Posted on 02 Agustus 2011 » Category : Islamic Update » Hit: 1670
Tidak Sekadar Puasa Badani

Oleh : Nurcholish Madjid

Ibadah puasa yang tengah kita jalani saat ini, sebagai salah satu rukun Islam, bertujuan agar kita bertakwa kepada Allah. Sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Dalam bahasa Arab, shaum (puasa) berarti menahan diri. Secara fiqh, puasa ialah menahan diri dari makan dan minum, serta perbuatan-perbuatan lain yang bersifat badani (fisik) sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Tetapi yang diharapkan, tidak hanya menahan diri secara fisik, melainkan juga secara mental (kejiwaan).

Banyak ditegaskan dalam beberapa hadis, termasuk hadis mutawatir, tentang dorongan upaya mendisiplinkan diri sehingga mampu meningkatkan kualitas puasa, dari sekadar puasa badani, menjadi puasa nafsani, yang dilanjutkan menjadi puasa yang dapat mencapai nilai-nilai spiritual.

Tiga puluh hari dalam bulan puasa ini bisa kita bagi menjadi tiga bagian. Sepuluh hari pertama adalah masa penyesuaian diri secara fisik. Dari yang semula kita makan, seperti makan pagi, siang, sore atau malam, kita ubah menjadi makan maghrib, atau yang disebut buka puasa dan makan pagi menjelang fajar atau sahur. Penyesuaian semacam ini memerlukan waktu yang diperkirakan selama sepuluh hari. Seakan-akan kita memulai puasa dari suatu sikap dan perbuatan yang bersifat permulaan (ibtida’i) dan jasmani.

Pada sepuluh hari yang kedua, kita harus mampu meningkat kepada tingkat yang lebih tinggi (tsanawi), yaitu pada fase puasa nafsani. Oleh karena itu masalah kedisiplinan diri dari segi mental harus lebih baik daripada sepuluh hari yang pertama. Jika sepuluh hari yang kedua bisa kita jalani dengan baik, maka pada sepuluh hari yang ketiga kita akan mampu meningkatnya kepada perolehan-perolehan ruhani, yang diwujudkan dalam ajaran tentang Laylat-u’l-Qadr, dimana tidak mungkin diperoleh kecuali bagi mereka yang puasanya telah sampai pada fase ruhani.

Jika sepuluh hari yang pertama adalah tingkat ibtida’i (permulaan), dan sepuluh hari kedua adalah tingkat tsanawi (tingkat yang kedua), maka sepuluh hari yang ketiga itu bersifat Rabbani.

Pada fase ketiga ini kita akan mengalami puncak pengalaman kita dalam keadaan puasa, yaitu apa yang disebut dengan Laylat-u’l-Qadr. Untukmencapainya, kita harus memulai dari sekarang dengan memahami sedikit masalah puasa. Dalam beberapa hadis, ditegaskan bahwa puasa adalah suatu ibadah yang sangat pribadi. Ada sebuah hadis kudsi, yang kedengarannya agak aneh namun sebenarnya tidak aneh, yaitu Sabda Nabi :

عَنْ أَبِي صَالِحٍ الزَّيَّاتِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Dari Abu Shalih Az Zayyat bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Allah Ta'ala telah berfirman: setiap amal anak adam adalah untuknya kecuali shaum, sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasan/pahalanya”.(HR.Bukhari).

Jadi semua perbuatan umat manusia itu untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Mengapa demikian? Karena puasa merupakan ibadah yang paling pribadi (pivate), dan tidak ada yang tahu apakah kita berpuasa atau tidak kecuali kita sendiri dan Allah SWT. Kalau orang salat, maka perbuatan salat itu bisa diketahui orang. Begitu pula dengan zakat, karena ada yang menerima. Terlebih lagi ibadah haji sebagai perbuatan yang sangat publik. Maka ketika kita puasa kemudian kita merasa sangat haus dan dahaga dan tersedia di depan kita segala macam minuman, tetapi kita menahannya. Ini merupakan sebuah latihan untuk menyadari tentang kehadiran Tuhan dalam hidup. Kita tidak akan minum padahal kita sendirian, karena kita meyakini bahwa Allah mengawasi, dan menuntut pertanggungjawaban kita. Puasa adalah latihan untuk memperkuat kesadaran kita bahwa Allah itu Maha Hadir.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Q 57:4)

Tidak ada dua orang yang berbisik-bisik melainkan Allah yang ketiga. Tidak ada tiga orang yang berbisik-bisik kecuali Allah yang keempat, tidak kurang dan tidak lebih dari itu kecuali Allah selalu menyertai mereka. Begitu kira-kira makna yang terkandung dalam firman Allah di atas. Ketika Nabi Muhammad berdua dengan Abu Bakar di gua Tsur, dan Abu Bakar merasa ketakutan karena hampir diketahui oleh musuh-musuh Nabi, maka dengan tenang Nabi mengatakan,”Jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Berikut kisah lengkapnya :

فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ   

“sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Qur'an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q 9:40).

Dengan demikian, takwa tidak lain adalah suatu pola hidup atau suatu cara hidup yang dijalani atas dasar kesadaran bahwa seluruh tingkah laku kita selalu berada dalam pengawasan Tuhan. Sebab Tuhan selalu beserta kita. Itulah yang dimaksud dalam hadis yang menjelaskan bahwa seluruh ibadah yang lain itu untuk manusia sendiri. Kita bisa memamerkan salat atau zakat kita.

إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu) , maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q 2:271).

Dari ayat di atas terkesan seolah-olah Allah tidak peduli apakah kita ikhlas atau tidak dalam berzakat, yang penting orang miskin tertolong. Bahkan jika kita memperlihatkan sedekah kita mungkin akan mempunyai efek peniruan di masyarakat.

Demikian halnya dengan ibadah haji. Sikap pamer itu bukan suatu kesalahan melainkan telah menjadi kultur kita, di mana orang pulang haji memakai atribut kehajiannya. Tetapi dalam puasa, sikap pamer ini tidak bisa, sebab hal itu hanya menjadi milik kita sendiri dan Allah SWT. Maka dari itu ditegaskan, Allah-lah yang akan mengganjarnya.

Puasa dengan ajaran takwanya sesungguhnya melatih kita untuk jujur kepada diri sendiri. Jujur kepada Allah berarti juga jujur kepada diri sendiri. Jika kita menyadari adanya Tuhan, dan menyadari hadirnya Tuhan dalam hidup, maka akan menimbulkan sikap jujur kepada diri sendiri, selanjutnya kepada orang lain. Bersikap suci kepada diri sendiri akan berimplikasi pada bersikap suci kepada orang lain. Manusia itu suci, harus bersikap suci kepada manusia yang lain.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa asas hidup ialah takwa kepada Allah dan usaha mencapai ridla-Nya. Ada sebuah peristiwa ketika orang-orang di Madinah mendirikan sebuah masjid, tetapi dengan niat yang tidak baik, yaitu demi memecah belah barisan umat Nabi Muhammad SAW. Masjid itu kemudian disebut Masjid Dhirar. Allah berfirman :

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىَ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS 9:109).

Ini sebuah pertanyaan retorik, dalam arti, pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena jawabannya ada dalam pertanyaan itu sendiri. Jelas sekali, adalah orang yang pertama yang lebih baik, di mana ia mendirikan bangunannya-yang tidak hanya diartikan secara fisik seperti masjid-atas dasar takwa dan ridla Allah. Itu lebih baik daripada orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar pondasi-pondasi lain, yang diibaratkan seperti pondasi yang ditanam di tepi jurang. Setelah bangunannya berdiri, justru masuk neraka jahanam. Maka asas hidup yang benar adalah takwa yang dapat ditumbuhkan melalui ibadah puasa.

Setiap khatib Jum’at berkewajiban menyampaikan pesan takwa. Ini menunjukkan betapa pentingnya takwa. Al-Qur’an sendiri dalam surat al-Baqarah ayat 3 disebut sebagai hud-an li ’l-muttaqin, yakni petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Dengan demikian, seluruh isi al-Qur’an bertujuan untuk menanamkan takwa. Dengan takwa kita akan kembali ke asal (Allah). Kita berasal dari pada-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Maka kita sering mengucapkan innali ‘l-lah-i wa inna ilayhi raji’un, kita semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Kembali kepada Allah berarti juga kembali kepada fitrah. Jika kita berhasil menjalankan puasa dengan baik, yaitu melampaui tiga jenjang yang telah dijelaskan di atas, maka hakikatnya, pada tanggal satu Syawal nanti kita akan terlahirkan kembali (born again). Seperti dijelaskan oleh banyak hadis, bahwa kalau seseorang berhasil dalam puasanya, maka dia seperti terlahirkan kembali oleh ibunya dalam keadaan suci bersih. Inilah yang kemudian kita rayakan dengan Idul Fitri (kembalinya kesucian kita) yang hakikatnya merupakan sebuah kebahagian sejati.

Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah seperti yang difirmankan oleh Allah. Di antara sekian banyak kelemahannya adalah bahwa ia tidak mampu menahan diri dan mengekang segala keinginannya. Seperti disebutkan dalam al-Qur’an:

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَوَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia (jangka pendek), dan meninggalkan (kehidupan) akhirat (jangka panjang)” (QS 75:20-21).

Kelemahan yang banyak dimiliki manusia adalah tidak mengetahui akibat jangka panjang dari perbuatan kita sendiri yang mungkin merugikan. Kita mudah tergoda atau terdorong untuk melakukan sesuatu karena tertarik. Secara jangka pendek itu akan membawa kesenangan, tetapi kita tidak mengetahui bahwa dalam jangka panjang membawa kesengsaraan. Kita seharusnya mau merenungkan semua dosa yang kita lakukan. Dosa berarti sesuatu yang dalam jangka pendek membawa kesenangan tapi pada jangka panjangnya membawa kesengsaraan. Manusia adalah pembuat kesalahan, namun tidak berarti, bahwa nature manusia adalah jahat. Kejahatan masuk melalui kelemahannya, sebagai jendela masuknya kejahatan melalui proses yang disebut tergoda.

Dalam bahasa Arab, dosa atau kejahatan disebut dengan zhulm. Orang yang jahat disebut dengan zhalim. Zhulm berarti gelap, karena kejahatan meninggalkan bercak-bercak hitam dalam hati yang semula bersifat nurani (bersifat terang). Jika seseorang terlalu banyak membuat kejahatan, maka bercak-bercak hitam pada hatinya menjadi penuh bahkan bisa tertutup sama sekali, sehingga hatinya tidak lagi disebut nurani tetapi zhulmani. Ini merupakan sebuah kesengsaraan. Namun Allah Maha Kasih kepada umat manusia.

Maka Allah menyediakan satu bulan, tidak hanya sebagai bulan suci tetapi juga sebagai bulan pensucian diri. Pada bulan itu kita berusaha membersihkan diri sendiri dengan harapan kalau kita menjadi bersih, maka pada tanggal 1 Syawal nanti kita kembali ke surga (paradiso), seperti yang sering kita ucapkan dalam Idul Fitri min-a’l-‘aidin, yang berarti bahwa kita betul-betul termasuk mereka yang kembali ke paradiso atau ke fitrahnya. Dan wa’l-fa’izin yang artinya sukses puasanya. Seperti yang sering diingatkan:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوع

"Berapa Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan bagian apa-apa dari puasanya, kecuali lapar". (HR. Ahmad)

Inilah sebetulnya makna ibadah puasa kita. Karena itu, marilah pada hari-hari pertama seperti sekarang ini kita niatkan menjalani ibadah puasa kita dengan sebaik-baiknya, menahan diri lahir dan batin. Tidak sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga menahan diri dari semua hal yang terkategorikan sebagai zhulmaun, sebagai kegelapan yang bisa meninggalkan bercak-bercak dalam hati kita yang suci, yang nurani, sehingga kita tidak menjadi manusia tirani.

Dikutip dari buku Pesan-pesan Takwa Nurcholish Madjid hal.177-183