Zulkieflimansyah, Ph.D

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 23 Februari 2012
Environmental Update » 40 Mei 2011 » Hit: 475
Quo Vadis Lifting Minyak?

Realisasi lifting minyak nasional selama ini masih menuai polemik. Realisasi tersebut jauh di bawah target APBN 2011 yang ditetapkan sebesar 970 ribu barel per hari (bph). Tidak tercapainya atau kegagalan target lifting minyak yang ditetapkan APBN 2011 bukanlah yang pertama. Dalam sebelas tahun belakangan (2000-2010) realisasi lifting minyak nasional selalu lebih rendah jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan APBN.

Sudah banyak forum diskusi, masukan para pakar, dan hearing dengan sejumlah ahli telah dilakukan untuk memberikan masukan soal lifting minyak yang masih tak sesuai harapan. Namun, tetap saja produksi minyak masih jauh panggang dari api. Beberapa hari lalu (5/5) lalu, majalah Trust mengadakan diskusi dengan tema Quo Vadis Lifting migas Indonesia. Diskusi ini salah satunya dimaksudkan untuk membedah sejumlah maslah yang menghambat produksi migas nasional. Diskusi tersebut menghadirkan DR. Zulkieflimansyah selaku anggota komisi VII DPR RI, M Irfan (Konfederasi serikat pekerja Migas Indonesia/SP Pertamina EP) serta Elan Biantoro, kepala divisi humas dan hubungan kelembagaan BP Migas.

Dalam diskusi tersebut, Bang Zul mengatakan dalam 10 tahun terakhir ini, produksi minyak terus menurun. Bahkan menurutnya, info yang didapatkan dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama bahwa KKKS hanya mampu memproduksi sebanyak 940 ribu bph. Lebih lanjut dijelaskan bahwa penentuan angka lifting migas nasional melibatkan berbagai pihak diantaranya kontraktor dan pemerintah. Angka lifting yang ditetapkan oleh kontraktor merupakan angka pesimis, sedangkan angka yang diusulkan oleh pemerintah merupakan angka optimis yang dihitung dan dikalkulasi dengan melihat unsur teknis dan ekonomi makro guna menopang perekonomian nasional.

Saat ini, realisasi produksi minyak sampai akhir april 2011 sebesar 907 ribu bph. Ada beberapa factor yang menyebabkan tidak tercapainya lifting minyak menurut Elan, diantaranya yaitu, Pertaman, kejadian pecahnya pipa gas yang terjadi pada oktober 2010 menyebabkan produksi minyak turun hingga 165 ribu bph. Kedua, kejadian alam seperti Cuaca buruk, hujan, petir, gelombang tinggi dan banjir. Sedangkan yang ketiga, peralatan dan kondisi lapangan yang sudah tua dan tidak bisa lagi berfungsi secara optimal.

Tidak hanya itu, Bang Zul mengatakan, masalah lifting minyak tidak dapat dilepaskan dari banyak faktor karena secara umum, industri perminyakan dipahami sebagai industri yang padat modal. Industri ini juga kerap kali disusupi oleh ‘kepentingan-kepentingan’ partai politik. Oleh karena itu, menurut Bang Zul, selama ongkos untuk menduduki jabatan itu mahal, maka praktek korupsi akan sulit dihindari. “Sektor minyak kita tidak akan maju jika masih ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik”, ujarnya.

Permasalahan inti dari yang disampaikan anggota komisi VII ini adalah lambatnya decission making process dalam perijinan migas. Hal ini membuat investor berpikir ulang untuk menanamkan modal guna mengembangkan sumur baru. Oleh karena itu, sangat penting untuk memperlakukan investor dengan baik agar dapat menarik minat untuk berinvestasi di Indonesia..

Sementara menurut M. irfan, Pertamina EP sejak 2006 telah berhasil meningkatkan produksi migasnya sehingga menjadi urutan ke 2 di Indonesia. Beberapa upaya yang dilakukan diantaranya dengan mempercepat fase produksi (fase diperpendek) serta melakukan Put on production (PoP) sumur-sumur minyak dan gas kecil. Lebih lanjut M. irfan menjelaskan bahwa fase produksi migas terdiri dari dua tahap yakni fase eksplorasi dan fase pengembangan dan produksi. Selain itu, usaha yang dilakukan untuk meningkatkan produksi migas adalah dengan cara mere-aktivasi lapangan-lapangan tua, memberdayakan kembali lapangan-lapangan yang suspended, dimana tahun 2011 ini ada lebih dari sekitar 120 sumur yang akan di re-aktivasi.

Pembicara lainnya, Elan Biantoro menjelaskan bahwa saat ini kondisi industri hulu migas Indonesia berada satu peringkat di atas Timor Timur. Hal ini sangat disayangkan mengingat Indonesia sebetulnya sudah sangat terbiasa dalam urusan perminyakan. Namun, target produksi selalu menurun setiap tahunnya. Ini ada apa?

Lebih lanjut Elan menjelaskan bahwa saat ini production rate minyak Indonesia sudah digenjot habis. “Ibarat kakek-kakek diminta untuk ikut lomba lari maraton,” ujarnya. Untuk meningkatkan produksi, kata Elan, eksplorasi harus ditingkatkan, pendekatan terhadap investor harus diperbaiki serta perbaikan terhadap regulasi dan birokrasi dunia migas. Masih menurut Elan, BP migas merupakan lembaga strategis yang menangani kepentingan bangsa dan Negara, jadi seharusnya kinerjanya tidak diganggu oleh kepentingan apapun.

 

* Catatan sebuah diskusi.