Posted on 13 November 2014 » Category : Environmental Update » Hit: 668
Parliamentary Event on MDGs Acceleration and Post-2015 Agenda

Pada tanggal 12-13 November 2014, Indonesia menjadi tuan rumah dalam acara parlementer bertemakan akselerasi tujuan-tujuan pembangunan millenium (MDGs) dan agenda pasca 2015 di Surabaya. Acara ini bertujuan untuk berbagi antar parlemen se-Asia Pasifik tentang sejauh manakah pencapaian Program MDGs. DR. Zulkieflimansyah sebagai anggota dari Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP), menjadi salah satu perwakilan parlemen Indonesia dalam acara ini.

Millenium Development Goals (MDGs) sendiri adalah inisiatif PBB yang dibentuk pada tahun 2000. Didalamnya terpapar kesepakatan target-target pembangunan internasional sampai 2015 yang terdiri dalam 8 poin: untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim, mencapai pendidikan dasar universal, mempromosikan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan, mengurangi kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, melawan HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya, memastikan kelestarian lingkungan, dan membangun kemitraan global untuk pembangunan. Didalam inisiatif tersebut, Negara-negara maju diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan Negara berkembang mencapai target-target tersebut pada tahun 2015.

Acara yang diadakan di Surabaya ini dihadiri oleh 20 parlemen Negara-negara sahabat dari Asia Pasifik diantaranya Malaysia, India, dan Korea Selatan. Didalamnya Negara-negara melaporkan perkembangan setiap Negara dalam setiap poin-poin yang ditargetkan tahun 2015. Dalam penanggulangan kemiskinan dan kelaparan, di Indonesia sudah terlihat kemajuan. Diukur oleh garis kemiskinan nasional dari tingkat saat ini sebesar 13,33% (2010) menuju targetnya sebesar 8-10% pada tahun 2014. Prevalensi kekurangan gizi pada balita juga telah menurun dari 31% pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007, sehingga Indonesia diperkirakan dapat mencapai target MDGs sebesar 15,5% pada tahun 2015. Dalam presentasi International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Indonesia dinilai perlu mendorong pembangunan terutama di area angka kematian Ibu, hak anak-anak, air bersih dan sanitasi, lingkungan (penebangan hutan) dan pencegahan HIV.

Banyak target-target MDGs yang masih belum tercapai. Deklarasi Surabaya yang sedang dibentuk menyatakan sudah banyak perkembangan dalam pencapaian target-target Millenium Development Goals, akan tetapi deadlinenya semakin dekat dan perlu diadakan dorongan untuk mempercepat pencapaian dari target-target tersebut. Dari laporan PBB misalnya, Asia tenggara telah mengurangi hampir lebih dari setengah proporsi orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrim (kurang dari 1.25USD per hari). Dari 45% tahun 1990 sampai hanya 14% di tahun 2010. Angka kematian anak juga sudah menurun jauh dari 71% tahun 1990 ke 30% tahun 2012. Akan tetapi, angka ini masih belum mencapai targetnya maka perlu ditingkatkan perkembangan untuk menekan angka kematian anak. Hal-hal lainnya perlu dipercepat jika ingin mencapai target-target yang diharapkan. Tugas parlemen sebagai legislator, penyusun anggaran dan pengawasan diharapkan dapat memberikan bantuan dalam mempercepat tercapainya target-target MDGs pada tahun 2015.

Sejumlah persoalan yang belum tuntas akan diproyeksikan menjadi agenda Pasca-2015. DPR mengusulkan empat prinsip penting dalam agenda tersebut di Surabaya, yakni kesetaraan, hak asasi manusia, kesinambungan dan kesetaraan gender. Dalam deklarasi Surabaya, salah satu poin penting dalam penyusunan agenda pasca-2015 ialah perlunya agenda tersebut untuk melampaui MDGs. Dimana agendanya harus berkelanjutan dan hal-hal yang menjadi aspek pada kelayakan hidup perlu dijadikan prioritas. Seperti pendidikan, air bersih, kesehatan, sanitasi, pekerjaan, ketahanan pangan dan nutrisi, dan lainnya.

Acara ini akan selesai Kamis (13/11), dimana pengangkatan dari Deklarasi Surabaya yang disusun kemarin sedang dibahas dan akan selesai Maghrib nanti. Besok, delegasi-delegasi dari Negara tetangga akan pulang ke Negara masing-masing. (AH)