Book Review » 26 November 2007 » Hit: 333
"Life of Pi (Kisah Pi)" , by Yann Martel (The winner of the man booker prize)
Ini adalah salah satu kisah nyata yang sangat sulit dipercaya. Perpaduan film drama seru di HBO dan kisah menarik di Discovery Channel yang memberi banyak pelajaran hidup dan mempertebal Iman kita kepada Sang Maha Pencipta.

Penulis benar-benar berhasil memanjakan para penggemar binatang dan membuat penasaran orang awam dengan mengajak pembaca jalan-jalan di kebun binatang, menjelajahi dasar laut samudera pasifik, menaklukan hewan-hewan buas, berburu sampai berkunjung ke sebuah pulau yang mungkin baru si tokoh utamanya yang pernah kesana. Penulis juga berhasil membuat panca indera pembaca merasakan apa yang dirasakan tokoh utama cerita ini karena detail yang luar biasa.

Sang tokoh utama, Piscine Molitor Patel, adalah putra pemilik kebun binatang Zootown di Kebun Raya Pondicherry,India. Buku ini menceritakan kisah hidupnya selama dibesarkan di lingkungan kebun binatang, mendalami studi zoology dan studi-studi keagamaan, terdampar di Samudera Pasifik selama lebih dari 7 bulan dan akhirnya menepi di pantai Meksiko.

Kisah Pi mengajak kita mengenal dan mempelajari tingkah laku berbagai macam binatang. Tidak hanya binatang jinak, tapi juga binatang buas dan binatang-binatang yang jarang kita dengar, seperti Sloth, Hyena dan Meerkat.

Kisah Pi juga mengajak kita menjelajahi Samudera Pasifik dalam situasi yang tidak diinginkan siapapun di dunia ini. Pi adalah satu-satunya manusia yang selamat dari tenggelamnya kapal barang yang membawa seluruh keluarga dan binatang yang tersisa, setelah orang tuanya memutuskan untuk menutup kebun binatang, menjual seluruh asetnya dan pindah ke Canada dengan alasan kondisi sosial politik India (1977) yang tidak baik. Dia berhasil naik ke dalam sekoci ditemani seekor hyena, zebra, orang utan betina dan Richard Parker, seekor harimau Royal Bengal yang beratnya 225 kg. Binatang-binatang itu kemudian mati satu per satu kecuali Richard Parker.

Kenapa Richard Parker tidak memangsa Pi ? Hanya Tuhan yang tahu jawaban pastinya. Karena tidak jarang Pi berada di situasi yang tidak bisa lagi mengandalkan ilmu pengetahuannya tentang harimau dan ia tetap selamat dari cengkraman binatang buas itu.

Berbagai situasi yang sangat sulit dan tragis berhasil dilalui Pi dengan keberanian dan ketabahan. Situasi-situasi tersebut bahkan menghasilkan pelajaran-pelajaran berharga , mulai dari hal-hal yang bersifat teknis sampai mengenai alam dan kehidupan. Dalam hal ini, penulis berhasil membuat kita 'tenggelam' ke dalam cerita ini dan 'tersadar' dengan sejuta pengetahuan baru.

Selamatnya Pi dari berbagai ancaman yang datang dari luar dan dalam dirinya selama terombang ambing di Samudera Pasifik memang tidak mudah diterima akal sehat. Sehingga siapapun yang berusaha memahaminya, akan semakin menemukan keberadaan Tuhan atau tidak percaya sama sekali.
Menjawab orang yang tidak percaya terhadap kisah-nya dengan alasan "Kami cuma mencoba menggunakan akal sehat", Pi menjawab, "Saya juga demikian! Saya menggunakan akal sehat dalam setiap kesempatan. Akal sehat sangat bermanfaat untuk mencari makanan, pakaian dan tempat berteduh. Akal sehat adalah perangkat terbaik kita. Tidak ada yang bisa mengalahkan akal sehat dalam menhindarkan diri dari harimau. Tapi kalau menggunakan akal sehat secara berlebihan, bisa-bisa keajaiban Alam Semesta ini ikut terbuang bersama air mandi Anda".

Sebelum terdampar di Samudera Pasifik, Pi memang sudah sangat percaya adanya Tuhan. Bahkan Ia sampai memeluk tiga Agama (Islam, Kristen dan Hindu) dan menjalankan ibadah sesuai ajaran Agama-agama tersebut dengan taat sebagai bukti cintanya kepada Tuhan. Tentu saja hal ini tidak dibenarkan. Tapi satu hal yang sangat patut diteladani adalah, Pi sangat percaya bahwa semua yang dilaluinya adalah kehendak Tuhan dan Tuhan lah yang akan menyelamatkannya. Dan keyakinannya tersebut benar-benar menyelamatkannya!