Economy » 05 Agustus 2006 » Hit: 204
DR. Zulkieflimansyah: UKM Berbau Asing Perlu Dilihat Secara Detil
Wawancara dengan KORMEN BARUS
Jakarta, NTT Online - Pembelaan terhadap UKM itu jangan hanya symbolik. Jadi perlu ada pemetaan sektor mana saja yang harus diprioritaskan oleh pemerintah. Pemerintah harus memperkenalkan UKM dengan pemain besar. Perlu diawasi pemain besar yang membawa teknologi dengan supliernya masing-masing. Kalau pemerintah harus tegas, UKM Indonesia akan mati.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi VI, DR. Zulkieflimansyah dalam wawancara dengan NTT Online di Galeri YDBA pertengahan Juli lalu.
Berikut petikannya…
Maksud konsep road map industri itu apa?
Kira-kira industri apa yang akan menjadi industri masa depan bangsa Indonesia.
Sekarang ini pemerintah memprioritaskan agro-industri. Kemudian transportasi, telematika, based manufacturing dan UKM. Ini perlu dijelaskan bahwa untuk UKM ini, apa yang harus dilakukan. Di based manufacturing kan ada juga UKM di sana. Tetapi bukan dengan membuka kran impor untuk komponen-komponen. Itu akan mematikan industri lokal.
Jadi perusahaan itu harus lobi-lobi terhadap perusahaan besar, untuk menyelamatkan UKM ini. Sub contracting itu harus bekerjasama dengan industri lokal. Kalau tidak UKM kita akan mati. Jadi keberpihakan Pemerintah pada UKM harus serius bukan karena kasihan. Jadi memang ada sektor tententu yang memang harus dilakukan oleh UKM. Yang paling utama adalah komponen otomotif, peralatan elektriks.
Ini lahan yang besar buat UKM. Jangan mengundang bahan baku impor lagi. Mungkin kualitas kita lebih jelek. Mungkin harga kita sedikit lebih mahal tetapi yang harus diperhitungkan oleh decision makers kita adalah, proses pembelajarannya. Learning cost itu harus dimasukkan dalam perhitungan. Kalau proses belajar itu tidak dihargai ada biayanya, kapan kita akan mandiri, nggak akan.
Ini saya melihat pengamat ekonomi melihatnya untuk jangka pendek saja. Sudah lihat di sana beli saja atas nama efisiensi, sebab mempelajarinya itu butuh waktu, butuh biaya.
Tetapi bukan itu bertentangan dengan pasar bebas?
Kita juga tidak bisa mengatakan ini gak boleh juga. Itu kekuatan lobi pemerintah dong. Negara yang menjadi sasaran ekspor kita juga punya standarisasi internasional. Oh ini tidak bisa masuk ke China, Australia, Malaysia, karena ada standarnya. Seharusnya Indonesia menciptakan standar yang cukup tinggi juga dong sebagai dealing bisnis kita. Kalau standar bisnis kita lambat ya susah.
Jadi masih dalam koridor-konridor yang masih dalam negosiasi. Jjadi, produk ini tidak bisa masuk Indonesia karena tidak punya standar ini. Bikin saja dengan alasan-alasan yang masuk akal dalam dealing bisnis. Tetapi jangan sampai karena mengejar jangka pendek, buka ini itu dan sebagainya.
Oleh karena itu yang berbau asing itu harus dilihat secara detail karena bagaimanapun proses pembelajaran UKM ini punya capability. Kami sudah melakukan penelitian, untuk logam misalnya. Di Tegal, Klaten, kita punya kemampuan bersaing asalkan pasarnya terjamin. Kadang-kadang bahan baku diimpor ini yang harus diatur oleh pemerintah.
Sebenarnya UKM mampu menyerap beberapa % dari angakatan tenaga kerja kita?
Sekarang UKM itu masih menjadi primadona yang mampu menyerap tenaga kerja. Karena banyak tenaga kerja kita itu capability dalam arti engeneering capability-nya kurang, skill-nya kurang. Yang mampu menyerap mereka adalah UKM. Jadi banyak investor asing misalnya Exxon, minyak, dan sebagainya, itu capital intensif, engeneering capability yang dibutuhkan high skill. Jadi memang betul investor ada tetapi tidak mampu menyerap tenaga kerja. Mengapa UKM menyerap tenaga kerja, karena tidak membutuhkan skill yang tidak lumayan tinggi.
Sumber : www.ntt-online.org
Jakarta, NTT Online - Pembelaan terhadap UKM itu jangan hanya symbolik. Jadi perlu ada pemetaan sektor mana saja yang harus diprioritaskan oleh pemerintah. Pemerintah harus memperkenalkan UKM dengan pemain besar. Perlu diawasi pemain besar yang membawa teknologi dengan supliernya masing-masing. Kalau pemerintah harus tegas, UKM Indonesia akan mati.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi VI, DR. Zulkieflimansyah dalam wawancara dengan NTT Online di Galeri YDBA pertengahan Juli lalu.
Berikut petikannya…
Maksud konsep road map industri itu apa?
Kira-kira industri apa yang akan menjadi industri masa depan bangsa Indonesia.
Sekarang ini pemerintah memprioritaskan agro-industri. Kemudian transportasi, telematika, based manufacturing dan UKM. Ini perlu dijelaskan bahwa untuk UKM ini, apa yang harus dilakukan. Di based manufacturing kan ada juga UKM di sana. Tetapi bukan dengan membuka kran impor untuk komponen-komponen. Itu akan mematikan industri lokal.
Jadi perusahaan itu harus lobi-lobi terhadap perusahaan besar, untuk menyelamatkan UKM ini. Sub contracting itu harus bekerjasama dengan industri lokal. Kalau tidak UKM kita akan mati. Jadi keberpihakan Pemerintah pada UKM harus serius bukan karena kasihan. Jadi memang ada sektor tententu yang memang harus dilakukan oleh UKM. Yang paling utama adalah komponen otomotif, peralatan elektriks.
Ini lahan yang besar buat UKM. Jangan mengundang bahan baku impor lagi. Mungkin kualitas kita lebih jelek. Mungkin harga kita sedikit lebih mahal tetapi yang harus diperhitungkan oleh decision makers kita adalah, proses pembelajarannya. Learning cost itu harus dimasukkan dalam perhitungan. Kalau proses belajar itu tidak dihargai ada biayanya, kapan kita akan mandiri, nggak akan.
Ini saya melihat pengamat ekonomi melihatnya untuk jangka pendek saja. Sudah lihat di sana beli saja atas nama efisiensi, sebab mempelajarinya itu butuh waktu, butuh biaya.
Tetapi bukan itu bertentangan dengan pasar bebas?
Kita juga tidak bisa mengatakan ini gak boleh juga. Itu kekuatan lobi pemerintah dong. Negara yang menjadi sasaran ekspor kita juga punya standarisasi internasional. Oh ini tidak bisa masuk ke China, Australia, Malaysia, karena ada standarnya. Seharusnya Indonesia menciptakan standar yang cukup tinggi juga dong sebagai dealing bisnis kita. Kalau standar bisnis kita lambat ya susah.
Jadi masih dalam koridor-konridor yang masih dalam negosiasi. Jjadi, produk ini tidak bisa masuk Indonesia karena tidak punya standar ini. Bikin saja dengan alasan-alasan yang masuk akal dalam dealing bisnis. Tetapi jangan sampai karena mengejar jangka pendek, buka ini itu dan sebagainya.
Oleh karena itu yang berbau asing itu harus dilihat secara detail karena bagaimanapun proses pembelajaran UKM ini punya capability. Kami sudah melakukan penelitian, untuk logam misalnya. Di Tegal, Klaten, kita punya kemampuan bersaing asalkan pasarnya terjamin. Kadang-kadang bahan baku diimpor ini yang harus diatur oleh pemerintah.
Sebenarnya UKM mampu menyerap beberapa % dari angakatan tenaga kerja kita?
Sekarang UKM itu masih menjadi primadona yang mampu menyerap tenaga kerja. Karena banyak tenaga kerja kita itu capability dalam arti engeneering capability-nya kurang, skill-nya kurang. Yang mampu menyerap mereka adalah UKM. Jadi banyak investor asing misalnya Exxon, minyak, dan sebagainya, itu capital intensif, engeneering capability yang dibutuhkan high skill. Jadi memang betul investor ada tetapi tidak mampu menyerap tenaga kerja. Mengapa UKM menyerap tenaga kerja, karena tidak membutuhkan skill yang tidak lumayan tinggi.
Sumber : www.ntt-online.org






