Posted on 21 Agustus 2012 » Category : Book Review » Hit: 2177
SIHIR HARI RAYA

Kekuatan Gaib apakah yang membuat hari raya Idul Fitri memiliki sihir raksasa sedemikian rupa. Mengamati manusia berjejal di kereta barang tanpa lubang udara, nenek-nenek dipanggul hanya untuk bisa masuk jendela bus, "kemah" di terminal demi sesobek karcis, adalah sebuah pemandangan yang "elok".

Hebatnya, perjalanan yang harus melewati "keringat" dan "darah" itu hanya demi dua-tiga hari bermalam di kampung halaman. Sebuah hari keramat yang entah bagaimana bisa membuat manusia begitu menderita kegerahan massal. Belum reda napas mereka, hiruk pikuk serupa kembali terulang. Arus balik adalah sebuah pemandangan yang menegaskan betapa bingung makhluk bernama manusia. Betapa kalau diteropong dari luar angkasa raya, pemandangan itu menyimpan kandungan humor berukuran raksasa pula.


Lebih Dramatis lagi kalau Idul Fitri harus jatuh pada hari nasional. Tak pelak, senin menjadi hari yang malang. Libur belum, bebas juga belum. Seorang pegawai negeri di sebuah departemen harus mengepul ubun-ubunnya karena kemarahan yang sangat. "Ini tragedi. Atasan saya meminta Senin tetap ada upacara. Benar-benar terkutuk!" gerutunya dengan napas memburu. "Eeeeh ini saja belum cukup! Lebaran hari ketiga, di kantor sudah harus berlangsung halal bihalal. Ini jelas pameran kekuasaan paling kampungan," cerocos pegawai yang kepalanya terus mengeluarkan uap itu.


Pegawai itu benar-benar tak sanggup lagi berhitung, betapa sejengkal lagi ia telah merampungkan puasanya. Sebuah puncak ritual akbar tinggal sejengkal di depan matanya. "Atraksi" menahan hawa nafsu telah ia kelola demikian lama, tetapi mutu puasa toh menghadapi tantangan berat kalau harus diadu dengan mudik. Begitu tradisi tersebut diganggu, sejuta kutukan bisa melompat dari kerongkongannya. "Semoga ia menderita encok di hari pensiunannya nanti," kutukannya sambil ngakak. Setengah bercanda, tetapi selebihnya serius. Gurauan yang betapapun, mewakili dendam terselubung.

Anda boleh menganggap ilustrasi tersebut sekadar banyolan, tetapi boleh juga meyakininya sebagai kisah nyata. Mudik, silaturahmi, dan berlebaran dalam pengertian yang benar-benar lebar (habis) atau sampai ke jenjang bar-baran (habis-habisan) adalah sebuah kebutuhan yang begitu bergelora.

Dalam kepenyairan, Chairil Anwar pernah membuat ancaman: yang bukan penyair jangan ambil bagian! hari raya Idul Fitri mestinya senada, yang tak berpuasa tak punya hak berlebaran. Namun,sayang kredo itu sudah lama harus rontok. Polisi, pengusaha, pejabat, kernet, semua boleh baca puisi. Begitu pula silaturahmi, telah menjadi kegiatan lintas agama, lintas sosial, dan lintas profesi.

Di kampung saya, sebut saja Mbah Ahmad (tentu saja nama samaran), bisa bertahta dengan gagah setiap Lebaran tiba. Salat dan puasa, si Mbah tak biasa, tetapi dia Islam tentu saja. Dengan seragam kebesaran seorang alim, baju batik, sarung dan kopiah, dia duduk di kursi kasepuhan sambil menunggu antrean ajangsana tetangga kanan kiri. Penggemar Mbah Ahmad sungguh lengkap, mulai dari anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu rumah tangga.
 
"Puasa saya justru dengan jalan tidak berpuasa,"kata si Mbah cengengesan. Kalimat yang membingungkan itu selalu dia ucapkan dengan gaya cuwawakan. Menyakiti tidak, menyinggung bukan, bangga juga tidak. Namun, apa pun reputasi ibadah si Mbah, dia merasa berhak di-sungkemi. Dia yakin harus mengadakan open house. Siapa pun yang merasa muda di kampung itu, juga belum lengkap kalau belum berkunjung ke rumah si Mbah. Dan kiai "dadakan" itu matanya sangat bisa berlinang-linang, terharu seratus persen, setiap menemukan sungkem yang kualitasnya ciamik.

Memahami lebaran dalam aspek lebar dan bar-baran, akhirnya harus di mengerti sebagai kehendak "kebudayaan" dengan kekuatan maha sehingga bisa dimengerti. Kalau di sebuah solat ied, ada jemaah yang begitu gelisah. Itu bermula dari jadwal solat yang mulur sekian menit dari waktu yang ditentukan. Entah siapa menunggu siapa. Yang jelas semua jamaah telah rapat berderet, sudah full house.

Puncak kegelisahan itu terjadi saat khatib naik mimbar. Lima menit pertama oke, sepuluh menit oke, seperempat jam anak-anak mulai gaduh, dua puluh menit ke depan, tak cuma ibu-ibu dan bapak-bapak pun mulai berisik. Beberapa diantaranya sudah mengubah sikap duduknya secara serampang. Ada yang selonjor, ada yang menanggalkan kopyah, ada pula yang melipat punggungnya sedemikian rupa. Beberapa yang lain masih mencoba diam, tetapi mukanya tegang, matanya melotot lurus. Tak tergambar sedikitpun "wajah lebaran" di dalamnya. tetapi mau mundur dari jemaah? Gengsi. Lagi pula dari awal sudah diperingatkan barangsiapa tidak melengkapi solatnya dengan mendengarkan khotbah maka akan menjadi orang yang merugi. Wah repotnya sehingga keributan masih lumayan dari bubar.

Pemandangan itu tentu mengganggu sang khatib. Wajar kalau ia merasa tak dihargai. Juga wajar kalau ia segera mengeluarkan ancaman yang kalau disadur bebas bunyinya begini,"Perhatian...perhatian...siapa pun yang mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, diam dan renungkanlah. Niscaya kalian tak akan menjadi orang yang merugi. Ingat, saya ini hanya mengemban amanat Allah. Kalau saya sedang membaca ayat Allah dan kalian ribut, resiko tanggung sendiri. Sekian!"

Setelah tiga perempat jam, sang khatib turun dari mimbar. Namun, jemaah sudah begitu ribut. saya yang nyelip di tengah, hanya bisa termangu. Andaikan saja saya cukup ilmu untuk menyimpulkan kepada siapa saya harus berpihak....
Betapa tenteram Hati ini.

(Dikutip dari Buku PRIE GS: Merenung Sampai Mati)