Posted on 22 Februari 2007 » Category : Economy » Hit: 977
KOMISI VI DPR MENDESAK MENTERI PERINDUSTRIAN JAGA STOK GAS NASIONAL

Komisi VI DPR mendesak menteri perindustrian untuk menjaga stok gas nasional untuk kepentingan industri dalam negeri guna menunjang perkembangan industri nasional.

Hal tersebut terungkap saat komisi VI DPR mengadakan Raker dengan menteri perindustrian Fahmi Idris yang dipimpin oleh wakil ketua komisi VI DPR Dudhie makmun murod (F-PDIP) mengatakan,pemerintah harus menjaga stok gas nasional guna menjaga kebutuhan gas dalam negeri terkait industri pupuk nasional.

Sementara, Zulkiflimansyah (F-PKS) menjelaskan, permasalahan industrui di Indonesia terkait dengan restrukrisasi mesin. "Permasalahannya bukan dalam meningkatkan eksport saja," katanya.

Soekardjo Hardjosoewirjo (F-PDIP) mengatakan, pemerintah harus menyusun kebijakan yang mendukung industri tekstil terutama industri tekstil texmaco. "Tekstil memang sangat di butuhkan oleh industri dalam negeri maupun luar negeri," katanya

Fahmi Idris mengatakan, sector industri dipastikan masih akan mengalami kekurangan (defisit) pasokan gas hingga beberapa tahun kedepan. Hal ini dikarenakan, hingga saat ini belum ada sumber-sumber gas baru yang sudah melakukan produksi. "Selama Dapartemen Energi dan Sumber Daya Mineral belum melakukan ekstensifikasi sumur-sumur gas baru, maka industri tetap defisit. Prosuksi gas yang ada saat ini sebagian besar untuk ekspor.apalagi harga gas untuk ekspor jauh lebih tinggi jika dijual untuk dalam negeri,"kata Fahmi.

Menurut Fahmi,pengembangan sector industri ke depan sangat dilematis bila dilihat dari ketersediaan sumber energi,khususnya gas, baik untuk bahan baku maupun bahan bakar. Sementara produsen gas di dalam negeri yang sebagian besar perusahaan asing sudah terikat kontrak ekspor ke Jepang, Korea Selatan, dan negara lainnya.

"Kalau sumur-sumur gas baru tidak dikembangkan, maka pasokan gas untuk industri sulit di tingkatkan. Saya berharap Departemen ESDM melakukan upaya kerja keras untuk mengoptimalisasi sumur-sumur gas baru,"ujar Fahmi.

Fahmi menjelaskan, defisit pasokan gas dalam jangka pendek (2005-2010),akan menggangu pertumbuhan dan perkembangan indutri yang sudah ada. Selain itu, masalah pasokan gas juga akan mempengaruhi masuknya investasi baru. "Selama belum dikembangkan penemuan lading dan sumur gas baru,maka kita akan mengalami defisit gas," ujar Fahmi.

Defisit pasokan gas tersebut,lanjutnya,akan terjadi pada semua industri yang mengunakan gas sebagai bahan bakar dan bahan baku. Khususnya industri yang terkonsentrasi di jawa, hingga saat ini sebagaian besar industri di dalkam negeri menggunbakan gas sebagai bahan bakar dan yang menggunakan sebagai bahan baku seperti industri pupuk, petrokimia, dan baja.

"Itu memang tragis sekali, sementara kita mengundang insvestor masuk, begitu dia mau memulai, namun kekurangan gas. Itu (pasokan gas) salah satu infrastruktur yang dalam jangka panjang, sehingga masalh ketersediaannya bisa merepotkan pertumbuhan dan perkembangan investasi di Indonesia," kata Fahmi.

Berdasarkan Rencana Induk (Master Plan) Kebutuhan Gas Bumi untuk Sektor Industri yang diluncurkan Mei 2006, pada 2005 terjadi defisit pasokan gas sebesar 1.362,6 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Pada 2010 defisit pasokan gas domestik diperkirakan meningkat menjadi sebesar 1.601,9 mmscfd, dan pada 2015 akn terjadi defisit sebesar 5.281,1 mmscfd. "Oleh karena itu, solusinya adalah Departemen ESDM harus mengekspansifkan dan mengintensifkan pencarian sumur-sumur baru,” ujarnya. (si).

(Buletin Parlementarian Nomor: 497/II/2007)