Articles » 18 Januari 2007 » Hit: 1173
Memaknai Kembali Inovasi Teknologi
Dr. Zulkieflimansyah ,SE,MSc
Dalam sebuah perekonomian yang berorientasi pasar, pembangunan ekonomi suatu negara biasanya ditentukan oleh kesuksesan dan keberhasilan perusahaan dan industri di dalam negara tersebut dalam mencapai dan mempertahankan daya saingnya. Dan seperti dikemukakan oleh Michael Porter dalam bukunya The Competitive Advantage of Nation (1990), hal tersebut hanya dapat dicapai jika perusahaan dan industri tadi dapat terus sinambung dalam melakukan inovasi.
Inovasi yang dilakukan oleh perusahaan dan industri ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, mereka harus mampu membuat produk yang sama, tetapi proses produksinya harus lebih efisien dalam arti menggunakan lebih sedikit sumberdaya. Dengan demikian sumberdaya yang tidak terpakai tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan produk lain yang lebih bernilai. Kedua, mereka harus mampu membuat produk yang lebih baik atau menyediakan jasa baru yang berbeda yang lebih diminati oleh konsumen. Ketiga, mereka harus mampu menggunakan faktor produksi dengan lebih baik dan membuka pasar baru untuk produk dan jasa sehingga faktor produksi yang baru dapat digunakan. Keempat, mereka harus mampu membuka sumber baru untuk bahan baku yang dapat memberikan nilai tambah dari faktor produksi yang telah ada. Kelima, mereka harus mampu meningkatkan efektivitas organisasi yang ada sehingga lebih banyak sumberdaya yang bisa dimanfaatkan.
Secara lebih sederhana dapatlah dikatakan bahwa peningkatan daya saing hanya dapat dilakukan dengan perbaikan efisiensi produksi, efektivitas organisasi, pengembangan produk yang lebih baik, pembukaan pasar dan sumber pasokan baru atau kombinasi dari semuanya.
Dalam merealisasikan berbagai hal di atas, cara umum yang biasa dilakukan perusahaan dan industri adalah mereka secara konsisten mengerjakan kegiatan yang spesifik dengan cara yang lebih baik atau berbeda dari apa yang pesaing lakukan. Untuk itulah mereka sering sekali butuh keterlibatan teknologi dengan segala keragamannya. Perusahaan dan industri dengan demikian harus secara terus menerus memilih, menggunakan dan menguasai teknologi yang baru (novel). Sehingga kemampuan teknologi (technological capability)-kemampuan untuk menghasilkan dan mengelola perubahan teknologi – menjadi isu yang penting bagi setiap perusahaan dan industri untuk meningkatkan daya saingnya.
Walaupun perannya penting, diskursus tentang inovasi teknologi bukanlah persoalan mudah karena teknologi dapat didefinisikan secara sempit dan luas. Dalam definisi yang sempit, teknologi adalah informasi teknik yang terdapat di dalam paten atau pengetahuan teknik dalam bentuk tertulis. Sering sekali teknologi dalam konteks ini dihubungkan dengan semacam pengetahuan tentang produk tertentu atau teknik produksi, termasuk keahlian teknis yang diperlukan oleh produk atau teknik produksi. Teknologi dalam definisi ini secara umum identik dengan perangkat keras produksi.
Teknologi sering juga secara luas didefinisikan dengan mengikutsertakan semua keahlian, pengetahuan dan prosedur yang diperlukan untuk membuat, menggunakan, mengerjakan sesuatu yang berguna. Sehingga teknologi dalam definisi ini termasuk perangkat lunak produksi – manajerial, kemampuan marketing dan pelayanan jasa administrasi, kesehatan, pendidikan dan keuangan. Definisi yang luas tentang teknologi ini sering disebut sebagai “sains dan seni untuk memproses sesuatu dengan mengaplikasikan keahlian dan pengetahuan”.
Jika kita melihat definisi-definisi di atas, bagaimanapun teknologi itu didefinisikan, terlihat sekali bahwa teknologi adalah kombinasi antara pengetahuan, teknik dan alat.
Meskipun kontribusi teknologi dalam perekonomian telah disadari sejak lama, selama ini ekonomi dan perencana pembangunan sering mengasumsikannya seperti black box. Akibatnya masih umum dijumpai, teknologi masih sering direduksi maknanya sebatas mesin dan alat yang terpisah dari sumberdaya manusia dan konteks sosialnya. Dalam pengertian ini teknologi didefinisikan secara statis. Teknologi adalah produk, suatu paket yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan dan institusi, dan dikonsumsi atau digunakan oleh pihak lain.
Kerangka konseptual yang melandasi pandangan statis ini didominasi oleh pendekatan neo-klasik dalam ilmu ekonomi. Karena semua perusahaan beroperasi menurut fungsi produksi, usaha yang berhubungan dengan teknologi adalah memilih teknologi yang dianggap sesuai dengan faktor produksi lokal dan harga relatif yang tersedia. Semua perusahaan diasumsikan serta merta dapat bergeser posisinya dalam fungsi produksi dalam merespon perubahan faktor produksi lokal dan harga relatif karena mereka mempunyai akses yang sama terhadap teknologi global yang tersedia dan dapat secara langsung mengoperasikan teknologi yang dipilih dengan efisiensi yang optimal.
Mengikuti pemahaman neo-klasik ini, para ekonom dan perencana pembangunan kemudian sering berpendapat bahwa negara yang sekarang terbelakang sebenarnya diuntungkan, karena mereka memiliki banyak pilihan teknologi yang dapat digunakan. Di bandingkan dengan negara-negara maju yang ada sekarang, negara-negara berkembang tak harus melewati proses panjang dan berliku untuk menemukan pola industrialisasinya yang sesuai. Negara maju diyakini telah meninggalkan banyak jejak dan akumulasi pengalaman yang bisa ditiru untuk dijadikan pijakan kebijakan. Negara-negara di dunia ketiga tak harus berjibaku untuk melakukan penemuan (invention) dalam banyak basic science. Mereka tinggal menggunakan saja apa yang telah ditemukan oleh negara maju. Konon dengan memanfaatkan apa yang telah ditemukan tadi, negara-negara berkembang diuntungkan dengan adanya penghematan waktu pembelajaran.
Jika pasar teknologi berfungsi seperti pasar barang yang dapat ditransfer secara fisik, menghilangkan semua penghalang perdagangan teknologi sudah cukup untuk membangun basis teknologi yang optimal di negara berkembang. Tetapi transfer dan penyerapan teknologi tidaklah seperti membeli dan menggunakan barang. Tidak otomatis begitu dipasang langsung dapat berfungsi. Banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar negara berkembang tidak optimal dalam menggunakan teknologi industri. Mereka dengan kata lain tidak efisien secara teknis dalam menggunakan teknologi yang diimpor. Banyak teknologi industri di negara berkembang digunakan pada tingkat yang lebih rendah disbanding yang dilakukan di negara maju.
Dari bukti empiris yang ada, ketidakefisienan teknis yang dilakoni berbagai perusahaan dan industri di negara berkembang dapat terjadi dalam beberapa bentuk. Pertama, ketidakmampuan mereka untuk menemukan, memilih, memilah dan menegosiasi teknologi impor yang terbaik (meskipun harga pasar tidak terdistorsi) yang menyebabkan tingginya biaya modal dan rendahnya efisiensi produksi. Kedua, ketidakmampuan mereka untuk menguasai teknologi yang telah diimpor. Penggunaan teknologi masih di bawah tingkat efisiensi normal yang terbaik, membutuhkan banyak masukan untuk menghasilkan iuran tertentu. Ketiga, kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dan meningkatkan teknologi dengan kondisi dan situasi kemajuan teknologi yang berubah.
Tidaklah mengherankan jika pendekatan statis neo-klasik terhadap pengembangan teknologi ditentang secara teoritis maupun empiris oleh pendekatan alternatif yang lebih dinamis. Yang mulai muncul pada paruh tahun 1970an. Pendekatan ini dimasukkan ke dalam kategori institusionalist, structuralist dan evolusionarist. Meskipun mereka semua menggunakan istilah yang berbeda-seperti penguasaan teknologi, kapasitas teknologi, kemampuan teknologi, promosi teknologi, pengembangan teknologi, akumulasi teknologi, akuisisi teknologi dan sebagainya – para ahli kini sepakat bahwa pengembangan teknologi bukanlah proses yang statis melainkan sebuah proses pembelajaran yang panjang.
Pemaknaan teknologi secara berbeda ini sangat penting dihayati oleh pemegang kebijakan di negara-negara berkembang karena akan membawa banyak implikasi tentang bagaimana sebaiknya kita mendisain pembangunan kita di masa depan.
Tulisan dimuat di majalah Usahawan No.03 Th XXXI Maret 2002
Dalam sebuah perekonomian yang berorientasi pasar, pembangunan ekonomi suatu negara biasanya ditentukan oleh kesuksesan dan keberhasilan perusahaan dan industri di dalam negara tersebut dalam mencapai dan mempertahankan daya saingnya. Dan seperti dikemukakan oleh Michael Porter dalam bukunya The Competitive Advantage of Nation (1990), hal tersebut hanya dapat dicapai jika perusahaan dan industri tadi dapat terus sinambung dalam melakukan inovasi.
Inovasi yang dilakukan oleh perusahaan dan industri ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, mereka harus mampu membuat produk yang sama, tetapi proses produksinya harus lebih efisien dalam arti menggunakan lebih sedikit sumberdaya. Dengan demikian sumberdaya yang tidak terpakai tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan produk lain yang lebih bernilai. Kedua, mereka harus mampu membuat produk yang lebih baik atau menyediakan jasa baru yang berbeda yang lebih diminati oleh konsumen. Ketiga, mereka harus mampu menggunakan faktor produksi dengan lebih baik dan membuka pasar baru untuk produk dan jasa sehingga faktor produksi yang baru dapat digunakan. Keempat, mereka harus mampu membuka sumber baru untuk bahan baku yang dapat memberikan nilai tambah dari faktor produksi yang telah ada. Kelima, mereka harus mampu meningkatkan efektivitas organisasi yang ada sehingga lebih banyak sumberdaya yang bisa dimanfaatkan.
Secara lebih sederhana dapatlah dikatakan bahwa peningkatan daya saing hanya dapat dilakukan dengan perbaikan efisiensi produksi, efektivitas organisasi, pengembangan produk yang lebih baik, pembukaan pasar dan sumber pasokan baru atau kombinasi dari semuanya.
Dalam merealisasikan berbagai hal di atas, cara umum yang biasa dilakukan perusahaan dan industri adalah mereka secara konsisten mengerjakan kegiatan yang spesifik dengan cara yang lebih baik atau berbeda dari apa yang pesaing lakukan. Untuk itulah mereka sering sekali butuh keterlibatan teknologi dengan segala keragamannya. Perusahaan dan industri dengan demikian harus secara terus menerus memilih, menggunakan dan menguasai teknologi yang baru (novel). Sehingga kemampuan teknologi (technological capability)-kemampuan untuk menghasilkan dan mengelola perubahan teknologi – menjadi isu yang penting bagi setiap perusahaan dan industri untuk meningkatkan daya saingnya.
Walaupun perannya penting, diskursus tentang inovasi teknologi bukanlah persoalan mudah karena teknologi dapat didefinisikan secara sempit dan luas. Dalam definisi yang sempit, teknologi adalah informasi teknik yang terdapat di dalam paten atau pengetahuan teknik dalam bentuk tertulis. Sering sekali teknologi dalam konteks ini dihubungkan dengan semacam pengetahuan tentang produk tertentu atau teknik produksi, termasuk keahlian teknis yang diperlukan oleh produk atau teknik produksi. Teknologi dalam definisi ini secara umum identik dengan perangkat keras produksi.
Teknologi sering juga secara luas didefinisikan dengan mengikutsertakan semua keahlian, pengetahuan dan prosedur yang diperlukan untuk membuat, menggunakan, mengerjakan sesuatu yang berguna. Sehingga teknologi dalam definisi ini termasuk perangkat lunak produksi – manajerial, kemampuan marketing dan pelayanan jasa administrasi, kesehatan, pendidikan dan keuangan. Definisi yang luas tentang teknologi ini sering disebut sebagai “sains dan seni untuk memproses sesuatu dengan mengaplikasikan keahlian dan pengetahuan”.
Jika kita melihat definisi-definisi di atas, bagaimanapun teknologi itu didefinisikan, terlihat sekali bahwa teknologi adalah kombinasi antara pengetahuan, teknik dan alat.
Meskipun kontribusi teknologi dalam perekonomian telah disadari sejak lama, selama ini ekonomi dan perencana pembangunan sering mengasumsikannya seperti black box. Akibatnya masih umum dijumpai, teknologi masih sering direduksi maknanya sebatas mesin dan alat yang terpisah dari sumberdaya manusia dan konteks sosialnya. Dalam pengertian ini teknologi didefinisikan secara statis. Teknologi adalah produk, suatu paket yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan dan institusi, dan dikonsumsi atau digunakan oleh pihak lain.
Kerangka konseptual yang melandasi pandangan statis ini didominasi oleh pendekatan neo-klasik dalam ilmu ekonomi. Karena semua perusahaan beroperasi menurut fungsi produksi, usaha yang berhubungan dengan teknologi adalah memilih teknologi yang dianggap sesuai dengan faktor produksi lokal dan harga relatif yang tersedia. Semua perusahaan diasumsikan serta merta dapat bergeser posisinya dalam fungsi produksi dalam merespon perubahan faktor produksi lokal dan harga relatif karena mereka mempunyai akses yang sama terhadap teknologi global yang tersedia dan dapat secara langsung mengoperasikan teknologi yang dipilih dengan efisiensi yang optimal.
Mengikuti pemahaman neo-klasik ini, para ekonom dan perencana pembangunan kemudian sering berpendapat bahwa negara yang sekarang terbelakang sebenarnya diuntungkan, karena mereka memiliki banyak pilihan teknologi yang dapat digunakan. Di bandingkan dengan negara-negara maju yang ada sekarang, negara-negara berkembang tak harus melewati proses panjang dan berliku untuk menemukan pola industrialisasinya yang sesuai. Negara maju diyakini telah meninggalkan banyak jejak dan akumulasi pengalaman yang bisa ditiru untuk dijadikan pijakan kebijakan. Negara-negara di dunia ketiga tak harus berjibaku untuk melakukan penemuan (invention) dalam banyak basic science. Mereka tinggal menggunakan saja apa yang telah ditemukan oleh negara maju. Konon dengan memanfaatkan apa yang telah ditemukan tadi, negara-negara berkembang diuntungkan dengan adanya penghematan waktu pembelajaran.
Jika pasar teknologi berfungsi seperti pasar barang yang dapat ditransfer secara fisik, menghilangkan semua penghalang perdagangan teknologi sudah cukup untuk membangun basis teknologi yang optimal di negara berkembang. Tetapi transfer dan penyerapan teknologi tidaklah seperti membeli dan menggunakan barang. Tidak otomatis begitu dipasang langsung dapat berfungsi. Banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar negara berkembang tidak optimal dalam menggunakan teknologi industri. Mereka dengan kata lain tidak efisien secara teknis dalam menggunakan teknologi yang diimpor. Banyak teknologi industri di negara berkembang digunakan pada tingkat yang lebih rendah disbanding yang dilakukan di negara maju.
Dari bukti empiris yang ada, ketidakefisienan teknis yang dilakoni berbagai perusahaan dan industri di negara berkembang dapat terjadi dalam beberapa bentuk. Pertama, ketidakmampuan mereka untuk menemukan, memilih, memilah dan menegosiasi teknologi impor yang terbaik (meskipun harga pasar tidak terdistorsi) yang menyebabkan tingginya biaya modal dan rendahnya efisiensi produksi. Kedua, ketidakmampuan mereka untuk menguasai teknologi yang telah diimpor. Penggunaan teknologi masih di bawah tingkat efisiensi normal yang terbaik, membutuhkan banyak masukan untuk menghasilkan iuran tertentu. Ketiga, kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dan meningkatkan teknologi dengan kondisi dan situasi kemajuan teknologi yang berubah.
Tidaklah mengherankan jika pendekatan statis neo-klasik terhadap pengembangan teknologi ditentang secara teoritis maupun empiris oleh pendekatan alternatif yang lebih dinamis. Yang mulai muncul pada paruh tahun 1970an. Pendekatan ini dimasukkan ke dalam kategori institusionalist, structuralist dan evolusionarist. Meskipun mereka semua menggunakan istilah yang berbeda-seperti penguasaan teknologi, kapasitas teknologi, kemampuan teknologi, promosi teknologi, pengembangan teknologi, akumulasi teknologi, akuisisi teknologi dan sebagainya – para ahli kini sepakat bahwa pengembangan teknologi bukanlah proses yang statis melainkan sebuah proses pembelajaran yang panjang.
Pemaknaan teknologi secara berbeda ini sangat penting dihayati oleh pemegang kebijakan di negara-negara berkembang karena akan membawa banyak implikasi tentang bagaimana sebaiknya kita mendisain pembangunan kita di masa depan.
Tulisan dimuat di majalah Usahawan No.03 Th XXXI Maret 2002






