Posted on 19 Oktober 2012 » Category : Book Review » Hit: 2344
Kemiskinan yang Menghibur

Kemiskinan ternyata juga sesuatu yang menghibur. Kalau tidak percaya tontonlah televisi di hari-hari ini. Ada jenis acara yang hobinya mencari orang miskin, untuk tiba-tiba memberinya duit, tak tanggung-tanggung: puluhan juta rupiah

Duit yang butuh dikumpulkan selama bertahun-tahun bahkan oleh pekerja menengah paling keras sekalipun ini, bisa diperoleh dalam sekejap oleh orang yang dilabeli sebagai miskin itu. Kita tentu gembira, melihat bahwa ketika pemberantasan terhadap kemiskinan masih terus digalakkan, ada acara televisi yang langsung ikut menjadi relawannya. Relawan ini tak butuh imbalan banyak, kecuali satu: ingin kita sama-sama menonton, betapa gugupnya si miskin itu saat menerima segebung duit yang datang secara tiba-tiba dan harus dihabiskan secara tiba-tiba pula.

Maka kita akan segera melihat potret kemiskinan yang gaduh. Seseorang yang kemudian akan membeli apa saja, barang-barang yang selama ini cuma berkelebat di televisi, barang yang tak pernah mereka bayangkan akan mereka miliki, dan barang yang boleh jadi kegunaannya tak mereka mengerti. Pendek kata, mereka akan membeli apa saja, karena duit ini harus dibelanjakan, dan belanja ini dibatasi jam pula. Pendek kata, mereka tidak sedang bebelanja melainkan tengah kesurupan. Dan efek kesurupan inilah yang akan kita tonton bersama, ee syukur-syukur menghibur kita.

Kita akan merekam detail kegaduhannya. Kita close up agar kita bisa melihat wajah kemiskinan itu dari dekat, untuk kita nikmati gurat-guratnya, keributannya ketika melihat setumpuk uang, bibirnya yang gemetar dan matanya yang nanar. Ia akan membeli handphone meskipun ia tak cara memencetnya dan apakah ada pihak yang akan diteleponnya. Ia akan membeli kulkas besar dan televisi besar tak peduli apakah telah ada listrik di rumahnya. Kebingungannya adalah kegembiraan kita.

Ia akan membeli apa saja karena sejatinya ia tidak sedang berbelanja. Ia tak lebih adalah orang yang tengah berada di dalam kapal Titanic yang hendak karam lalu kalap melakukan apa saja. Dan si miskin yang kalap, yang kesurupan itulah yang sedang kita tonton bersama.

Sementara di ujung yang lain, sebuah lomba juga tengah digelar. Orang-orang tengah disodori sebuah tawaran yang sederhana; boleh memiliki mobil tanpa harus membeli tapi cukup hanya dengan menyentuhnya. Ya cukup hanya dengan menyentuh! Tapi malangnya ia tak sendiri. Si penyentuh itu banyak sekali. Dan kalau orang lain itu bisa menyentuh lebih lama sementara ia menyerah terlalu dini, gugurlah harapannya. Maka untuk bisa memiliki mobil ini ia harus menjadi penyentuh terakhir. Soal kapan masa itu harus berakhir, tergantung pada kekuatan kaki dan tangannya.

Di lomba ini, kita sesunguhnya sedang menonton sebuah happening art akbar. Sebuah pameran instalasi yang menakjubkan. Ada pameran kekuatan, ada demonstrasi kesabaran, ada ketangguhan mental dan yang paling menarik dari itu semua adalah adanya penderitaan. Karena apapun kegemparan yang kita lihat di dalamnya, semua bisa dibahasakan dengan kalimat yang ringkas dan sederhana: demi sebuah mobil!

Akhirnya, sejauh-jauh kita gempar dan takjub, kembalinya ke kemasgulan pula. Sekeras-keras kita tertawa, kembalinya ke kepedihan juga. Karena sejauh-jauh mata memandang, yang tampak adalah wajah kemiskinan kita. Kemiskinan itu begitu dekat, begitu menjerat. Jeratan itu telah melilit kita bersama sehingga kita kebingungan harus berbuat apa: menolongnya atau menertawakannya.

*dikutip dari buku Prie Gs, Hidup Bukan Hanya Urusan Perut