Posted on 15 November 2010 » Category : Islamic Update » Hit: 1736
Mezhab (Tempat Penyembelihan)

Oleh : KH.RAHMAT ABDULLAH

Altar pengorbanan, hari, bulan dan tahun-tahun dan abad-abad yang panjang.

Selalukah tuhan Islam berpenampilan sangar; menyalahkan dan menghukum? “pertanyaan’berani’ (baca:angkuh) ini terasa sangat tendensius, bahkan mengundang pertanyaan balik setara, “Selalukah tuhan Nasrani tak berdaya, bahkan untuk sekadar menyelamatkan ‘putera’-Nya yang disalibkan atau menghukum hamba-hamba-Nya yang arogan, rakus dan egois? Lalu apa kerja tuhan Yahudi yang mengejawantah dari mitologi Babylonia, tuhan yang selalu ‘mengusili’ hasil kerja anak manusia, setiap berhasil mereka membangun kota, ia guncang seguncang-guncangnya (Balbala) sampai luluh lantak. Ia selalu tampil gagah, curiga, bakhil dan serba mendiskreditkan.”

Pertanyaan-pertanyaan (dan pernyataan-pernyataan) seperti ini lahir, merefleksikan berbagai kegelisahan anak manusia atas perlakuan sesame. Tetapi mengapa Tuhan juga yang disalahkan? Ya, beda mereka yang dewasa dengan yang childish, thufaili terletak pada kemampuan berintrospeksi atau menyalahkan orang lain. Mereka yang merasa sangat dewasa dalam berpikir, memposisikan diri setara dengan Tuhan dan mengklaim berhak berbagi gagasan dengan-Nya. Syariah menjadi fosil dan tersesat dari makna asalnya, jalan terbentang. ‘Keakraban’ lebih mereka utamakan daripada keagungan, kekhidmatan dan kesakralan, seperti ajakan seorang sastrawan, bagaimana kita menyapanya, “Hallo Tuhan”, sapaan tanpa getar dan gentar.

Dewa-dewa culas pembuat onar hanya ada di pasar modal, ruang transaksi, sector layanan social, mass media, pemancar TV, departemen rampok, kementrian koruptor dan penjual asset bangsa dan partai pencoleng. Dari seluruh dunia budak-budak melangkah gontai, memikul beban berat, menapaki jalan-jalan terjal dan bebukitan yang curam. Mereka hanya mengantar korban – yang nyaris seluruhnya diri mereka sendiri – ke mezbah, altar dan lading pembantaian.

Remote Control dewa-dewa di lembaga-lembaga keuangan dunia menggerakkan tungkai-tungkai lemah yang pasrah itu, menghisap sumsum dan memakani daging mereka. Jaring laba-laba usaha berlumuran riba, konsesi-konsesi yang menjadikan kaum bermodal kaisar-kaisar di balik kekuasaan formal, dan para pejuang rakyat yang tak lebih dari tukang catut yang hanya pandai membuka kran pinjaman luar negeri dengan kebijakan bodoh yang menjerat leher bangsa sendiri. Mestinya mereka berdaya besar, namun bagaikan singa besar yang hanya dibolehkan berkepala tikus.

Jujur saja belum cukup, karena betapa banyak orang jujur di dunia jadi domba-domba potong. Harus ada kekuatan. Kuat saja tidak dan tidak cukup, karena gajah dan singa yang kuat hanya menjadi bintang sirkus yang mendatangkan banyak uang bagi tuannya, sementara ia hanya dapat lemparan makanan dari penonton, membuat pawing tak lagi mengeluarkan banyak ongkos.

Orang-orang saleh tanpa semangat dan keberanian mencela kezaliman, memboikot kecurangan dan ber-amar makruf nahyi munkar, adalah bayi-bayi manis innocent yang menyenangkan semua orang. Mereka boleh bilang bila semua orang di dunia menjadi saleh maka dunia akan aman. Bila banyak rakyat masuk Masjid pemimpin akan saleh. Perlu diingat, beberapa kalangan di masa lalu dan juga masa kini menjadi saleh sesudah futuh Makkah. Sebagian lagi memerlukan bantuan pedang untuk memangkas kesombongan diri.

Kesalehan tidak pernah otomatis bebas dari ketakaburan. Betapa mulianya pengetahuan, namun tak otomatis menyulap seseorang menjadi beriman. Walid bin Mughirah dan Utbah bin Rabiah orang-orang yang sangat tahu kebenaran Al Qur’an, dan itu tidak otomatis merubah sikap mereka yang berseberangan dengan kebenaran. Sesungguhnya kecerdasan dan kejujuran bila berpadu, menjadi kekuatan, dan awal kekuatan adalah pengorbanan.

Ketika dewa-dewa pemakan sambal dan sosis berulah, 30.000 calhaj jadi mangsa, ratusan orang jadi budak dan dunia diaduk dalam wadah sesempit piring nasi. Mustasyfa dan hospital benar-benar menjadi rumah sakit di negeri yang sangat kaya sumber daya ala mini. Siapa yang membantai 224 jamaah haji di Mina? Kebodohan mereka sendiri? Ketidaksabaran yang mengubah ibadah menjadi horror? Atau ketidakpedulian untuk menata jalur dating dan pergi dan melindungi jamaah bertubuh kecil dari tergilas buldoser beringas yang dari jauh siap melontar setan tanpa peduli keselamatan sesame?

Ataukah memang kematian itu terlalu murah disbanding kemuliaan syahid disana, tak peduli dapatkah beribadah dengan tenang, tertib dan ikhlas tanpa menzalimi saudara sendiri dengan mendesak, menginjak dan menabrak mereka? Ataukah mereka budak-budak Tuhan yang tergopoh-gopoh merespon panggilan dan menggenapkan suratan mereka untuk mati di bawah gilasan kaki-kaki sesame? Yang jelas, perbincangan remote control hari pertama dan berikutnya di sana, selalu dikembari dengan tema terorisme! Terorisme hari ini adalah cambuk dajjal yang mematikan semangat mandiri dan jiwa merdeka para pemimpin kepala tikus.

Ketertawanan dalam kelemahan diri dan kemanjaan nafsu adalah perbudakan yang sungguh-sungguh kronis. Allah membebaskan orang-orang lemah, cacat dan sakit-sakitan, bahkan mereka yang tak mendapatkan senjata dan kendaraan untuk ikut berperang di jalan-Nya, dengan syarat mereka punya ketulusan, kekuatan azam dan kesetiaan kepada Allah. Juga, “Orang-orang yang apabila mereka mendatangimu untuk meminta kendaraan perang, engkau katakana, “Aku tak mendapatkan sesuatu untuk membawamu berjihad,” mereka berlalu dengan air mata yang menggenang karena kesedihan.” (QS.At-Taubah:91-92).

Adalah seorang saleh yang miskin di masa lalu, Ali Alfath, memandangi kambing-kambing korban yang digiring ke lapangan. Saat itu ia beringsut ke sudut, memikul kemiskinannya dan dengan lirih ia menyapa-Nya, “Ya Rabbi, kini aku berdekat kepada-Mu dengan duka-dukaku.” Kini duka apa yang bias diberikan seseorang yang mampu berkorban lebih dari cukup, membangun bioskop rumah atau berhaji berulang-ulang? Duka umat yang merana, duka bangsa yang papa, duka generasi yang malang, kehilangan harapan atas masa depan, kehilangan perhatian para politisi yang mati rasa, kehilangan kasih saying sesame. Masih terlalu luas ruang duka untuk ratapan dan tangis yang produktif, kepedulian terhadap kaum dhuafa dan kecintaan berkorban untuk-Nya dengan keberanian meneruskan pesan-pesan kebenaran, menghalau kezaliman dan menegur si zalim.

Tetapi kerap, mahasiswa yang telah berdarah-darah digebugi polisi, masih diserapahi pihak yang mereka perjuangkan. Demonstran yang gugur Cuma dapat basa-basi sekian karangan bunga atau sekian sak semen untuk tugu kepura-puraan. Menyusul kampus lain memancing-mancing kerusuhan agar ada mahasiswanya yang mati dan tahun depan pendaftaran mahasiswa baru penuh gemuruh di kampusnya. Revolusi dan reformasi! Domba-domba reformasi, domba-domba hipokrisi, domba-domba komersialisasi.

Tenaga kerja ekspor khususnya perempuan mengapa tak juga berhenti? Gelar dari mulut-mulut munafik berhamburan: Mereka pahlawan devisa, patriot bangsa. Terpuruk jadi pelacur, perempuan Abu Khamsin (50 riyal) dan terhempas jadi budak belian. Budak-budak yang menghimpun sejumlah besar devisa demi keuntungan para aparat culas. Bangladesh yang miskin masih punya harga diri, pantang mengekspor perempuan-perempuan mereka untuk dihina! Ooh, betapa muliamu, betapa malangmu. Di bandara ada terminal domestic, ada terminal internasional, ada terminal kargo dan ada terminal tenaga kerja. Demi kenyamanan siapa? Para pemeras atau budak-budak yang malang. Siapa peduli?

Dikutip dari Buku Warisan Sang Murabbi, Pilar-pilar Asasi.