Posted on 12 Juni 2012 » Category : Book Review » Hit: 1830
Kebaikan Salah Ruang

Di negaraku, kemacetan di jalan mulai menjadi soal yang biasa. Bisa jadi karena jalan-jalan di negeraku kecil saja ukurannya. Bisa pula karena jumlah kendaraan yang terus bertambah, karena di negaraku, kredit kendaran menjadi soal yang mudah. Bisa pula, karena jalan raya kami memang bukan cuma menjadi jatah pengendara. Ia juga bisa untuk lahan parkir, tempat para pedagang kaki lima bisa dengan mudah menjorokkan dagangan mereka, tempat para pengasong, pengamen dan pengemis beroperasi bersama. Atau bisa pula karena kemacetan itu bukan karena kepadatan, melainkan karena ketidakdisiplinan belaka.

Tapi inilah agaknya yang terjadi; kemacetan jalan raya itu ternyata adalah kumpulan dari itu semua. Sudah bentuknya kecil, berlimpah kendaraan, untuk parkir, untuk berdagang, untuk mengamen, mengemis dan tambah tidak ada disiplin pula. Maka bisa dibayangkan jika jalan raya negaraku adalah penyumbang stres besar dalam keluarga. Dari sebuah sebuah jalan yang padat dan ganas, seorang yang baru pulang kerja butuh mengendapkan diri, menenangkan hati dan jangan buru-buru diajak berdiskusi, apalagi disodori persoalan. Sedikit saja bara disodorkan, ia akan segera berkobar menjadi api.

Di jalan raya seperti inilah ada sepasang sahabat sedang mempraktekkan kebaikannya. Dua sahabat yang berbeda statusnya, tapi saling mengasihi. Yang satu bersepeda ontel tua, yang lain bersepeda motor baru dan agaknya belum lunas kreditnya. Tapi betapapun repot si pengendara motor ini mengangsur kreditannya, ia toh tidak tega melihat sahabatnya bahkan untuk kredit motor saja tak bisa. Maka, begitu ia melihat sahabatnya itu tengah berkeringat di tengah jalan raya mengenjot sepeda tuanya, di kepung bahaya, digonggongi klakson, didesak-desak dan dipinggirkan, tak tegalah hatinya.

Dihampirinya si kawan itu, kepadanya cuma dipersilahkan menyetir saja tapi tak usah menggenjot. Dari atas motor bebeknya, kawan yang baik hati ini cukup menyodorkan tangannya, lalu tangan bertemu tangan, tarik menariklah dua sepeda beda status ini untuk menyusuri jalan raya. Sepanjang jalan, mereka terawa dan dan bercanda. Kedekatan tampak terpancar dari wajah mereka. Yang satu merasa beruntung bisa menolong saudaranya yang kekurangan, yang lain merasa bersyukur, bahwa di dalam kesusahan selalu tersedia pertolongan. Maka tarik menarik dua sepeda beda kelas itu berlangsung tulus, gembira dan mengharukan. Yang luput bergembira adalah para pemakai jalan di belakang keduanya. Mereka adalah mobil-mobil yang cepat larinya, motor-motor yang buru-buru, bus-bus yang ganas berebut penumpang, angkutan kota yang serampangan dan truk-truk yang tidak sabaran. Mereka semua menggonggong, menyalak, meneriakkan klakson-klaksonnya dengan kemarahan karena suasana jalan raya menjadi tidak bermutu. Macet tidak, lancar juga tidak. Karena dua sahabat yang saling tolong-menolong ini terpaksa menyita hampir separo jalan dan tanggung saja jalan mereka, cepat tidak, lambat pun tidak. Maka perang kepentingan benar-benar tak terhindarkan. Perang yang berlangsung secara tidak bermutu karena si cepat dan buru-buru itu cuma bisa mengutuk dan menyumpah tanpa benar-benar berani menabrak yang diperangi, sementara si lambat yang tengah tolong-menolong itu terus percaya diri karena mereka merasa tengah memraktekkan kebaikan hati.

Beginilah memang keadaan di negaraku. Ada begitu banyak orang baik hati, begitu banyak kegiatan tolong menolong, tapi juga ada begitu banyak kebaikan salah ruang dan waktu. Ada jenis tolong-menolong yang menggeret penolong dan yang ditolong hanya untuk menjadi tersangka secara rombongan. Jadi ada jenis kebaikan yang begitu membahayakan. Ada jenis pertolongan yang kedatangannya sudah tak lagi diperlukan karena semuanya telah menjadi korban. Ketika busung lapar marak di mana-mana kita baru mengedarkan brosur sumbangan sambil lupa, betapa selama ini kita telah begitu kenyangnya. Sangat kenyang karena bahkan rezeki orang lain pun kita embat juga.

Begitu cinta kita kepada anak sendiri, keluarga dan saudara sendiri, sehingga betapapun rendah kemampuannya, kepadanya harus direkomendasikan utuk mendapaat kedudukan. Karena mentelantarkan  keluarga sendiri, membiarkannya sengsara adalah sebuah kejahatan. Maka agar kita tidak dianggap sebagai penjahat di dalam keluarga sendiri, kita rela menjadi penjahat di kantor-kantor kita, di perusahaan tempat kita bekerja dan kalau perlu menjahati negara. Aneh sekali negaraku ini, kenapa banyak sekali kebaikan yang bisa begini membuahkan banyak kerusakan.

*dikutip dari buku Prie Gs, Hidup Bukan Hanya Urusan Perut