Posted on 25 Januari 2008 » Category : Economy » Hit: 927
Adakah Cahaya di Ujung Terowongan ?

Dalam rangka mencari titik terang perekonomian Indonesia tahun 2008, Fraksi PKS DPR menggelar seminar dengan tema: Ekonomi 2008, Adakah Cahaya di Ujung Terowongan? Dimoderatori oleh Wakil Ketua Fraksi Dr Zulkieflimansyah, bertindak sebagai pembicara dalam seminar ini Sofyan Wanandi, DR. Rizal Ramli, DR. Kurtubi, DR. Siswono Yudohusodo, dan Ir. Ardiansyah Parman. Sejumlah Aleg dan para Staf FPKS serta wartawan dari berbagai media turut serta dalam seminar yang berlangsung Rabu (22/1) di Gedung Nusantara 1 lantai 3 DPR RI.

Acara yang dihadiri tak kurang dari 100 orang peserta dan beberapa jurnalis ini disambut cukup antusias. Ini karena materi-materi yang disampaikan para pembicara sangat mendalam. Seperti Kurtubi misalnya, ahli perminyakan ini memaparkan tentang betapa pentingnya merevisi UU Migas Nomor 22 tahun 2001. Mengapa? Pasalnya UU tersebut telah menciptakan sistem pengelolaan migas nasional yang lebih birokratik dan tidak &investor friendly". Karena itu, untuk menciptakan cahaya di ujung terowongan, Kurtubi menyarankan kepada DPR agar UU itu segera direvisi.

Apabila Kurtubi memaparkan masalah minyak, lain halnya dengan Ardiansyah Parman yang berbicara atas nama pemerintah karena jabatannya selaku Dirjen Perdagangan Dalam Negeri. Menurut Ardiansyah Parman yang mengambil tema paparan dari sisi pertanian, pemerintah selama ini sudah melakukan upaya yang optimal untuk pemecahan permasalahan teranyar saat ini, yakni soal kedelai.

Di akhir seminar, tepatnya ketika masing-masing pembicara merangkum bahan presentasinya, Rizal Ramli selaku pengamat dan pelaku ekonomi mengeluarkan pernyataan yang cukup menggelitik, yakni dengan tegas ia mengatakan bahwa bila Indonesia ingin menciptakan cahaya di ujung terowongan solusinya adalah kita harus segera mengganti pemimpin "mobil bekas" dengan "mobil baru".