Kosta Rika dan Upaya Menarik Investasi Asing[part 2 of 2]

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Articles » 11 Oktober 2006 » Hit: 886
Kosta Rika dan Upaya Menarik Investasi Asing[part 2 of 2]
Pilihan Intel

Beberapa bulan kemudian, perwakilan Intel mengunjungi Kosta Rika tiap minggu. Tiap kali kunjungan, perwakilan yang datang berbeda, dan isu yang berbeda pula, tetapi CINDE tetap menjadi lembaga yang memimpin dalam masa kunjungan dan negosiasi, yang mengantar para eksekutif Intel ke sekeliling negeri dan bekerja untuk menemukan, atau menciptakan, solusi bersama untuk tiap masalah mereka. Pada bulan Juli, rakyat Kosta Rika mengetahui bahwa daftar Intel telah berkurang menjadi hanya dua kandidat, negeranya dan Meksiko. Kedua negara Amerika Selatan yang lain dikeluarkan dari daftar karena alasan yang berbeda. Kurangnya penekanan pada sektor elektronik dan logistik transportasi udara di Chili membuat Intel canggung dalam strategi. Brazil, di lain pihak, menawarkan banyak hal, tetapi Intel merasa lingkungan bisnis pada saat itu tidak akan cocok dengan jenis operasi yang mereka pertimbangkan.

Tahap akhir dari proses ini merupakan yang paling intens, bail untuk Intel maupun CINDE. Faktor-faktor yang telah diangkat selama ini kini harus didefinisikan dan dipecahkan secara eksplisit. Intel harus tahu benar masalah potensial yang akan dihadapinya di Kosta Rika, dan CINDE dan Rossi harus tegas, apakah akan mengatasi masalah itu atau memperbaiki akar masalahnya. Semua ini terjadi dalam jadwal Intel yang ketat dan cepat. Fase seleksi tempat yang terakhir dan paling penting ini akan berlangsung dua bulan.

Dalam dua bulan itu, beberapa kekhawatiran utama muncul. Ini hanyalah karena ukuran Kosta Rika yang kecil, terutama bila dibandingkan dengan raksasa semacam Intel. Perwakilan perusahaan khawatir Intel akan memenuhi negara itu dan akan mengambil bagian dari keseluruhan sumber daya Kosta Rika. Perlman dari Intel, misalnya, mengungkapkan kekhawatirannya dengan mengatakan, “bagaikan menaruh paus di dalam kolam renang.” Proyeksi awal menunjukkan bahwa ATP yang direncanakan bisa memerlukan hingga 30% dari kapasitas tenaga listrik Kosta Rika sebanyak 30%. Fasilitas kargo juga menjadi kekhawatiran Intel karena seluruh produksi dari pabrik akan perlu diekspor melalui udara dengan interval yang sering dan tidak fleksibel. Sarana fisik bandara di San Jose lebih dari memadai, tetapi frekuensi penerbangan dan efisiensinya tidak.

Sistem pendidikan Kosta Rika menciptakan kekhawatiran yang besar. Meski terkenal akan komitmennya terhadap pendidikan dasar dan tingginya tingkat melek huruf, Kosta Rika tidak menghasilkan jumlah lulusan yang terlatih teknis sesuai kebutuhan Intel. Secara khusus, Intel khawatir bahwa kapasitas pendidikan Kosta Rika tidak mencukupi untuk melatih 800 teknisi yang diperlukan sebuah ATP. Ada pula kesenjangan dalam kemahiran berbahasa Inggris di antara mahasiswa teknik, dan kompetensi umum dalam fisika dan kimia lebih rendah daripada harapan Intel. Pada level yang lebih tinggi, negara ini tidak memiliki kurikulum tingkat lanjut untuk manufaktur semikonduktor.

Kekhawatiran terakhir terdapat pada sisi keuangan dari investasi yang diusulkan. Pada lokasi-lokasi di mana struktur biaya inheren terlalu tinggi untuk dapat bersaing, Intel biasanya memerlukan pembebasan pajak dan insentif lain. Sementara perusahaan berhati-hati dengan tidak menerima pembayaran di bawah meja, Intel juga agresif dalam menemukan kondisi investasi yang paling baik. Dalam masalah ini, Kosta Rika merasa kurang. Negara itu menawarkan paket standar pembebasan kepada investor asing dalam kawasan bebas tertentu, tetapi bukan hibah pemerintah tambahan.. Sebagai perbandingan, Meksiko jelas-jelas menawarkan lahan, tarif listrik yang rendah, dan skema pelatihan pegawai khsusus.

Akan tetapi, pada akhirnya, Kosta Rika tampil sebagai pasukan garis depan Intel. Meksiko, yang dilaporkan telah meraih posisi puncak pada daftar, dihadapkann dengan krisis kurs baru-baru ini dan sistem peraturan serikat pekerja. Bagi Intel, bebas serikat pekerja dalam semua fasilitas manufaktur, kehadiran serikat pekerja Meksiko bisa menciptakan benturan budaya dalam pabrik dan bahkan dalam perusahaan. Pemerintah Meksiko menawarkan untuk membuat pengecualian terhadap Intel sebagaimana investor multinasional besar lainnya. Namun, tawaran itu membuat Intel khawatir terhadap cara kebijakan bisnis dirumuskan dan membantu, dalam hal lain, untuk mengeliminasi Meksiko.

Maka, pada tanggal 13 November, Intel mengumumkan keputusannya untuk membangun ATP berikutnya di Kosta Rika. Sebagaimana kebiasaan Intel, pengumumannya bersyarat: proyek akan dilokasikan di negara terpilih hanya jika pemerintah membuat provisi kontrak yang disetujui sebelumnya. Dalam kasus Kosta Rika, provisi ini termasuk penyelesaian registrasi Intel dalam sebuah wilayah bebas perdagangan resmi, dan pemberian serangkaian izin lingkungan dan bangunan, serta komitmen pemerintah untuk meningkatkan kurikulum teknik dan sarana pelatihan pada beberapa institusi untuk mahasiswa yang mempelajari elektronika.

Beberapa bulan kemudian, berbagai menteri, CINDE dan Intel bekerja untuk mempersiapkan dokumen terkait dan membuat finalisasi pengaturan kesepekatan mereka Pada April 1997, pembangunan ATP yang baru dimulai.

Menjelaskan Kosta Rika: Pelajaran dan Analisis

Kami memandang hubungan kami dengan Kosta Rika layaknya sebuah perkawinan. Kami kini sedang memasuki tahun-tahun awal. Bila kami berhasil melalui tahun-tahun awal ini dengan baik, hubungan rumah tangga kami selanjutnya akan harmonis.

Wadir Intel Chuck Pawlak


Lalu mengapa, dalam analisis akhirnya, Kosta Rika menang? Bagaimana CINDE dan Pemerintah Kosta Rika menanggapi berbagai kekhawatiran Intel dan menjauhkan perusahaan multinasional ini dari tempat-tempat investasi yang lain? Faktor-faktor apa yang mendorong negara kecil ini masuk ke jajaran teratas dalam daftar Intel. Dan pelajaran apa, bila ada, yang bisa kita ambil untuk negara berkembang lain dan badan promosi lain?

Pembahasan berikut menganjurkan agar jawaban-jawaban, dan pelajaran-pelajarannya digolongkan dalam tiga kategori: faktor negara, taktik negosiasi, dan konsesi spesifik. Beberapa faktor yang membuat Kosta Rika menarik bagi Intel terdapat secara inheren di dalam negara itu. Yang dimaksud adalah sistem politik, agenda ekonomi, sistem hukum, dan sebagainya. Meskipun jelas mencerminkan pilihan kebijakan yang dibuat oleh pimpinan Kosta Rika, hal-hal tersebut bukanlah keputusan politik yang ada hubungannya dengan situasi investasi ini atau bahkan dengan penanaman modal asing secara umum. Faktor-faktor tersebut sebenarnya merupakan hasil dari keputusan politik dan strategi ekonomi yang lebih luas, kebanyakan dengan sejarah implementasi yang panjang.

Namun, faktor-faktor lain yang mendukung keberhasilan Kosta Rika memang berasal langsung dari keputusan itu dan dari pimpinan negara itu. Ini adalah taktik negosiasi yang digunakan CINDE untuk merayu Intel dan konsesi spesifik yang dibuat pemerintah Kosta Rika untuk menghilangkan kekhawatiran Intel dan menambah daya tarik negara mereka sebagai tempat investasi. Pembahasan berikut ini menegaskan bahwa Kosta Rika tidak menjual negaranya untuk menarik Intel. Namun, memang mereka berkompomi bila diperlukan dan menyesuaikan bila mungkin untuk memenuhi kebutuhan Intel tanpa mengalahkan kebutuhan mereka sendiri.

Faktor Negara

Pada tingkat yang amat dasar, para eksekutif Intel memutuskan untuk berinvestasi di Kosta Rika karena mereka menyukai negara itu. Sebagian karena due dilligence, sebagian lagi karena intuisi belaka, mereka merasa nyaman dengan Kosta Rika dan percaya pada stabilitas jangka panjangnya, kemakmurannya, dan pembangunannya. Intel berinvestasi untuk jangka panjang––dan mereka menyukai prospek jangka panjang Kosta Rika. Empat elemen tertentu nampak membuat tim seleksi tempat terkesan: stabilitas politik dan sosial, komitmen terhadap keterbukaan ekonomi dan liberalisasi, fokus yang jelas terhadap pengembangan ekonomi dalam sektor elektronika, dan iklim yang terbuka bagi investor asing.

Stabilitas politik dan sosial

Terkadang dijuluki sebagai “Swissnya benua Amerika”, Kosta Rika memiliki sejarah stabilitas politik dan sosial yang panjang, dan komoditas yang tak ada duanya di antara negara Amerika Tengah dan Selatan. Negara ini telah menjadi negara demokrasi penuh sejak 1948, dan tidak pernah memiliki konflik sipil yang melanda negara-negara tetangganya. Amat sulit untuk memandang tinggi pentingnya lingkungan semacam ini bagi Intel: stabilitas politik dan sosial menjadi dasar daya tarik Kosta Rika bagi Intel, dan secara langsung mempengaruhi banyak faktor lain yang menarik perusahaan ini ke negara kecil ini.

Di Kosta Rika, stabilitas politik dan demokrasi yang damai tercermin dalam pemerintahannya yang terbuka dan mudah diakses––pemerintah yang dipercaya rakyat dan diamanahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Keterbukaan ini dikombinasikan dengan struktur hukum yang transparan untuk menjadikan investor asing percaya kepada seluruh legitimasi dan integritas lembaga-lembaga negara. Tata tertib, hak atas harta benda, dan peraturan hukum sangat diterapkan di negara ini, yang hanya pernah mengalami dua periode konflik bersenjata (1917–1919 dan 1948–1949) sejak memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1838. Satu-satunya di dunia, Kosta Rika tidak memiliki kekuatan militer sejak berubah menjadi negara demokrasi pada tahun 1948.

Kenyataan paradoks, mungkin, adalah masa jabatan presiden yang hanya satu kali. Hal itu nampaknya berakibat kepada konsistensi kebijakan negara ini. Sistem politisi nonkarier telah menyulitkan pemerintahan yang berkuasa untuk mengubah institusi mendasar dari negara ini. Sejak 1948, kekuasaan di negara ini telah berganti-ganti antara dua partai politik, tetapi perbedaan ideologis antara keduanya sedikit sekali dan kekuasaan cenderung beralih tanpa insiden. Stabilitas macam ini amat langka terdapat di negara berkembang––dan amat penting dalam memotivasi keputusan Intel.

Keterbukaan Ekonomi dan Liberalisasi

Beberapa dekade setelah Perang Dunia II, Kosta Rika memulai pengembangan ekonomi yang cukup lazim. Ia mengadopsi kebijakan agresif untuk substitusi impor dan industrialisasi; dan meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui investasi besar yang dilakukan pemerintah dalam program sosial dan pendidikan. Seperti dalam kebanyakan negara berkembang, kegiatan ekonomi total terkonsentrasi pada sektor pertanian––dalam hal ini, kopi dan pisang yang telah membuat langkah-langkah kemakmuran bagi negeri ini. Pada tahun 70-an dan 80-an, model seperti itu bermula dari ketegangan yang meningkat, pertama dari krisis bahan bakar minyak (BBM) dan selanjutnya dari beban utang. Pada tahun 1982, Kosta Rika (seperti halnya kebanyakan negara Amerika Latin) tengah dalam krisis utang parah.

Akan tetapi, sejak saat itu, Kosta Rika telah beralih dari kebijakan awalnya tentang substitusi impor ke program liberalisasi ekonomi yang agresif. Sementara tingkat utang tetap tinggi, pemerintah memprivatisasi sejumlah BUMN, membuka rekening modal, menghapus semua larangan dalam repatriasi modal, dan menjadikan kurs domestik berubah-ubah. Kosta Rika bergabung dalam sejumlah perjanjian regional dan internasional (GATT, WTO, Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Meksiko) dan memasukkan perusahaan-perusahaan Kosta Rika ke dalam kancah persaingan internasional. Selain itu, Carribean Basin Initiative (Prakarsa Teluk Karibia) juga memberi hibah pembebasan cukai parsial untuk produk Kosta Rika yang memasuki pasar AS. (CBI hanya mensyaratkan bahwa produk harus dikirim langsung ke AS dan memiliki setidaknya nilai tambah sebesar 35% di Kosta Rika).

Pada sisi investasi, Kosta Rika memang sangat enerjik. Tidak hanya telah menerima gagasan penanaman modal asing, tetapi negara ini juga telah mengambil langkah diam-diam untuk menarik dan mempertahankan investor. Kosta Rika menetapkan sejumlah kawasan perdagangan bebas sejak tahun 1981 dan memaketkannya bersama dengan keuntungan finansial dan operasional yang dirancang untuk mengurangi hambatan bagi investor potensial. Perusahaan yang berinvestasi di kawasan ini akan menerima tax holidays, bea cukai di tempat, perizinan yang dipermudah, dan sarana telekomunikasi dan transportasi yang berkualitas tinggi. Hal lebih penting, mungkin adalah Kosta Rika menegaskan bahwa orang asing yang berinvestasi di negaranya harus tunduk kepada hukum yang sama dengan yang diberlakukan untuk orang Kosta Rika. Tidak ada pembedaan hukum di Kosta Rika antara orang asing dan warga negara dalam hal kepemilikan harta benda dan kelangsungan usaha. Orang asing dapat memiliki dan mengendalikan perusahaan dan aset dalam semua bidang secara sah, kecuali dalam sektor-sektor seperti prasarana dan telekomunikasi.

Untuk fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor yang ingin dibangun Intel, keterbukaan dan liberalisasi ini amat penting. Walau tidak memiliki paket insentif yang menarik dibandingkan kandidat lain, Kosta Rika memiliki catatan prestasi (track record) dalam liberalisasi dan perlakuan adil. Negeri itu telah berkomitmen penuh terhadap ekonomi terbuka dan menjalin hubungan dagang yang kuat dalam pasar internasional. Komitmen ini penting bagi Intel terutama karena operasinya sangat bergantung kepada produk yang tak dibatasi dan arus modal.
Pengembangan Terfokus pada Sektor Elektronika

Sekalinya sebuah negara berkembang meliberalisasi perekonomiannya dan mulai menarik investasi asing, ia mudah terjebak dalam pandangan yang menganggap tiap investasi asing sebagai hal yang berdiri sendiri. Negara bisa gagal dalam mengapresiasi efek spill-over positif yang bisa dihasilkan oleh jenis investasi yang tepat dan daya saing klaster industri. Kosta Rika tampaknya melawan kecenderungan ini dengan menciptakan visi ekonomi jangka panjang dari pembangunan negaranya dan kemudian mengevaluasi dampak tiap investasi asing atas dasar strategi keseluruhan negeri itu.

Pada tahun 80-an, Costa Rica memfokuskan investasinya pada upaya promosi dalam industri pakaian. Namun, karena tingkat gaji yang tinggi menjadikan strategi ini tidak kompetitif, pemerintah berputar haluan dengan membangun sumber-sumber keuntungan kompetitif yang berkelanjutan. Mereka memilih dan kemudian secara terang-terangan membidik dua hal: keanekaragaman hayati negara itu dan tenaga kerja terdidiknya. Keanekaragaman hayati kemudian mengarah kepada ekoturisme, bioteknologi, dan industri terkait lainnya, yang tidak akan dibahas di sini. Namun, realisasi nilai tenaga kerja terdidik menjadi poros strategi yang berfokus pada elektronika, dan didesain secara spesisfik untuk menarik investasi dari perusahaan teknologi menengah dan tinggi asing.

Dalam beberapa hal, strategi menarik PMA teknologi tinggi bukanlah hal baru. Banyak negara berkembang lain telah menunjukkan minat serupa dalam menarik perusahaan-perusahaan itu dan memungut keuntungan dari mereka berupa pekerjaan yang baik, arus masuk modal yang signifikan, dan kemungkinan spill-over teknologi. Kosta Rika telah menjalankan strategi tersebut beberapa langkah jauh ke depan. Yang terpenting, bagi Kosta Rika, tujuan untuk menarik perusahaan itu sangat layak. Negara itu tidak sekadar memiliki tenaga kerja yang murah, tenaga kerja terdidik yang murah. Inilah hal yang menonjol dari Kosta Rika. Negara ini selalu berinvestasi besar-besaran dalam pendidikan dan pelatihan teknologi. Negara ini secara konsisten membelanjakan sekitar 5% dari PDBnya untuk pendidikan dan memiliki kurikulum dwibahasa aktif, ESL (Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua). Komputer diperkenalkan sejak tingkat sekolah dasar mulai tahun 1988 dan telah dipakai dalam jumlah besar di kelas-kelas.

Tambahan lagi, bila komitmen terhadap pengembangan teknologi sudah dibuat eksplisit, upaya dikerahkan untuk meningkatkan lebih jauh keseluruhan tingkat kesiapan teknologi. Sekolah menengah dan perguruan tinggi didorong untuk mengembangkan kurikulum teknologi tinggi, dengan fokus pada elektronika. Akan tetapi, Kosta Rika tidak pernah berupaya untuk mendefinisikan jelasnya apa yang harus diajarkan di sekolah. Sebaliknya, strategi implisit pemerintah adalah menunggu sampai ada subindustri tertentu (misalnya, semikonduktor atau disk drives) yang datang ke negara mereka dan kemudian hanya berfokus pada promosi tambahan dan pelatihan dalam bidang tersebut. Hal itu memungkinkan negara untuk menggunakan dan memperluas potensi tenaga kerja mereka secara penuh, tanpa mengerahkan semua sumber dayanya pada spesialisasi tunggal dan sempit yang tentu saja berisiko.

Dengan adanya strategi ini, CINDE berhasil antara tahun 1992 dan 1995 dalam menarik sejumlah kecil invetasi pada bidang manufaktur elektronika. Dasar yang sudah mapan ini relatif mempermudah Intel dalam mempertimbangkan investasinya ke negeri ini.

Lingkungan Ekonomi Terbuka

Dalam beberapa tahun belakangan, banyak negara berkembang yang menyatakan keterbukaannya terhadap PMA dan keramahannya terhadap investor asing. Yang nampak membedakan Kosta Rika dari sebagian besar yang lain adalah bahwa negara ini secara jelas mempraktikan ucapannya: tanpa kecuali, para investor asing di negara ini mendukung pernyataan pemerintah. Memang, perusahaan multinasional lainlah yang paling antusias merekomendasikan investasi di Kosta Rika kepada Intel.

Karena sangat kecilnya dan kegiatan promosi investasinya relatif baru, Kosta Rika tidak menggembar-gemborkan sejumlah besar investor asing yang ada di sana pada awal 90-n. Namun, karena Kosta Rika meningkatkan iklim usaha dan membidik pengembangan teknologi tinggi, sejumlah kecil perusahaan multinasional mulai melakukan investasi moderat. Perusahaan macam DSC Communications, Motorola, Connair, dan Baxter Healthcare, berdatangan untuk memanfaatkan kondisi Kosta Rika secara keseluruhan dan insentif kawasan bebas liberal pemerintahnya. Dalam kunjungannya, Intel mewawancarai sejumlah perusahaan untuk menilai catatan Kosta Rika dalam menepati janjinya.

Secara khusus, Intel berkali-kali bertemu dengan manajemen Baxter Healthcare dan sangat mengandalkan opini Baxter dalam membuat penilaian akhirnya. Secara kebetulan, Baxter dan Intel memiliki usaha di banyak negara yang sama dan sama-sama memiliki pengunaan teknologi “bersih”. Hal itu memudahkan untuk membandingkan operasi di berbagai negara dan untuk menilai keuntungan dan kerugian relatif dari Kosta Rika. Intel menanyakan banyak aspek dalam beroperasi di Kosta Rika, mulai dari biaya energi hingga ekspektasi rencana opsi saham dari manajemen. Karena Baxter diisi oleh 100% pekerja Kosta Rika, Intel juga tertarik dengan kecepatan yang membuat operasi mereka menjadi self-sufficient (dapat mencukupi diri sendiri) secara lokal dari segi sumber daya manusia. Dilaporkan bahwa Baxter mengeluarkan laporan yang bagus pada tiap sisi. Baxter juga akan menggandakan operasi pabriknya dengan ekspansi senilai $30 juta.

Lebih umum lagi, para ekspatriat di Kosta Rika secara umum nampak puas dengan operasi mereka, hubungan mereka dengan pemerintah, dan kualitas hidup dasar mereka. Pentingnya masalah ini bagi Intel dikarenakan fakta bahwa due dilligence-nya terdiri atas kunjungan ke supermarket, pusat perbelanjaan, bar, rumah makan, dan perumahan untuk memvalidasi apa yang mereka dengar tentang kualitas hidup di negara itu. Dalam hal ini, investor yang ada di sana menjadi pendukung vokal dan antusias terhadap investasi berikutnya.

Karena Kosta Rika cakap dalam mendukung dan bekerja sama dengan investor asingnya, lembaga promosi investasinya bisa menggunakan perusahaan-perusahaan tersebut untuk membantu memasarkan negara mereka ke investor potensial lain. Bukti yang menguatkan ini menambah daya tarik Kosta Rika dan Intel melihat bahwa itu bukanlah sudut pandang CINDE dan pemerintah belaka.

Taktik Negosiasi

Keempat faktor yang diuraikan di atas sudah ada sebelum tim Intel terbang ke San Jose untuk melakukan kunjungan perdananya. Kesemuanya adalah faktor yang berterima dalam pilihan kebijakan. Semua faktor yang dapat terulang––dalam bentuk dan jangka waktu tertentu––di negara-negara berkembang lain. Namun, faktor itu tidak terbentuk sebagai respons terhadap investasi potensial Intel dan berada jauh melampaui kapasitas organisasi CINDE atau lembaga pemerintah lain. Sebaliknya, faktor tersebut berasal dari komitmen sosial-politik jangka panjang dan kuat.

Akan tetapi, faktor-faktor semacam ini, bukan penentu keberhasilan Kosta Rika secara keseluruhan. Sebaliknya, banyak tindakan yang diambil pemerintah Kosta Rika dalam proses pengambilan keputusan, banyak tawar menawar, dan banyak masalah terselesaikan. Hal ini merupakan jawaban spesifik terhadap kekhawatiran dan tuntutan Intel meski sering tidak seluruhnya dijalankan di bawah pengawasan CINDE yang jangkauannya jauh. Tanggapan ini sangatlah penting dalam menyelesaikan tahap akhir negosiasi dengan Intel dan dalam meyakinkan perusahaan tersebut untuk menanam modalnya di Kosta Rika. Ada juga taktik yang dapat dijabarkan secara umum, yang dapat dengan mudah diubah untuk menyesuaikan dengan keadaan negara dan keadaan investasi asing lainnya.

Respons yang Kompak

Kebanyakan negara kecil memiliki kesan buruk dalam menarik PMA dalam hal relatifnya sedikitnya sumber daya mereka dan tidak adanya pasar dalam negeri yang besar. Dari beberapa segi pandangan demikian mungkin bisa benar. Ada awal proses seleksi tempat, Intel memang mengungkapkan kekhawatiran besar terhadap kemampuan negara sekecil Kosta Rika untuk menyediakan infrastruktur dan dukungan bagi investasi besar perusahaan.

Namun, Kosta Rika dengan keras menangkal pandangan ini dengan mengubah ukurannya yang kecil menjadi aset yang kompetitif. Menerapkan strategi “kecil itu indah” dari Presiden Figueres, para pejabat promosi investasi menekankan pada efisiensi dan fleksibilitas yang bisa diberikan negara kecil tapi licah dan serba efisien. Bagian terpenting dalam upaya ini adalah memanfatkan kedekatan dengan pemerintah, dunia usaha, dan komunitas media massa dalam negeri ini untuk menciptakan mentalitas “gotong-royong” dalam proyek ini. Menjadi kecil adalah nilai lebih dalam upaya pemerintah untuk berkomunikasi lebih efektif, mengambil keputusan lebih cepat, dan menerapkan fleksibilitas lebih untuk memenuhi kebutuhan Intel.

Sepanjang proses seleksi tempat dan negosiasi, Kosta Rika secara konsisten memberikan kesan kompak kepada Intel. Pejabat tinggi pemerintah memberitahukan di awal tentang pentingnya proyek ini dan isu-isu yang terkait. Konflik potensial dan ketumpangtindihan juridis dibereskan sebelum tatap muka dengan Intel dan para pejabat tinggi terlibat sesering mungkin dalam pertemuan. Upaya terkoordinasi itu memberikan kesan yang mendalam bagi tim Intel. Kenyataan berbeda sebaliknya adalah di Meksiko. Pemerintah pusat dan daerahnya dilaporkan gagal dalam mencapai kesepakatan atau bekerja sama dalam sejumlah isu penting.

Front Kosta Rika yang kompak juga meluas ke media massa. Diberitahukan oleh pejabat utama dalam negosiasi dengan Intel, media massa terbesar di Kosta Rika mau menuruti permintaan pemerintah untuk tidak meliput proses tersebut. Memang, para wartawan Kosta Rika telah mengetahui adanya rencana dan kesepakatan dengan Intel dalam investasi. Hal sebaliknya berbeda dengan Brazil, dimana pemerintah, media dan stakeholder tidak merahasiakan sehingga pihak Intel membatalkan rencananya.

Menjadi negara yang kecil mungkin membantu pejabat Kosta Rika untuk mengkoordinasikan pendekatan mereka ke Intel dan memperlihatkan front yang kompak. Yang paling penting dalam strategi ini adalah peran dan struktur CINDE. Di antara badan promosi investasi lainnya, CINDE terstruktur dengan lebih baik dan lebih efektif. Sebagai organisasi nirlaba dan otonom, ia mempertahankan hubungan dengan pemerintah dan dunia usaha. Ia memiliki kredibilitas sebagai “suara negeri” bagi investor asing. Kepribadian layaknya Janus––bukan pemerintah, bukan pula perusahaan, bukan promotor dan bukan pula protektor––menjadikan mediator yang amat efektif. Ia mempromosikan negerinya kepada investor potensial dan bertindak sebagai penasihat mereka dalam proses selanjutnya, dengan membantu perusahaan asing memahami peraturan dan prosedur di Kosta Rika dan menangani berbagai isu yang mungkin timbul.

Dalam kasus Intel ini, peran CINDE sangat mencakupi semua dan penting. CINDE melakukan kontak awal, menjalin hubungan dengan beberapa orang Intel, dan menjadi “toko serba ada” dalam memfasilitasi proses seleksi tempatnya. CINDE mengumpulkan informasi untuk Intel, menjawab pertanyaan-pertanyaannya, menyelenggarakan pertemuan dengan pejabat pemerintah yang sesuai, dan mengkoordinasikan semua interaksi Intel dengan negara itu. Bantuan mereka benar-benar menlindungi Intel dari waktu, biaya, dan kerumitan serta kefrustrasian yang biasanya muncul saat berhadapan dengan rentetan birokrasi.

Contoh sederhana menggambarkan bagaimana CINDE bekerja dalam memuluskan jalan bagi Intel. Pada bulan Juni 1996, tim Intel mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai hukum perburuhan di Kosta Rika (kemampuan untuk bekerja dalam tiga sif, potensi mempekerjakan wanita untuk sif malam, dan sebagainya), dan meminta untuk bertemu dengan perwakilan dari Kementerian Tenaga Kerja pada kunjungan berikutnya. Para staf CINDE membahas masalah tersebut dengan Jose Rossi (koordinator proyek yang ditunjuk pemerintah) dan menyimpulkan bahwa, minimnya pengalaman yang mereka miliki dalam menghadapi investor asing, Kementerian Tenaga Kerja tidak akan memiliki jawaban yang sederhana dan tegas yang Intel inginkan dan akan membuat isunya menjadi rancu saat melakukan pembicaraan langsung dengan Intel. Jadi, yang dilakukan adalah: Egloff memanggil Menteri Tenaga Kerja keesokan harinya, mengkaji isu itu, dan merespons pada pekan itu juga dalam bentuk surat yang ditandatangani sang Menteri dalam bahasa Inggris yang baik, yang merinci peraturan-peraturan yang terkait untuk masalah ini. Selama proses enam bulan itu, ada banyak contoh serupa dan lebih kompleks yang bisa membuat Intel dan pemerintah berlama-lama dalam memecahkan masalah bila tidak ada koordinator yang efektif seperti CINDE.

Dari perspektif pemerintah, CINDE juga amat berharga dengan kemampuannya untuk menggembalakan proyek itu dan merumuskan strategi kohesif untuk menghadapi investor yang amat menuntut itu. CINDE tidak hanya sebagai katalisator bagi kepentingan awal Intel, tetapi juga terus mengkaji perusahaan itu dan industriya sepanjang proses seleksi tempat dan secara eksplisit mengedukasi pemerintah tentang ketentuan-ketentuan Intel. Dalam riset latar belakangnya, misalnya, pejabat CINDE melakukan pembicaraan dengan seseorang yang baru saja berhubungan dengan Intel dalam proses seleksi tempat yang serupa. Ia menekankan tingginya tingkat kerumitan dan kemenyeluruhan dari tim Intel dan memperingatkan bahwa Intel akan melakukan sejumlah kunjungan, yang beberapa di antaranya tidak diberitahukan, untuk memverifikasi informasi yang diterima. Ia menegaskan bahwa penting untuk bersikap terbuka dan jujur agar mereka akan mendengar pesan yang konsisten dari berbagai sumber. Latar belakang ini memungkinkan CINDE untuk mengantisipasi apa yang diinginkan dan membantu mereka untuk mengkoordinasi tanggapan dari pemerintah secara lebih efektif.

Keterlibatan Personal dari Atas

Dari kesemua itu, Presiden Figueres memainkan peranan penting dalam membawa Intel ke Kosta Rika. Dengan menjadikan proyek tersebut agenda utama setiap orang, ia memastikan bahwa prosesnya berlangsung semulus mungkin dan tidak ada penundaan birokratis yang tidak perlu.

Kemudian, Figueres menunjukkan ketertarikan pribadi pada proyek ini dan mau melakukan apa pun yang dia bisa untuk meningkatkan peluang Kosta Rika. Untuk mengkoordinasi respons pemerintah kepada Intel, ia menempatkan Menteri Perdagangan Luar Negeri Jose Rossi, dengan memintanya agar memberitahukan setiap perkembangan kepadanya dan memperingatkannya bila ada masalah. Sejak langkah negosiasi mulai meningkat, Rossi menjadi sosok penting bagi upaya pemerintah, dengan mengelola komunikasi antara berbagai lembaga dan memastikan bahwa Intel tidak akan terjerat dalam laporan yang bertentangan dan jeratan birokrasi. Mengambil alih fungsi koordinasi yang mulanya dijalankan CINDE, Rossi lebih dekat dengan kursi kekuasaan di Kosta Rika sehingga bisa mengintervensi lebih efisien. Pada tahapan proses berikutnya, Intel mendekati Rossi secara langsung saat interaksi dengan pemerintah diperlukan. Selain itu, Figueres sendiri mempertahankan hubungan dengan Egloff di CINDE dan Rossi, dengan berbicara dengan mereka hampir tiap pekan untuk mengetahui di mana intervensi mungkin diperlukan. Ia mengesankan semua menterinya akan pentingnya proses ini dan sejak bulan April hingga September 1996, ia amat aktif dalam mendorong para menteri untung membereskan masalah penting dan menjalankan program-program baru yang dirancang untuk mengurangi kesenjangan antara apa yang Kosta Rika miliki dan apa yang Intel butuhkan. (Proyek ini––dalam pendidikan dan infrastruktur––dibahas di bawah ini).

Pada tingkatan yang lebih pribadi, Figueres menjalin hubungan yang baik denan eksekutif Intel dan membuktikan dirinya sebagai salesman yang hebat bagi negerinya. Di luar pertemuan resmi, presiden yang sangat hangat dan dwibahasa itu makan malan dengan eksekutif Intel dan menjamu mereka di rumahnya. Saat Wadir Intel yang sedang berkunjung ingin melihat lembah tengah Kosta Rika, Figueres menawari mereka untuk memakai helikopternya bila mereka bisa tiba di hangar kepresidenan pada jam 7.30 keesokan paginya. Saat mereka tiba di bandara, Figueres sudah menunggu mereka di atas kursi pilot.

Sebagai tambahan, Figueres mengunjungi pabrik Intel di Chandler, Arizona. Untuk menjaga kerahasiaan negosiasi dengan Intel, ia memanfaatkan tur Kamis yang diselenggarakan sebuah pabrik di Tennessee sebagai samaran. Dengan mengenakan pakaian biasa, ia lagi-lagi mengejutkan mitranya dari Intel, yang telah mengganti pakaian kasual sehari-harinya menjadi jas untuk menyambut CEO mereka. Di samping itu, dalam beberapa kesempatan, baik Rossi maupun Egloff melakukan perjalanan ke fasilitas Intel di AS. Sebaliknya, pemerintah Meksiko malah menolak undangan serupa untuk mengunjungi fasilitas Intel di AS.

Kecepatan

Khususnya bagi perusahaan semacam Intel, yang berkompetisi dalam industri cepat yang dicirikan dengan daur hidup produk yang singkat, kecepatan dan kemudahan dalam proses seleksi tempat merupakan hal yang penting. Setiap bulan yang bisa dihemat Intel dalam meningkatkan produksi di fasilitas yang canggih berarti satu bulan meninggalkan lawan-lawannya di belakang dan berarti satu bulan tambahan untuk memberlakukan harga tinggi. Dengan adanya jumlah yang besar ini––lebih dari $150 juta untuk tiap bulan dalam memimpin industri mikroprosesor––kecepatan saja bisa lebih berharga bagi Intel daripada nyaris semua hal yang bisa Kosta Rika yang tawarkan.

Lagi-lagi dalam hal ini, mobilisasi yang tersebar luas yang terdapat di Kosta Rika menjadi keuntungan kompetitif yang nyata. Dengan lembaga promosinya yang kuat dan pemerintahnya yang berkomitmen, Kosta Rika mampu merespons kebutuhan Intel secara cepat dan fleksibel. Tim Intel menjadi mitra dalam pemecahan masalah, bukannya musuh dalam permainan negosiasi konsesi. Yang perlu Intel lakukan hanyalah meminta data dan tim Kosta Rika akan memberikannya––dalam beberapa hari atau bahkan jam. Kecepatan ini tampak dalam isu-isu yang lebih sulit dan rumit, seperti pendidikan. Kosta Rika dengan cepat sepakat untuk melakukan perubahan kurikula besar-besaran demi memenuhi ketentuan personel teknis Intel.

Penolakan untuk Terlibat dalam Tindakan “Luar Biasa”

Dalam sebuah kompetisi antarnegara untuk mengamankan investasi dambaan, akan ada banyak tekanan yang tak terelakkan, terkait dengan penerapan moto “menghalalkan segala cara untuk menarik mereka” yang ekstrem, yaitu pengaturan ilegal, reaksi balik, dan perjanjian ilegal dengan investor asing. Akibatnya, warga negara sasaran kerap kali menentang perjanjian macam itu dan mempertanyakan nilai investasi asing yang sering kali terlihat bisa mengeduk keuntungan dari negara-negara yang kurang maju.

Dalam hal ini, pejabat Kosta Rika nampak tidak menawarkan pemberian dan pengaturan yang melawan hukum––dan Intel secara eksplisit tidak pernah meminta satu pun. Rakyat Kosta Rika benar-benar berupaya untuk mengakomodasi Intel dan mau bekerja sama dengan lembaga legislatif dan pemerintahan untuk mengubah peraturan-peraturan, kebijakan-kebijakan, atau prosedur-prosedur yang selama ini tidak berpihak pada investasi perusahaan itu yang tertunda. Hal ini terutama benar dalam hal perpajakan, pendidikan, dan perizinan. Perjanjian dibuat dan peraturan diubah dengan kreatif bila memungkinkan. Namun, semua provisi yang dibuat oleh Kosta Rika dirancang untuk berlaku bagi semua investor asing, tidak hanya Intel.

Alih-alih mengesalkan atau mengalienasi Intel, penolakan untuk terlibat dalam tindakan-tindakan luar biasa ini malah menambah rasa hormat tim Intel terhadap pemerintah Kosta Rika dan penegakan hukum yang baik dari negara ini. Itu membuktikan bahwa hukum Kosta Rika dan prosedur PMA amat mapan, dipatuhi, dan sangat transparan. Seperti halnya semua investor, Intel ingin memperoleh persyaratan keuangan dan hukum yang menarik––tetapi tidak dengan cara memberikan “amplop” atau pengaturan yang ilegal. Maka, lingkungan Kosta Rika yang transparan, ketiadaan perjanjian-perjanjian sampingan, menjadi hal utama yang menguntungkan Kosta Rika.

Manajemen Opini

Keengganan untuk memberikan Intel perlakuan khusus juga membantu pemerintah Kosta Rika dalam “menjual” perjanjian dengan Intel di dalam negeri––untuk menghindari kekacauan politik dan suara-suara negatif seputar PMA di negara berkembang. Dari awal, pejabat pemerintah menyadari akan sensitivitas rakyat Kosta Rika terhadap dominasi asing, yang diakibatkan oleh warisan republik pisan dan kekhawatiran umum terhadap hegemoni ekonomi AS. Mereka kemudian berupaya menghindari segala konsesi yang dapat dianggap terlalu baik––dan mempublikasikan penolakan mereka untuk memberikan perlakukan khusus apa pun, bahkan kepada perusahaan besar ini.

CINDE juga sangat proaktif dalam memuluskan hubungan Intel dengan partai oposisi Kosta Rika dan kelompok pecinta lingkungan. Atas inisiatif sendiri, pejabat CINDE mengkoordinasikan pertemuan antara Intel dan kandidat presiden terkuat dari kubu oposisi. Dukungannya memberikan jaminan kepada Intel bahwa pergantian kekuasaan tidak akan merusak proyek ini. Demikian pula ketika reruntuhan bekas permukiman pra-Kolombia ditemukan di tempat berdirinya pabrik Intel, CINDE mendorong Intel untuk mendanai program yang mengerahkan para arkeolog lokal untuk mencari di wilayah itu dan mengkatalogkan temuan tersebut. Intel menurutinya dan langsung mempekerjakan ahli-ahli terbaik yang ada. Strategi itu berjalan baik karena Museum Nasional segera melakukannya dan memberi lampu hijau kepada Intel. Apa yang tadinya bisa menjadi kontroversi publik yang besar, kini berubah menjadi kampanye positif untuk Intel.

Konsesi Spesifik

Kosta Rika menarik perhatian Intel terutama karena faktor pendukung yang diuraikan di atas. Ia menanjak ke posisi puncak pada daftar Intel berkat taktik negosiasi CINDE dan kecepatan serta konsitensi respons dari pemerintah. Pada akhirnya, bagaimanapun juga, Kosta Rika masih bisa gagal bila tidak mampu merespons kekhawatiran spesifik Intel. Pada bulan September 1996, Intel masih melihat tiga permasalahan di Kosta Rika: infrastruktur fisik tidak memadai, sarana pendidikan tidak memadai, dan ketentuan finansial dalam usulan investasi tidaklah semenarik yang ditawarkan di tempat lain. Untuk mendapatkan perjanjian ini, Kosta Rika perlu mengatasi masalah ini.

Insentif Finansial

Insentif investasi standar dan kebijakan perpajakan Kosta Rika di bawah sistem kawasan bebas mudah diketahui dan diakses oleh investor asing (Lihat Annex 3). Insentif tersebut sangat menarik, dengan menawarkan investor macam Intel pembebasan pajak penuh dari laba pada delapan tahun pertama operasi dan 50% pembebasan untuk empat tahun berikutnya. Namun, saat negosiasi, Kosta Rika masih memberlakukan pajak 1% dari aset total untuk perusahaan tertentu. Intel tidak setuju dengan pajak ini karena biaya total yang ditanggung perusahaan akan sangat besar: sekitar $3 juta untuk fasilitas senilai $300 juta yang diusulkannya. Rumitnya, undang-undang pajaknya telah melewati waktunya sehingga meninggalkan ketidakpastian pada pelaksanaannya, terutama karena Intel bermaksud membangun di atas lokasi yang sebelumnya tidak dikembangkan sebagai kawasan bebas.

Setelah menimbang-nimbang, pemerintah Kosta Rika memutuskan untuk meminta fatwa dari Jaksa Agung. Undang-undang yang awalnya diperuntukkan bagi investor padat modal bergaya Maquiladora tidak lagi masuk akal secara ekonomi. Dengan mempertimbangkan tujuan baru negara itu untuk menarik teknologi tinggi, industri padat modal, fatwa Jaksa Agung mengatakan bahwa pajak tersebut tidak berlaku untuk perusahaan yang berada dalam status kawasan bebas.

Infrastruktur

Permasalahan Intel dengan infrastruktur Kosta Rika terletak utamanya pada sektor transportasi. Untuk memenuhi tuntutan pasar, fasilitas baru Intel akan didesain untuk menggunakan input dari pabrik pembuatan lain di seluruh dunia dan mengirim produk melalui udara kepada konsumen. Meski lokasi Kosta Rika sangat menarik dalam sisi ini, dengan akses ke California atau Texas dalam waktu tempuh di bawah 3 jam, Intel khawatir akan frekuensi penerbangan dan kapasitas bandara San Jose.

Walaupun banyaknya pengiriman Intel kecil (sekitar 18 ton/minggu), pengiriman perlu dibagi-bagi dalam beberapa gelombang dan dikirim dengan penerbangan yang berbeda. Hal itu akibat dari ketentuan asuransi yang melindungi transportasi kargo yang benar-benar bernilai emas. Maka, kapasitas volume penerbangan ke dan dari San Jose tidaklah sepenting jumlah penerbangan dan tujuannya bagi Intel. Dan dalam hal inilah Kosta Rika jatuh. Meski ada sejumlah penerbangan harian langsung ke Losa Angeles, Houston, dan Miami, hanya ada sedikit akses langsung ke Eropa dan tidak ada akses langsung ke Timur Jauh.

Jalan juga merupakan sumber kekhawatiran. Pabrik Intel akan terletak dekat dengan bandara internasional utama negara itu, sepanjang jalan raya yang menghubungkan pusat kota San Jose dengan bandara. Masalahnya bukan pada kualitas jalan, yang lebih dari cukup, tetapi lebih kepada akses ke jalan raya dari lokasi yang tidak langsung dan berliku.

Setelah jelas bahwa isu transportasi dapat menghambat investasi, CINDE dan Presiden Figueres mendesak Kementerian Perhubungan untuk mencari cara mengakomodasi kebutuhan Intel. Dan mereka melakukannya. Kementerian Perhubungan sepakat untuk memberikan lebih banyak izin bagi pesawat kargo asing bila diperlukan untuk menjamin jumlah penerbangan yang memadai. Ia juga mempercepat rencana untuk membangun terminal kargo yang baru, yang akan dibuka pada bulan Mei 1997. Pada masalah jalan, kedua pihak mencapai kata sepakat. Intel menyumbangkan sebagian lahannya utuk dijadikan jalan akses ke pabriknya, sedangkan Kementerian Perhubungan mempermudah akses ke jalan raya dengan membangun jalan layang, dan mengatur pola lalu-lintas dan jadwal transportasi umum agar pemasok dan pegawai memperoleh akses yang mudah ke fasilitas.

Energi kini menjadi masalah. Meski bagian dari proyeksi konsumsi energi total Intel menurun dari perkiraan awal sebesar 30% menjadi 5%, pabrik masih memerlukan gardu sendiri. Dan gardu ini harus dibangun dan dibiayai oleh ICE, perusahaan listrik negara Kosta Rika. Awalnya ICE memperkirakan bahwa pembangunan gardu baru bisa dimulai satu setengah tahun kemudian––jelas tidak sesuai dengan jadwal Intel. Untuk mengatasi masalah ini, Intel sepakat untuk menyerahkan sebanyak lahan yang dibutuhkan kepada ICE dan mendanai (dalam bentuk pinjaman yang tertutup) untuk jaringan listrik dan gardu tambahan. Intel juga berkenan untuk mendanai pembangunan gardu kedua untuk melayani kawasan industri di sekitarnya.

Sementara itu, Intel bernegosiasi alot dengan Kementerian Energi untuk mendapatkan tarif listrik yang lebih murah bagi pabrik Intel. Struktur tarif yang ada hanya untuk dua kategori, rumah tangga dan industri, sehingga membebani Intel dengan tarif seharga $0,07 hingga $0,09 per kilowatthour (kWh). Untuk fasilitas yang memerlukan banyak energi semacam ATP, perbedaan antara tarif itu dan tarif yang ditawarkan Meksiko ($0,02/kWh) memojokkan posisi Kosta Rika. Lalu, Kementerian Energi bekerja sama dengan ICE dan National Regulatory Authority (Badan Pengawas Nasional) untuk mengembangkan struktur tarif industri kelas satu, yang memberikan harga yang menarik bagi pengguna besar seperti Intel. Di bawah perjanjian baru, masih menunggu persetujuan akhir, biaya listrik akan turun hingga sekitar $0,05/kWh bagi pengguna yang mengkonsumsi lebih dari 12 megawatt.

Pendidikan

Kekhawatiran Intel yang paling menekan dan konsesi Kosta Rika yang paling menarik terletak pada bidang pendidikan. Walau tingkat pendidikan di Kosta Rika sudah berada di atas normalnya negara berkembang, negara ini tidak memiliki sarana pendidikan untuk mendukung kebutuhan Intel akan pegawai. Baik Intel maupun Kosta Rika tahu bahwa kesenjangan ini berpotensi untuk menggagalkan perjanjian.

Menyadari ancaman ini, CINDE dan pemerintah segera meluncurkan program untuk memenuhi kekhawatiran Intel akan tenaga kerja. Tim yang terdiri dari staf SDM Intel, Staf CINDE, Kementerian Pendidikan, Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan pejabat dari lembaga pendidikan tinggi dibentuk untuk mengidentifikasi celah dalam sistem pendidikan Kosta Rika dan mengirimkan pedoman untuk perbaikan.

Tim menghabiskan waktu yang cukup lama dalam mencocokkan antara persyaratan pegawai Intel yang detail dan kurikulum sekolah menengah kejuruan (SMK bagian teknik) dan program pelatihan tingkat lanjut. Di samping itu, kelompok yang terdiri atas empat profesor dari Costa Rican Institute of Technology (ITCR) dan dua guru dari SMK lokal melakukan kunjungan ke fasilitas Intel di Arizona, New Mexico, dan Santa Clara. Dengan berbicara panjang kepada para operator dan teknisi di pabrik, mereka ingin memahami tepatnya pendidikan dan keterampilan apa yang diperlukan untuk mendukung tenaga kerja Intel.

Usai tinjauan itu, tim mengirimkan rekomendasi terperinci dan ekstensif kepada Kementerian Pendidikan:

· Tambahan program “sertifikasi” satu tahun. ITCR akan menyelenggarakan program ini untuk lulusan SMK ataupun SMA untuk memutakhirkan kemahiran teknis dan kompetensi fisika/kimia mereka bila diperlukan.

· Tambahan program “Gelar Khusus” satu tahun. Lulusan program sertifikasi dan lulusan terbaik SMK juga bisa mengikuti program yang dirancang bersama oleh ITCR dan Intel. Pada awalnya, program ini akan berfokus pada manufaktur semikonduktor, walaupun bisa diperpanjang waktu untuk memasukkan materi lain.

· Pelatihan Bahasa. ITCR akan menyelenggarakan kursus bahasa intensif, bahasa Spanyol untuk ekspatriat dari Manila dan AS dan bahasa Inggris untuk kelompok yang terdiri dari 50 teknisi dari Kosta Rika yang pertama kali dipekerjakan. Program ini tidak terkait dengan program “gelar khusus” dan akan dijalankan melalui kontrak langsung dengan Intel.


Atas desakan CINDE dan Presiden Figueres, Kementerian Pendidikan mengabulkan semua rekomendasi dari tim. ITCR mulai menerapkan kurikulum baru dalam waktu dekat.


Kesimpulan

Sebagaimana investasi lain yang ukuran dan lingkupnya serupa, dipilihnya Kosta Rika oleh Intel merupakan peristiwa yang spesifik dan istimewa. Intel bukanlah investor yang biasa-biasa saja dan proses seleksi tempatnya dan tuntutan investasinya mungkin unik, bahkan di antara perusahaan-perusahaan multinasional canggih lainnya. Kosta Rika juga merupakan negara yang unik dan tidak biasa: tidak biasanya negara seperti itu stabil dan tidak biasanya kecil.

Lalu apa yang bisa disimpulkan dari kisah negara yang aneh ini? Pelajaran apa, bila ada, yang bisa diambil untuk negara berkembang lain, yang berharap untuk menarik perusahaan teknologi lainnya?

Mungkin hanya beberapa saja. Yang pertama bersumber dari keistimewaan investasi itu sendiri. Sedari awal, CINDE melakukan pendekatan kepada Intel dan memperlakukannya sebagai kasus khusus, yaitu sebuah perusahaan dengan serangkaian kebutuhan, kepentingan, dan hambatan tertentu. Pendekatan dengan sasaran mikro ini merupakan unsur yang penting dalam keberhasilan CINDE. CINDE tidak mendekati Intel hanya karena perusahaan itu besar, kaya, dan mendunia. Mereka mendekati Intel karena memahami bahwa pola investasi Intel memiliki potensi kecocokan dengan dengan sejumlah karakteristik Kosta Rika. Saat Heilbron mengadakan pertemuan perdana dengan eksekutif Intel, Kosta Rika telah mempunyai sebagian besar dari apa yang dibutuhkan Intel: sistem politik yang stabil, ekonomi liberal, dan tenaga kerja terdidik serta sektor elektronika yang berkembang. Kelebihan ini bukanlah kebetulan. Kosta Rika telah memilih strategi promosi investasi yang sesuai dengan kekuatan kompetitif yang ada dan CINDE telah membidik perusahaan-perusahaan, termasuk Intel, yang cocok dengan strategi promosi itu. Ini suatu pelajaran yang bisa diambil: memilih sasaran yang cocok dengan potensi kita.

Kemudin, ketika sasaran telah diidentifikasi dan didekati, pejabat CINDE dengan tekun meneruskan pekerjaan mereka. Bahkan saat tim seleksi tempat Intel sedang melakukan due dilligence, CINDE tetap melakukan riset mereka sendiri. Mereka mempelajari semikonduktor, mempelajari Intel, bahkan khusus mempelajari seluk-beluk proses seleksi tempat Intel. Hal ini membuat mereka bertemu Intel atas permintaan Intel dan melakukan negosiasi dengan pengetahuan yang detail tentang apa yang diperlukan perusahaan dan bagaimana Kosta Rika bsa memenuhinya. Keistimewaan inilah yang menjadikan interaksi antara Intel dan Kosta Rika membuahkan hasil: ada kecocokan di antara mereka dan kedua pihak menyadari hal ini sejak awal proses.

Dalam tingkatan yang lebih luas, pelajaran dari pabrik di Kosta Rika adalah bahwa faktor negara secara umum sangatlah berpengaruh, terutama bagi investor kelas tinggi dan jangka panjang semacam Intel. Yang menarik Intel ke Kosta Rika dan yang amat vital dalam meyakinkan Intel untuk berinvestasi adalah karakteristik dasar dari sistem politik dan ekonomi Kosta Rika. Negara ini adalah negara demokrasi, stabil, liberal, dan berkomitmen terhadap keterbukaan dan kemajuan ekonomi. Sikap pemerintahnya terhadap perusahaan swasta pada dasarnya memberi kemudahan, alih-alih mengganggu. Pemerintah juga mempunyai sistem hukum yang sangat transparan. Hal itu bukanlah karakteristik misterius dan kebajikan mereka yang mendasari semua ini sudah terlalu banyak diketahui. Namun, kasus Intel menunjukkan bukti kuat tentang bagaimana mereka juga bisa mengamankan keuntungan dari investas teknologi tinggi. Perlu dicatat lokasi fasilitas Intel di luar negeri selain di Kosta Rika: Irlandia, Israel, Malaysia. Meski jauh berbeda dalam beberapa hal dari Kosta Rika, negara-negara tersebut mempunyai aset politik dan ekonomi yang sama. Perusahaan multinasional lain, agar lebih yakin, mungkin kurang memikat dalam hal ini dibandingkan dengan Intel dan kurang berkenan untuk menanggung biaya yang ditimbulkannya. Namun, perusahaan teknologi tinggi kelas atas cenderung memiliki kekhawatiran dan preferensi politik yang sama–atau setidaknya sebagian–– dengan Intel.

Pelajaran ketiga dari kasus ini teah dijelaskan pada bagian sebelumnya: sepanjang proses seleksi tempat dan negosiasi, baik CINDE maupun komite dari pemerintah yang dipimpin Jose Rossi bekerja dengan sangat baik. Para pejabat secara konsisten selalu siap, tahu, dan antusias untuk memandang negosiasi mereka dengan Intel sebagai hal yang positif, alih-alih sebagai hubungan permusuhan. Ditambah dengan komitmen pribadi dari pimpinan tertinggi negara itu, CINDE bisa berperan penting dalam mengatur interaksi Intel dengan semua tingkatan dalam pemerintahan dan masyarakat. Koordinasi merupakan kuncinya dan CINDE diberikan kewenangan dan kemampuan untuk mengkoordinasi. CINDE juga memiliki otonomi dan kemandirian dalam pemikiran yang merupakan hal penentu kesuksesan mereka. Ini adalah atribut-atribut yang bisa diadopsi (meski dengan sedikit perubahan) oleh badan promosi investasi lainnya.

Pelajaran keempat terkait dengan fase-fase awal seleksi. Semua tindakan benar yang dilakukan oleh Kosta Rika, semua faktor yang membuatnya dilirik Intel bisa menjadi tidak berguna bila saja Kosta Rika tidak masuk ke dalam daftar panjang kandidat potensial yang dibuat Intel. Dengan demikian, salah satu keberhasilan negara ini terletak pada kemampuannya untuk meraih posisi pada daftar panjang Intel.

Bagaimana ini bisa terjadi? Sebagian besar jawabannya ada pada proses seleksi Intel dan bagaimana proses itu bersandar pada berita dari mulut ke mulut. Seperti kebanyakan perusahaan multinasional besar, Intel nampaknya memiliki proses informal untuk mengumpulkan negara-negara potensial dalam daftar mereka. Walau menggunakan sumber data dan analisis kuantitatif yang jangkauannya luas, Intel juga sangat mengandalkan sumber informasi yang lebih kualitatif, bahkan subjektif. Mereka mengadakan jajak pendapat pada level manajemen senior tentang persepsi mereka terhadap berbagai negara, mereka menyusuri ke mana perusahaan teknologi tinggi lainnya berinvestasi, mereka berinteraksi secara intensif dengan perusahaan multinasional lain. Kosta Rika masuk dalam daftar panjang Intel karena investor lain pernah pergi ke sana dan menyebarkan berita tentang daya tarik negara itu. Proses mengekor ini sesuai dengan data tentang PMA: terkonsentrasi pada sejumlah besar penerima teratas. Karena perusahaan macam Intel amat bersandar pada laporan mulut ke mulut dari investor yang sudah ada, tiap investasi sepertinya menghasilkan keturunan dan keberhasilan dalam menarik PMA melahirkan keberhasilan pula. Sebagian dari perilaku mengekor ini bisa didorong oleh pertimbangan komersial langsung: perusahaan bisa mengikuti pelanggannya ke pasar yang baru atau membawa pemasoknya bersama mereka. Namun, jumlah yang besar dari suatu klaster investasi juga memberikan sebuah saran yang lebih mendasar: perusahaan yang berinvestasi di negara-negara yang telah memiliki catatan prestasi yang bagus dalam menarik investor asing dan dalam memberikan perlakuan yang baik.

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh negara yang tidak tercantum “dalam peta”? Kasus Kosta Rika memberikan beberapa kemungkinan. Yang pertama adalah pemasaran. Brosur mengkilap dan kantor promosi investasi jelas tidak cukup untuk menarik investasi. Itu hanyalah salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan akan potensi sebuah negara dan mengajak investor untuk setidaknya menengok. Kedua, publisitas objektif apa pun tentang suatu negara tampaknya sangat berguna. Kisah-kisah boom ekonomi, misalnya, atau program pelatihan baru, atau privatisasi yang sukses cenderung menarik perhatian investor potensial. Hal yang sama berlaku untuk objek-objek wisata yang menarik, yaitu hanya dengan membawa investor yang potensial ke tempat yang bagus itu. Sebaliknya, laporan tentang korupsi atau instabilitas atau pergulatan politik cenderung akan menjauhkan suatu negara dari daftar yang dimiliki investor. Ketiga, sejumlah besar investasi mengekor menyarankan bahwa menarik perusahaan multinasional untuk pertama kalinya adalah hal terpenting bagi kesuskesan suatu negara dalam jangka panjang. Hal itu karena investor macam ini cenderung membawa, tidak hanya modal dan teknologinya, tetapi juga kemampuan untuk memasarkan suatu negara ke investor lain. Dengan demikian, maksud tersembunyi yang pertama amatlah besar, terutama bagi sebuah negara dengan sumber daya terbatas dan pasar dalam negeri yang kecil. Upaya untuk mengungkapkan maksud tersembunyi itu––sepanjang upaya tersebut tidak melibatkan perjanjian-perjanjian dan perlakuan ilegal––hampir pasti diperlukan.

Terakhir, dan lebih tak kentara, adalah pelajaran yang diambil dari konsesi dan kemudahan yang diberikan Kosta Rika kepada Intel. Kosta Rika tidak, sebagaimana disebutkan sebelumnya, menjual negaranya. Mereka tidak memberikan “janji” apa pun kepada Intel, tidak juga perjanjian ilegal ataupun konsesi spesifik perusahan. Namun, mereka memang membuat beberapa penyesuaian besar––bandara, sekolah, dan kawasan perdagangan bebas––untuk mengakomodasi kebutuhan Intel. Mereka harus melakukan itu atau Intel hampir pasti akan pergi ke tempat lain. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa semua kemudahan mempunyai dua karakteristik yang sama. Pertama, kemudahan itu benar-benar berasal dari kekhawatiran pihak investor akan usaha mereka. Intel tidak menunda-nunda perjanjian untuk memeras Kosta Rika demi konsesi atau uang tambahan. Intel memang mempunyai masalah serius. Dengan kata lain, Kosta Rika menampung permasalahan yang dihadapi perusahaan untuk mengamankan investasi. Hal itu memang konsesi, namun bukan sesuatu yang tidak wajar atau berubah-ubah. Kedua, semua penyesuaian tersebut merupakan hal umum untuk semua investor––dan secara umum baik untuk perekonomian Kosta Rika. Investasi pada bidang teknik, infrastruktur, pembebasan pajak pada kawasan perdagangan bebas: kesemuanya merupakan keuntungan yang pasti akan diapresiasi oleh investor. Kemudian, hal itu juga akan menghasilkan keuntungan jangka panjang bagi tujuan pembangunan Kosta Rika. Dengan demikian, Kosta Rika memberikan konsesi yang masuk akal. Mereka memilih sasarannya dengan hati-hati, memilih “pertempurannya” dengan bijak––dan mereka menarik investor teknologi tinggi yang akan berdampak pada perkembangan negara itu ke depan dalam jangka waktu yang lama.