Posted on 15 Juni 2015 » Category : Wawancara » Hit: 574
Menperin Dorong Pemuda Agar Bekerja Keras

Kuliah UmumMenteri Perindustrian Saleh Husin menyempatkan menyambangi Universitas Teknologi Sumbawa, NTB. Ini dilakukannya di sela kunjungan satu hari ke provinsi tersebut.

Apa yang disampaikannya pada para mahasiswa? Apakah tentang pengembangan industri nasional seperti di hari-hari kerja? Di hadapan 200 mahasiswa, Saleh Husin memilih berbagi inspirasi. Dia menuturkan kisah hidupnya yang bekerja keras sedari belia. ”Masa kecil saya di Rote, Nusa Tenggara Timur. Saya sangat termotivasi oleh cerita guru SD bahwa banyak orang hebat Indonesia dari Rote,” ujarnya saat memberi kuliah umum di Auditorium UTS, Sumbawa Besar, kemarin.
Saleh kecil pun mulai bermimpi mampu sukses seperti cerita guru-gurunya. Tapi untuk meraihnya, jalan berliku mesti ia tempuh. ”Dari kelas V SD sampai IX SMP, saya jualan kue bikinan Ibu. Untuk apa? Ya, agar bisa meringankan beban orang tua, agar saya dan adikadik bisa sekolah,” tuturnya. Kerja keras Saleh juga didasari optimisme. Di bangku SMA di Kupang, dia sudah mengincar cita-cita menjadi tentara.

”Saya pengen jadi jenderal!” Sayang, kendala penglihatan saat itu membuatnya gugur dalam dua kali tes masuk Akabri saat itu, sekarang Akmil. Menyerahkah Saleh Husin muda? ”Saya lantas berpikir, mungkin militer bukan jalan hidup saya dan saat itu juga memantapkan diri untuk kuliah,” ujarnya.

Dia juga mulai berbisnis. ”Mainan” pertamanya ialah bisnis sablon banner kain untuk anak-anak SMA. Bermodal uang kiriman dari ibunya sebesar Rp500.000, dia memesan banner di Bandung. Itu pun Saleh hanya mampu membayar separo ke percetakan. ”Banner pertama itu untuk Perguruan Cikini. Dalam setengah jam ludes terjual berkat bantuan teman- teman,” katanya sembari menuturkan uang yang ia peroleh dari usaha perdana itu sebesar Rp2,5 juta.

Yang ia lakukan adalah segera datang ke percetakan di Bandung untuk melunasi kekurangan pembayaran. ”Bagi saya, kejujuran itu nomor satu. Apalagi, percetakan lebih dulu percaya sama saya,” ujar Saleh. Berikutnya satu bisnis berlanjut ke bisnis berikutnya, seiring pergaulan yang meluas. Gelar sarjana pun berhasil ia raih di Jakarta.

”Selain jujur, prinsip saya ialah berani bermimpi, pintar-pintar membawa diri, tidak mengambil yang bukan hak saya, dan kerja keras serta berdoa. Insya Allah, ada saja jalan yang kita dapatkan,” ulasnya. Kepada para mahasiswa, ayah tiga anak ini juga menyinggung karier politiknya hingga menjadi menteri perindustrian. ”Terpilih menjadi anggota DPR dan menteri atau nanti para mahasiswa lulus dan berkarya, tidak terlepas dari benih manfaat yang telah kita tebarkan ke sekitar.
Di situlah tumbuh kepercayaan dan kemudahan,” katanya. Senada, penasihat Universitas Teknologi Sumbawa Zulkieflimansyah menyatakan mimpi juga menjadi motivasi terbesar bagi semua orang untuk memperbaiki kualitas diri. ”Kami di UTS juga punya mimpi yang sama.

Para pengajar dan mahasiswa menempa diri agar memiliki kemampuan berbasis pengetahuan dan teknologi yang nantinya bermanfaat bagi lingkungan,” ujar Zulkieflimansyah yang juga anggota DPR RI ini. Pada November 2014, delapan mahasiswa UTS meraih medali perunggu dalam kompetisi bioteknologi dunia di Institut Teknologi Massachusetts (MIT), Boston, Amerika Serikat, di ajang International Genetically Engineering Machine (IGEM) Chairman’s Award 2014 .

Dalam kompetisi bioteknologi dunia di MIT, kedelapan mahasiswa UTS Sumbawa meneliti kadar glukosa pada madu Sumbawa dengan memanfaatkan bakteri E-coli dan gen Discosoma SP yang mengeluarkan warna merah pada terumbu karang.

Sumber : Koran SINDO, Minggu,  31 Mei 2015