LIPI Kritik Sikap Ambigu Pemerintah

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Research & Technology Update » 24 Agustus 2007 » Hit: 244
LIPI Kritik Sikap Ambigu Pemerintah
JAKARTA, KOMPAS, 21 Agustus 2007 –Lembaga IlnuPengetahuan Indonesia atau LIPI mengkritik,upaya peduli sains oleh pemerintah saat ini masih ambigu atau belum memiliki kejelasan. Demikian diungkapkan pejabat lembaga LIPI, Senin (20/8) di Jakarta.

Pendapat tersebut dikemukakan menanggapi pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pidato tersebut, Presiden sama sekali tidak menyinggung peranan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun kelangsungannya di masa mendatang. Pada pidato tersebut tidak disebut kata ″iptek″.

Wakil kepala LIPI Lukman Hakim mengemukakan, padahal pada peringatan Hari Kemerdakaan Ke-62 RI, Presiden menganugerahi Bintang Jasa Utama kepada Kepala LIPI Umar Anggara Jenie dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Said Djauharsyah Jenie pada 15 Agustus 2007.

Kurang Paham

Tidak disinggungnya masalah ilnu pengetahuan dan teknologi (iptek) disinyalir merupakan kekurangpahaman pemerintah terhadap pentingnyamengedepankan perananiptek dalamkehidupan berbangsa.

″Pada pidato kenegaraan presiden 16 Agustus 2007 tidak ditemukan kata-kata `iptek`. Hal ini luput dari penulisan naskah pidato kenegaraan yang menunjukkan adanya kekurangpahaman mengenai pentingnya iptek,″ kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI Dewi Fortuna Khaidir Anwar dalam konferensi pers menyambut Hari Ulang Tahun Ke-40 LIPI pada 23 Agustus 2007 di Pusat Sains Cibinong.

Menurut Dewi, belajar dari pengalaman semasa Orde Baru, peranan peneliti LIPI jarang mendapat perhatian serius daripemerintah. Pada tahun 1980-an LIPI pernah mengusulkan soal warga Aceh yang tidak dapat berperan dan tidak dapat menikmati hasil dari penambangan kekayaan sumber alam di sana.

Kritk serupa disampaikan saat pengembangan transmigrasi diPapua. Ketika itu LIPI diminta lebih berhati-hati menangani transmigrasi di Papua.

Umar Anggara Jenie memaparkan, iptek sebenarnya mampu menunjang produktivitas dan pertumbuhan ekonomi seperti di India. Pemerintah India mengenalkan konsep swadesi sebagaigerakan mencintai produk dalam negeri dengan menigkatkan peranan iptek untuk memacu produktivitas.

Dia juga menjelaskan, pada peringatan ulang tahun LIPI nanti akan diberikan penghargaan Sarwono Prawirohardjo kepada Emil Salim yang sejak tahun 1970-an hingga sekarang memberi perhatian penuh terhadap upaya pelestarian lingkungan. Penghargaan serupa diberikan kepada Iskandar Alisyahbana yang merintis sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa. (NAW)