Kehendak Kuasa Di Ruang Mayapada

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Ahad, 14 Maret 2010
Political Update » 17 Juni 2009 » Hit: 494
Kehendak Kuasa Di Ruang Mayapada
“Yang nyata hanyalah kehendak, di luar itu adalah maya”. Ungkapan ini menggambarkan realitas politik sekarang yang bising dengan sensasi lewat aksi jargonistik, politik pencitraan, dan kampanye parsial lainnya. Ungkapan Arthur Schopenhauer dalam The world as will and idea itu membedah secara metafisis sesuatu yang tampak di permukaan (fenomena) guna menemukan sesuatu yang nyata dan esensial (numena) di balik penampakan. Itulah kehendak batiniah yang selalu menyertai setiap gerak lahiriah.

Dalam politik, kehendak selalu ditujukan untuk kepentingan kekuasaan. Semua tingkah laku politik pada esensinya mengarah pada kepentingan itu. Akibatnya, dunia politik lebih tepat disebut dunia maya atau “mayapada” karena tak ada kesejatian selain kehendak berkuasa (will to power). Pelbagai akselerasi politik menyangkut visi-misi, janji, slogan dan sebagainya merupakan penampakan dari kehendak tunggal yang terselubung.

Mirip sebuah drama bertopeng, wajah asli pemeran utama disembunyikan. Tanpa mengenal siapa aktor sesungguhnya, penonton dihipnotis dengan aksi sensasional dan kontroversial. Ditambah lagi setting panggung yang mengedepankan nuansa figuratif sehingga menenggelamkan makna dan pesan substansial dari pertunjukan. Di sinilah berlaku dua perbedaan ruang –meminjam istilah Anthony Giddens- antara ruang depan dan ruang belakang.

Ruang depan terdiri dari tempat di mana segala tindakan dan penampilan dipersiapkan dengan penuh gaya, formal, dan bisa diterima secara sosial. Sementara ruang belakang adalah tempat di balik layar di mana seseorang bertindak dan berpenampilan kurang formal. Di ruang belakang, aktivitas seseorang tidak lagi terdistribusi dalam kehidupan sosial selaku social being melainkan pergulatan diri yang bersifat personal sebagai human being.

Pandangan dan Karakter
Karena tindakan dan penampilan di ruang belakang dinyatakan kurang formal, maka seringkali wajah asli atau sejati seseorang nampak transparan. Hanya saja ada beberapa hambatan dan keterbatasan untuk mengenali lebih jauh kepribadian seseorang kecuali lewat biografi singkat dan kesaksian sepintas orang terdekat. Sebab itu, perlu melihat lebih jauh kehendak berkuasa yang dilapis di dunia maya lewat pandangan visioner serta kerangka konseptual yang diajukan. Tanpa tawaran dan pengajuan itu, kehendak tak akan terwujud.

Satu-satunya cara paling tepat adalah dengan cara menguji pandangan serta membaca karakter masing-masing guna melihat kesungguhan serta tingkat kemungkinannya dalam kenyataan. Sebab, pada dasarnya setiap orang punya potensi melahirkan pandangan utuh, memadai, genuine, dan rasional tapi hanya sedikit saja yang bisa merealisasikan. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya, mengingkari pandangannya sendiri seperti orang munafik, penguasa korup, dan sebagainya.

Pengujian pandangan bisa dilakukan melalui tiga hal, yaitu dari aspek koherensi (konsistensi atau kesinambungan pernyataan dan pemikiran), korespondensi (kesesuaian pernyataan dengan kenyataan), dan pragmatis dengan melihat plus dan minus suatu pandangan. Aspek pertama berupaya mengkaji konsep pembangunan di bidang politik, budaya, ekonomi dll seraya menilainya secara rasional. Aspek kedua melihat aplikasi pernyataan atau pemikiran dalam realitas. Hal ini mudah dilakukan karena capres yang ada sama-sama pernah memegang kendali pemerintahan. Sementara, aspek ketiga melihat pada dampak pragmatis bagi kehidupan masyarakat.

Sedangkan pembacaan karakter yang dimaksud adalah penelusuran kepribadian baik di ruang depan maupun ruang belakang yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Ruang depan bisa dilihat dari sikap kepemimpinan masing-masing terutama ketika menghadapi berbagai persoalan krisis sosial serta cara mengatasinya. Demikian pula di ruang belakang di mana personality terwujud dalam kebiasaan dan sikap yang kurang formal. Tentunya, pengujian pandangan dan pembacaan karakter tersebut harus dikontekstualisasikan dengan persoalan dan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.

Oikos dan Polis
Selain pengujian pandangan dan karakter, untuk mengungkap kehendak berkuasa yang dilapisi “kebaikan” dalam realitas maya ialah dengan mengukur aksentuasi praktik transaksi, negosiasi, agitasi dan propaganda kepentingan di ruang publik. Seberapa jauh capres dan cawapres memaknai kekuasaan menjadi ukuran dasar paling mencolok. Sebab, di sini panggung politik dipastikan akan melesat jauh dari realitas dasarnya, yaitu pencarian keutamaan (agathon) bagi kehidupan bersama.

Pada dasarnya, sebagaimana Aristoteles, harus dibedakan antara oikos (rumah tangga) dan polis (negara kota). Dalam rumah tangga, berlaku hukum keniscayaan menguasai dan dikuasai antara laki-laki dan perempuan, majikan dan budak. Sementara kehidupan bersama di ruang publik dipahami sebagai jalan kebebasan mencapai keutamaan dan kebaikan. Bila oikos di ruang privat ditandai dengan praktik kekuasaan, maka dalam polis diwarnai dengan penyampaian aspirasi demi kepentingan bersama.

Dipandang dari perspektif ini, sangat tidak layak melakukan politisasi atas masyarakat lewat pencitraan untuk meraih simpati dengan alasan apapun. Namun kenyataannya, realitas politik sekarang jelas sekali telah terjadi distorsi pemahaman yang jauh dari pengertian dasarnya. Berbagai praktik jual beli kekuasaan layaknya politik dagang sapi marak dipertontonkan di ruang publik. Mulai dari sensasi koalisi, perang jargon, saling ungkit kasalahan, safari politik hingga kampanye murahan membuat politik semakin mengambang dipenuhi suara sumbang. Kondisi demikian semakin menegaskan mayapada politik yang sarat dengan kepalsuan dan kepura-puraan.

Ironisnya, keadaan tersebut selalu terulang di setiap momen pemilu bahkan keadaannya semakin parah. Akibatnya, pemimpin yang ada selama ini adalah pemimpin politik yang mengabdi pada kepentingan diri dan kelompok, bukan pemimpin bangsa yang bisa mengakomodir seluruh kepentingan demi keutamaan dan kebaikan bersama. Pemimpin yang mampu menerjemahkan kehendak jiwa bangsa (spirit of nation) untuk mencapai kesejahteraan. (Adi)