Andai Pemilu Setiap Tahun?

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Kabar Konstituen » 25 Juni 2009 » Hit: 384
Andai Pemilu Setiap Tahun?
Zulkieflimansyah.com, Jakarta - Terlepas dari segala kontroversinya yang rumit, Pemilu selalu menyuguhkan kisahnya yang pelik dan menarik. Ada cerita di balik duka, ragam kisah di balik suka, dan sejuta makna dari rangkaian peristiwa menarik lainnya sebagai manifestasi dari interaksi langsung dengan masyarakat. Meski bagi sebagian kecil masyarakat pemilu dicibir karena menghamburkan uang negara, akan tetapi pemilu tetap saja menghadirkan suatu romansa peristiwa yang unik.

Cerita-cerita unik di lapangan yang seringkali luput dari potret pemburu berita akan menjadi bumbu sedap dari uniknya peristiwa pemilu. Tingkah polah nyentrik masyarakat yang acap kali tidak terelaborasi dalam teori-teori besar ilmu politik akan menjadi rekam jejak dari sikap pemilih yang genuine. Padahal, cerita-cerita itu merupakan kisah nyata dalam setiap moment pemilu yang merupakan representasi utuh dari suasana batin masyarakat Indonesia.

Masih segar dalam ingatan ketika pemilu legilslatif digelar 8 April lalu. Dalam pemilu yang kali pertama menerapkan sistem suara terbanyak itu, banyak kisah unik di lapangan yang sering luput dari rekam jejak kamera pemburu berita, luput dari segala pemberitaan media, kalah dari hingar bingarnya politik uang dan premanisme politik.

Suatu ketika di saat kampanye, dalam kunjungannya ke sebuah daerah di Cipocok, Serang, Dr Zulkieflimansyah dihampiri seorang perempuan yang sudah renta. Dilihat dari jarak dekat, sepertinya perempuan ini cukup berumur, untuk berjalan pun rasanya sudah tidak sanggup. Dengan usaha gigih, perempuan tua ini akhirnya mampu menghampiri pria lulusan Inggris itu seraya menitipkan pesan.

Tanpa dikomando, perempuan itu langsung berujar “Pak Zul sampaikan salam saya kepada Presiden, bisa tidak kalau pemilu diadakan setiap tahun atau bila memungkinkan baiknya pemilu diadakan setiap bulan saja?,” perlahan pria murah senyum ini menanyakan apa maksud ucapan nenek tersebut.

Perempuan berpakaian lusuh itu menghela nafas panjang sebelum menjabarkan apa maksud dari ucapannya. “Terus terang Pak Zul, kita senang kalau musim pemilu telah tiba. Banyak orang mendadak baik, berlomba memberikan sembako, kerudung, dan sumbangan materi lainnya. Bahkan orang yang tak pernah senyum pun selama hidupnya, menjelang pemilu orang tersebut senyum-senyum sendiri. Kalau begini caranya, baiknya pemilu diadakan setiap tahun bahkan kalau bisa setiap bulan saja. Supaya setiap saat banyak orang baik kepada kita,” lanjut perempuan itu dengan suaranya yang parau.

Perkataan nenek tua ini mungkin saja agak sulit dicerna jika dijelaskan dengan prosedur ilmiah-akademis. Namun, jika disimak dengan alur logika sederhana, ucapan ini akan menyiratkan makna cukup mendalam. Perempuan tua itu mungkin saja ingin menyindir prilaku sejumlah elit politik yang selama ini hanya dekat dan melimpahkan semua kebaikannya kalau ada maunya saja. Atau mendadak baik menjelang pemilu dihelat. Di luar itu, masyarakat hanyalah objek dari setiap retorika yang mereka dengungkan di setiap forum.

Perempuan itu sekaligus ingin menegaskan bahwa, dalam setiap momentum pemilu selalu dijadikan ajang tebar pesona bagi segelintir orang yang berhasrat mendapat kekuasaan dengan cara pintas. Momentum di mana mendadak orang menjadi baik dan peduli akan nasib rakyat. Padahal, jika tidak ada pemilu, segelintir orang ini, perannya seperti iklan mobil izuzu, suaranya nyaris tak terdengar, wus wus wus.

Memang, dalam praktiknya layaknya sebuah hajatan besar, kehadiran pemilu sangat dinanti masyarakat. Bukan semata moment ini merupakan pesta demokrasi terakbar setiap lima tahun yang bising dengan perang pamflet, namun pemilu diyakini sebagai era pembawa ‘berkah’ meski hanya sesaat. Apalagi, dalam setiap moment pemilu, banyak orang yang tidak diundang berbondong-bondong membagikan ‘rezeki’.

Tentu saja pemberian ‘berkah rezeki’ itu dimaksudkan untuk memobilisasi dukungan terhadap salah satu calon tertentu. Karena nyaris tidak ada rasa ikhlas dan niat tulus membantu dari setiap pemberian ‘berkah’ menjelang moment politik. Semuanya disandarkan atas prinsip kepentingan dan keinginan timbal balik. Mobilisasi massa semacam inilah yang dikhawatirkan akan mengancam eksistensi dan kualitas demokrasi.

Bukan hal mustahil, pemilihan presiden (pilpres) yang bakal berlangsung 8 Juli mendatang akan diwarnai dengan pengalaman dan prilaku politik yang tidak jauh berbeda. Di tengah kerumunan masyarakat yang menanti hujan ‘berkah’ dari setiap moment politik, pada saat yang bersamaan para tim sukses memanfaatkan momentum tersebut sebagai ajang mobilisasi dukungan dengan pemberian sejumlah materi. Jika ini yang terjadi, selain kualitas demokrasi yang terancam punah, pemilu 2009 hanya merupakan sebuah ritual lima tahunan tanpa substansi.

Pemilu bisa saja melahirkan pemimpin baru, kabinet baru. Akan tetapi mental elit politik dan pemilih tidaklah berubah. Masyarakat masih diajari untuk memilih calon pemimpin bukan karena kapasitas dan integritas yang dimiliki, melainkan karena seonggok sembako. Di sinilah letak pentingnya pendidikan politik bagi masyarakat dengan menjadikan pemilu sebagai momentum. Jika tidak, ke depan demokrasi yang sedang menggelinding ini tinggal sebuah nama tanpa substansi yang cukup berarti. Yakinlah bahwa masih ada cahaya di ujung terowongan. Semoga!. (Adi)