Book Review » 28 Mei 2008 » Hit: 894
Dua Wajah Islam
Moderatisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global
Oleh : Stephen Sulaiman Schwartz
Melihat dari judulnya cenderung provokatif. Secara harfiah ia bisa bermakna munafik; dua wajah, dua standar, dua sikap, serba kemenduaan yang bisa saja dipraktikkan sesuai dengan suasana kebutuhan dan kepentingan. Namun dengan mengikuti baris demi baris buku ini, maka akan menjadi jelas bahwa penulisnya tengah berusaha menyajikan potret Islam, dua wajah yang dibidik dengan lensa sosio- kultural.
Pada buku setebal 450 halaman ini dalam epilognya penulis yang merupakan Direktur Eksekutif Center for Islamic Pluralis memulai ceritanya dengan peringatan pertama peristiwa 11 September 2001, terjadi krisis yang hebat dalam Wahhabisme dan Negara Saudi. Pada akhir 2002, di Amerika Serikat muncul berita-berita mengenai Putri Haifa, istri duta besar Saudi untuk Washington, Pangeran Bandar Saudairi Abdul Aziz, yang melakukan pengiriman uang terakhir pada dua orang yang ikut dalam pembajak pesawat pada 11 september, yakni Khalid Al-Midbar dan Nawaf Alhazmi.
Dokter keluarga istana, Adel Al-Jubeir banyak muncul di jaringan televisi Amerika untuk membantah keterlibatan rezim Saudi dalam segala konspirasi teroris. Ia beruntung karena para pemimpin politik di Amerika tidak bersedia mendesak dilakukannya penyelidikan yang utuh dan transparan mengenai keterlibatan Arab Saudi dalam organisasi Al-Qaeda.
Menurut penulis Al-Qaeda dan pasukan kavalerinya tidak lain merupakan hasil perkawinan ideologi Wahhabi dan Kerajaan Saudi. Ini teridentifikasi dari data pembajak 11 September di antaranya seperti:
1. Wael Muhammad Al-Shehri berusia 25tahun, seorang guru fisika di sebuah Sekolah Menengah Pertama dekat Pangkalan Udara Kamis Mushayat di Arab Saudi.
2. Waleed Al-Shehri berusia 21 tahun, drop out dari sebuah sekolah Guru. Di antara saudara-saudaranya ada yang menjadi perwira angkatan bersenjata Arab Saudi, termasuk seorang pilot Angkatan Udara.
3. Abdul Aziz Abdurrahman Al-Omari berusia 23 tahun, lulusan Universitas Imam Muhammad Bin Sa’ud, sebuah lembaga pendidikan agama yang bergengsi di Arab Saudi, dan merupakan murid seorang ulama senior di Saudi.
Sikap para politisi Amerika yang aneh dan tak menuntut tanggung jawab Arab Saudi tetap bertahan bahkan hingga penyerbuan militer AS ke Irak. Di sisi lain, pihak Saudi hanya melakukan tindakan-tindakan kecil terhadap para penyandang dana terorisme di negeri tersebut. Misalnya setelah muncul tuntutan hukum dari keluarga korban 11 September, yang menyoroti dukungan Saudi atas Al-Qaedah, Riyadh bergerak lebih serius untuk membatasi aktivitas Yayasan Islam Al-Haramain, dengan menutup kantor-kantornya di Bosnia-Herzegovina dan Somalia pada bulan Maret 2002 karena dianggap memiliki hubungan dengan kegiatan terorisme.
Tiga belas bulan kemudian rekening-rekeningnya di dalam negeri dibekukan Al-Haramain dipimpin oleh Dr. Ali Al-Murshed, mantan direktur Girl’s Education Presidency di Mekah yang terbakar di bulan Maret 2002 menewaskan 14 murid perempuan. Direktur Umum Yayasan Al-Haramain dipegang Mentri Urusan Agama Islam, Saleh Al-Shaikh, seorang anggota keluarga Ibn Abdul-Wahhab. Tapi keburukan Wahhabi/Saudi tetap berlangsung di dalam dan di luar negeri, bahkan saat pasukan koalisi merebut Baghdad. Pada dasarnya, para pemimpin Wahhabi tidak rela jika muncul masyarakat yang berkiblat ke Barat, prodemokrasi, yang dipelopori oleh kalangan terdidik Syiah di Irak dan di wilayah perbatasan utara kerajaan itu.
Dalam masa depan Islam (Future of Islam) bulan April 2003 sebuah jurnal terbitan Majelis Pemuda Muslim Dunia (WAMY) yang bermarkas di Riyadh dengan kantor cabang di bagian utara Virginia, ada wawancara ulama dengan Saudi, Ayed Al-Qarni, yang merupakan penasihat Pangeran Abdul Aziz bin Fahd anak bungsu Raja Fahd. Al Qarni sebelumnya telah mengeluarkan sebuah slogan yang direkam dan berulang kali disiarkan di televisi dan radio Saudi selama berlangsung konflik di Irak. Ia menyatakan “Bunuhlah musuh-musuh yang kafir dan katakan, La ilaha illa Allah,”. Dalam wawancara majalah itu, dia menyatakan bahwa dirinya setiap hari mendoakan kehancuran Amerika, yang dianggap sumber utama penderitaan dunia. Dia juga mendesak agar rakyat Saudi berjihad dan mati di Irak serta menyumbangkan uang untuk membantu Saddam. Banyak orang fanatik yang putus asa juga berbuat seperti ini.
Al-Qarni tidak sendirian. Masih di bulan April, ulama Wahhabi yang lain, Naser Al-Omar, mendorong dilakukannya serangan-serangan bunuh diri kepada pasukan koalisi di Irak. Dia termasuk diantara mereka yang menandatangani sebuah fatwa untuk membela Presiden Saddam Hussein, yang dibagikan di kantor-kantor pemerintah dan rumah sakit. Dalam Masa Depan Islam juga ada wawancara tidak kritis dengan duta besar AS untuk Arab Saudi, Robert Jordan, dan anehnya, pada saat yang bersamaan, dia menolak bertemu dengan aktivis Syiah dan Hak-Hak Asasi Manusia di Saudi. (Jordan mengejek para pengkritik Arab Saudi yang tidak seperti dia, belum pernah tinggal di negeri itu. Orang pasti bertanya, sebelum tahun 1989 apakah ada duta besar di bekas Uni Soviet yang diizinkan memberi komentar seperti itu, mengecam para antikomunis atas dasar belum pernah pergi ke Moskow).
Namun Jordan terpaksa meninggalkan sifat melacurnya kepada monarki Saudi setelah terjadi pemboman di Riyadh pada malam 21 Mei 2003, dimana sembilan orang Amerika terbunuh, dari 30 orang yang meninggal. Dia terpaksa mengecam pemerintah Saudi yang menolak memberi jaminan keamanan yang memadai kepada kompleks perumahan yang didiami masyarakat Amerika dan orang asing lainnya. Tapi pemboman Riyadh yang disusul peristiwa serupa di Maroko dan Checnya, hanya menggambarkan kejahatan yang telah diramalkan. Pesannya jelas: Sayap ultrawahhabi di Saudi tidak akan tinggal diam dengan dirintisnya demokrasi yang memberi ruang pada kelompok mayoritas Syiah di Irak. Mereka jugalah yang melakukan tindakan subversi di Irak. Sebagaimana dikatakan seorang pemimpin Syiah di Amerika, Agha Shaukat Jafri, ”Jalan di Arab adalah Jalan Wahhabi, dan ketika ada orang-orang Arab berdemonstrasi menentang AS di Irak, Wahhabi tidak jauh dari tempat itu.”
Sebelum pemboman di Riyadh, telah muncul hasutan kelompok Wahhabi terhadap kelompok Syiah. Selama perang Irak, di sebuah kelas Jurusan Kebudayaan Islam Universitas King Sa’ud diajarkan alasan dan cara memerangi Amerika atas nama ”Jihad”. Pengajarnya Dr.Abdullah Al-Rayes, menyerukan serangan-serangan kepada Amerika di Irak, Filipina, Kashmir (padahal militer Amerika tidak pernah kesana), dan Bosnia-Herzegovina (dimana pasukan Amerika melindungi umat Islam dari teror pasukan Serbia). Al-Rayes juga terus menerus menghina Syiah mendoakan kematian dan kehancuran mereka dan memuji Saddam karena membunuh Syiah yang dianggap’ateis’. Kampus Universitas King Sa’ud telah lama tercemar dengan literatur kebencian yang menyerang Syiah sebagai musuh ‘nomor satu’ yang lebih berbahaya ketimbang Yahudi dan Kristen. Sementara itu tokoh Wahhabi, Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayef, dilaporkan telah mengeluarkan perintah tahunan yang melarang keluarga Syiah memasukkan anak-anak mereka ke lembaga-lembaga pendidikan yang lebih tinggi di kerajaan itu. Nayef juga menyatakan bahwa bangsa Yahudi-lah yang melakukan serangan-serangan teroris 11 September. Setelah pemboman di Riyadh ia memberi pesan kepada Amerika Serikat: semua ini terjadi tanpa bisa dihindari atau dicegah, dan orang asing yang datang ke kerajaan Saudi harus bisa membiasakan dirinya dengan kejadian tersebut.
Serangan kepada Syiah di Saudi juga mencakup pelemparan batu di jalan-jalan belahan selatan kota Najran. Di daerah mayoritas Syiah ini, sebelum dan sesudah pemboman di Riyadh tiga pusat komunitas Syiah di Provinsi Timur dihancurkan, dan terjadi penculikan terhadap seorang ulama Syiah yang buta, Syaikh Ibrahim Al-Garaash, yang berusia 65 tahun, dari kota Qatif. Tokoh Wahhabi Syaikh Naser Al-Omar telah menyerukan penyitaan masjid dan pusat komunitas Syiah memaksa mereka menjadi Wahhabi, dan menahan semua pemimpinnya.
Peringatan para sarjana Islam dan para pengelana Eropa mengenai bahaya Wahhabisme telah diabaikan secara turun temurun, khususnya setelah para penguasa Barat bermitra dengan Wahhabi Saudi demi minyak. Lagi pula, elite-elite Barat menganggap isu-isu dalam Islam tak berkaitan dengan mereka. Padahal dalam sejarah, para rezim, monarki-absolut dan diktator, akomodasi pada ketidakadilan akan selalu gagal. Pertanyaannya: di Arab Saudi, apakah waktunya telah tiba, atau sedang mendekat dengan cepat. Dalam kasus kemerdekaan Amerika dari Inggris, momen kebenarannya telah terlihat dalam pesta di Boston. Dalam sejarah Prancis, momennya ditandai dengan jatuhnya Bastille; dalam sejarah panjang penindasan para Tsar, ditandai dengan pembantaian Minggu berdarah di tahun 1905.
Ringkasnya, menurut penulis, generasi-generasi Saudi yang merindukan kehidupan normal, pasti dan tak terhindarkan, akan bergerak untuk mengakhiri kekuasaan Wahhabi. Dengan demikian sebuah pertanyaan akhir masih tersisa. Ketika waktu penting itu tiba, akankah organ-organ bersenjata yang membela Negara, yakni tentara, polisi, dan pengawal nasional Saudi, mematuhi perintah milisi Wahhabi yang fanatik, mutawiyin yang banyak dibenci, para patron dan kaki tangan Bin Laden? Apakah mereka akan melayani kekuatan-kekuatan hitam yang menindas rakyat yang menuntut Islam yang adil, benar dan jelas? Akankah anak-anak rakyat menembak rakyat? Insyaallah tidak akan ada pertumpahan darah, dan pluralisme akan kembali ke Dua Tempat Suci. (Dewi)
Oleh : Stephen Sulaiman Schwartz
Melihat dari judulnya cenderung provokatif. Secara harfiah ia bisa bermakna munafik; dua wajah, dua standar, dua sikap, serba kemenduaan yang bisa saja dipraktikkan sesuai dengan suasana kebutuhan dan kepentingan. Namun dengan mengikuti baris demi baris buku ini, maka akan menjadi jelas bahwa penulisnya tengah berusaha menyajikan potret Islam, dua wajah yang dibidik dengan lensa sosio- kultural.
Pada buku setebal 450 halaman ini dalam epilognya penulis yang merupakan Direktur Eksekutif Center for Islamic Pluralis memulai ceritanya dengan peringatan pertama peristiwa 11 September 2001, terjadi krisis yang hebat dalam Wahhabisme dan Negara Saudi. Pada akhir 2002, di Amerika Serikat muncul berita-berita mengenai Putri Haifa, istri duta besar Saudi untuk Washington, Pangeran Bandar Saudairi Abdul Aziz, yang melakukan pengiriman uang terakhir pada dua orang yang ikut dalam pembajak pesawat pada 11 september, yakni Khalid Al-Midbar dan Nawaf Alhazmi.
Dokter keluarga istana, Adel Al-Jubeir banyak muncul di jaringan televisi Amerika untuk membantah keterlibatan rezim Saudi dalam segala konspirasi teroris. Ia beruntung karena para pemimpin politik di Amerika tidak bersedia mendesak dilakukannya penyelidikan yang utuh dan transparan mengenai keterlibatan Arab Saudi dalam organisasi Al-Qaeda.
Menurut penulis Al-Qaeda dan pasukan kavalerinya tidak lain merupakan hasil perkawinan ideologi Wahhabi dan Kerajaan Saudi. Ini teridentifikasi dari data pembajak 11 September di antaranya seperti:
1. Wael Muhammad Al-Shehri berusia 25tahun, seorang guru fisika di sebuah Sekolah Menengah Pertama dekat Pangkalan Udara Kamis Mushayat di Arab Saudi.
2. Waleed Al-Shehri berusia 21 tahun, drop out dari sebuah sekolah Guru. Di antara saudara-saudaranya ada yang menjadi perwira angkatan bersenjata Arab Saudi, termasuk seorang pilot Angkatan Udara.
3. Abdul Aziz Abdurrahman Al-Omari berusia 23 tahun, lulusan Universitas Imam Muhammad Bin Sa’ud, sebuah lembaga pendidikan agama yang bergengsi di Arab Saudi, dan merupakan murid seorang ulama senior di Saudi.
Sikap para politisi Amerika yang aneh dan tak menuntut tanggung jawab Arab Saudi tetap bertahan bahkan hingga penyerbuan militer AS ke Irak. Di sisi lain, pihak Saudi hanya melakukan tindakan-tindakan kecil terhadap para penyandang dana terorisme di negeri tersebut. Misalnya setelah muncul tuntutan hukum dari keluarga korban 11 September, yang menyoroti dukungan Saudi atas Al-Qaedah, Riyadh bergerak lebih serius untuk membatasi aktivitas Yayasan Islam Al-Haramain, dengan menutup kantor-kantornya di Bosnia-Herzegovina dan Somalia pada bulan Maret 2002 karena dianggap memiliki hubungan dengan kegiatan terorisme.
Tiga belas bulan kemudian rekening-rekeningnya di dalam negeri dibekukan Al-Haramain dipimpin oleh Dr. Ali Al-Murshed, mantan direktur Girl’s Education Presidency di Mekah yang terbakar di bulan Maret 2002 menewaskan 14 murid perempuan. Direktur Umum Yayasan Al-Haramain dipegang Mentri Urusan Agama Islam, Saleh Al-Shaikh, seorang anggota keluarga Ibn Abdul-Wahhab. Tapi keburukan Wahhabi/Saudi tetap berlangsung di dalam dan di luar negeri, bahkan saat pasukan koalisi merebut Baghdad. Pada dasarnya, para pemimpin Wahhabi tidak rela jika muncul masyarakat yang berkiblat ke Barat, prodemokrasi, yang dipelopori oleh kalangan terdidik Syiah di Irak dan di wilayah perbatasan utara kerajaan itu.
Dalam masa depan Islam (Future of Islam) bulan April 2003 sebuah jurnal terbitan Majelis Pemuda Muslim Dunia (WAMY) yang bermarkas di Riyadh dengan kantor cabang di bagian utara Virginia, ada wawancara ulama dengan Saudi, Ayed Al-Qarni, yang merupakan penasihat Pangeran Abdul Aziz bin Fahd anak bungsu Raja Fahd. Al Qarni sebelumnya telah mengeluarkan sebuah slogan yang direkam dan berulang kali disiarkan di televisi dan radio Saudi selama berlangsung konflik di Irak. Ia menyatakan “Bunuhlah musuh-musuh yang kafir dan katakan, La ilaha illa Allah,”. Dalam wawancara majalah itu, dia menyatakan bahwa dirinya setiap hari mendoakan kehancuran Amerika, yang dianggap sumber utama penderitaan dunia. Dia juga mendesak agar rakyat Saudi berjihad dan mati di Irak serta menyumbangkan uang untuk membantu Saddam. Banyak orang fanatik yang putus asa juga berbuat seperti ini.
Al-Qarni tidak sendirian. Masih di bulan April, ulama Wahhabi yang lain, Naser Al-Omar, mendorong dilakukannya serangan-serangan bunuh diri kepada pasukan koalisi di Irak. Dia termasuk diantara mereka yang menandatangani sebuah fatwa untuk membela Presiden Saddam Hussein, yang dibagikan di kantor-kantor pemerintah dan rumah sakit. Dalam Masa Depan Islam juga ada wawancara tidak kritis dengan duta besar AS untuk Arab Saudi, Robert Jordan, dan anehnya, pada saat yang bersamaan, dia menolak bertemu dengan aktivis Syiah dan Hak-Hak Asasi Manusia di Saudi. (Jordan mengejek para pengkritik Arab Saudi yang tidak seperti dia, belum pernah tinggal di negeri itu. Orang pasti bertanya, sebelum tahun 1989 apakah ada duta besar di bekas Uni Soviet yang diizinkan memberi komentar seperti itu, mengecam para antikomunis atas dasar belum pernah pergi ke Moskow).
Namun Jordan terpaksa meninggalkan sifat melacurnya kepada monarki Saudi setelah terjadi pemboman di Riyadh pada malam 21 Mei 2003, dimana sembilan orang Amerika terbunuh, dari 30 orang yang meninggal. Dia terpaksa mengecam pemerintah Saudi yang menolak memberi jaminan keamanan yang memadai kepada kompleks perumahan yang didiami masyarakat Amerika dan orang asing lainnya. Tapi pemboman Riyadh yang disusul peristiwa serupa di Maroko dan Checnya, hanya menggambarkan kejahatan yang telah diramalkan. Pesannya jelas: Sayap ultrawahhabi di Saudi tidak akan tinggal diam dengan dirintisnya demokrasi yang memberi ruang pada kelompok mayoritas Syiah di Irak. Mereka jugalah yang melakukan tindakan subversi di Irak. Sebagaimana dikatakan seorang pemimpin Syiah di Amerika, Agha Shaukat Jafri, ”Jalan di Arab adalah Jalan Wahhabi, dan ketika ada orang-orang Arab berdemonstrasi menentang AS di Irak, Wahhabi tidak jauh dari tempat itu.”
Sebelum pemboman di Riyadh, telah muncul hasutan kelompok Wahhabi terhadap kelompok Syiah. Selama perang Irak, di sebuah kelas Jurusan Kebudayaan Islam Universitas King Sa’ud diajarkan alasan dan cara memerangi Amerika atas nama ”Jihad”. Pengajarnya Dr.Abdullah Al-Rayes, menyerukan serangan-serangan kepada Amerika di Irak, Filipina, Kashmir (padahal militer Amerika tidak pernah kesana), dan Bosnia-Herzegovina (dimana pasukan Amerika melindungi umat Islam dari teror pasukan Serbia). Al-Rayes juga terus menerus menghina Syiah mendoakan kematian dan kehancuran mereka dan memuji Saddam karena membunuh Syiah yang dianggap’ateis’. Kampus Universitas King Sa’ud telah lama tercemar dengan literatur kebencian yang menyerang Syiah sebagai musuh ‘nomor satu’ yang lebih berbahaya ketimbang Yahudi dan Kristen. Sementara itu tokoh Wahhabi, Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayef, dilaporkan telah mengeluarkan perintah tahunan yang melarang keluarga Syiah memasukkan anak-anak mereka ke lembaga-lembaga pendidikan yang lebih tinggi di kerajaan itu. Nayef juga menyatakan bahwa bangsa Yahudi-lah yang melakukan serangan-serangan teroris 11 September. Setelah pemboman di Riyadh ia memberi pesan kepada Amerika Serikat: semua ini terjadi tanpa bisa dihindari atau dicegah, dan orang asing yang datang ke kerajaan Saudi harus bisa membiasakan dirinya dengan kejadian tersebut.
Serangan kepada Syiah di Saudi juga mencakup pelemparan batu di jalan-jalan belahan selatan kota Najran. Di daerah mayoritas Syiah ini, sebelum dan sesudah pemboman di Riyadh tiga pusat komunitas Syiah di Provinsi Timur dihancurkan, dan terjadi penculikan terhadap seorang ulama Syiah yang buta, Syaikh Ibrahim Al-Garaash, yang berusia 65 tahun, dari kota Qatif. Tokoh Wahhabi Syaikh Naser Al-Omar telah menyerukan penyitaan masjid dan pusat komunitas Syiah memaksa mereka menjadi Wahhabi, dan menahan semua pemimpinnya.
Peringatan para sarjana Islam dan para pengelana Eropa mengenai bahaya Wahhabisme telah diabaikan secara turun temurun, khususnya setelah para penguasa Barat bermitra dengan Wahhabi Saudi demi minyak. Lagi pula, elite-elite Barat menganggap isu-isu dalam Islam tak berkaitan dengan mereka. Padahal dalam sejarah, para rezim, monarki-absolut dan diktator, akomodasi pada ketidakadilan akan selalu gagal. Pertanyaannya: di Arab Saudi, apakah waktunya telah tiba, atau sedang mendekat dengan cepat. Dalam kasus kemerdekaan Amerika dari Inggris, momen kebenarannya telah terlihat dalam pesta di Boston. Dalam sejarah Prancis, momennya ditandai dengan jatuhnya Bastille; dalam sejarah panjang penindasan para Tsar, ditandai dengan pembantaian Minggu berdarah di tahun 1905.
Ringkasnya, menurut penulis, generasi-generasi Saudi yang merindukan kehidupan normal, pasti dan tak terhindarkan, akan bergerak untuk mengakhiri kekuasaan Wahhabi. Dengan demikian sebuah pertanyaan akhir masih tersisa. Ketika waktu penting itu tiba, akankah organ-organ bersenjata yang membela Negara, yakni tentara, polisi, dan pengawal nasional Saudi, mematuhi perintah milisi Wahhabi yang fanatik, mutawiyin yang banyak dibenci, para patron dan kaki tangan Bin Laden? Apakah mereka akan melayani kekuatan-kekuatan hitam yang menindas rakyat yang menuntut Islam yang adil, benar dan jelas? Akankah anak-anak rakyat menembak rakyat? Insyaallah tidak akan ada pertumpahan darah, dan pluralisme akan kembali ke Dua Tempat Suci. (Dewi)