Politic » 02 Januari 2007 » Hit: 641
Komunikasi Internal Solusi Terbaik Buat PLN
Perusahaan Listrik Negara (PLN), tentu sudah tidak asing ditelinga kita, betapa tidak karena perusahaaan yang di nakhodai oleh Eddie Widiono berhubungan dan mengurus hajat hidup orang banyak di negeri ini yang berhubungan dengan penerangan dan energi kelistrikan. Maka tidak mengherankan jika pelbagai problematika muncul seiring dengan tugas dan fungsi PLN melayani dan menyediakan Energi Listrik bagi masyarakat Indonesia dan di sisi lain PLN harus berfungsi menjadi “mesin bisnis” atau “mesin uang” yang baik agar tugas ,fungsi dan tujuan PLN sebagai salah satu BUMN strategis di Indonesia dapat terlaksana dengan baik dan pada akhirnya amanat untuk membawa manfaat, kesejahteran dan kebahagian bagi seluruh rakyat Indonesia.
Karena perannya yang sangat strategis PLN membutuhkan banyak masukan untuk memenuhi tujuan dan fungsinya. Dalam diskusi panel yang bertema “meningkatkan kinerja dan daya saing PT.PLN guna mengantisipasi perubahan lingkungan strategis (sistem perpolitikan) di Indonesia ”,pelbagai wacana mengemuka dalam diskusi panel tersebut mulai dari PLN yang terus merugi sampai intervensi partai politik dalam menentukan jabatan-jabatan strategis di BUMN (jatah kursi Parpol di BUMN). DR.Zulkieflimansyah,SE,MSc yang mewakili PKS dalam diskusi Panel tersebut mengungkapkan “ banyak orang kompeten untuk memegang jabatan penting dan strategis, ada yang bisa dan memiliki kompetensi, kapabilitas, akuntabilitas tapi tidak memiliki kesempatan untuk memimpin karena koneksinya dengan “sumbu kekuasaan” terlampau jauh, dan sebaliknya ada orang yang tidak memiliki kompetensi, kapabilitas, akuntabilitas tetapi karena dekat dan bersinergi dengan sumbu kekuasaan memiliki kesempatan dan peluang besar untuk memimpin dan duduk dijabatan strategis tersebut, tegas Zul.
Ditambahkan pula oleh zulkieflimansyah bahwa ada beberapa skenario Indonesia dimasa depan yakni : Pertama, Indonesia akan tetap kontinyu dalam belajar berdemokrasi dan akan menjadi negara demokrasi terbesar di dunia. Kedua, era yang penuh dengan ketidakpastian, sehinggga orang ragu-ragu dalam membuat keputusan dan inilah yang menjadi kelemahan pemerintah saat ini termasuk PLN . Ketiga, kerinduan masyarakat terhadap pemimpin yang bisa memberi kepastian dan rasa aman. Keempat, era radikal otonomi, dimana pusat sudah tidak bisa mengatur orang di daerah. Kelima, orang sudah bosan dengan sekularisme sehingga orang beralih pilihan ke islam yang fundamental dan radikal dan yang terakhir adalah desintegrasi harus diikhlaskan, kita harus iklas berpisah, akan tetapi yang menjadi kesimpulan dari skenario diatas adalah bahwa Indonesia harus terus bermetamorfosis untuk terus berdemokrasi, tegas Zul.
Sekian lama image parpol itu jelek di masyarakat kelas empat, orang yang sudah pensiun, di isi oleh orang yang tidak memilki kualitas, akan tetapi sekarang image tersebut perlahan terkikis, ”pilihan menjadi politikus yang profesional penting, jangan paksa partai politik di isi orang yang tidak berkualitas, inilah eranya partai politik di isi oleh kaum muda profesional yang paham persoalan kebangsaan dan kekinian” tambah Zul.
Diskusi panel yang berlangsung di auditorium kantor pusat PLN dibilangan Trunojoyo jakarta selatan, kamis 29 Desember 2006, memberikan pencerahan dan kado tahun baru bagi lingkungan internal dewan komisaris, dewan direksi, manejemn pengelola PT.PLN, dalam sesi pertama DR.zulkieflimansyah yang didampingi Eddie widiono (Dirut PLN), Said Didu (Sekertaris Menteri BUMN), M.Jafar Hafsah (partai Demokrat) dan Pramono Anung ( Sekjen PDI-P) kembali mempertegas bahwa BUMN tidak boleh diintervensi langsung oleh kekuatan eksternal “bagaimana bisa bekerja, kalau tiap hari DIRUT PLN di panggil rapat dengar pendapat oleh komisi-komisi di DPR, silahkan Dirut PLN gajinya besar asal transparan, kita harus waspada karena mafia-mafia sedang berkeliaran di sekitar kita, harus ada pembenaran system yang transformatif; jangan kalah loby politik di DPR, tidak memiliki konsep yang jelas masih berharap menang untuk posisi tertentu di BUMN, kejujuran, kerja keras, akan menempatkan kita ke posisi layak, tegas Zul.
Menjawab pertanyaan peserta diskusi tentang konsep tentang PLN supaya semua selesai, Zul menjelaskan “memang yang sering jadi masalah adalah banyak orang yang tidak memahami kondisi real di PLN, baru melihat kulitnya sudah berkomentar dan memberikan analisa macam-macam tentang PLN, ini justru memperburuk keadaan dan pukulan pertama dan telak bagi PLN adalah kerugian yang dialami PLN ketika Pemilu 2004 berlangsung, kita harus segara melakukan recovery, jangan kemudian ‘sok tau’ dan asal bicara tetapi tidak punya kompetensi tentang PLN, solusi bagi PLN adalah bagaimana mengkomunikasikan bahasa-bahasa yang menjadi masalah ditingkatan internal PLN, tambah Zul yang di ikuti tepuk tangan meriah audien.
(Imran-staff humas dan media)
Karena perannya yang sangat strategis PLN membutuhkan banyak masukan untuk memenuhi tujuan dan fungsinya. Dalam diskusi panel yang bertema “meningkatkan kinerja dan daya saing PT.PLN guna mengantisipasi perubahan lingkungan strategis (sistem perpolitikan) di Indonesia ”,pelbagai wacana mengemuka dalam diskusi panel tersebut mulai dari PLN yang terus merugi sampai intervensi partai politik dalam menentukan jabatan-jabatan strategis di BUMN (jatah kursi Parpol di BUMN). DR.Zulkieflimansyah,SE,MSc yang mewakili PKS dalam diskusi Panel tersebut mengungkapkan “ banyak orang kompeten untuk memegang jabatan penting dan strategis, ada yang bisa dan memiliki kompetensi, kapabilitas, akuntabilitas tapi tidak memiliki kesempatan untuk memimpin karena koneksinya dengan “sumbu kekuasaan” terlampau jauh, dan sebaliknya ada orang yang tidak memiliki kompetensi, kapabilitas, akuntabilitas tetapi karena dekat dan bersinergi dengan sumbu kekuasaan memiliki kesempatan dan peluang besar untuk memimpin dan duduk dijabatan strategis tersebut, tegas Zul.
Ditambahkan pula oleh zulkieflimansyah bahwa ada beberapa skenario Indonesia dimasa depan yakni : Pertama, Indonesia akan tetap kontinyu dalam belajar berdemokrasi dan akan menjadi negara demokrasi terbesar di dunia. Kedua, era yang penuh dengan ketidakpastian, sehinggga orang ragu-ragu dalam membuat keputusan dan inilah yang menjadi kelemahan pemerintah saat ini termasuk PLN . Ketiga, kerinduan masyarakat terhadap pemimpin yang bisa memberi kepastian dan rasa aman. Keempat, era radikal otonomi, dimana pusat sudah tidak bisa mengatur orang di daerah. Kelima, orang sudah bosan dengan sekularisme sehingga orang beralih pilihan ke islam yang fundamental dan radikal dan yang terakhir adalah desintegrasi harus diikhlaskan, kita harus iklas berpisah, akan tetapi yang menjadi kesimpulan dari skenario diatas adalah bahwa Indonesia harus terus bermetamorfosis untuk terus berdemokrasi, tegas Zul.
Sekian lama image parpol itu jelek di masyarakat kelas empat, orang yang sudah pensiun, di isi oleh orang yang tidak memilki kualitas, akan tetapi sekarang image tersebut perlahan terkikis, ”pilihan menjadi politikus yang profesional penting, jangan paksa partai politik di isi orang yang tidak berkualitas, inilah eranya partai politik di isi oleh kaum muda profesional yang paham persoalan kebangsaan dan kekinian” tambah Zul.
Diskusi panel yang berlangsung di auditorium kantor pusat PLN dibilangan Trunojoyo jakarta selatan, kamis 29 Desember 2006, memberikan pencerahan dan kado tahun baru bagi lingkungan internal dewan komisaris, dewan direksi, manejemn pengelola PT.PLN, dalam sesi pertama DR.zulkieflimansyah yang didampingi Eddie widiono (Dirut PLN), Said Didu (Sekertaris Menteri BUMN), M.Jafar Hafsah (partai Demokrat) dan Pramono Anung ( Sekjen PDI-P) kembali mempertegas bahwa BUMN tidak boleh diintervensi langsung oleh kekuatan eksternal “bagaimana bisa bekerja, kalau tiap hari DIRUT PLN di panggil rapat dengar pendapat oleh komisi-komisi di DPR, silahkan Dirut PLN gajinya besar asal transparan, kita harus waspada karena mafia-mafia sedang berkeliaran di sekitar kita, harus ada pembenaran system yang transformatif; jangan kalah loby politik di DPR, tidak memiliki konsep yang jelas masih berharap menang untuk posisi tertentu di BUMN, kejujuran, kerja keras, akan menempatkan kita ke posisi layak, tegas Zul.
Menjawab pertanyaan peserta diskusi tentang konsep tentang PLN supaya semua selesai, Zul menjelaskan “memang yang sering jadi masalah adalah banyak orang yang tidak memahami kondisi real di PLN, baru melihat kulitnya sudah berkomentar dan memberikan analisa macam-macam tentang PLN, ini justru memperburuk keadaan dan pukulan pertama dan telak bagi PLN adalah kerugian yang dialami PLN ketika Pemilu 2004 berlangsung, kita harus segara melakukan recovery, jangan kemudian ‘sok tau’ dan asal bicara tetapi tidak punya kompetensi tentang PLN, solusi bagi PLN adalah bagaimana mengkomunikasikan bahasa-bahasa yang menjadi masalah ditingkatan internal PLN, tambah Zul yang di ikuti tepuk tangan meriah audien.
(Imran-staff humas dan media)






