Posted on 29 Oktober 2010 » Category : Islamic Update » Hit: 2194
Pahlawan; Karyamu Lebih Benderang dari Mentari

oleh: Pipit Fitriyah

Pahlawan merupakan sosok yang banyak melakukan amal kebajikan atau amal shalih sehingga memperoleh banyak pahala. Bila kemudian ia diberi gelar pahlawan, itu lebih karena citra dirinya sudah didominasi oleh pahala.

Sosok pahlawan seperti yang dimaksud di atas sebenarnya tentu masih mempunyai kesalahan, hanya saja kesalahan yang dibuat kadarnya lebih sedikit. Kalaulah memang  konsep yang dirujuk tentang pahlawan demikian adanya, tentu yang menjadi inti masalah seseorang layak disebut pahlawan atau tidak, bukan seberapa banyak kebajikan yang bisa diberikan hingga seseorang lantas diberi penghargaan sebagai seorang pahlawan. Dan juga bukan seberapa pantas hingga ia layak diberi gelar kehormatan.

Akan tetapi, pahlawan sejati adalah sosok yang memberi tanpa pamrih dan tidak mengharapkan sesuatu dari apa yang telah ia lakukan bagi bangsa negaranya. Visi serta etos kerja yang dimiliki, sedikit demi sedikit kemudian alam yang memberikan penilaian dan penghargaan. Dalam realitanya, tidak banyak yang bisa memahami apa sesungguhnya makna substansi pahlawan dan siapa sesungguhnya seseorang yang layak disebut pahlawan. Kita hanya tahu bahwa pahlawan adalah orang yang berjasa. Titik. Barangkali kita baru sebatas mengerti pahlawan hanyalah orang yang menggunakan ikat kepala merah putih dengan tulisan "merdeka" melingkar di kepala. Atau mungkin saja pahlawan sebatas dimaknai sebagai sosok yang selalu tampil dengan tubuh gagah. Harus diakui, persepsi dan interpretasi seseorang dalam memaknai seorang pahlawan memang sangat variatif dan memang berbeda-beda. Namun apa yang akan terjadi jika sampai saat ini mayoritas masyarakat mengartikan gelar pahlawan melulu disematkan pada seseorang yang menang di medan perang?

Belakangan ini, janggal rasanya mendengar ‘ribut-ribut’ pemerintah dalam mengeksekusi “gelar” bagi seseorang apakah layak dinobatkan sebagai pahlawan atau tidak. Sekali lagi mesti ditegaskan ulang, pahlawan merupakan gelar tanpa jasa dimana orang yang dimaksud pun tidak sadar jika sebenarnya dirinya telah dinobatkan menjadi pahlawan sejati. Segala sesuatunya biarkan alam yang menilai.

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran, Sayyid Quthb menuliskan bahwa Allah memuliakan para penyeru kebenaran. Bila dicermati lebih mendalam makna kata-kata ini, para penyeru kebenaran itulah yang sejatinya disebut pahlawan. Ketika semua orang merasa disekitarnya gelap gulita, penyeru kebenaran (pahlawan) justeru menjadi cahaya penerang bagi sekelilingnya. Merekalah cahaya ummat, merekalah sesungguhnya pahlawan tanpa pamrih itu. Cahaya para mujahid inilah yang ditunggu karena kehadirannya mampu membuat keluhan menjadi sumbangsih dan kritikan berubah menjadi kontribusi. Bagi pejuang kebenaran ini yang terpenting adalah bagaimana secara terus menerus mampu mendedikasikan dirinya untuk bangsa. Karena Amal kebajikan itulah sang Khalik kemudian memuliakan para pembawa kebenaran karena memang layak dimuliakan.

Seseorang tidak bisa menjadi pahlawan hanya karena melakukan pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya. Gelar pahlawan seperti biasanya selalu memiliki momentum. Ada saat potongan waktu tertentu dalam hidup seseorang dimana geliat kepahlawanan menyatu padu. Saat itulah seseorang tersebut  menyejarah. Gelar Pahlawan lahir bukan karena pemberian instansi tertentu maupun pemerintah sehingga layak dijadikan pahlawan, akan tetapi alam dan komunitas disekelilingnya-lah yang memberikan predikat dan simbol kepahlawanan itu. Kalaulah memang seseorang dihargai masyarakat sekitarnya sebagai seorang pahlawan, rasanya tak perlu  diskusi panjang akan adanya hak seseorang apakah ia layak menjadi pahlawan ataupun tidak.

Dalam konteks inilah kemudian manusia muslim tampil sebagai pahlawan paling anggun sebagai bagian dari anggota kehidupan yang paling sadar akan hakikat hidup di bumi. Ia bekerja, beramal, berusaha, dan bermanfaat bagi orang lain. Amal-amal itulah yang membuat orang-orang disekelilingnya tercerahkan layaknya pendar  yang terang benderang. Bahkan lebih benderang dari sekedar mentari. Dialah sebenarnya pahlawan sejati. Allahu’alam bisshowab.

 

*Penulis adalah mahasiswi Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) dan pernah mencalonkan diri sebagai anggoda dewan Kabupaten dari PKS mewakili dapil 1, kabupaten Serang. Penulis bisa dihubungi di alamat email: Pipitoke85@gmail.com