Articles » 19 Januari 2007 » Hit: 2260
CIRCLE OF DEATH : Gagalnya Perusahaan Membaca Sinyal Perubahan
Badai topan yang menghajar ekonomi Indonesia sejak awal Juli 1997 sampai sekarang terlampau dahsyat. Fenomena yang menarik untuk dikaji dari krisis ini adalah bertumbangnya sejumlah perusahaan konglomerasi yang selama ini diyakini tidak bakal ambruk.
Efek domino yang terjadi dari hantaman akumulasi masalah eksternal yang ada telah memporak-porandakan dunia usaha.
Kondisi lingkungan usaha menjadi semakin sulit diprediksi secara linier, karena memang fenomena linieritas sudah tidak ada lagi di dalam lingkungan bisnis yang semakin ganas. Penetrasi variable eksternal kedalam sistem organisasi perusahaan, hanya mungkin ditanggapi dengan baik bila pengelolaan usaha tidak lagi ada dasar business as usual.
Mempertahankan diri untuk tetap exist dan survive dalam lingkungan usaha yang bergejolak saat ini bukan persoalan mudah. Menurut De Geus, pakar Strategic Management dan Bisnis Internasional dari London Business School setidaknya ada dua alas an mengapa perusahaan yang ada kini tidak mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Pertama, perusahaan-perusahaan tersebut di tengah dinamisnya perubahan tidak mampu membaca, menangkap, dan mengidentifikasi sinyal-sinyal perubahan. Oleh karena itu ketika perubahan itu benar-benar terjadi, mereka tak siap menghadapinya karena struktur internalnya memang terlambat dan tak mampu melakukan penyesuaian.
Perusahaan-perusahaan tersebut bubar dan berakhir karena pihak manajemen perusahaan-perusahaan tersebut hanya memfokuskan diri dan terbelenggu secara sempit pada bahasa dan pemikiran ekonomi belaka.
Manajemen hanya memfokuskan diri pada aktivitas memproduksi barang dan jasa dengan kombinasi optimal faktor produksi yang dimiliki demi tercapainya keuntungan yang maksimal, tetapi melupakan esensi hakiki perusahaan sebagai komunitas manusia.
Gagal Membaca Sinyal Perubahan
Bubarnya perusahaan akibat ketidakmampuan menangkap sinyal perubahan seakan mendapat justifikasi ketika Collins dan Porras (1994) dari Stanford University membeberkan hasil penelitian mereka terhadap 700 perusahaan besar di Amerika sepanjang tahun 1988 - 1994. perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan hidup dan berusia sepuh menurut mereka rata-rata sensitive dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Mereka selalu merubah diri mendahului perubahan. Sehingga ketika terjadi gejolak eksternal, struktur internal perusahaan mampu menyesuaikan diri bahkan mampu memanfaatkan perubahan yang terjadi. Dengan bahasa yang lebih sederhana, perusahaan-perusahaan tersebut mampu membaca, mengidentifikasi, dan menangkap sinyal perubahan lebih cepat sehingga tanggap akan konsekuensi yang ditimbulkannya.
Pertanyaan kemudian, mengapa di tengah kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan akses ke berbagai saluran informasi, manajemen perusahaan kemudian tak mampu membaca, menangkap, dan mengidentifikasi sinyal perubahan?
Menurut De Geus, gagalnya perusahaan membaca, menangkap, dan mengidentifikasi perubahan setidaknya disebabkan oleh tiga alasan.
Pertama, karena hakekat perusahaan sesungguhnya merupakan kumpulan manusia, maka secara psikologis manusia sendiri memang punya resistensi untuk berubah. Ini sebagaimana diungkapkan para psikologis yang sebenarnya merupakan sesuatu hal yang positif. One should not change for change sake, kita tak harus berubah karena sebuah perubahan.
Kedua, sinyal perubahan tak terbaca dan teridentifikasi karena perusahaan memang belum terbiasa dan belum berpengalaman terhadap gejala perubahan itu sendiri. They can not see what their mind have not experiented before!
Cerita tentang kepala suku di Malaysia pada awal abad 20 ini mungkin bisa menjadi ilustrasi yang menarik untuk hal ini.
Pada awal abad 20 ini, ketika penjelajah dan penjajah Inggris menjejakkan kaki pertama kali ke Malaysia, mereka bertemu dengan sebuah suku yang sangat primitif di sebuah pegunungan di Malaysia. Saking terbelakangnya suku ini, dalam kehidupannya mereka masih belum mengenal roda. Mereka sepertinya masih hidup di zaman batu.
Para penjelajah Inggris ini kemudian berkenalan dengan kepala sukunya, dan setelah cukup lama berinteraksi mereka menyimpulkan bahwa si kepala suku ini adalah seorang yang sangat cerdas dan bisa diharapkan untuk menjadi agen perubahan bagi masyarakatnya. Untuk itu, para penjelajah Inggris ini kemudian membawa si Kepala suku ini ke Singapura yang waktu itu secara teknologi, ekonomi dan social sudah relatif maju dan diperkenalkan dengan berbagai kemajuan di sana.
Selama 24 jam si kepala suku ini di ajak berkeliling, berziarah, dan bersilahturrahim ke berbagai tempat. Ia dibawa berkeliling ke pelabuhan, ke galangan kapal, ke pasar, ke tempat-tempat hiburan, ke pabrik-pabrik dan ke berbagai tempat lainnya. Setelah lelah berkeliling merekapun memutuskan kembali ke daerah si kepala suku ini.
Setelah melakukan semacam briefing, para penjelajah Inggris kemudian menanyakan kepada si kepala suku Malaysia ini tentang apa saja yang menarik perhatiannya di Singapura yang kira-kira bisa dikembangkan untuk kemajuan daerahnya. Si kepala suku inipun menjawab bahwa hal yang paling menarik perhatiannya di Singapura adalah bahwa orang-orang Singapura mampu mengangkat pisang lebih banyak dari orang-orang di kampungnya! Kalau orang di kampungnya hanya mampu mengangkat setandan pisang dan meletakkan di punggungnya, orang-orang Singapura ternyata mampu mengangkat banyak pisang sekaligus dengan menggunakan gerobak dan kereta!
Si kepala suku yang cerdas ini telah diajak menziarahi berbagai sinyal perubahan. Ia diajak ke pelabuhan, ke galangan kapal, tempat-tempat hiburan, iapun diajak ke berbagai pabrik dan berbagai tempat lainnya, tapi ia tak mampu menangkap dan 'melihat' berbagai sinyal perubahan tersebut karena pikiran dan emosinya memang belum berpengalaman terhadap berbagai sinyal perubahan itu. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika yang "terlihat", tertangkap dan teridentifikasi kemudian adalah bagaimana orang Singapura mengangkat pisang, karena memang pikiran dan emosinya sudah terbiasa dan punya pengalaman tentang masalah bagaimana mengangkat pisang ini. He can not see what his mind has not experienced before ! Ia tak mampu melihat sesuatu yang lain yang dirinya secara emosional dan pemikiran memang belum terbiasa.
Cerita tentang kepala suku ini memang layak untuk direnungkan, karena dalam konteks perusahaan, banyak sekali perusahaan yang gagal membaca dan menangkap sinyal perubahan karena secara emosi dan pikiran mereka memang belum terbiasa dengan berbagai sinyal perubahan yang ada. Kemajuan teknologi informasi, fluktuasi pasar modal, perubahan nilai kurs dan banyak fenomina ekonomi lainnya masih merupakan hal "baru" bagi banyak perusahaan. Tidaklah mengherankan jika berbagai hal baru tersebut mereka hadapi, mereka kemudian gagap menghadapinya.
Betapa banyak pimpinan perusahaan duduk begitu “angkuh” di ruangannya tanpa menyadari bahwa lingkungan tempat perusahaan mereka beroperasi kini sudah berubah. Perubahan yang dialami bukan hanya perubahan gradual tetapi lingkungan operasi perusahaan sudah berubah secara total. "Buta"-nya banyak pimpinan perusahaan terhadap pemanfaatan teknologi informasi seperti internet misalnya bisa dijadikan contoh kongkret. Padahal seperti dikemukakan Hamill (1997) adanya internet telah mengubah perspektif eksekutif terhadap lingkungan bisnis yang begitu dinamis dan turbulen. Karenanya tidaklah mengherankan jika strategi sukses hari ini, bisa jadi bumerang dan bencana untuk esok hari akibat ketidakmampuan menyibak dan membaca tanda-tanda perubahan.
Ketiga, kegagalan perusahaan menangkap sinyal perubahan karena memory of the future dari banyak perusahaan memang tidak terlatih untuk membuat dan menyimpan berbagai alternatif tindakan. Manajemen perusahaan sudah sangat terbiasa dengan pola piker mekanis dengan menganut pemikiran manajemen rationalist dimana arah perusahaan seakan mudah ditentukan berdasarkan hasil analisa lingkungan (SWOT).
Agenda Reformasi
Mengamati bertumbangnya perusahaan belakangan ini, memberikan sinyal mengenai bagaimana manajemen perusahaan selama ini hanya mempersepsikan perusahaan sebagai mesin ekonomi belaka. Manajemen hanya memfokuskan diri pada upaya mengejar pertumbuhan semata-mata dengan kombinasi optimal faktor produksi dan melupakan esensi hakiki perusahaan sebagai komunitas manusia. Oleh karena itu diperlukan suatu agenda reformasi bagi manajemen perusahaan pasca krisis.
Pertama,orientasi manajemen perusahaan harus berubah. Jika keadaan perusahaan masih harmonis dengan keadaan lingkungannya maka tugas utama manajemen adalah berusaha terus mengejar laba untuk kemudian tumbuh menjadi besar. Esensi manajemen dalam konteks ini adalah alokasi efektif dari sumberdaya yang dimiliki perusahaan kepada tempat-tempat yang memungkinkan munculnya maksimasi keuntungan.
Akan tetapi jika yang sebaliknya terjadi, dimana keadaan lingkungan menjadi sangat bergejolak atau tercipta keadaan krisis dan resesi seperti saat ini, kebijakan manajemen perusahaan harus bergeser secara mendasar, dari memburu keuntungan untuk tumbuh, menjadi bagaimana menyelamatkan diri untuk tetap exist dan survive. Seperti dipertegas oleh Ackoff ; profit is just like oxygen, we need for life! Keuntungan tetap diburu, tetapi keuntungan tersebut bukan merupakan raison d'etre dari manajemen perusahaan. Tujuan hakiki perusahaan tetap saja untuk mempertahankan hidup agar mampu bertahan lebih lama.
Kedua, manajemen perusahaan harus memandang perusahaan tidak lagi sebagai mesin ekonomi belaka yang hanya berfungsi sebagai penghasil barang dan jasa demi maksimisasi keuntungan segelintir pemilik perusahaan. Manajemen perusahaan harus memandang perusahaan sebagai suatu 'entitas hidup' yang menyediakan banyak ruang bagi manajemen untuk berimprovisasi.
Realitas yang ada memang menunjukkan bahwa manajemen perusahaan tidaklah sesederhana mesin yang dengan mudah dioperasikan dan dikendalikan dengan manual yang telah dibuat dan disepakati. Perusahaan sesungguhnya adalah kumpulan manusia yang senantiasa terus belajar dan beradaptasi. Dan kemampuan untuk belajar dan beradaptasi ini sesungguhnya hanya dimiliki oleh sesuatu yang 'hidup', sesuatu yang mempunyai jiwa. Dan jika melihat faktor produksi yang dimiliki perusahaan, hanya labour atau manusia yang hidup dan memiliki jiwa. Dengan kata lain faktor labour atau manusia kini harus dilihat sebagai faktor produksi yang dominan, sehingga kalau terjadi krisis atau resesi seperti sekarang ini, labour atau manusia ini tidak harus menjadi yang pertama dan utama yang harus dikorbankan oleh manajemen perusahaan.
Masih banyaknya PHK akibat adanya resesi atau krisis seakan menjadi bukti bahwa labour atau manusia memang masih menjadi faktor produksi yang marjinal dibandingkan capital. Padahal seperti dikemukakan Peter Drucker, era capital ini sudah berlalu dan digantikan oleh era knowledge society, era yang lebih menghargai manusia dibandingkan modal.
Selain itu, mempersepsikan perusahaan sebagai mesin berarti manajemen perusahaan melihatnya sebagai sesuatu yang statis. Hanya bisa berubah jika seseorang merubahnya. Mesin tak mungkin merubah dirinya sendiri. Sedangkan melihat perusahaan sebagai suatu entitas yang hidup, berarti melihatnya seperti air yang mengalir, sesuatu yang senantiasa beradaptasi untuk memperbaiki dirinya.
Dengan menganggap bahwa perusahaan sebagai suatu entitas yang hidup juga akan memunculkan kesadaran kepada manajemen perusahaan bahwa tak selamanya "kehidupan" perusahaan senantiasa bahagia dan berjalan mulus. Sebagaimana kehidupan manusia, suka dan duka adalah sesuatu yang datang silih berganti dan menjadi bagian dari kehidupan. Oleh karena itu jika terjadi kerugian dan "goncangan" perusahaan tak lantas panik dan gagap, karena memang esensi kehidupan memang demikian adanya. Menganggap perusahaan sebagai mesin ekonomi belaka, memungkinkan manajemen perusahaan bertindak pragmatis untuk mengejar dan mempertahankan suka, padahal sesungguhnya suka tersebut sedang mendendangkan lonceng kematian. Duka kadangkala memang dibutuhkan, karena memang duka membuat kita menjadi lebih sabar sehingga kuat dan mampu bertahan hidup lebih lama.
Ketiga, agar perusahaan tetap exist dan survive maka manajemen perusahaan harus memiliki memory of the future yang lebih banyak dan varitif. Oleh karena itu paradigma manajemen rationalist yang kini banyak diterapkan oleh manajemen perusahaan sudah saatnya digantikan dengan paradigma manajemen processual.
Pola pikir rationalist yang sangat mengandalkan analisa lingkungan, menentukan arah dan cetak biru perusahaan, kemudian melakukan formulasi dan implementasi strategi kini tidak lagi relevan untuk dijadikan satu-satunya pegangan. Lingkungan bisnis kini sudah berubah dengan sangat dramatis sehingga pola pikir processual yang mengandalkan scenario planning dan menyediakan banyak alternatif tindakan memang semakin masuk akal untuk diterapkan.
Akhirnya, apapun yang akan dilakukan manajemen perusahaan dalam kondisi krisis dan resesi seperti sekarang ini sangat tergantung kepada resisten tidaknya manusia-manusia yang terlibat dalam manajemen perusahaan untuk berubah. Jika orientasi manajemen adalah berusaha terus mengejar laba untuk kemudian tumbuh menjadi besar, resisten untuk berubah memang masih masuk akal. Tetapi jika orientasi manajemen perusahaan berubah dari mengejar laba untuk tumbuh besar menjadi menyelamatkan diri untuk tetap exist dan survive, perubahan memang menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindarkan. Dan situasi krisis dan resesi seperti sekarang ini memang mau tidak mau "memaksa" mereka untuk melakukan perubahan. Dan mudah-mudahan perubahan ini menjadikan kinerja perusahaan menjadi lebih baik sehingga kuat bertahan dan dapat hidup lebih panjang.
Tulisan dimuat di majalah Usahawan No.05 XXVII Mei 1998
CIRCLE OF DEATH : Company's failure in reading the signal of change
The storm which has been striking Indonesia's economic since early July 1997 until now is way beyond dreadful. This interesting phenomenon to be studied from the crisis is the falling of several conglomerate companies which have been believed would not be bankrupt.
The domino affect that occurs from the existing external problem accumulation strike has made the world of business disorganized.
Business environment condition is getting harder to predict linearly, since the linearity phenomenon is no longer exist in the business environment which is getting wilder. External variable penetration into company's organization system will only be well responded if the business manager no longer has the basic of business as usual.
Maintaining ourselves to keep existing and surviving in the flaring up business environment currently is not a simple thing to do. According to De Geus, Strategic Management and International Business expert from London Business School, at least there are two reasons why the existing companies unable to sustain its existence.
First, the companies in the middle of dynamic change are unable to read, catch, and identify the signals of change. Hence, as the change does occur, they are not ready to face it since the internal structure is late and unable to do some adjustments.
The companies are finally broken up and end up because the companies managements are only focusing on their own things and being chained narrowly in language and mere economic thoughts.
The managements are only focusing themselves on goods and service production activities with optimum combination of production factor that owned in order to gain maximum profit, but forgetting the prime essential of the companies as human communities.
Fail in reading the signal of change
The dispersing companies due to inability to catch the signal of change is as if getting justification when Collins and Porras (1994) from Stanford University revealed their research results toward 700 huge enterprises in Unites States along 1988 - 1994. The surviving and old enterprises according to them were sensitive and adaptive toward the environment change. They always changed themselves earlier than the change. So as the external GEJOLAK happened, the enterprise internal structures were able to adjust or even utilize the change that happened. In simpler words, the enterprises were able to read, identify, and catch the signal of change quicker so it was responsive to the consequence that was emerged.
The next question is, why the company's management then unable to read, catch, and identify the signal of change in the middle of information technology advance?
According to De Geus, the failure of companies in reading, catching, and identify the change at least is caused by three reasons.
First, since company is basically a human association, so psychologically the human himself does have a resistance to change. This is just as revealed by the real psychologists which are genuinely as a positive thing. One should not change for change sake.
Second, the signal of change is unreadable and unidentified since the company has not yet been used to it and has no experience in facing the change itself. They cannot see what their mind have not experienced before!
This story of a head of a tribe in Malaysia in early 20's century might become an interesting illustration for this matter.
In this early 20's century, as the explorer and English colonizer printed their foot steps for the first time in Malaysia, they met a very primitive tribe in a mountain of Malaysia. Due to their most left behind, they still did not know what a tire was, as if they were still living in a stone age.
The English colonizer then got acquainted with the head of tribe, and after having quite long interaction they concluded that the head of tribe was a very brilliant person and could be expected to be change agent for his community. That for, the English colonizer then took the head of tribe to Singapore, in which technologically by that time, the social economic was relatively advanced, and being introduced to various advances there.
During 24 hours the head of tribe was taken on a tour, pilgrimage, and meeting with some people to some places. He was taken to a harbor, dockyard, markets, amusement places, factories, and elsewhere. After getting tired for touring, they then decided to go back to where the head of tribe belonged.
After doing a kind of brief, the English colonizer then asked the Malaysian head of tribe about what interesting things that had caught his attention in Singapore which likely could be developed for his region's advance. The head of tribe then answered that the most interesting thing that caught his attention was that the Singaporean people were able to carry more bananas that the people in his village, since they only carried one bunch of banana and put on his back. While the Singaporean people in fact were able to carry more bananas at once by carrier box and train.
The brilliant head of tribe had been taken to various signals of change. He was taken to harbor, dockyard, amusement places, and also to factories and elsewhere. However, he could not catch and 'see' the signal of change since his mind and emotion had no experience of it. No wonder if things that 'seen', caught, and identified then were how the Singaporean carried banana, since his mind and emotion were used to and had experience with how to carry banana. He could not see what his mind has not experienced before! He could not see other things which he, emotionally, and his mind was not used to it.
This story of the head of tribe deserves to be thought about, since in terms of a company, there are so many companies that fail in reading and catching the signal of change which emotionally and his mind are not used to the existing signals of change. The advance of pharmacy technology, capital market fluctuation, currency rate change, and many other economic phenomenon remain 'new' things for many companies. No wonder if they are incapable to encounter new things.
There are so many company leaders sitting so 'arrogant' in his/her room without acknowledging that the company's environment where it operates has now changed. The change encountered is not only gradual one, but the company's operational environment has totally changed. The 'blindness' of company leaders toward information technology utilization as like internet, for example, can be made as a concrete example. Whereas in fact, as just stated by Hamill (1997), the internet existence has changed the executives's perspectives toward the dynamic and turbulent business environment. No wonder if today's successful strategy can become a boomerang and disaster for the future due to inability in revealing and reading the signals of change.
Third, the company's failure in catching the signal of change is because memory of the future from many companies is really untrained to create and store several action alternatives. The company's management has been used to with mechanical mindset with rationalist management mindset, where the company's direction, as if, is easily fond based on the SWOT result.
Reformation Agenda
Observing the company growth lately, is giving signal about how the company's management so far only percepts itself as a mere economic machine. The management only focuses itself on the effort only to obtain the growth by optimal combination of production factor and forget the true essence of the company as a human community. Therefore, a reformation agenda is needed for post crisis company management.
First, company management orientation must change. If the company's condition remains in harmony with the environment situation, so the main task of the management is keep trying to get profits which then will grow bigger. The essence of management in the term is an effective allocation of resources that owned by company to places which enables to emerge maximum profit.
Yet, in vise versa where the environment situation becomes so flaring up or crisis and recession condition happen just as today, the company's management policy basically must move, from hunting profit to grow, becomes hoe to safe itself to keep being exist and survive. Just as firmly stated by Ackoff : profit is just like oxygen, we need for life ! The profit remains being hunted but not as raison d’etre from the company management. Company's objective basically remains to be surviving in order to be able to sustain longer.
Second, company management should look upon itself as a mere economic machine which functions as goods and service producer for the sake of profit maximization of several company owners. Company management should look upon itself as a 'living entity' which has many spaces for the management to have improvisation.
The existing reality does show that the company management is not as simple as a machine which is easily operated and controlled manually just and has been made and agreed. The real company is a human association which should continuously learn and adapt. And this ability to learn and adapt only belong to something that 'alive' and has a soul. And if seeing the production factor which owned by the company, only labor or human that lives and has a soul. In other words, labor or human factor now has to bee look upon as a dominant production factor, so that if a crisis or recession happens just like today, this labor or human should not be the first and the primary to be sacrificed by the company management.
There are still many fired employees due to the recession or crisis which as if become prove that labor or human remains become the marginal production factor compared to capital. Whereas in fact, just as stated by Peter Drucker, the capital era has gone and been replaced by knowledge society era which is more appreciate human rather than capital.
In addition, percepting a company as a machine means that company management sees it as a static thing which can only change if some one does it. Machine cannot change by itself, while seeing company as a living entity means seeing it as like flowing water, which will always adapt to improve itself.
By looking upon the company as a living entity will also emerge awareness to the company management that company's 'life' will not always be running happily and smoothly. Just as human's life, good times and bad times always come in turns and become part of life. Hence, if company's loss and 'turbulence' happen, it does not have to be responded with panic and GAGAP, because that is the way the essence of life should be. Looking upon a company as mere economic machine enables the company management to act pragmatically to chase and sustain the good times, whereas in fact, the good times is kicking the bell of death. Bad times may sometimes be needed, since it makes us more patient so that we can be strong and able to survive longer.
Third, in order to keep the company exists and survives, therefore the company management should have more and various memory of the future. Hence, it is time for the rationalist management's paradigm which now has been applied by company management to be replaced with procession management paradigm.
The rationalist mindset really relies on environmental analysis, determine direction and company's blue print, then conduct strategy formulation and implementation today is no longer relevant to be made as the only rule-of-thumb. Business environment has now changed very dramatically so that the procession mindset which relies on scenario planning and providing many action alternatives becomes more relevant to be applied.
Finally, whatever that will be done by company management in today's crisis and recession condition strongly depends on resistance or non-resistance of the human involved in the company management to change. If the management's orientation is to keep trying to gain profit and then grow bigger, the resistance to change does remain relevant. However, if the company management's orientation changes from gaining profit to grow bigger and becomes self savior to keep existing and surviving, the change does become something hard to resist. Today's crisis and recession situations, whether you like it or not, force them to change. And hopefully, the change can make the company's performance better and strong to survive and can live longer.
Efek domino yang terjadi dari hantaman akumulasi masalah eksternal yang ada telah memporak-porandakan dunia usaha.
Kondisi lingkungan usaha menjadi semakin sulit diprediksi secara linier, karena memang fenomena linieritas sudah tidak ada lagi di dalam lingkungan bisnis yang semakin ganas. Penetrasi variable eksternal kedalam sistem organisasi perusahaan, hanya mungkin ditanggapi dengan baik bila pengelolaan usaha tidak lagi ada dasar business as usual.
Mempertahankan diri untuk tetap exist dan survive dalam lingkungan usaha yang bergejolak saat ini bukan persoalan mudah. Menurut De Geus, pakar Strategic Management dan Bisnis Internasional dari London Business School setidaknya ada dua alas an mengapa perusahaan yang ada kini tidak mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Pertama, perusahaan-perusahaan tersebut di tengah dinamisnya perubahan tidak mampu membaca, menangkap, dan mengidentifikasi sinyal-sinyal perubahan. Oleh karena itu ketika perubahan itu benar-benar terjadi, mereka tak siap menghadapinya karena struktur internalnya memang terlambat dan tak mampu melakukan penyesuaian.
Perusahaan-perusahaan tersebut bubar dan berakhir karena pihak manajemen perusahaan-perusahaan tersebut hanya memfokuskan diri dan terbelenggu secara sempit pada bahasa dan pemikiran ekonomi belaka.
Manajemen hanya memfokuskan diri pada aktivitas memproduksi barang dan jasa dengan kombinasi optimal faktor produksi yang dimiliki demi tercapainya keuntungan yang maksimal, tetapi melupakan esensi hakiki perusahaan sebagai komunitas manusia.
Gagal Membaca Sinyal Perubahan
Bubarnya perusahaan akibat ketidakmampuan menangkap sinyal perubahan seakan mendapat justifikasi ketika Collins dan Porras (1994) dari Stanford University membeberkan hasil penelitian mereka terhadap 700 perusahaan besar di Amerika sepanjang tahun 1988 - 1994. perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan hidup dan berusia sepuh menurut mereka rata-rata sensitive dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Mereka selalu merubah diri mendahului perubahan. Sehingga ketika terjadi gejolak eksternal, struktur internal perusahaan mampu menyesuaikan diri bahkan mampu memanfaatkan perubahan yang terjadi. Dengan bahasa yang lebih sederhana, perusahaan-perusahaan tersebut mampu membaca, mengidentifikasi, dan menangkap sinyal perubahan lebih cepat sehingga tanggap akan konsekuensi yang ditimbulkannya.
Pertanyaan kemudian, mengapa di tengah kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan akses ke berbagai saluran informasi, manajemen perusahaan kemudian tak mampu membaca, menangkap, dan mengidentifikasi sinyal perubahan?
Menurut De Geus, gagalnya perusahaan membaca, menangkap, dan mengidentifikasi perubahan setidaknya disebabkan oleh tiga alasan.
Pertama, karena hakekat perusahaan sesungguhnya merupakan kumpulan manusia, maka secara psikologis manusia sendiri memang punya resistensi untuk berubah. Ini sebagaimana diungkapkan para psikologis yang sebenarnya merupakan sesuatu hal yang positif. One should not change for change sake, kita tak harus berubah karena sebuah perubahan.
Kedua, sinyal perubahan tak terbaca dan teridentifikasi karena perusahaan memang belum terbiasa dan belum berpengalaman terhadap gejala perubahan itu sendiri. They can not see what their mind have not experiented before!
Cerita tentang kepala suku di Malaysia pada awal abad 20 ini mungkin bisa menjadi ilustrasi yang menarik untuk hal ini.
Pada awal abad 20 ini, ketika penjelajah dan penjajah Inggris menjejakkan kaki pertama kali ke Malaysia, mereka bertemu dengan sebuah suku yang sangat primitif di sebuah pegunungan di Malaysia. Saking terbelakangnya suku ini, dalam kehidupannya mereka masih belum mengenal roda. Mereka sepertinya masih hidup di zaman batu.
Para penjelajah Inggris ini kemudian berkenalan dengan kepala sukunya, dan setelah cukup lama berinteraksi mereka menyimpulkan bahwa si kepala suku ini adalah seorang yang sangat cerdas dan bisa diharapkan untuk menjadi agen perubahan bagi masyarakatnya. Untuk itu, para penjelajah Inggris ini kemudian membawa si Kepala suku ini ke Singapura yang waktu itu secara teknologi, ekonomi dan social sudah relatif maju dan diperkenalkan dengan berbagai kemajuan di sana.
Selama 24 jam si kepala suku ini di ajak berkeliling, berziarah, dan bersilahturrahim ke berbagai tempat. Ia dibawa berkeliling ke pelabuhan, ke galangan kapal, ke pasar, ke tempat-tempat hiburan, ke pabrik-pabrik dan ke berbagai tempat lainnya. Setelah lelah berkeliling merekapun memutuskan kembali ke daerah si kepala suku ini.
Setelah melakukan semacam briefing, para penjelajah Inggris kemudian menanyakan kepada si kepala suku Malaysia ini tentang apa saja yang menarik perhatiannya di Singapura yang kira-kira bisa dikembangkan untuk kemajuan daerahnya. Si kepala suku inipun menjawab bahwa hal yang paling menarik perhatiannya di Singapura adalah bahwa orang-orang Singapura mampu mengangkat pisang lebih banyak dari orang-orang di kampungnya! Kalau orang di kampungnya hanya mampu mengangkat setandan pisang dan meletakkan di punggungnya, orang-orang Singapura ternyata mampu mengangkat banyak pisang sekaligus dengan menggunakan gerobak dan kereta!
Si kepala suku yang cerdas ini telah diajak menziarahi berbagai sinyal perubahan. Ia diajak ke pelabuhan, ke galangan kapal, tempat-tempat hiburan, iapun diajak ke berbagai pabrik dan berbagai tempat lainnya, tapi ia tak mampu menangkap dan 'melihat' berbagai sinyal perubahan tersebut karena pikiran dan emosinya memang belum berpengalaman terhadap berbagai sinyal perubahan itu. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika yang "terlihat", tertangkap dan teridentifikasi kemudian adalah bagaimana orang Singapura mengangkat pisang, karena memang pikiran dan emosinya sudah terbiasa dan punya pengalaman tentang masalah bagaimana mengangkat pisang ini. He can not see what his mind has not experienced before ! Ia tak mampu melihat sesuatu yang lain yang dirinya secara emosional dan pemikiran memang belum terbiasa.
Cerita tentang kepala suku ini memang layak untuk direnungkan, karena dalam konteks perusahaan, banyak sekali perusahaan yang gagal membaca dan menangkap sinyal perubahan karena secara emosi dan pikiran mereka memang belum terbiasa dengan berbagai sinyal perubahan yang ada. Kemajuan teknologi informasi, fluktuasi pasar modal, perubahan nilai kurs dan banyak fenomina ekonomi lainnya masih merupakan hal "baru" bagi banyak perusahaan. Tidaklah mengherankan jika berbagai hal baru tersebut mereka hadapi, mereka kemudian gagap menghadapinya.
Betapa banyak pimpinan perusahaan duduk begitu “angkuh” di ruangannya tanpa menyadari bahwa lingkungan tempat perusahaan mereka beroperasi kini sudah berubah. Perubahan yang dialami bukan hanya perubahan gradual tetapi lingkungan operasi perusahaan sudah berubah secara total. "Buta"-nya banyak pimpinan perusahaan terhadap pemanfaatan teknologi informasi seperti internet misalnya bisa dijadikan contoh kongkret. Padahal seperti dikemukakan Hamill (1997) adanya internet telah mengubah perspektif eksekutif terhadap lingkungan bisnis yang begitu dinamis dan turbulen. Karenanya tidaklah mengherankan jika strategi sukses hari ini, bisa jadi bumerang dan bencana untuk esok hari akibat ketidakmampuan menyibak dan membaca tanda-tanda perubahan.
Ketiga, kegagalan perusahaan menangkap sinyal perubahan karena memory of the future dari banyak perusahaan memang tidak terlatih untuk membuat dan menyimpan berbagai alternatif tindakan. Manajemen perusahaan sudah sangat terbiasa dengan pola piker mekanis dengan menganut pemikiran manajemen rationalist dimana arah perusahaan seakan mudah ditentukan berdasarkan hasil analisa lingkungan (SWOT).
Agenda Reformasi
Mengamati bertumbangnya perusahaan belakangan ini, memberikan sinyal mengenai bagaimana manajemen perusahaan selama ini hanya mempersepsikan perusahaan sebagai mesin ekonomi belaka. Manajemen hanya memfokuskan diri pada upaya mengejar pertumbuhan semata-mata dengan kombinasi optimal faktor produksi dan melupakan esensi hakiki perusahaan sebagai komunitas manusia. Oleh karena itu diperlukan suatu agenda reformasi bagi manajemen perusahaan pasca krisis.
Pertama,orientasi manajemen perusahaan harus berubah. Jika keadaan perusahaan masih harmonis dengan keadaan lingkungannya maka tugas utama manajemen adalah berusaha terus mengejar laba untuk kemudian tumbuh menjadi besar. Esensi manajemen dalam konteks ini adalah alokasi efektif dari sumberdaya yang dimiliki perusahaan kepada tempat-tempat yang memungkinkan munculnya maksimasi keuntungan.
Akan tetapi jika yang sebaliknya terjadi, dimana keadaan lingkungan menjadi sangat bergejolak atau tercipta keadaan krisis dan resesi seperti saat ini, kebijakan manajemen perusahaan harus bergeser secara mendasar, dari memburu keuntungan untuk tumbuh, menjadi bagaimana menyelamatkan diri untuk tetap exist dan survive. Seperti dipertegas oleh Ackoff ; profit is just like oxygen, we need for life! Keuntungan tetap diburu, tetapi keuntungan tersebut bukan merupakan raison d'etre dari manajemen perusahaan. Tujuan hakiki perusahaan tetap saja untuk mempertahankan hidup agar mampu bertahan lebih lama.
Kedua, manajemen perusahaan harus memandang perusahaan tidak lagi sebagai mesin ekonomi belaka yang hanya berfungsi sebagai penghasil barang dan jasa demi maksimisasi keuntungan segelintir pemilik perusahaan. Manajemen perusahaan harus memandang perusahaan sebagai suatu 'entitas hidup' yang menyediakan banyak ruang bagi manajemen untuk berimprovisasi.
Realitas yang ada memang menunjukkan bahwa manajemen perusahaan tidaklah sesederhana mesin yang dengan mudah dioperasikan dan dikendalikan dengan manual yang telah dibuat dan disepakati. Perusahaan sesungguhnya adalah kumpulan manusia yang senantiasa terus belajar dan beradaptasi. Dan kemampuan untuk belajar dan beradaptasi ini sesungguhnya hanya dimiliki oleh sesuatu yang 'hidup', sesuatu yang mempunyai jiwa. Dan jika melihat faktor produksi yang dimiliki perusahaan, hanya labour atau manusia yang hidup dan memiliki jiwa. Dengan kata lain faktor labour atau manusia kini harus dilihat sebagai faktor produksi yang dominan, sehingga kalau terjadi krisis atau resesi seperti sekarang ini, labour atau manusia ini tidak harus menjadi yang pertama dan utama yang harus dikorbankan oleh manajemen perusahaan.
Masih banyaknya PHK akibat adanya resesi atau krisis seakan menjadi bukti bahwa labour atau manusia memang masih menjadi faktor produksi yang marjinal dibandingkan capital. Padahal seperti dikemukakan Peter Drucker, era capital ini sudah berlalu dan digantikan oleh era knowledge society, era yang lebih menghargai manusia dibandingkan modal.
Selain itu, mempersepsikan perusahaan sebagai mesin berarti manajemen perusahaan melihatnya sebagai sesuatu yang statis. Hanya bisa berubah jika seseorang merubahnya. Mesin tak mungkin merubah dirinya sendiri. Sedangkan melihat perusahaan sebagai suatu entitas yang hidup, berarti melihatnya seperti air yang mengalir, sesuatu yang senantiasa beradaptasi untuk memperbaiki dirinya.
Dengan menganggap bahwa perusahaan sebagai suatu entitas yang hidup juga akan memunculkan kesadaran kepada manajemen perusahaan bahwa tak selamanya "kehidupan" perusahaan senantiasa bahagia dan berjalan mulus. Sebagaimana kehidupan manusia, suka dan duka adalah sesuatu yang datang silih berganti dan menjadi bagian dari kehidupan. Oleh karena itu jika terjadi kerugian dan "goncangan" perusahaan tak lantas panik dan gagap, karena memang esensi kehidupan memang demikian adanya. Menganggap perusahaan sebagai mesin ekonomi belaka, memungkinkan manajemen perusahaan bertindak pragmatis untuk mengejar dan mempertahankan suka, padahal sesungguhnya suka tersebut sedang mendendangkan lonceng kematian. Duka kadangkala memang dibutuhkan, karena memang duka membuat kita menjadi lebih sabar sehingga kuat dan mampu bertahan hidup lebih lama.
Ketiga, agar perusahaan tetap exist dan survive maka manajemen perusahaan harus memiliki memory of the future yang lebih banyak dan varitif. Oleh karena itu paradigma manajemen rationalist yang kini banyak diterapkan oleh manajemen perusahaan sudah saatnya digantikan dengan paradigma manajemen processual.
Pola pikir rationalist yang sangat mengandalkan analisa lingkungan, menentukan arah dan cetak biru perusahaan, kemudian melakukan formulasi dan implementasi strategi kini tidak lagi relevan untuk dijadikan satu-satunya pegangan. Lingkungan bisnis kini sudah berubah dengan sangat dramatis sehingga pola pikir processual yang mengandalkan scenario planning dan menyediakan banyak alternatif tindakan memang semakin masuk akal untuk diterapkan.
Akhirnya, apapun yang akan dilakukan manajemen perusahaan dalam kondisi krisis dan resesi seperti sekarang ini sangat tergantung kepada resisten tidaknya manusia-manusia yang terlibat dalam manajemen perusahaan untuk berubah. Jika orientasi manajemen adalah berusaha terus mengejar laba untuk kemudian tumbuh menjadi besar, resisten untuk berubah memang masih masuk akal. Tetapi jika orientasi manajemen perusahaan berubah dari mengejar laba untuk tumbuh besar menjadi menyelamatkan diri untuk tetap exist dan survive, perubahan memang menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindarkan. Dan situasi krisis dan resesi seperti sekarang ini memang mau tidak mau "memaksa" mereka untuk melakukan perubahan. Dan mudah-mudahan perubahan ini menjadikan kinerja perusahaan menjadi lebih baik sehingga kuat bertahan dan dapat hidup lebih panjang.
Tulisan dimuat di majalah Usahawan No.05 XXVII Mei 1998
CIRCLE OF DEATH : Company's failure in reading the signal of change
The storm which has been striking Indonesia's economic since early July 1997 until now is way beyond dreadful. This interesting phenomenon to be studied from the crisis is the falling of several conglomerate companies which have been believed would not be bankrupt.
The domino affect that occurs from the existing external problem accumulation strike has made the world of business disorganized.
Business environment condition is getting harder to predict linearly, since the linearity phenomenon is no longer exist in the business environment which is getting wilder. External variable penetration into company's organization system will only be well responded if the business manager no longer has the basic of business as usual.
Maintaining ourselves to keep existing and surviving in the flaring up business environment currently is not a simple thing to do. According to De Geus, Strategic Management and International Business expert from London Business School, at least there are two reasons why the existing companies unable to sustain its existence.
First, the companies in the middle of dynamic change are unable to read, catch, and identify the signals of change. Hence, as the change does occur, they are not ready to face it since the internal structure is late and unable to do some adjustments.
The companies are finally broken up and end up because the companies managements are only focusing on their own things and being chained narrowly in language and mere economic thoughts.
The managements are only focusing themselves on goods and service production activities with optimum combination of production factor that owned in order to gain maximum profit, but forgetting the prime essential of the companies as human communities.
Fail in reading the signal of change
The dispersing companies due to inability to catch the signal of change is as if getting justification when Collins and Porras (1994) from Stanford University revealed their research results toward 700 huge enterprises in Unites States along 1988 - 1994. The surviving and old enterprises according to them were sensitive and adaptive toward the environment change. They always changed themselves earlier than the change. So as the external GEJOLAK happened, the enterprise internal structures were able to adjust or even utilize the change that happened. In simpler words, the enterprises were able to read, identify, and catch the signal of change quicker so it was responsive to the consequence that was emerged.
The next question is, why the company's management then unable to read, catch, and identify the signal of change in the middle of information technology advance?
According to De Geus, the failure of companies in reading, catching, and identify the change at least is caused by three reasons.
First, since company is basically a human association, so psychologically the human himself does have a resistance to change. This is just as revealed by the real psychologists which are genuinely as a positive thing. One should not change for change sake.
Second, the signal of change is unreadable and unidentified since the company has not yet been used to it and has no experience in facing the change itself. They cannot see what their mind have not experienced before!
This story of a head of a tribe in Malaysia in early 20's century might become an interesting illustration for this matter.
In this early 20's century, as the explorer and English colonizer printed their foot steps for the first time in Malaysia, they met a very primitive tribe in a mountain of Malaysia. Due to their most left behind, they still did not know what a tire was, as if they were still living in a stone age.
The English colonizer then got acquainted with the head of tribe, and after having quite long interaction they concluded that the head of tribe was a very brilliant person and could be expected to be change agent for his community. That for, the English colonizer then took the head of tribe to Singapore, in which technologically by that time, the social economic was relatively advanced, and being introduced to various advances there.
During 24 hours the head of tribe was taken on a tour, pilgrimage, and meeting with some people to some places. He was taken to a harbor, dockyard, markets, amusement places, factories, and elsewhere. After getting tired for touring, they then decided to go back to where the head of tribe belonged.
After doing a kind of brief, the English colonizer then asked the Malaysian head of tribe about what interesting things that had caught his attention in Singapore which likely could be developed for his region's advance. The head of tribe then answered that the most interesting thing that caught his attention was that the Singaporean people were able to carry more bananas that the people in his village, since they only carried one bunch of banana and put on his back. While the Singaporean people in fact were able to carry more bananas at once by carrier box and train.
The brilliant head of tribe had been taken to various signals of change. He was taken to harbor, dockyard, amusement places, and also to factories and elsewhere. However, he could not catch and 'see' the signal of change since his mind and emotion had no experience of it. No wonder if things that 'seen', caught, and identified then were how the Singaporean carried banana, since his mind and emotion were used to and had experience with how to carry banana. He could not see what his mind has not experienced before! He could not see other things which he, emotionally, and his mind was not used to it.
This story of the head of tribe deserves to be thought about, since in terms of a company, there are so many companies that fail in reading and catching the signal of change which emotionally and his mind are not used to the existing signals of change. The advance of pharmacy technology, capital market fluctuation, currency rate change, and many other economic phenomenon remain 'new' things for many companies. No wonder if they are incapable to encounter new things.
There are so many company leaders sitting so 'arrogant' in his/her room without acknowledging that the company's environment where it operates has now changed. The change encountered is not only gradual one, but the company's operational environment has totally changed. The 'blindness' of company leaders toward information technology utilization as like internet, for example, can be made as a concrete example. Whereas in fact, as just stated by Hamill (1997), the internet existence has changed the executives's perspectives toward the dynamic and turbulent business environment. No wonder if today's successful strategy can become a boomerang and disaster for the future due to inability in revealing and reading the signals of change.
Third, the company's failure in catching the signal of change is because memory of the future from many companies is really untrained to create and store several action alternatives. The company's management has been used to with mechanical mindset with rationalist management mindset, where the company's direction, as if, is easily fond based on the SWOT result.
Reformation Agenda
Observing the company growth lately, is giving signal about how the company's management so far only percepts itself as a mere economic machine. The management only focuses itself on the effort only to obtain the growth by optimal combination of production factor and forget the true essence of the company as a human community. Therefore, a reformation agenda is needed for post crisis company management.
First, company management orientation must change. If the company's condition remains in harmony with the environment situation, so the main task of the management is keep trying to get profits which then will grow bigger. The essence of management in the term is an effective allocation of resources that owned by company to places which enables to emerge maximum profit.
Yet, in vise versa where the environment situation becomes so flaring up or crisis and recession condition happen just as today, the company's management policy basically must move, from hunting profit to grow, becomes hoe to safe itself to keep being exist and survive. Just as firmly stated by Ackoff : profit is just like oxygen, we need for life ! The profit remains being hunted but not as raison d’etre from the company management. Company's objective basically remains to be surviving in order to be able to sustain longer.
Second, company management should look upon itself as a mere economic machine which functions as goods and service producer for the sake of profit maximization of several company owners. Company management should look upon itself as a 'living entity' which has many spaces for the management to have improvisation.
The existing reality does show that the company management is not as simple as a machine which is easily operated and controlled manually just and has been made and agreed. The real company is a human association which should continuously learn and adapt. And this ability to learn and adapt only belong to something that 'alive' and has a soul. And if seeing the production factor which owned by the company, only labor or human that lives and has a soul. In other words, labor or human factor now has to bee look upon as a dominant production factor, so that if a crisis or recession happens just like today, this labor or human should not be the first and the primary to be sacrificed by the company management.
There are still many fired employees due to the recession or crisis which as if become prove that labor or human remains become the marginal production factor compared to capital. Whereas in fact, just as stated by Peter Drucker, the capital era has gone and been replaced by knowledge society era which is more appreciate human rather than capital.
In addition, percepting a company as a machine means that company management sees it as a static thing which can only change if some one does it. Machine cannot change by itself, while seeing company as a living entity means seeing it as like flowing water, which will always adapt to improve itself.
By looking upon the company as a living entity will also emerge awareness to the company management that company's 'life' will not always be running happily and smoothly. Just as human's life, good times and bad times always come in turns and become part of life. Hence, if company's loss and 'turbulence' happen, it does not have to be responded with panic and GAGAP, because that is the way the essence of life should be. Looking upon a company as mere economic machine enables the company management to act pragmatically to chase and sustain the good times, whereas in fact, the good times is kicking the bell of death. Bad times may sometimes be needed, since it makes us more patient so that we can be strong and able to survive longer.
Third, in order to keep the company exists and survives, therefore the company management should have more and various memory of the future. Hence, it is time for the rationalist management's paradigm which now has been applied by company management to be replaced with procession management paradigm.
The rationalist mindset really relies on environmental analysis, determine direction and company's blue print, then conduct strategy formulation and implementation today is no longer relevant to be made as the only rule-of-thumb. Business environment has now changed very dramatically so that the procession mindset which relies on scenario planning and providing many action alternatives becomes more relevant to be applied.
Finally, whatever that will be done by company management in today's crisis and recession condition strongly depends on resistance or non-resistance of the human involved in the company management to change. If the management's orientation is to keep trying to gain profit and then grow bigger, the resistance to change does remain relevant. However, if the company management's orientation changes from gaining profit to grow bigger and becomes self savior to keep existing and surviving, the change does become something hard to resist. Today's crisis and recession situations, whether you like it or not, force them to change. And hopefully, the change can make the company's performance better and strong to survive and can live longer.