Articles » 16 Januari 2007 » Hit: 634
Kemampuan Teknologi
Ada semacam adagium yang sering sekali dikemukan oleh mereka yang kebetulan belajar tentang teori pembangunan bahwa negara-negara yang sekarang terbelakang, berkembang dan sedang mengejar ketertinggalannya sebenarnya memiliki proses industrialisasi yang lebih cepat dibandingkan negara-negara maju pada tahap industrialisasi yang serupa.
Dibandingkan dengan negara maju yang ada sekarang, negara berkembang tak harus melewati proses panjang dan berliku untuk menemukan pola industrialisasinya yang sesuai. Negara maju diyakini telah meninggalkan banyak jejak dan akumulasi pengalaman yang bisa ditiru untuk dijadikan pijakan. Negara berkembang tak harus berjibaku untuk melakukan penemuan (invention) pada banyak basic sciences, mereka tinggal menggunakan saja apa yang telah ditemukan oleh negara maju. Konon dengan memanfaatkan apa yang telah ditemukan tadi, negara-negara berkembang diuntungkan dengan adanya penghematan waktu pembelajaran.
Jepang dan Korea adalah contoh yang sering disematkan untuk mendukung argumen di atas. Jepang dan Korea adalah waktu yang sangat cepat dan mampu mentransformasikan diri dari negara miskin terhina menjadi negara maju berwibawa. Dan proses menuju kemajuan ini butuh waktu yang relatif singkat dibandingkan pengalaman menuju kemajuan yang dialami negara-negara Eropa Barat maupun Amerika pada tahapan industrialisasi yang serupa.
Sayangnya fenomena kemajuan Jepang, Korea dan segelintir negara-negara Asia Timur lainnya ternyata tidak diikuti oleh banyak negara berkembang lainnya. Pertanyaannya kemudian, kenapa Jepang dan Korea mampu maju sedangkan negara-negara berkembang lain tidak? Atau kenapa banyak negara berkembang tak mampu mengoptimalkan potensinya untuk bangkit mengejar ketertinggalan?
Ada banyak alas an memang, tapi para ahli pembangunan kini sepakat bahwa pemaknaan proses akuisisi dan pembelajaran teknologi yang keliru adalah salah satu penyebab utama dari gagalnya banyak negara berkembang mengejar ketertinggalannya.
Pemaknaan pembelajaran teknologi yang tepat seperti yang dilakukan Jepang dan Korea melibatkan lebih dari sekedar pembelian mesin dan belajar petunjuk pengoperasiannya. Mereka sadar betul bahwa banyak sifat “tacit” dari teknologi yang sulit dikomunikasikan secara efektif untuk melakukan aktivitas yang kompleks. Transfer teknologi memang diperlukan, tapi itu saja tidak cukup. Pengadopsian dan penguasaan teknologi yang efektif membutuhkan akuisisi pengetahuan tentang seperangkat prosedur, pemahaman mengapa prosedur tersebut dapat bekerja serta bagaimana menginternalisasikan keahlian dalam menggunakan alat dan prosedur tersebut.
Proses pebelajaran yang tidak saja direduksi maknanya sebatas pembelian mesin inilah yang sering disebut dengan proses akumulasi kemampuan teknologi. Kemampuan teknologi (technological capability), kemampuan untuk melakukan internalisasi dan mengelola perubahan teknologi menjadi salah satu kunci sukses Jepang dan Korea bermetamorfosis dari negara miskin menjadi negara maju bermartabat dan mandiri.
Melihat cerita sukses Jepang dan Korea di atas, maka negara berkembang yang lain harus mampu tidak hanya melakukan transfer teknologi, tetapi uga memberi perhatian kepada bagaimana mereka harus membangun kemampuan teknologinya. Hanya dengan kemampuan teknologi yang memadai, maka mereka akan mampu mengejar ketertinggalannya dalam proses industrialisasi dan pembangunan.
Saying sekali memahami dan membandingkan studi-studi tentang akuisisi kemampuan tidaklah mudah. Sebagian karena sumberdaya yang terakumulasi sangat luas dan sulit untuk dikategorisasi. Ia terdiri dari kemampuan manusia : keahlian, pengalaman, pengetahuan yang ada dalam diri manusia berikut sumberdaya institusi : prosedur internal, petunjuk pelaksanaan dan struktur organisasi perusahaan dan hubungan luar yang terjalin dengan perusahaan dan institusi lain.
Salah satu pendekatan yang umum adalah membedakan tiga tipe kemampuan yaitu : kemampuan produksi, investasi dan inovasi.
Kemampuan produksi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumberdaya yang dibutuhkan untuk menjalankan pabrik dan proses secara efisien untuk memproduksi produk yang telah ada. Kemampuan ini membuat perusahaan dapat memonitor masukan bahan baku, mengatur produksi, mengawasi kualitas luaran, memelihara dan memperbaiki mesin dan secara umum berhubungan dengan persoalan sehari-sehari.
Kemampuan investasi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumberdaya yang dibutuhkan perusahaan untuk memperluas fasilitas produksi, membeli dan memasang perlengkapan standar; juga untuk mencari, mengevaluasi dan memilih teknologi dan sumbernya untuk kegiatan produksi baru. Terakhir dan paling penting adalah kemampuan inovasi dan adaptasi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumberdaya yang dibutuhkan untuk mengasimilasi, mengubah dan menciptakan teknologi melalui kegiatan perluasan modal, adaptasi dan modifikasi produk.
Proses akumulasi kemampuan diatas tidaklah terjadi sekaligus, melainkan melalui proses yang bertahap dan kumulatif. Secara umum kegiatan tersebut bermula dari kegiatan rutin yang sederhana di mana pembelajaran didasarkan pada pengalaman sampai kegiatan adaptasi dan imitasi yang kompleks yang membutuhkan fungsi-fungsi pencarian sampai kegiatan yang paling inovatif yang berdasarkan hasil riset yang lebih formal.
Dr.Zulkieflimansyah,SE,MSc
Dimuat di majalah Usahawan No.06 TH XXXI Juni 2002
Dibandingkan dengan negara maju yang ada sekarang, negara berkembang tak harus melewati proses panjang dan berliku untuk menemukan pola industrialisasinya yang sesuai. Negara maju diyakini telah meninggalkan banyak jejak dan akumulasi pengalaman yang bisa ditiru untuk dijadikan pijakan. Negara berkembang tak harus berjibaku untuk melakukan penemuan (invention) pada banyak basic sciences, mereka tinggal menggunakan saja apa yang telah ditemukan oleh negara maju. Konon dengan memanfaatkan apa yang telah ditemukan tadi, negara-negara berkembang diuntungkan dengan adanya penghematan waktu pembelajaran.
Jepang dan Korea adalah contoh yang sering disematkan untuk mendukung argumen di atas. Jepang dan Korea adalah waktu yang sangat cepat dan mampu mentransformasikan diri dari negara miskin terhina menjadi negara maju berwibawa. Dan proses menuju kemajuan ini butuh waktu yang relatif singkat dibandingkan pengalaman menuju kemajuan yang dialami negara-negara Eropa Barat maupun Amerika pada tahapan industrialisasi yang serupa.
Sayangnya fenomena kemajuan Jepang, Korea dan segelintir negara-negara Asia Timur lainnya ternyata tidak diikuti oleh banyak negara berkembang lainnya. Pertanyaannya kemudian, kenapa Jepang dan Korea mampu maju sedangkan negara-negara berkembang lain tidak? Atau kenapa banyak negara berkembang tak mampu mengoptimalkan potensinya untuk bangkit mengejar ketertinggalan?
Ada banyak alas an memang, tapi para ahli pembangunan kini sepakat bahwa pemaknaan proses akuisisi dan pembelajaran teknologi yang keliru adalah salah satu penyebab utama dari gagalnya banyak negara berkembang mengejar ketertinggalannya.
Pemaknaan pembelajaran teknologi yang tepat seperti yang dilakukan Jepang dan Korea melibatkan lebih dari sekedar pembelian mesin dan belajar petunjuk pengoperasiannya. Mereka sadar betul bahwa banyak sifat “tacit” dari teknologi yang sulit dikomunikasikan secara efektif untuk melakukan aktivitas yang kompleks. Transfer teknologi memang diperlukan, tapi itu saja tidak cukup. Pengadopsian dan penguasaan teknologi yang efektif membutuhkan akuisisi pengetahuan tentang seperangkat prosedur, pemahaman mengapa prosedur tersebut dapat bekerja serta bagaimana menginternalisasikan keahlian dalam menggunakan alat dan prosedur tersebut.
Proses pebelajaran yang tidak saja direduksi maknanya sebatas pembelian mesin inilah yang sering disebut dengan proses akumulasi kemampuan teknologi. Kemampuan teknologi (technological capability), kemampuan untuk melakukan internalisasi dan mengelola perubahan teknologi menjadi salah satu kunci sukses Jepang dan Korea bermetamorfosis dari negara miskin menjadi negara maju bermartabat dan mandiri.
Melihat cerita sukses Jepang dan Korea di atas, maka negara berkembang yang lain harus mampu tidak hanya melakukan transfer teknologi, tetapi uga memberi perhatian kepada bagaimana mereka harus membangun kemampuan teknologinya. Hanya dengan kemampuan teknologi yang memadai, maka mereka akan mampu mengejar ketertinggalannya dalam proses industrialisasi dan pembangunan.
Saying sekali memahami dan membandingkan studi-studi tentang akuisisi kemampuan tidaklah mudah. Sebagian karena sumberdaya yang terakumulasi sangat luas dan sulit untuk dikategorisasi. Ia terdiri dari kemampuan manusia : keahlian, pengalaman, pengetahuan yang ada dalam diri manusia berikut sumberdaya institusi : prosedur internal, petunjuk pelaksanaan dan struktur organisasi perusahaan dan hubungan luar yang terjalin dengan perusahaan dan institusi lain.
Salah satu pendekatan yang umum adalah membedakan tiga tipe kemampuan yaitu : kemampuan produksi, investasi dan inovasi.
Kemampuan produksi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumberdaya yang dibutuhkan untuk menjalankan pabrik dan proses secara efisien untuk memproduksi produk yang telah ada. Kemampuan ini membuat perusahaan dapat memonitor masukan bahan baku, mengatur produksi, mengawasi kualitas luaran, memelihara dan memperbaiki mesin dan secara umum berhubungan dengan persoalan sehari-sehari.
Kemampuan investasi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumberdaya yang dibutuhkan perusahaan untuk memperluas fasilitas produksi, membeli dan memasang perlengkapan standar; juga untuk mencari, mengevaluasi dan memilih teknologi dan sumbernya untuk kegiatan produksi baru. Terakhir dan paling penting adalah kemampuan inovasi dan adaptasi terdiri dari keahlian, pengetahuan, sumberdaya yang dibutuhkan untuk mengasimilasi, mengubah dan menciptakan teknologi melalui kegiatan perluasan modal, adaptasi dan modifikasi produk.
Proses akumulasi kemampuan diatas tidaklah terjadi sekaligus, melainkan melalui proses yang bertahap dan kumulatif. Secara umum kegiatan tersebut bermula dari kegiatan rutin yang sederhana di mana pembelajaran didasarkan pada pengalaman sampai kegiatan adaptasi dan imitasi yang kompleks yang membutuhkan fungsi-fungsi pencarian sampai kegiatan yang paling inovatif yang berdasarkan hasil riset yang lebih formal.
Dr.Zulkieflimansyah,SE,MSc
Dimuat di majalah Usahawan No.06 TH XXXI Juni 2002






