CEPU

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
KJKS Ibu Mandiri » 30 April 2008 » Hit: 245
CEPU
Nasib Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara banyak memancing kemarahan dan kekecewaan pada kenyataan bahwa, begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Berasal dari Tanjung Kelompang, daerah pesisir pantai dan suku sangat pendalaman di Pulau Belitong, Lintang kecil tak pernah bolos sekolah walaupun harus menempuh jarak 40 km, melintasi rawa-rawa dan melewati kawanan buaya untuk sampai ke SD Muhammadiyah. Mendekati ujian akhir Sekolah Menengah Pertama, Lintang ditinggal mati ayahnya. Sebagai anak tertua, Lintang harus menanggung nafkah banyak adik, kakek nenek dan paman-paman yang tak berdaya. Dan akhirnya, Lintang tak punya peluang sedikit pun untuk melanjutkan sekolah.

Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi menuliskan nasib sahabatnya ini bagai tikus kecil yang mati di lumbung padi. Bagi Andrea dan sembilan sahabatnya yang lain, melepas Lintang pergi meninggalkan sekolah di hari terakhirnya bagaikan melepas seorang sahabat jenius asli didikan alam, salah seorang pejuang laskar pelangi lapisan tertinggi. Andrea juga menuliskan, "Lintang adalah mercusuar. Ia bintang penunjuk bagi pelaut di samudera. Begitu banyak energi positif, keceriaan dan daya hidup terpancar dari dirinya. Didekatnya kami terimbas cahaya yang masuk ke dalam rongga-rongga otak, memperjelas penglihatan pikiran, memicu keingintahuan, dan membuka jalan menuju pemahaman".

Berbeda dengan Lintang, Denias dalam film Senandung di Atas Awan mungkin agak lebih beruntung. Walaupun harus menempuh beberapa hari untuk sampai di sekolah dengan faslitas yang memadai, akhirnya ia bertemu dengan guru-guru yang mau memberi ia kesempatan. Akhirnya Denias bisa mendapatkan beasiswa dari PT. Freeport di Papua sampai ia menempuh S2 di Australia. Padahal ia datang dari suku Moni yang terletak jauh di balik gunung dan hutan.

Selain Lintang dan Denias, masih ada ribuan anak lainnya yang mungkin bernasib sama di Kabupaten Tangerang. Hal inilah yang membuat KJKS Ibu Mandiri lebih memilih mengadakan program CEPU di Departemen CSR (Corporate Social Responsibility)-nya. CEPU alias Celengan Peduli Umat adalah program sederhana dengan mimpi besar memberi beasiswa bagi anak-anak tidak mampu. Selain ditaruh di banking hall KJKS Ibu Mandiri, CEPU yang berbentuk celengan kaleng silinder ini rencananya akan ditaruh ditempat-tempat usaha atau dirumah siapa saja yang perduli akan nasib-nasib anak pintar yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Dimulai dari rumah dan ruang kerja Bang Zul di DPR, sampai suatu hari nanti CEPU akan ada dimana-mana dan menyelamatkan anak-anak pintar agar jangan sampai tergilas kejamnya zaman.

Mau punya CEPU untuk menyalurkan infak, shodaqoh dan menyelamatkan anak-anak seperti Lintang dan Denias di tempat usaha atau rumah Anda ? Mohon hubungi KJKS Ibu Mandiri. Kami siap mengantarkannya ke rumah atau tempat usaha Anda dan mengambilnya kembali ketika sudah penuh. 