jika PKS melirik massa dari partai nasionalis karena rata-rata dari mereka yang ragu terhadap partai Islam menjatuhkan pilihannya pada partai di luar Islam.
Pada wilayah ini, sangat sulit mengatakan bahwa strategi di atas akan berjalan mulus karena massa partai nasionalis mayoritas dimiliki oleh partai besar. Ditambah lagi keharusan melawan strategi yang telah mereka bangun seperti Baitul Muslimin di PDI-P untuk menggaet massa dari partai Islam.
Sejatinya, PKS semakin berani mengangkat diri sebagai kekuatan politik yang saling berhadapan secara ideologis tanpa sikap eksklusif apalagi ekstrim sehingga mampu menghapus keraguan yang muncul. Dalam artian, sikap inklusif dan pluralis bukan hanya menjadi plat form saja tetapi lebih sebagai manifestasi nilai-nilai Islam yang tidak kompromi terhadap segala bentuk konspirasi atau manipulasi.
Selain tantangan tersebut, PKS juga dituntut menegaskan ulang identitas partainya agar bisa meyakinkan masyarakat, baik kader maupun simpatisan. Jadi, dibutuhkan konsistensi guna mempertahankan citra lama sebagai partai bersih dan peduli seraya memperkuat komitmen keislaman dan kebangsaan. Sebab, apapun perubahan bentuk sikap partai tidak akan mempunyai pengaruh negatif apabila citra atau identitas partai tetap terjaga.
Kalkulasi Politik
Jika PKS mampu melewati berbagai tantangan perubahan di atas, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi partai besar yang mendatangkan angin segar bagi dunia perpolitakan nasional. Paling tidak, mampu bersaing dengan partai besar yang masih didominasi oleh partai berorientasi nasionalis.
Apalagi, di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja partai politik yang dinilai hanya menjalankan fungsi distribusi kekuasaan semata, dibutuhkan mesin politik yang betul-betul murni memperjuangkan aspirasi rakyat. Nah, sebenarnya PKS sudah punya modal tersebut, hanya saja masih perlu ditingkatkan lagi agar mencapai target suara pemilu legislative sebanyak 20 % yang menjadi amanat Munas PKS beberapa waktu lalu. Sudah tentu, pola atau strategi yang digunakan tidak lagi persuasif dan mengedepankan keanggunan religius dalam berpolitik. Semuanya harus bisa dibuktikan secara nyata melalui ketegangan-ketegangan dialektis hingga tidak terkesan ciut dan mencari selamat.
PKS merupakan partai baru yang sejak awal kemunculannya merepresentasikan semangat kemurnian serta lolos dari noda hitam sejarah Orde Baru. Maka pemilu 2009 menjadi momentum yang tepat untuk menguji nyali kelayakpatutan sekaligus kekuatan politiknya di atas panggung nasional. Pada tahun 2004 uji coba tersebut sudah berhasil, namun pada pemilu 2009 belum tentu keberhasilan yang sama diraih oleh PKS.
Akhirnya, plat form inklusif dan pluralis saja tidak cukup sebagai modal politik melainkan harus diimbangi dengan keberanian untuk menerapkan pola pergerakan dan perjuangan yang berbeda sebagai antitesa karakter partai politik pada umumnya yang saat ini selalu identik dengan politik kotor, politik kepentingan, individualis serta lupa akan kepentingan rakyat yang memilihnya. Masyarakat selalu melihat seberapa besar konsistensi partai berdiri tegak memperjuangkan idealisme di tengah himpitan berbagai kekuatan politik, bukan asal survive dan mendapatkan jatah kursi. Hal ini harus benar-benar menjadi perhatian serius bagi PKS jika ingin berhasil di 2009.
Dirubahnya arah dan plat form PKS menjadi inklusif dan pluralis banyak mendapat perhatian dari para pengamat politik. Walaupun ideologi partai bersangkutan tetap berasaskan Islam, paling tidak, terdapat dua alasan logis dari perubahan itu. Pertama, menyangkut kompleksitas persoalan bangsa di mana PKS harus mengambil peran di dalamnya dan sebab itu perubahan adalah keniscayaan. Kedua, karena alasan political strategy untuk mencapai target suara 20 persen pada pemilu 2009.
Secara evolusionis, setiap partai pasti akan dihadapkan pada kondisi tertentu yang menuntut untuk segera diadaptasi agar berjalan berkesinambungan. Tetapi, seberapa jauh perubahan itu memberi dampak positif bagi partai menjadi kalkulasi politik tersendiri demi masa depan partai yang sangat bergantung pada jumlah pemilih.
Pada pemilu 2004 lalu, PKS memang memperoleh suara 7 % lebih dengan sikapnya yang eksklusif sebagai partai Islam yang mencitrakan diri bersih dan peduli. Dengan bertumpu pada kaderisasi yang berorientasi Islamisme, banyak orang memprediksi PKS akan menjadi partai besar yang bisa menyaingi PDI-P maupun partai Golkar. Kini setelah Mukernas di Bali, mulai muncul keraguan dari berbagai pihak karena menempatkan partai ini pada posisi yang tidak jauh beda dari partai Islam lain.
Dampak Moderasi
Tampilnya PKS dengan wajah inklusif dan pluralis secara otomatis menghadirkan tantangan tersendiri ketika dihadapkan pada kekuatan partai politik terutama yang beraliran nasionalis. Sebab, moderasi bisa dinilai sebagai sebuah strategi politik untuk menggaet konstituen partai yang masih ragu akan keberadaan partai Islam padahal condong terhadap Islam.
Biasanya, tipe pemilih semacam ini berada di luar kategori organisasi Islam semisal NU atau Muhammadiyah yang mempunyai kendaraan politik cukup jelas, yakni PKB dan PAN. Maka, tidak salah kemudian jika PKS melirik massa dari partai nasionalis karena rata-rata dari mereka yang ragu terhadap partai Islam menjatuhkan pilihannya pada partai di luar Islam.
Pada wilayah ini, sangat sulit mengatakan bahwa strategi di atas akan berjalan mulus karena massa partai nasionalis mayoritas dimiliki oleh partai besar. Ditambah lagi keharusan melawan strategi yang telah mereka bangun seperti Baitul Muslimin di PDI-P untuk menggaet massa dari partai Islam.
Sejatinya, PKS semakin berani mengangkat diri sebagai kekuatan politik yang saling berhadapan secara ideologis tanpa sikap eksklusif apalagi ekstrim sehingga mampu menghapus keraguan yang muncul. Dalam artian, sikap inklusif dan pluralis bukan hanya menjadi plat form saja tetapi lebih sebagai manifestasi nilai-nilai Islam yang tidak kompromi terhadap segala bentuk konspirasi atau manipulasi.
Selain tantangan tersebut, PKS juga dituntut menegaskan ulang identitas partainya agar bisa meyakinkan masyarakat, baik kader maupun simpatisan. Jadi, dibutuhkan konsistensi guna mempertahankan citra lama sebagai partai bersih dan peduli seraya memperkuat komitmen keislaman dan kebangsaan. Sebab, apapun perubahan bentuk sikap partai tidak akan mempunyai pengaruh negatif apabila citra atau identitas partai tetap terjaga.
Kalkulasi Politik
Jika PKS mampu melewati berbagai tantangan perubahan di atas, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi partai besar yang mendatangkan angin segar bagi dunia perpolitakan nasional. Paling tidak, mampu bersaing dengan partai besar yang masih didominasi oleh partai berorientasi nasionalis.
Apalagi, di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja partai politik yang dinilai hanya menjalankan fungsi distribusi kekuasaan semata, dibutuhkan mesin politik yang betul-betul murni memperjuangkan aspirasi rakyat. Nah, sebenarnya PKS sudah punya modal tersebut, hanya saja masih perlu ditingkatkan lagi agar mencapai target suara pemilu legislative sebanyak 20 % yang menjadi amanat Munas PKS beberapa waktu lalu. Sudah tentu, pola atau strategi yang digunakan tidak lagi persuasif dan mengedepankan keanggunan religius dalam berpolitik. Semuanya harus bisa dibuktikan secara nyata melalui ketegangan-ketegangan dialektis hingga tidak terkesan ciut dan mencari selamat.
PKS merupakan partai baru yang sejak awal kemunculannya merepresentasikan semangat kemurnian serta lolos dari noda hitam sejarah Orde Baru. Maka pemilu 2009 menjadi momentum yang tepat untuk menguji nyali kelayakpatutan sekaligus kekuatan politiknya di atas panggung nasional. Pada tahun 2004 uji coba tersebut sudah berhasil, namun pada pemilu 2009 belum tentu keberhasilan yang sama diraih oleh PKS.
Akhirnya, plat form inklusif dan pluralis saja tidak cukup sebagai modal politik melainkan harus diimbangi dengan keberanian untuk menerapkan pola pergerakan dan perjuangan yang berbeda sebagai antitesa karakter partai politik pada umumnya yang saat ini selalu identik dengan politik kotor, politik kepentingan, individualis serta lupa akan kepentingan rakyat yang memilihnya. Masyarakat selalu melihat seberapa besar konsistensi partai berdiri tegak memperjuangkan idealisme di tengah himpitan berbagai kekuatan politik, bukan asal survive dan mendapatkan jatah kursi. Hal ini harus benar-benar menjadi perhatian serius bagi PKS jika ingin berhasil di 2009.