Posted on 07 Mei 2012 » Category : Book Review » Hit: 1951
Jorok Itu Perlu

Paman yang hendak saya ceritakan ini menarik perhatian karena sikap joroknya. Kita mulai saja dari rumahnya yang serba tidak rapi dan belepotan. Dari temboknya yang sengaja itu biarkan penuh coretan pensil anak-anaknya. “Biarkan saja” katanya. Setelah dua kata itu, rombangan kata-kata baru akan sambung-menyambung dari mulutnya.

Betapa dengan coretan itu malah selalu terbayanglah wajah anak-anaknya. Baru membayangkan wajah anak-anaknya saja, ia mengaku telah menjadi manusia yang sama sekali berbeda. Karena jika ia ingat bagaimana ketika wajah itu pucat dan takut ketika suatu kali ia main bentak, akan berkaca-kacalah matanya. Jika ia ingat adalah kata-kata anaknya yang belum nyambung dengan akalnya, akan terbahak-bahaklah dia. Jika yang terbayang adalah anak-anaknya ketika mereka sakit, akan terlecutlah hatinya untuk memberikan vitamin terbaik, dokter terbaik, dan rumah sakit terbaik. Jika yang terbayang adalah anak-anaknya ketika berangkat sekolah, yang muncul di benaknya adalah tekad untuk memberi pendidikan yang juga terbaik baginya. Jika yang terbayang adalah betapa sehat anak-anaknya, rasa syukur akan menyelinap dalam batinnya.

Jadi, hanya dengan melihat coretan di dinding yang dianggap jorok itu, ia tak henti-hentinya terharu dan tertawa, bersemangat dan mensyukuri hidup. Makin banyak coretan di dinding rumah yang dibuat anak-anaknya, ia akan makin gampang terharu dan tertawa, semangat dan bersyukur. “Jadi, dibanding dengan kebahagiaan yang saya terima, kejorokan di dinding itu tak ada artinya,” kata si kawan ini.

Bukan cuma itu saja. Ia juga amat suka membiarkan sarang laba-laba berserakan di sekujur rumahnya. Lagi-lagi, pihak yang heran cuman akan menggugah semangat penjelasannya. “Ketika melihat hewan-hewan itu membuat rumah saya takjub sekali. Betapa dari hewan kecil itu bisa demikian rapi mengayun rumah, mengeluarkan sulur dari perut seperti tak ada habis-habisnya,” katanya. “Oya, jangan lupa, karana hewan itulah umat manusia mengenal tokoh Spiderman, dari lahir pula komik serta film yang sangat sukses itu,” tambah si kawan. Ia memang bercanda tapi sulit sekali membedakan mana humor mana filsafat.

Hanya soal laba-laba saja bisa merancau ke segala jurusan, ke dunia pembelaan lingkungan dan khotbah agama. Bagaimana sebetulnya dunia, tidak perlu obat nyamuk jika setiap rumah mau menernak laba-laba di rumahnya. “Dan, jangan lupa, hewan inilah yang membela Nabi Muhamad ketika sedang terjebak musuh di Gua Tsur,” kata si kawan.

Oya, rumah si kawan ini juga punya sarang semut yang pada waktu-waktu tertentu, jika semut itu sedang keluar sarang, bisa sedemikian rupa anehnya. Alih-alih merasa ngeri untuk kemudian segera menyapu atau menutup lubangnya, teman ini malah suka menagajak isteri dan anak-anaknya menyimak barisan semut ini. “Lihat bagaimana mereka bekerja, sangat disiplin dalam menjaga tugasnya. Lihatlah cara mereka bekerja untuk rumah mereka, sangat penuh dedikasi. Jika manusia Indonesia memiliki kelakuan seperti semut tersebut, tak usahlah kita menjadi negara susah begini. Jadi, manusia Indonesia dibanding semut saja masih kalah bermutu,” katanya, juga tak jelas, adakah dia sedang bercanda atau marah.

Singkat kata semua jenis kejorokan di dunia ini, bagi teman saya malah mendatangkan kebahagiaan hidup. Dan, saya berani bertaruh, sementara orang lain menganggap hidupnya jorok, ia pasti hidup lebih bahagia dibanding orang-orang yang ribut menjaga kebersihan rumahnya tapi lupa menjaga kebersihan hatinya.

*dikutip dari buku Prie Gs, Hidup Bukan Sekedar untuk Makan