Posted on 21 Januari 2013 » Category : Book Review » Hit: 2271
KEPADA ENGKAU YANG DI JAKARTA

Kepada saudara-saudaraku di perantauan Jakarta yang sering kebanjiran, aku sampaikan keprihatinan yang dalam. Jangan berkecil hati karena bicara soal banjir, kalian tidak sendiri. Kita semua kini tengah tinggal di bumi yang sama. Bumi yang hutan-hutannya dibabat, tebing-tebingnya di kepras, sungai-sungainya disumbat. Penduduk bumi ini sesungguhnya lebih banyak merusak ketimbang membangun. Atau,minimal membangun sambil merusak itulah hobi penduduk bumi.

Bakat merusak itu di Indonesia malah demikian besarnya. Jangankan merawat hutan, merawat taman pun kita tidak bisa.Banyak tanaman lama tak terpelihara, sementara tanaman baru dirusak dan dicabuti. Apresiasi kita atas tumbuhan dan satwa begitu menyedihkan. Sungai-sungai kita telah lama menjadi tong sampah dan kawasan resapan air banyak dijual menjadi tempat hunian. Cara hidup kita benar-benar tak memedulikan apa pun kecuali kepentingan diri sendiri.

Jika nanti kerusakan itu tak terkendali, jika pemanasan global telah demikian tinggi dan jika kutub-kutub es mencair, kita semua akan segera hidup dalam akuarium besar. Bumi akan segera menjadi semangka yang hampir seluruh tubuhnya cuma berisi air. Kita terancam hidup dalam water world seperti yang pernah dihuni Kevin Costner dalam sebuah film. Dunia tempat segenggam tanah lebih mahal dari sekarung emas, tempat orang terpaksa harus menyuling air kencingnya sendiri demi mendapat air tawar.

Lepas dari bahwa banjir telah menjadi ancaman global, banjir di Jakarta dari tahun ke tahun memang keterlaluan. Mari kita bicara soal Jakarta sebagai kasus. Inilah kota tempat gundukan sampah dapat teronggok lama dan baru diangkat setelah seorang presiden hendak meninjau. Wajar, karena mengurus sampah di Jakarta sudah sama susahnya dengan mengurus negara. Jika sampah saja gagal diurus, apalagi manusianya. Itulah sebabnya meski telah penuh sesak, orang-orang tetap berduyun-duyun mendatangi kota ini. Meski kampung-kampung di Jakarta telah demikian padat, KTP resmi relatif masih gampang didapat.

Ukuran pembuatan KTP di Jakarta agaknya sudah bukan lagi jumlah penduduk dan luas wilayah, tetapi sepanjang blangko masih dapat dicetak, sepanjang masih ada orang yang mencari dan membayar. Jakarta adalah gedung pertunjukan tempat karcis boleh dicetak sebanyak-banyaknya tak peduli apakah ia sepadan dengan tempat duduk yang ada.

Dalam keadaan semacam itu, saudaraku, tidakkah engkau lihat bahwa Jakarta sudah tidak dapat lagi disebut sebagai kota, melainkan kamp pengungsian semata. Akan tetapi, kita jugalah pihak yang ikut menyemangati arus pengungsi itu. Sejak mula telah kita biarkan Jakarta menyihir kita bersama. Sejak awal kita terpaku pada cerita seribu satu malam yang penuh mimpi.

Tersebutlah tentang pengamen jalanan yang sukses rekaman di Jakarta dan langsung hidup bak pangeran. Menjulang namanya, cantik istrinya, banyak mobilnya, mewah rumahnya. Tersebutlah seorang buruh rendahan yang diubah Jakarta menjadi pengusaha kaya. Tiap tahun ia pulang kampung sebagai sinterklas. Jalan-jalan kampung dia aspal, tetangga dan handai tolan dia santuni, sanak keluarga dia beri modal usaha. Tersebutlah pegawai kroco yang sukses menjadi petinggi karena pindah ke Jakarta. Besar kekuasaannya, tinggi kedudukannya, dan mencengangkan fasilitasnya.

Cerita yang membius itu kita embuskan ulang pada anak-anak kita. Jika ingin maju, Jakarta tempatmu. Jika ingin mencari kerja dan kaya-raya datanglah ke Jakarta. Sementara kepada mereka yang sukses di Jakarta, kita ajarkan anak-anak untuk kagum, untuk percaya bahwa mereka benar-benar telah berubah dari seorang udik menjadi semacam dewa-dewa.

Dongeng Jakarta telah kita dengungkan ke setiap kepala. Proposal urbanisasi besar-besaran telah kita susun bahkan mulai dari tiap-tiap rumah. Indonesia yang luas ini seperti hendak diperas cuma untuk menjadi Jakarta. Dengan semangat semacam itu, tak sulit meramalkan jika penggerudukan atas Jakarta memang akan sukses luar biasa.

Saudaraku, lewat kenyataan ini tidakkah engkau tergerak untuk menghentikan kekaguman kita atas Jakarta? Ia adalah kota yang sakit dengan bermacam kanker bersemayam dalam tubuhnya. Adalah mengherankan jika kita masih saja mendatangi Jakarta cuma untuk mempercepat kota itu menuju ajal.

*dikutip dari buku Prie Gs, Nama Tuhan di Sebuah Kuis