Posted on 22 Agustus 2011 » Category : Islamic Update » Hit: 2154
Metafora Lailatul Qadar

Oleh : Nurcholish Madjid

Kita sudah memasuki sepuluh hari ketiga pada bulan ini. Mari kita mengingat sedikit renungan kita dalam khutbah yang lewat. Kita telah membicarakan bahwa menurut para ulama, puasa Ramadhan dibagi menjadi tiga jenjang yang mengikuti pembagian persepuluh hari. Sepuluh hari yang pertama, adalah jenjang fisik (jasmani). Dimana kita masih terlibat dalam usaha menyesuaikan diri secara jasmani kepada kebiasaan baru, menyangkut makan, minum dan lain-lain. Disinilah shiyam dalam arti menahan diri itu diwujudkan dlam tindakan-tindakan lahiriah yang menjadi bidang kajian fiqh yang meliputi persoalan batal atau tidak batalnya puasa.

Sementara jenjang yang kedua disebut sebagai jenjang nafsani (psikologis atau kejiwaan). Kalau ada jenjang yang pertama bersifat keragaan, maka disini shiyam menahan diri itu sudah sampai kepada sesuatu yang bersifat nafsani, yakni menahan diri dari hawa nafsu. Secara fiqh memang tidak membatalkan puasa, misalnya ketika kita marah-marah atau membicarakan kejelekan orang lain. Tetapi dalam puasa, batinnya perbuatan itu bisa membatalkan puasa. Disini kita diingatkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan sabda beliau:

“Dari abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda, barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan (tak bisa meninggalkan) perbuatan kotor maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa meski orang itu meninggalkan makan dan minum”(HR, Bukhari)

Pada konteks puasa lahiriah, melakukan perbuatan tersebut, puasanya tetap dianggap sah. Tetapi dalam konteks nafsani, orang yang berpuasa itu tidak dapat mendapatkan hikmah apa-apa. Hal ini juga diingatkan oleh sahabat Umar:

“Banyak sekali orang puasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar”.

Selanjutnya pada sepuluh hari yang ketiga, sebagaimana yang sudah kita bahas, kita harus meningkatkannya pada jenjang ruhani. Dalam ranah ini, kita sudah memasuki sesuatu yang susah sekali diterangkan, karena memang masalah ruhani tidak ada ilmunya. Kita mengetahuinya hanya dari berita atau yang dalam bahasa arab disebut naba’un. Dan pembawa berita itu adalah Nabi. Dari Nabi-lah kita mengetahui apa yang bisa kita proleh dari puasa jenjang ketiga ini, karena memang tidak bisa diterangkan. Oleh karena itu, kemudian diungkapkan melalui simbol-simbol, metafora-metafora, termasuk masalah Lailatul Qadar. Hal itu sebenarnya merupakan sebuah perlambang dari suatu capaian ruhani atau perolehan ruhani yang tidak bisa diterangkan.

Suatu saat, ketika Rasulullah SAW bersabda kepada umatnya yang tengah berkumpul dimesjid nunggu-nunggu Lailatul Qadar, karena Rasulullah memang tidak pernah menerangkan apa yang dimaksud Lailatul Qadar dan kapan terjadinya, maka beliau hanya mengatakan “Apa yang kamu tunggu-tunggu insya Allah malam ini datang, karena aku telah melihat dalam visi (ru’yah) bahwa akan ada hujan lebat kemudian aku belepotan lumpur dan basah kuyup oleh air”. Kemudian umat yang berkumpul itupun membubarkan diri. Pada malam itu memang terjadi hujan lebat. Karena bangunan mesjid madinah pada zaman Nabi sangat sederhana, atapnya terbuat dari daun kurma, maka dengan sendirinya air hujan pun masuk ke lantai masjid yang terbuat dari tanah.

Umat yang ada pada saat kejadian tersebut melihat apa yang dikatakan Nabi. Karena beliau sembahyang dalam keadaan basah kuyub. Sementara muka dan sekujur badannya berlumur tanah liat. Lalu apa yang dimaksud dengan Lailatul Qadar itu oleh Nabi? Karena Nabi mengatakan “Itulah yang kau tunggu-tunggu.”

Sekali lagi, karena memang persoalan ini adalah persoalan ruhani, maka tidak ada kata-kata yang cukup untuk bisa menjelaskannya. Hal itu adalah simbol atau perlambang. Kemudian di sinilah terkandung masalah tafsir atau takwil (semiotika). Bahwa belepotannya Nabi dengan lumpur dan basahnya Nabi dengan air sebenarnya adalah suatu peringatan kepada kita bahwa jenjang paling tinggi dari pengalaman ruhani itu ialah kita sudah kembali ke asal kita. Darimana kita berasal? Dari tanah dan dari air, sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur’an:

الَّذى أَحسَنَ كُلَّ شَيءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلقَ الإِنسٰنِ مِن طينٍ

ثُمَّ جَعَلَ نَسلَهُ مِن سُلٰلَةٍ مِن ماءٍ مَهينٍ

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani) (Q32; 7-8).

Dalam surat Yasin juga diingatkan:

أَوَلَم يَرَ الإِنسٰنُ أَنّا خَلَقنٰهُ مِن نُطفَةٍ فَإِذا هُوَ خَصيمٌ مُبينٌ

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!" (Q36; 77)

Maka dengan belepotannya Nabi oleh lumpur dan basah kuyupnya oleh air itu, sebenarnya merupakan simbolisme bahwa kita harus kembali menyadari siapa diri kita. Dengan demikian, seperti menjadi makna yang tersimpul atau terkesan dari firman Allah dalam surat Yasin di atas, kita harus menjadi manusia-manusia yang rendah hati. Karena itu dalam al-Qur’an. Sifat pertama yang disebutkan hamba-hamba Allah yang Maha Kasih adalah:

وَعِبادُ الرَّحمٰنِ الَّذينَ يَمشونَ عَلَى الأَرضِ هَونًا وَإِذا خاطَبَهُمُ الجٰهِلونَ قالوا سَلٰمًا

"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik" (Q 25;63)

Dengan sikap rendah hati, banyak sekali kebaikan yang akan diperoleh, bahkan hampir semua kebaikan itu muncul. Sebaliknya musuh dari rendah hati adalah takabbur (sombong), yang membuat pintu surga menjadi tertutup rapat dan tidak bisa masuk ke dalamnya.

Tidak akan masuk surga orang yang ada di dalam hatinya ada seberat atom dari perasaan sombong ” (HR. Muslim)

Perbuatan takabur adalah dosa pertama yang dilakukan makhluk terhadap Allah, Yaitu ketika iblis menolak mengakui keunggulan Adam. Maka Allah kemudian memberikan kualifikasi tentang sikap iblis dengan firman-Nya:

 أَبىٰ وَاستَكبَرَ وَكانَ مِنَ الكٰفِرينَ

"dia ingkar dan dia menjadi sombong, (dengan begitu) maka dia termasuk mereka yang kafir." (Q 2; 34)

Jika kita menyadari diri sendiri, atau dalam bahasa yang biasa kita ucapkan sehari-sehari, dengan tahu diri, maka banyak banyak sekali kebahagiaan yang diperoleh. Dan karena merupakan suatu kebahagiaan yang sangat tinggi, maka sulit diterangkan. Dalam al-Qur’an, ada kata-kata seperti thuma’ninah, sakinah, dan qurratu a’yun. Kata tuma’ninah misalnya terdapat dalam firman Allah SWT yang menjelaskan bahwa kalau orang ingat kepada Allah dia akan merasakan ketenangan dalam hatinya.

أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

"Ketahuilah bahwa dengan ingat kepada Allah, maka hati akan mengalami tuma'ninah (ketenangan)" (Q 13; 28)

Ketenangan itu juga disebut sakinah, karena orang itu bisa kembali kepada Allah SWT. Pada khutbah yang terdahulu, terdapat kata-kata pulang dalam bahasa Arab disebut ruju’ atau inabah yang banyak sekali dipergunakan dalam al-Qur’an. Salah satunya adalah ucapan suci, inna li ‘l-Lah-i wa inna ilayh-i raji’un, kita semuanya berasal dari Allah dan kita akan pulang kepada-Nya.

Dengan demikian, keberhasilan untuk pulang itu adalah suatu persyaratan mencapai kebahagiaan. Sebaliknya kalau orang tidak berhasil pulang ke asal, pulang dalam bahasa keseharian kita disebut dengan sesat, maka itu adalah pangkal kesengsaraan. Pulang kemana? Pulang kepada Allah SWT.

وَأَنيبوا إِلىٰ رَبِّكُم وَأَسلِموا لَهُ

"Kembalilah kamu semuanya kepada Tuhanmu, dan pasrahlah kepada-Nya." (Q 39;54).

Datang kepada Tuhan tanpa ada persoalan. Pada hari kiamat terjadi, misalnya digambarkan bahwa saat itu harta dan anak tidak lagi bermanfaat

يَومَ لا يَنفَعُ مالٌ وَلا بَنونَ

إِلّا مَن أَتَى اللَّهَ بِقَلبٍ سَليم

"Pada saat itu harta dan anak tidak berguna,  kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang utuh (integral)" (Q 26;88-89)

Yang dimaksud dengan utuh adalah tidak ada persoalan dengan Tuhan (salim). Maka salamah itu pun adalah juga ketentraman sehingga agama ini pun disebut Islam. Hal ini tidak hanya kita diajari untuk pasrah kepada Allah, tapi juga untuk memperoleh salam dan salamah. Salam berarti aman. Maka orang yang percaya atau beriman kepada Allah adalah orang-orang yang bakal mendapatkan keamanan.

Ini semuanya mensyaratkan adanya kesadaran utnuk kembali kepada Allah SWT. Jadi harus tahu diri kembali kepada asal itu juga adalah juga kembali kepada Allah SWT, sesuai dengan firman Allah:

وَلا تَكونوا كَالَّذينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسىٰهُم أَنفُسَهُم ۚ أُولٰئِكَ هُمُ الفٰسِقونَ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik" (Q59;19)

Lupa diri adalah lawan dari tahu diri. Lupa diri adalah suatu akibat dari orang yang tidak menyadari asal usul hidupnya. Lupa diri adalah orang yang bingung atau sesat. Apalagi jika hal ini kita kaitkan dengan ungkapan bahasa kita “lupa daratan”, suatu ungkapan yang menyangkut orang-orang yang pergi ke laut, tapi setelah sampai di pelabuhan ia masih bersikap seperti dilaut, masih lupa bahwa dia sudah berada didaratan. Oleh karena itu, kembali kepada Allahini adalah persyaratan dari kebahagiaan. Hal itulah yang disebut dengan taqwa.

Semangat kembali pada Allah semestinya juga kita bawa kepada keaaan sehari-hari, misalnya tentang kematian, yang sekarang semakin tidak bisa diramal. Sekarang ini banyak kematian disebabkan oleh penyakit akibat kemakmuran semacam sakit jantung. Sehingga banyak orang yang meninggal dalam situasi yang tidak disangka-sangka seperti saat memberikan ceramah atau bermain badminton. Ini yang disebut dalam al-Qur’an: al-zumar 55

وَاتَّبِعوا أَحسَنَ ما أُنزِلَ إِلَيكُم مِن رَبِّكُم مِن قَبلِ أَن يَأتِيَكُمُ العَذابُ بَغتَةً وَأَنتُم لا تَشعُرونَ

"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya" (al-Zumar:55)

Maka untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan jalan kembali kepada Allah SWT. Dengan demikian apa yang ingin dikatakan Nabi dengan simbolisme belepotan lumpur dan basah kuyup oleh air adalah bahwa kita harus kembali ke asal. Pertanyaan yang mucul kemudian adalah, mengapa ada dorongan kita kembali kepada asal? Seperti yang telah disinggung pada khutbah yang lalu bahwa doronga itu ada karena memang sebenarnya kita sudah terikat perjanjian primordial dengan Allah SWT bahwa kita akan mengakui bahwa Dia (Allah) adalah sebagian Rabb-un, Pangeran, atau The Lord.

 أَلَستُ بِرَبِّكُم ۖ قالوا بَلىٰ ۛ شَهِدنا

"Bukankah Aku ini Tuanmu?"" Mereka menjawab: ""Ya(Engkau Tuhan kami), kami bersaksi". ((Q7;172)

Perkataan tuan atau lord artinya adalah suatu dzat atau wujud yang dalam hal ini Allah SWT yang kita jadikan sandaran untuk hidup kita. Dengan demikian jika kita mengakui Allah sebagai Rabb, maka konsekuensinya adalah kita kemudian harus menyembah-Nya. Pada waktu kita dalam alam ruhani, dalam perjanjian tersebut, kita menjawab, “Ya, kami bersaksi.”

Inilah yang mengendap dalam kedirian kita yang paling mendalam yang disebut sebagai lubb-un yang bentuk jamaknya albab. Oleh karena itu ulu’l-albab bisa diterjemahkan sebagai orang-orang yang mempunyai kesadaran yang mendalam; kesadaran tentang dirinya sendiri, yang meresap atau mengendap dalam lubb. Kita jauh jauh lebih dalam dari apa yang secara psikologis disebut sebagai alam bawah sadar.

Jika bawah sadar itu masih ada dalam bidang nafsani (psikologis), sehingga seorang ahli psikoanalisa, misalnya, masih bisa mengorek ruhani, atau dalam lubb-un itu tidak bisa lagi dikorek namun wujudnya amat nyata dalam kehidupan kita.

Karena itu kenapa kemudian kita rindu kepada Allah SWT dan ingin kembali pulang kepada-Nya. Pulang kepada Allah itu kemudian dimulai dengan pulang ke tanah. Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW menanam seseorang, menguburkan seseorang, maka beliau bersabda, Allah berfirman:

"Dari tanah Kami ciptakan engkau, kepada tanah Kami kembalikan engkau dan dari tanah pula nanti Kami akan keluarkan engkau pada waktu lain(hari kiamat)" (Hr Ahmad).

Jadi, yang dialami Nabi ialah sebuah simbolisasi bahwa kitapun akan kembali ke tanah, juga kembali menjadi air. Apalagi jika kita mempercayai kedokteran, yang menjelaskan bahwa 80 persen unsur dalam diri kita adalah cairan. Fakta ini paling tidak menyadarkan kita, bahwa kita akan menjadi air, dan kembali kepada Allah SWT. Hanya orang yang bisa kembali kepada Allah yang akan merasakan kebahagiaan atau yang disebut sakinah. Alam bahasa sehari-hari kata sakinah ini berarti tujuan dari kehidupan keluarga. Karena memang Allah berfirman:

وَمِن ءايٰتِهِ أَن خَلَقَ لَكُم مِن أَنفُسِكُم أَزوٰجًا لِتَسكُنوا إِلَيها وَجَعَلَ بَينَكُم مَوَدَّةً وَرَحمَةً ۚ إِنَّ فى ذٰلِكَ لَءايٰتٍ لِقَومٍ يَتَفَكَّرونَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (Q30;21)

Mawaddah wa rahmah itu adalah suatu cinta dengan tingkatan cinta yang sangat tinggi dan lebih tinggi dari cinta fisik yang dalam bahsa Arab disebut mahabbah atau lebih tepatnya hubb al-syahawat. Sebagaimana firman Allah:

زُيِّنَ لِلنّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّساءِ وَالبَنينَ وَالقَنٰطيرِ المُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ وَالخَيلِ المُسَوَّمَةِ وَالأَنعٰمِ وَالحَرثِ ۗ ذٰلِكَ مَتٰعُ الحَيوٰةِ الدُّنيا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسنُ المَـٔابِ

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Q3;14)

Syahwat adalah suatu hal yang sangat fitri, yang sangat alamiah, karena itu tidak perlu dilawan, bahkan harus disalurkan menurut agama kita melalui pernikahan. Akan tetapi kalau kita berhenti hanya kepada cinta fisik, maka kita akan lebih rendah dari binatang. Hubb-u’l-syahawat adalah suatu bekal yang diberikan Allah agar kita tetap survive dimuka bumi ini dengan adanya keturunan.

Sementara untuk mencapai kebahagiaan yang disbeut sakinah, syaratnya adalah mawaddah atau cinta pada level kejiwaan yaitu cinta kita kepada sesama manusia. Inilah yang disebut dengan philos, cinta kearifan dalam perkataan philosophis. Semntara hubb-u’l-syahawat adalah erros atau cinta erotik (erotic love) yang jasmani, menurut psikolog Freud disebut dengan libido.

Dorongan libido ini tidak akan membawa kita kepada kebahagiaan karena hanya akan menjadikan kita setingkat dengan binatang. Namun jika, kita ingin bahagia, maka harus naik kepada philos (mawaddah) atau cinta kepada sesama manusia atau dasar kemanusiaan itu sendiri.Dan hal itupun tidak cukup karena kita pun harus berusaha sampai kepada cinta Ilahi atau disebut Rahmah. Karena rahmah adalah sifat Allah yang paling banyak disbeut dalam al-Qur’an.

Rahmah tidak bisa dibayangkan dan diterangkan, seperti halnya perolehan dari adanya rahmah, yakni sakinah, dan pada tempat yang lain disebut qurrat-u’ayn, seperti dalam doa:

وَالَّذينَ يَقولونَ رَبَّنا هَب لَنا مِن أَزوٰجِنا وَذُرِّيّٰتِنا قُرَّةَ أَعيُنٍ وَاجعَلنا لِلمُتَّقينَ إِمامًا

"Dan orang-orang yang berkata: ""Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (Q25;74)

Lagi-lagi, qurrat-u’ayun ini pun adalah sebuah istilah yang sulit sekali diterjemahka. Tetapi paling tidak berarti sebagai esensi kebahagiaan seperti juga yang disebut dalam al-Qur’an sebagai kebahagiaan tertinggi ketika kita masuk dalam surga. Sebab yang kita cari dalam surga itu tidak lain adalah qurrat-u’ayun yang di dunia bisa kita rasakan melalui sakinah dan kehidupan keluarga yang benar. Didalam surat al-Sajdah disebutkan:

فَلا تَعلَمُ نَفسٌ ما أُخفِىَ لَهُم مِن قُرَّةِ أَعيُنٍ جَزاءً بِما كانوا يَعمَلونَ

"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Q32;17)

Tidak seorang pun yang tahu. Itulah surga. Surga tidk ada seorang pun yang tahu. Berdasarkan itu terdapat hadis kudsi:

"Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga serta tidak pernah terbetik dalam hati manusia."

Selanjutnya Nabi bersabda:

"Dan kalau kamu mau (kata Nabi), bacalah (ayat Qur'an itu), tidak seorang pun mengetahui esensi kebahagiaan yang dirahasiakan baginya sebagai balasan untuk amal perbuatan baiknya."

Itulah yang harus kita cari dalam tahap ruhani puasa ini, yang kita alami melalui suatu simbolisasi dari Lailatul Qadar. Tetapi semuanya memang harus dimulai dengan tanah dan air. Dengan kata lain, kesadaran tentang diri kita yang sesungguhnya. Sebab dengan rendah hati kita akan mencapai keikhlasan, dalam arti, tidak hanya melihat diri kita sendiri sebagai orang yang selalu berbuat baik, tetapi karena perbuatan baik itu digerakkan oleh Allah SWT.

Maka, seseorang yang sudah mencapai tingkat ini, seperti yang digambarkan al-Qur’an, adalah mereka yang bersedekah dan mendermakan sebagian dari rizki Allah yang dikaruniakan kepadanya, namun hatinya tetap malu bahwa mereka itu bakal bertemu Tuhan.

وَالَّذينَ يُؤتونَ ما ءاتَوا وَقُلوبُهُم وَجِلَةٌ أَنَّهُم إِلىٰ رَبِّهِم رٰجِعونَ

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka" (Q23;60)

Aisyah, isteri Nabi, pernah merasa heran dengan ayat ini, lalu bertanya kepada Nabi, “Hai Nabi, ayat itu aneh. Orang itu beriman, bahkan rajin bersedekah, tapi kenapa ia malu bertemu dengan Tuhan, bagaimana maksudnya, apakah dia selain bersedekah juga berbuat jahat seperti mencuri, berzina dan sebagainya?” Nabi kemudian menjawab, “Tidak Aisyah. Orang itu betul-betul baik, saleh, dan benar-benar ikhlas, tetapi justru keikhlasannya maka dia tetap malu kepada Allah, dan tidak melihat dirinya itu pernah berbuat baik.”

Apabila kita telah mencapai fase itu, melalui puasa kita, melalui latihan selama tiga puluh hari, maka kebahagiaan akan menyebar ke seluruh masyarakat dan mampu mencapai cita-cita yang diletakkan oleh agama kita sebagai rahmat-an li’l-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Dikutip dari buku Pesan-pesan Takwa Nurcholish Madjid