Posted on 10 November 2014 » Category : Political Update » Hit: 681
Dualisme Kepemimpinan

Terjadinya dualisme kepemimpinan di DPR berawal pada beberapa masalah. Puncak masalah yang menghasilkan terbitnya dualisme kepemimpinan terjadi saat pemilihan AKD (alat kelengkapan dewan) yang didominasi oleh Koalisi Merah Putih (KMP). Pekan lalu dualisme terbentuk setelah Koalisi Indonesia Hebat (KIH) menggelar rapat paripurna tandingan dan menyatakan ketidak-percayaan mereka terhadap pimpinan sekarang. Dualisme kepemimpinan ini halnya tidak baik dan membingungkan terutama bagi masyarakat dan pemerintah eksekutif. Dimana eksekutif tidak tahu harus berkoordinasi kemana dan jalannya pemerintahan diperlambat. Maka dari itu komunikasi politik butuh dilakukan antara dua kubu untuk mencari jalan temu. 

Dr. H. Zulkieflimansyah SE M.Sc hadir dalam dialog membahas terbelahnya DPR di Metro TV beberapa hari yang lalu. Ia menyatakan, “masing masing koalisi tentu punya harapan bahwa akan ada jalan tengahlah nanti, karena kami semua percaya bahwa selalu ada cahaya diujung terowongan”. Dia membandingkan pengalaman ini seperti dahulu ditahun 2004 yang berakhir dengan “win-win solution”. Menurut dia untuk mencapai hal tersebut, “jembatan pengertian harus tetap dibangun, komunikasi yang intensif harus terus dilakukan”. 

Belakangan ini, kita melihat lobi-lobi yang terus dilakukan oleh kedua pihak. Terkadang hadirnya ketua umum partai-partai penting dalam menyelesaikan pertikaian. “Kami punya pengalaman yang sama di 2004 dengan dialog panjang, begitu, antara pimpinan partai. Terutama karena bagaimanapun, fraksi inikan kepanjangan tangan partai di parlemen. Nah kalau pimpinan-pimpinan partai ini bertemu bersilaturahim, begitu, berdialog, saya kira akan ada jalan yang baik buat kita semua,” ujar Doktor Zul. Kita juga melihat beberapa pimpinan partai yang terjun langsung dalam lobi-lobi ini. 

Pertikaian ini bertumpu pada ketentuan pembagian pimpinan dalam alat kelengkapan dewan. Keduanya mengedepankan musyawarah mufakat dalam pemilihan pimpinan, akan tetapi tidak dapat dicapai maka dalam ketentuan tata tertib, voting lah jalan keduanya. Doktor Zul berpendapat, “Secara sosial-budaya bangsa kita inikan selalu mengedepankan musyawarah-mufakat, ingin merangkul banyak hati untuk menyelesaikan beberapa masalah. Di sisi lain, teman-teman KMP ingin juga presidensial ini mempunyai parlemen yang kuat, oleh karena itu, for the sake of democratic wisdom, mereka punya rasionalisasinya juga, oleh karena itu, kita carilah nanti, saya kira dengan kehangatan kita berkomunikasi walaupun koalisinya berbeda, at the end of the day semuanya itu teman dan bersahabat.” 

Dia juga bercerita pengalaman pahit yang lalu dimana posisi partainya berada di posisi KIH sekarang dan menurutnya seiring berjalannya waktu akhirnya akan ada perubahan, dan ini juga bisa berakhir seperti itu. “Secara substansi tidak ada yang berbeda ini dengan 2004, mungkin kita meminta teman-teman media terutama sosmed dan online, kadang-kadang hal-hal yang tidak panas-panas amat tapi ditampakkan kelihatan menghadirkan suatu kehebohan sendiri,” anjur Doktor Zul. 

Dalam mencari solusi, Doktor Zul belajar dari masa lalu. “Rekam jejak masa lalu mesti dilihat juga. Politik itu harus dimaknai sebagai proses yang sehat, mudah-mudahan dengan dialog yang melelahkan nanti aka nada ujungnya saya pikir.”Dialog tetap dijalankan, yang pada pertemuan pimpinan Senin(10/11) siang menghasilkan tiga poin kesepakatan antara kedua pihak.


Kesepakatan ini bisa menjadi permulaan dari rujuknya dan kembalinya kedua kubu dalam satu payung yaitu DPR RI. Dan kita hanya bisa melihat perkembangannya yang harus terus dipantau. Seperti Doktor Zul sampaikan, “Saya kira ini sebuah proses dan at the end of the day juga seperti yang sering saya katakan, politik bukan persoalan matematik, bukan persoalan kapasitas, tapi persoalan daya tahan dan kesabaran juga.”(AH).

Sumber: MetroTVNews, Wide Shoot, Parlemen Terbelah.