Articles » 05 Oktober 2006 » Hit: 3333
Akumulasi Teknologi dan Pertumbuhan Industri : Perbandingan Negara Maju dan Berkembang [part 2 of 2]
Perbedaan Sektoral dan Trajektori di Negara Maju
1. Perbandingan Antarsektor
Penjelasan di atas banyak berhubungan dengan pengalaman negara maju di sektor industri secara umum. Padahal terdapat perbedaan trajektori untuk setiap jenis industri yang terkait akumulasi teknologi dan perubahan teknik. Konsekuensinya adalah adanya perbedaan dalam hal cara mempertahankan daya saing dan perbedaan dalam proses evolusi antarsektor yang mengubah fondasi daya saing yang memberikan implikasi kebijakan yang berbeda. Jenis trajektori tersebut ada lima yaitu :
a. Perusahaan yang Supplier-dominated
Perubahan teknik yang terjadi di kelompok ini hampir semuanya bersumber dari pemasok permesinan dan input lainnya. Contoh yang paling mudah adalah industri tekstil dimana inovasi bersumber dari pemasok mesin dan bahan baku kimia. Pilihan teknologi mencerminkan biaya relatif faktor produksi dan kesempatan teknologi terfokus pada peningkatan dan modifikasi metode produksi dan bahan bakunya serta desain produk. Sebagian besar teknologi ditransfer melalui pembelian barang modal dan bahan baku. Jenis trajektori ini mempunyai kedekatan dengan model konvensional fungsi produksi.
b. Perusahaan yang Scale-intensive
Akumulasi yang terjadi di kelompok ini dihasilkan oleh proses desain, pengembangan dan operasional sistem produksi atau produk yang kompleks. Contohnya adalah industri proses dan ekstraksi seperti material, otomotif dan barang konsumen tertentu. Resiko kegagalan yang terjadi sangatlah tinggi karena kompleksitasnya dan besarnya manfaat ekonomi yang didapat dari skala ekonomi yang besar.
Akumulasi teknologi dalam kelompok ini kemudian muncul dari proses dan pengalaman operasional sebelumnya dan peningkatan dalam hal komponen, permesinan dan subsistem. Sumber utama teknologi adalah desain dan rekayasa produk, pengalaman operasional serta pemasok peralatan dan komponen. Transfer teknologi yang terjadi adalah selain dengan pembelian barang modal, juga melalui lisensi teknologi produksi dan desainnya serta pelatihannya. Perubahan teknik seperti ini mendekati model yang diusulkan oleh Schmookler dalam inovasi yang didorong oleh investasi.
c. Perusahaan yang Information-intensive
Kemajuan teknologi informasi selama lebih dari 40 tahun dalam kapasitas menyimpan, memproses serta mentransfer informasi memberikan peluang munculnya kelompok perusahaan yang dapat mengakumulasi kemampuan teknologi melalui upaya peningkatan inkremental yang didapat melalui pengalaman operasional yang terdiri dari aktivitas mendesain, membangun sistem yang komplek dalam mengolah informasi. Fungsi organisasi dengan nama Divisi Sistem di perusahaan besar pengguna menjadi tempat berlangsung akumulasi teknologi ini serta pemasok sistem dan aplikasi perangkat lunak. Meskipun data masih minim, survei menunjukkan bahwa perusahaan jasa seperti perbankan dan ritel menjadi pusat akumulasi teknologi informasi ini.
d. Perusahaan yang Science-based
Akumulasi teknologi di kelompok ini bermula dari divisi litbang dan laboratorium di perusahaan besar dan sangat tergantung pada keahlian dan pengetahuan yang didapat melalui penelitian akademis. Contohnya adalah industri elektronik dan kimia. Penemuan tentang elektromagnet, gelombang radio, efek transistor, bahan sintetik dan biologi molekular membuka peluang adanya pasar produk baru. Arah akumulasi teknologi adalah pencarian horizontal terhadap pasar baru dengan produk yang teknologinya berhubungan. Transfer teknologi dalam kelompok tidak cukup hanya dengan membeli bahan baku input dan lisensi sistem produksinya tetapi juga melibatkan kemampuan rekayasa ulang yang merupakan juga aktivitas litbang dan desain yang melibatkan pula para insinyur dan akademisi yang dikontrak dari luar. Model perubahan teknik ini adalah seperti yang digambarkan oleh Schumpeter (1943).
e. Perusahaan yang Specialized-supplier
Akumulasi teknologi diperoleh melalui desain, pengembangan dan penggunaan operasional input dan bahan baku yang digunakan oleh sistem produksi yang kompleks dalam bentuk permesinan, komponen, peralatan serta perangkat lunak. Kelompok perusahaan ini mengambil manfaat dari industri pengguna dalam bentuk informasi, keahlian, serta kemungkinan modifikasi dan peningkatan. Perusahaan pemasok mengakumulasi kemampuan teknologinya dengan menyesuaikan desainnya dengan permintaan pelanggan. Transfer teknologi melibatkan aktivitas pembelian perusahaan besar yang menjadi pengguna teknologi.
Pembagian kelima kategori di atas berlaku di negara maju dan sebuah perusahaan dapat saja masuk ke lebih dari satu kategori. Kategori ini memungkinkan terlihatnya pola yang berbeda dalam spesialisasi teknologi dan juga dapat menjelaskan mekanisme dimana fondasi daya saing negara berubah seiring dengan waktu.
2. Dinamika Daya Saing dan Perubahan Struktural
Pola sektoral di atas dapat membantu menjelaskan hubungan antara proses akumulasi teknologi dan ciri penting yang berkaitan dengan pola pembangunan industri yaitu perubahan fondasi daya saing dalam pasar dunia dan yang kedua perubahan komposisi dalam output.
Dalam pasar ekspor dapat diidentifikasi dua kondisi ekonomi yang ekstrim. Di satu sisi, di sektor yang supplier-dominated, asumsi Heckscher-Ohlin tentang keunggulan komparatif berlaku dengan baik yaitu teknologi dalam bentuk barang modal dan baku tersedia dengan mudah dan pilihan teknologi tergantung pada sumber daya yang tersedia. Negara dengan upah buruh yang murah dapat memanfaatkan keunggulan komparatifnya dalam sektor ini dengan mengefektifkan proses akuisisi teknologi. Sementara disisi lain yang ekstrim, keunggulan komparatif negara yang upahnya tinggi didominasi oleh kemajuan kemampuan teknologi dalam sektor science-based, scale-intensive dan specialized-supplier. Diantara dua ekstrem terdapat negara industri baru yang secara progresif melakukan penggeseran basis daya saing kompetitif dari satu sektor ke sektor lainnya. Berhubungan dengan pergeseran tersebut adalah perubahan outputi dan ekspor yang bergeser dari sektor yang sumber daya yang banyak tersedia (tekstil, pertambangan, dan makanan) ke sektor yang lebih maju seperti permesinan, transportasi dan bahan kimia.
Pada saat yang sama, pengalaman sejarah negara maju menunjukkan bahwa pola pengembangan teknologi nasional berlangsung kumulatif dan dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya dan dalam tradisi yang berbeda. Dalam pengertian yang umum, akumulasi teknologi melibatkan akuisisi yang progresif modal tak nyata dalam bentuk keahlian personal, organisasi dan kelembagaan yang memungkinkan negara mengadopsi dan mengembangkan teknologi produk dan proses dengan kompleksitas yang semakin meningkat. Pergeseran fondasi daya saing internasional berevolusi menurut dan sebagai akibat dari trajektori teknologi ini.
Sehingga setiap dari lima kategori trajektori di atas mempunyai implikasi tempat terpusatnya pembelajaran teknologi yaitu di :
• Operasional dan produksi di perusahaan yang supplier-dominated
• Peningkatan proses dan produk di perusahaan yang scale-intensive
• Pengembangan komponen dan peralatan di perusahaan yang specialized-supplier
• Eksploitasi penelitian dasar produk dan pengembangan proses yang berhubungan dengannya di perusahaan yang science-based
Seiring dengan waktu, proses pembelajaran dalam sektor tersebut meletakkan dasar pengetahuan dan keahlian untuk produksi lokal di sektor lain seperti misalnya disintegrasi vertikal aktivitas produksi yang pada awalnya dibangun dalam salah satu kategori, mentransfer pengetahuan yang telah terakumulasi untuk memperkuat daya saing perusahaan di sektor lain, perpindahan tenaga ahli dari satu perusahaan ke perusahaan dalam kategori yang berbeda, atau secara lebih umum meningkatkan kesadaran akan pengembangan pengetahuan dan keahlian baru diantara perusahaan lokal dan lembaga teknologi.
Pada beberapa kasus, perubahan akibat pembelajaran dalam struktur produksi menyebabkan perubahan pada karakteristik industri tersebut. Sebagai contoh, akumulasi teknologi menyebabkan industri otomotif berubah dari sektor yang supplier-dominated dan berskala kecil menjadi industri yang bervolume besar dan scale-intensive. Bahkan yang lebih umum lagi, perubahan struktural akibat pembelajaran melibatkan munculnya sektor yang berbeda dan teknologinya kompleks yang didasarkan pada akumulasi teknologi sebelumnya di sektor yang teknologinya sederhana seperti :
• Munculnya industri permesinan tekstil di Amerika sebagai sektor yang specialized-supplier berdasarkan akumulasi teknologi sebagai perusahaan tekstil (yang sekarang menjadi supplier-dominated)
• Munculnya specialized-supplier dalam peralatan produksi berdasarkan akumulasi teknologi di sektor yang scale-intensive (seperti otomotif dan industri proses)
• Munculnya industri yang science-based berdasarkan akumulasi teknologi sebelumnya di sektor yang lain (seperti industri elektronik yang berdasarkan sektor specialized-supplier dan industri kimia berdasarkan sektor yang kurang kandungan science-based-nya)
Trajektori di atas tidaklah dapat ditentukan dan direncanakan sebelumnya baik dari sisi arah maupun lajunya. Namun dalam banyak kasus tiga mekanisme nampaknya sangat berpengaruh yaitu ketersediaan sumber daya, arah investasi yang tetap terutama yang kuat intensitas hubungan multisektoralnya dan penguasaan kumulatif teknologi inti dan basis pengetahuan yang mendasarinya. Signifikansi relatif dari tiga mekanisme ini berubah selama proses industrialisasi. Pada fase awal, arah perubahan teknik di sebuah negara sangatlah kuat dipengaruhi oleh mekanisme yang didorong oleh pasar lokal yang berhubungan dengan ketersediaan faktor produksi dan kesempatan investasi. Pada tingkat pembangunan yang lebih tinggi akumulasi lokal dari keahlian teknologi yang spesifik menjadi pemberi arah pada perubahan teknik.
Ketersediaan faktor. Mekanisme pendorong lokal yang paling kasat mata adalah pencarian untuk memecahkan masalah ketiadaan sumber daya. Data sejarah mencatat pentingnya pengembangan teknik yang hemat tenaga kerja di Amerika Utara. Perubahan teknik juga terjadi dalam merespon perbedaan harga bahan bakar yang menentukan arah industri mobil dan permesinan di Amerika, Eropa dan Asia Timur. Di Jepang pascaperang dunia kedua, pencarian teknologi yang hemat tempat memberi arah bagi peningkatan metode produksi masal. Di masa datang, pencarian teknologi yang ramah lingkungan sebagai mekanisme pendorong akan menjadi semakin penting.
Investasi sebagai pendorong dan hubungan antarsektor. Seperangkat mekanisme yang kedua ini tergambar dalam dalam tradisi analitis yang lain yang menekankan pada pentingnya investasi sebagai pendorong proses perubahan teknik (Schmookler, 1966), serta hubungan teknik dan ketidakseimbangan hubungan antar perusahaan (Carlsson & Henriksson, 1991). Salah satu variannya adalah eksploitasi sumber daya alam yang melimpah, dengan menciptakan perubahan teknik lokal, serta akumulasi teknologi dan daya saing proses dan ekstraksi. Seperti misalnya Kanada, Amerika Serikat dan Negara Skandinavia yang mengembangkan teknologi yang menggunakan kayu telah memberikan kontribusi terhadap daya saing industri permesinan yang mengolah kayu. Hubungan antarsektor terjadi di sektor otomotif yang investasinya mendorong sektor barang modal yang berhubungan dengannya. Juga program investasi Pemerintah Jepang pada awal modernisasinya yang memberikan dampak pada sektor perkapalan, rel kereta api dan peralatan komunikasi (Nakaoka, 1987).
Penguasaan teknologi inti. Biaya dan investasi sebagai mekanisme pendorong perubahan teknik tidak dapat menjelaskan munculnya semua bidang daya saing yang berbasis teknologi. Sebagai contoh, daya saing Swiss dalam mesin diesel kapal tidaklah berhubungan dengan ketersediaan sumber daya maritim tetapi lebih berhubungan dengan kemampuan teknologi yang terakumulasi dalam sektor industri tekstil. Pada tingkat yang lebih tinggi, akumulasi teknologi di negara maju saat ini lebih dipengaruhi oleh penguasaan kumulatif selama ini dan eksploitasi teknologi inti pasar dunia dengan potensi aplikasi yang sangat bervariasi. Ketika teknologi intinya adalah science-based dan hubungan yang terjadi bersifat horizontal maka trajektori tidak akan terjadi karena dorongan pengguna terhadap produsen barang modal tetapi melalui diversifikasi ke pasar produk baru dari basis aktivitas litbang. Sehingga daya saing Swiss dalam industri farmasi bermula dari bahan pewarna seperti halnya Jerman tetap mempertahankan daya saingnya melalui serangkaian aktivitas inovasi dalam bahan kimia. Pola Swedia lebih kompleks, bermula dari industri pertambangan dan berakhir di industri robot yang teknologi intinya adalah permesinan dan aneka logam.
Dua karakteristik yang umum di negara yang mengikuti trajektori berdasarkan penguasaan teknologi. Pertama, mereka cenderung melakukan pemilihan teknologi tidak secara sederhana berdasarkan pada imbalan finansial yang akan didapat tetapi berdasarkan nilai yang akan didapat pembelajaran untuk mengeksploitasi kesempatan yang terbuka oleh teknologi tersebut. Kedua, di sektor science-based dan scale-intensive mekanisme pendorong yang spesifik dan keuntungan teknologi tercermin pada aktivitas teknologi di perusahaan besar yang berbasis di dalam negeri.
Pengalaman Akumulasi Teknologi di Negara Berkembang
Selama lebih dari 50 tahun, negara-negara berkembang secara cepat mengakumulasi dan mendiversifikasi kapasitas produksi nasionalnya. Proporsinya dalam output manufaktur dan ekspor telah meningkat dan bergeser dari produk yang berada di sektor supplier-dominated yang teknologinya terkandung dalam barang modal (seperti tekstil) dan bahan baku menuju sektor yang scale-intensive dan specialized-supplier (seperti bahan logam, barang modal, bahan kimia dan produk konsumen) dan bahkan ke sektor yang science-based (seperti semikonduktor dan peralatan komunikasi).
Meskipun demikian, pola ekspansi dan diversifikasi ini berhubungan dengan perbedaan antarnegara dalam hal, pertama, efisiensi dinamis pertumbuhan industri dan kedua, laju akumulasi teknologi di industri. Perbedaan dalam kedua hal di atas dalam proses generalisasinya, akan merupakan hipotesis yang semakin bersifat tentatif, seiring dengan berkurangnya bukti-bukti empiris.
1. Efisiensi Dinamis Pertumbuhan Industri
Bukti-bukti semakin banyak ditemukan yang menunjukkan adanya variasi diantara negara berkembang dalam tingkat efisiensi kapasitas produksi industri selama lebih dari empat dekade. Tingkat efisiensi statis yang rendah di banyak sektor industri nampak pada studi-studi yang menelaah biaya sumber daya domestik, tingkat efektif proteksi dan studi mikro yang lebih mendetail dalam penggunaan teknologi impor (Pack, 1987). Namun dalam tulisan ini, kita akan terfokus pada efisiensi dinamis.
Studi yang menelaah laju pertumbuhan produktivitas industri di negara berkembang menunjukkan bahwa optimisme awal tahun 50-an dan 60-an, ternyata hanya terealisasi di beberapa kasus saja seperti Korea dimana pertumbuhan produktivitas tenaga kerja pertahun lebih besar dari 10% sejak tahun 60-an serta produktivitas faktor produksi total di sektor manufaktur lebih tinggi dibanding negara maju lainnya. Di banyak negara berkembang lainnya justru kebalikannyalah yang terjadi.
Dalam studi yang lebih mikro di tingkat perusahaan, terdapat variasi dalam intensitas peningkatan efisiensi penggunaan teknologi seperti yang ditunjukkan oleh Dahlman dan Fonseca (1984) di perusahaan Amerika Latin. Perubahan teknik lebih banyak ditujukan untuk mengadaptasi dengan kebutuhan lokal daripada mengembangkan dan meningkatkan penggunaan teknologinya. Lall (1987) juga menemukan hal yang serupa di industri India. Meyer-Stamer (1991) mencatat adanya usaha yang terbatas dalam mengeksploitasi potensi teknologi informasi dan otomatisasi dan inovasi organisasi. Sebaliknya perusahaan Korea sukses besar menuju ke teknologi produk dan proses setelah investasi awal (Enos & Park, 1988; Hobday, 1993). Studi lainnya juga menunjukkan bahwa perusahaan di negara lain lebih terbatas lagi uasaha pembelajaran teknologinya dibanding perusahaan di negara Amerika Latin dan India (Bell dkk, 1984; Mytelka, 1992).
Dalam hal menumbuhkan fondasi baru bagi keunggulan komparatif dalam industri yang lebih tinggi intensitas teknologinya, setiap negara juga menunjukkan perbedaan. Yang jelas terlihat adalah melambatnya pertumbuhan sektor industri baru, meskipun sebelumnya telah terjadi pertumbuhan yang signifikan. Poznanski (1984) mencatat kinerja buruk perusahaan-perusahaan di sektor scale-intensive dan specialized-supplieri di negara-negara komunis. Diantara negara industri baru, negara Amerika Latin tercatat paling lambat. Brazil yang pada tahun 50-an telah memulai industri barang modal, tetap tidak beranjak menuju ke sektor yang yang lebih kompleks dan technology-intensive (Felix, 1978). Industri mobil di Argentina yang tumbuh baik di tahun 50-an, pada tahun 90-an hanya bisa pada posisi bertahan hidup saja (Katz & Bercovich, 1993).
Kebalikannya, negara industri baru di Asia Timur malah dengan cara yang berbeda berhasil mengubah struktur industri mereka secara cepat. Korea misalnya, bergerak cepat dari sektor supplier-dominated (tekstil) menjadi scale-intensive (otomotif, baja dan bahan kimia) dan specialized-supplier. Di sektor elektronik, terjadi peningkatan dari perakitan sederhana ke produksi yang lebih technology intensive meskipun belum sampai ke garis depan teknologi (science-based). Singapura dengan melewati industri berat, malah menuju ke sektor yang padat teknologi rekayasa dan informasi. Sementara negara seperti Malaysia, Thailand dan Indonesia berada diantara Asia Timur dan Amerika Latin. Waktulah yang akan membuktikan apakah mereka akan bergerak cepat ke sektor yang lebih technology intensive atau terperangkap pada sektor yang nilai tambahnya rendah. Tentu saja banyak faktor yang berpengaruh terhadap perbedaan di atas, namun yang mulai muncul adalah adanya korelasi dengan pola-pola perubahan teknik dan akumulasi teknologi yang mendasarinya.
2. Akumulasi Teknologi yang Tidak Merata
Ada tiga variabel yang nampak pada aktivitas akumulasi kemampuan teknologi yaitu kedalaman dan intensitas akumulasi di perusahaan, struktur akumulasi dalam hal kapabilitas internal dan infrastruktur serta interaksinya diantara keduanya serta komplementaritas antara impor teknologi dan akumulasi teknologi lokal.
a. Akumulasi di Perusahaan
Kedalaman dan intensitas akumulasi teknologi di beberapa perusahaan sangatlah substansial di beberapa negara yang polanya mengikuti negara yang industrialisasinya sukses sebelumnya. Secara khusus, Korea dan Taiwan telah mampu mengakumulasi teknologi melalui proses peningkatan inkremental secara terus-menerus terhadap teknologi yang diimpornya, proses sintesis elemen teknologi yang membentuk sistem yang lebih kompleks, proses replikasi teknologi yang ditentukan di negara lain serta proses pengembangan inovasi yang lebih original. Prestasi ini pada awalnya ditentukan oleh usaha membangun kemampuan rekayasa (Enos & Park, 1988).
Perubahan struktur industri ini juga ditunjang oleh mobilitas sumber daya manusia termasuk upaya repatriasi yang dilakukan Pemerintah Korea terhadap ilmuwannya yang ada di luar negeri. Pengalaman dan keahlian mereka yang didapat sebelumnya akhirnya memperkuat struktur kemampuan teknologi Korea secara umum. Di negara lain seperti India dan Brazil, upaya akumulasi teknologi di perusahaan lebih terbatas pada sektor tertentu saja seperti pesawat terbang, peralatan komunikasi dan pertahanan.
b. Infrastruktur Kelembagaan
Meskipun semua negara berkembang berusaha membangun dan mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihannya, namun terdapat perbedaan dari segi skala dan orientasi. Korea dan Taiwan tercatat sebagai negara yang tingkat pendidikan dasar dan menengahnya paling tinggi diantara negara berkembang lainnya. Setiap negara berkembang juga membangun struktur lembaga penelitian, meskipun lagi-lagi Korea dan Taiwanlah yang paling intensif dalam hal ini yang dimulai sejak tahun 70-an. Dua ciri penting dari lembaga ini adalah bahwa sebagian besar inisiatif masih dari pemerintah yang dananya mencapai 80% dan hasil penelitian yang didapat sangat sedikit kontribusinya terhadap perubahan teknik yang terjadi di perusahaan.
Dua hal yang patut dicatat dari pengalaman Korea dalam hal ini. Pertama, lembaga litbang di sana berkonsentrasi pada dua hal yaitu inovasi dan pembelajaran (Cohen & Levinthal, 1989). Dari aspek pembelajaran ini, mereka mempelajari teknologi yang telah ada di samping melakukan inovasi yang original, yang hal ini tidak nampak di negara berkembang lainnya. Hal ini terlihat jelas di sektor industri elektronika. Di Taiwan, ERSO (Electronic Research and Service Organization) yang berada di bawah ITRI (Industrial Technology Research Institute) lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator masuknya teknologi dari luar, memberikan pelatihan dan mengasimilasikannya ke sektor industri dalam negeri daripada sebagai penghasil inovasi baru. Kalaupun mereka melakukan R&D, sifatnya lebih merupakan replikasi dari apa yang sudah dikerjakan orang lain dalam rangka memonitor teknologi baru yang muncul.
Kedua, meskipun infrastruktur pendidikan dan pelatihan memainkan peran yang sangat penting, ia hanya memberikan sebagian kontribusi terhadap akumulasi teknologi. Sebagian besar justru disumbangkan oleh perusahaan sendiri. Meskipun sedikit informasi tentang peran ini di sektor supplier-dominated, namun diyakini akan semakin menonjol ketika perusahaan masuk ke sektor yang scale dan knowledge-intensive. Pelatihan yang diberikan kepada para manajer dalam hal manajemen proyek, rekayasa produk dan proses memperjelas hal ini (Amsden, 1989). Dengan kata lain, perusahaan telah berperan pula sebagai pembangun sumber daya manusia, bukan hanya pengguna saja. Lebih jauh, beberapa perusahaan bahkan mendirikan universitas sendiri seperti Tatung di Taiwan dan Samsung di Korea.
c. Impor Teknologi dan Akumulasi Teknologi Lokal
Pengalaman Korea dan Taiwan juga menunjukkan mereka termasuk yang paling banyak mengimpor teknologi dari luar. Bahkan telah menjadi program pemerintahnya untuk memfasilitasi hal ini dengan mencanangkan pertumbuhan sektor industri tertentu yang menjadi prioritas nasional. Namun hal ini diikuti oleh upaya yang substansial dalam mengakuisisi kemampuan teknologi lokal dalam satu paket yang dibutuhkan dalam proses investasi pabrik baru dan peluncuran produk baru. Komplementaritas antara aktivitas impor teknologi dan akumulasi teknologi lokal dalam melakukan perubahan teknik diimbangi dengan upaya intensif untuk meningkatkan dan mengembangkan teknologi yang sebelumnya telah diakuisisi tersebut. Dengan kata lain mereka tidak memilih salah satu tetapi kedua-duanya. Hal ini disebabkan oleh sifat komplementaritas yang ada dalam dua kegiatan tersebut, yaitu kontribusi transfer teknologi terhadap kemampuan teknologi lokal. Bentuk-bentuk yang terjadi adalah perjanjian alih teknologi tidak hanya melibatkan pengetahuan operasional dan pemeliharaan saja tetapi juga mencakup desain, rekayasa dan keahlian manajemen proyek. Pendidikan lanjutan yang diambil negara maju yang dilengkapi dengan pengalaman magang di perusahaan terbukti tidak hanya memberikan kemampuan memecahkan persoalan saja namun juga menyediakan akses terhadap jaringan profesional dan akademis yang penting untuk sektor science-based. Perusahaan elektronik Korea seperti Samsung juga mengambil langkah aktif dengan mendirikan pusat litbang di negara maju untuk memonitor penemuan inovasi baru yang potensial untuk diadaptasikan ke sistem produksi perusahaan. Sementara di negara berkembang yang lain, aktivitas transfer teknologi sangat lemah kaitannya dengan akumulasi kemampuan teknologi lokal. Ia lebih banyak berperan dalam membangun kapasitas produksi yang statis daripada kemampuan teknologi yang dinamis. Dengan kata lain tidak terjadi komplementaritas di negara-negara tersebut.
Semua penjelasan di atas, tidak dimaksudkan bahwa selain di negara Asia Timur, tidak ada akumulasi kemampuan teknologi sama sekali. Namun harus diakui pertumbuhannya secara umum sangatlah lambat (sedikit di atas nol) kecuali di beberapa perusahaan di beberapa negara. Bahkan di sebagian negara-negara di Afrika, pertumbuhannya menunjukkan angka yang negatif yang berarti mereka malah mundur ke belakang.
3. Konstrain dalam Akumulasi Teknologi
Kita dapat saja membuat daftar penyebab mengapa sebagian besar perusahaan di sebagian besar negara berkembang mengalami pertumbuhan yang lambat dalam akumulasi kemampuan teknologi. Mungkin saja dalam daftar tersebut tercantum penyebab antara lain perbedaan kebijakan perdagangan yang berarti membagi menjadi negara yang liberal, yang berorientasi ke luar dan sukses dibandingkan dengan negara yang proteksionis, berorientasi ke dalam dan tidak terlalu sukses. Sejatinya adalah pengalaman negara-negara Asia Timur menunjukkan mereka menerapkan kebijakan perdagangan yang berbeda-beda. Bahkan pengalaman Jepang sebelumnya, mereka memulai industrialisasi dengan proteksi yang ketat dan berorientasi ke dalam negeri. Sehingga meskipun terdapat bukti bahwa insentif tertentu dapat mendorong akumulasi teknologi di perusahaan, tidak terdapat bukti bahwa suatu kebijakan perdagangan tertentu dapat mendorong semua sektor industri pada setiap tahap industrialisasi. Pack (1988) bahkan menyatakan tidak ada hubungan yang jelas antara kebijakan perdagangan dengan pertumbuhan produktivitas faktor produksi total.
Nakaoka (1987) menemukan adanya hubungan antara asimilasi teknologi yang diimpor dengan tahapan siklus hidup teknologi. Kesuksesan Korea dibanding Jepang dalam akusisi teknologi otomotif pada masing-masing awal industrialisasi bersumber dari tingkat kedewasaan teknologi tersebut. Pada saat Korea mengakuisisi, teknologi otomotif telah mencapai masa kedewasaan dimana teknologi sudah lebih standar, terkodifikasi sehingga lebih mudah diakusisi. Namun Nakaoka juga berpendapat karena itu pulalah Korea lebih sedikit mengakumulasi kemampuan teknologi pembuatan barang modal di industri tersebut dibanding Jepang. Faktor inilah yang mungkin menjadi konstrain bagi negara berkembang yang akan mengakumulasi kemampuan teknologi.
Namun trade-off Nakaoka di atas mempunyai kelemahan dan tidak dapat membantu menjelaskan perbedaan yang dialami oleh sebagian besar negara berkembang. Pertama, aktivitas praktek (doing) bukanlah satu-satunya sarana pembelajaran, sehingga investasi yang khusus ditujukan untuk pembelajaran dapat mengatasi masalah kedewasaan teknlogi. Kedua, industri otomotif Korea menunjukkan kemampuan teknologi yang tinggi dalam hal rekayasa produk dan peralatan yang menyertainya. Ketiga, adanya hambatan akibat kedewasaan teknologi tidak menjelaskan perbedaan yang terjadiantara negara-negara yang sama-sama masuk ke sektor industri yang telah dewasa.
Pandangan lain lebih terfokus pada pembagian kategori dalam tulisan di atas. Kemajuan teknologi sekarang ini paling cepat berada di perusahaan besar di sektor yang scale-intensive dan science-based dengan aktivitas teknologi yang terspesialisasi dan profesional di lembaga semacam litbang dan laboratorium. Hal ini membuat proses akumulasi teknologi menjadi terbatasi dan lebih rumit. Tambahan pula, perusahaan besar yang menguasai sektor ini tidak mau memberikan aksesnya dengan mudah kepada perusahaan lain. Mereka mengembangkan teknologi di negeri asalnya atau di negara maju lainnya. Dan kalaupun mereka memproduksi di negara berkembang, mereka menggunakan mekanisme lisensi. Di sisi lain, teknologi barang modal seperti mesin, proses dan peralatan dapat diakses dengan mudah oleh negara berkembang. Namun akses terhadap teknologi yang mendasarinya tidaklah semudah dengan membeli barang modal tersebut.
Nakaoka (1987) dan Kim (1985) berpendapat bahwa karakteristik teknologi saat yang lebih kompleks dan bergerak lebih cepat dibanding ketika Korea dan Jepang mengakuisisinya dulu. Sehingga negara berkembang saat ini lebih mengalami kesulitan dalam membangun kemampuan teknologi. Namun demikian peningkatan akses terhadap pendidikan dan pelatihan teknologi tinggi di negara maju akan sedikit banyak mengatasi masalah ini. Bell dan Pavitt mengajukan dua faktor yang akan menghambat negara berkembang dalam proses akumulasi kemampuan teknologi. Pertama, meningkatnya spesialisasi dan diferensiasi telah menyebabkan perbedaan yang tajam antara kapasitas produksi dan kemampuan teknologi. Kedua, skala produksi yang meningkat secara progresif mengurangi kesempatan dan insentif untuk melakukan pembelajaran teknologi.
a. Peningkatan Spesialisasi dan Diferensiasi
Karakteristik utama trajektori teknologi pada awal industrialisasi adalah kesejajaran dan interaksi yang besar antara kapasitas produksi dan kemampuan teknologi. Hal ini difasilitasi oleh adanya overlap antara pengetahuan dan kelembagaannya. Pada akhir abad 18 misalnya, pengetahuan yang diperlukan untuk meningkatkan, mendesain dan memproduksi mesin tekstil dapat diakses dengan mudah oleh mereka yang menggunakannya. Konsekwensinya “doing” memberikan basis untuk mempelajari teknologi yang mendasarinya. Bahkan sejatinya, kedua macam pengetahuan tersebut berada di satu bagian di perusahaan seperti misalnya shop floor.
Namun demikian meningkatnya spesialisasi telah memperlebar jarak antara pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melakukan operasi dan yang diperlukan untuk menciptakan dan melakukan perubahan teknik. Pada saat yang tempat keduanya pun mulai terpisah dengan munculnya divisi desain, rekayasa dan litbang. Bahkan lebih jauh muncullah perusahaan dan industri yang berbeda. Hal ini terjadi di industri tekstil Lowell di Amerika pada abad ke-19, yang tadinya memproduksi sendiri sebagian besar mesinnya. Disintegrasi vertikal menyebabkan munculnya perusahaan yang terpisah yang khusus memasok mesin tekstil, sementara industri tekstilnya sendiri menjadi sektor yang supplier-dominated (Gibb, 1950).
Implikasi penting dari fenomena ini adalah semakin lemahnya hubungan yang otomatis terjadiantara akumulasi kapasitas produksi dengan kemampuan teknologi. Sehingga pembelajaran membutuhkan investasi yang eksplisit dan terpisah dalam rangka mengakumulasi kemampuan teknologi. Meningkatnya spesialisasi dan diversifikasi ini pula menyebabkan kesempatan menjadi lebih terbatas. Hal ini terjadi di industri tekstil Korea yang tidak pernah menjadi basis bagi industri yang lebih kompleks (Amsden, 1989). Ketidaksinambungan struktural inilah yang mungkin dapat menghambat proses evolusi keunggulan komparatif yang dimulai dari sektor supplier-dominated.
b. Peningkatan Skala Produksi
Sejalan dengan meningkatnya skala minimum untuk tercapainya efisiensi, frekuensi investasi per unit ekspansi industri menurun yang berakibat menurunnya insentif dan kesempatan untuk melakukan investasi dalam pembelajaran teknologi. Seiring dengan menurunnya frekuensi harapan proyek investasi, demikian pula harapan imbalan dari investasi yang melibatkan peningkatan keahlian dan skill yang dibutuhkan dalam investasi tersebut, yang merupakan hal yang dibutuhkan dalam proses perubahan teknik sistem produksi yang telah ada. Tambahan pula ketika dilakukan investasi proyek yang besarlah kesempatan pembelajaran teknologi terbuka paling besar seperti akses kepada pendidikan dan pelatihan, pengalaman magang dengan pemasok dan konsultan, dibanding masa operasional teknologi tersebut.
Dua hal tersebut di atas menyebabkan akumulasi kemampuan teknologi berada semakin jauh dari proses industrialisasi. Oleh karenanya diperlukan investasi tersendiri untuk mengakumulasi kemampuan teknologi, meskipun masalah ketidaksempurnaan appropriabilitas masih terus menggelayuti.
Dalam konteks historis, dari pengalaman negara Korea dan Taiwan diatas, memberikan karakteristik khusus yang membantu proses akumulasi kemampuan teknologi. Kebijakan perdagangan memang penting menjadi catatan. Orientasi ekspor tidak saja telah memberikan tekanan dan insentif terhadap perusahaan, tetapi juga meningkatkan frekuensi investasi di sektor industri tertentu. Namun demikian selama periode substitusi impor yang berorientasi ke dalam di Korea dan Taiwan telah memberikan fondasi bagi terakumulasinya kemampuan teknologi. Yang lebih penting adalah adanya kebijakan yang langsung secara eksplisit ditujukan untuk mendorong perusahaan mengakumulasi kemampuan teknologi.
Di banyak negara berkembang yang lain, kebijakan perdagangan telah gagal dalam memberikan kesempatan dan insentif dengan terus-menerus dilakukan proteksi. Yang terjadi hanyalah terakumulasinya kapasitas produksi dengan sedikit atau tidak ada sama sekali akumulasi kemampuan teknologi. Demikian pula dengan diberlakukannya kebijakan yang mendorong akumulasi kemampuan teknologi di lembaga litbang tetapi tidak di perusahaan. Berlakunya kebijakan yang mendorong sektor tertentu yang memfragmentasi sektor industri yang scale-intensive berakibat rendahnya akumulasi kemampuan teknologi karena skala industri yang efisien tidak tercapai. Demikian pula diberlakukannya kebijakan yang mendorong tumbuhnya sektor industri dalam jangka pendek namun mengabaikan pengelolaan proses pembelajaran yang harus terjadi di sektor tersebut dalam jangka panjang.
Penutup
Setidaknya ada lima hal yang dapat direkomendasikan untuk peningkatan proses akumulasi teknologi di negara berkembang, yaitu :
Pertama, model perubahan teknik yang secara sederhana mengasumsikan proses adopsi teknologi dalam barang modal yang diikuti oleh prosedur operasional akan diikuti oleh peningkatan produktivitas penggunaannya tidaklah memadai lagi. Selain tidak sesuai dengan data empiris, model tersebut juga mengabaikan pentingnya investasi tambahan yang tidak kasat mata dalam mengakumulasi kemampuan untuk melakukan perubahan teknik.
Kedua, sumber daya baik keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam proses perubahan teknik semakin kompleks dan terspesialisasi. Oleh karenanya pembedaan antara kapasitas produksi dan kemampuan teknologi menjadi penting. Diperlukan upaya yang berbeda dan terpisah untuk mengakumulasi keduanya.
Ketiga, proses pembelajaran yang diperlukan untuk mengakumulasi kemampuan teknologi juga semakin terspesialisasi dan kompleks. Pendidikan formal yang sebelumnya diperoleh haruslah diikuti dengan proses pembelajaran internal di perusahaan. Pembelajaran dengan “doing” hanyalah bagian kecil dari kemampuan yang dibutuhkan. Tambahan pula, pengetahuan dan keahlian di bidang yang spesifik hanyalah meberi sumbangan yang kecil pada bidang yang lain.
Keempat, pengalaman industrialisasi baik di negara maju maupun berkembang, proses pembelajaran yang berbeda dan path dependent menjadi basis bagi evolusi keunggulan komparatif. Diperlukan analisis sejarah dan kontemporer yang serius untuk memahami proses yang telah terjadi. Sementara kita hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa kondisi pembelajaran sekarang berbeda dari kondisi yang lalu ketika Korea dan Taiwan memulainya. Perhatian khusus perlu diperhatikan adalah adanya jarak antara kapasitas produksi dan kemampuan teknologi serta institusi tempat kedua hal tersebut diakumulasi.
Kelima, debat steril yang selama ini terjadi tentang implikasi kebijakan perdagangan mengabaikan lebih dari separuh hal-hal yang mempengaruhi dinamika pertumbuhan industri dalam jangka panjang. Kebijakan proteksi dan pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan mungkin memadai untuk melakukan industrialisasi di abad ke-19. Namun keduanya tidaklah cukup untuk melakukan industrialisasi di abad ke-21. Pada saat yang sama, meskipun kebijakan ekspor dapat memberikan tekanan dan insentif, namun ia tidaklah cukup untuk mendorong investasi dalam pembelajaran dalam jumlah yang cukup. Oleh karenanya aktivitas pembelajaran teknologi, baik itu karakteristik, faktor pendorong dan dampaknya terhadap ekonomi, haruslah menjadi fokus dan perhatian para pemerhati pembangunan industri di negara berkembang.
1. Perbandingan Antarsektor
Penjelasan di atas banyak berhubungan dengan pengalaman negara maju di sektor industri secara umum. Padahal terdapat perbedaan trajektori untuk setiap jenis industri yang terkait akumulasi teknologi dan perubahan teknik. Konsekuensinya adalah adanya perbedaan dalam hal cara mempertahankan daya saing dan perbedaan dalam proses evolusi antarsektor yang mengubah fondasi daya saing yang memberikan implikasi kebijakan yang berbeda. Jenis trajektori tersebut ada lima yaitu :
a. Perusahaan yang Supplier-dominated
Perubahan teknik yang terjadi di kelompok ini hampir semuanya bersumber dari pemasok permesinan dan input lainnya. Contoh yang paling mudah adalah industri tekstil dimana inovasi bersumber dari pemasok mesin dan bahan baku kimia. Pilihan teknologi mencerminkan biaya relatif faktor produksi dan kesempatan teknologi terfokus pada peningkatan dan modifikasi metode produksi dan bahan bakunya serta desain produk. Sebagian besar teknologi ditransfer melalui pembelian barang modal dan bahan baku. Jenis trajektori ini mempunyai kedekatan dengan model konvensional fungsi produksi.
b. Perusahaan yang Scale-intensive
Akumulasi yang terjadi di kelompok ini dihasilkan oleh proses desain, pengembangan dan operasional sistem produksi atau produk yang kompleks. Contohnya adalah industri proses dan ekstraksi seperti material, otomotif dan barang konsumen tertentu. Resiko kegagalan yang terjadi sangatlah tinggi karena kompleksitasnya dan besarnya manfaat ekonomi yang didapat dari skala ekonomi yang besar.
Akumulasi teknologi dalam kelompok ini kemudian muncul dari proses dan pengalaman operasional sebelumnya dan peningkatan dalam hal komponen, permesinan dan subsistem. Sumber utama teknologi adalah desain dan rekayasa produk, pengalaman operasional serta pemasok peralatan dan komponen. Transfer teknologi yang terjadi adalah selain dengan pembelian barang modal, juga melalui lisensi teknologi produksi dan desainnya serta pelatihannya. Perubahan teknik seperti ini mendekati model yang diusulkan oleh Schmookler dalam inovasi yang didorong oleh investasi.
c. Perusahaan yang Information-intensive
Kemajuan teknologi informasi selama lebih dari 40 tahun dalam kapasitas menyimpan, memproses serta mentransfer informasi memberikan peluang munculnya kelompok perusahaan yang dapat mengakumulasi kemampuan teknologi melalui upaya peningkatan inkremental yang didapat melalui pengalaman operasional yang terdiri dari aktivitas mendesain, membangun sistem yang komplek dalam mengolah informasi. Fungsi organisasi dengan nama Divisi Sistem di perusahaan besar pengguna menjadi tempat berlangsung akumulasi teknologi ini serta pemasok sistem dan aplikasi perangkat lunak. Meskipun data masih minim, survei menunjukkan bahwa perusahaan jasa seperti perbankan dan ritel menjadi pusat akumulasi teknologi informasi ini.
d. Perusahaan yang Science-based
Akumulasi teknologi di kelompok ini bermula dari divisi litbang dan laboratorium di perusahaan besar dan sangat tergantung pada keahlian dan pengetahuan yang didapat melalui penelitian akademis. Contohnya adalah industri elektronik dan kimia. Penemuan tentang elektromagnet, gelombang radio, efek transistor, bahan sintetik dan biologi molekular membuka peluang adanya pasar produk baru. Arah akumulasi teknologi adalah pencarian horizontal terhadap pasar baru dengan produk yang teknologinya berhubungan. Transfer teknologi dalam kelompok tidak cukup hanya dengan membeli bahan baku input dan lisensi sistem produksinya tetapi juga melibatkan kemampuan rekayasa ulang yang merupakan juga aktivitas litbang dan desain yang melibatkan pula para insinyur dan akademisi yang dikontrak dari luar. Model perubahan teknik ini adalah seperti yang digambarkan oleh Schumpeter (1943).
e. Perusahaan yang Specialized-supplier
Akumulasi teknologi diperoleh melalui desain, pengembangan dan penggunaan operasional input dan bahan baku yang digunakan oleh sistem produksi yang kompleks dalam bentuk permesinan, komponen, peralatan serta perangkat lunak. Kelompok perusahaan ini mengambil manfaat dari industri pengguna dalam bentuk informasi, keahlian, serta kemungkinan modifikasi dan peningkatan. Perusahaan pemasok mengakumulasi kemampuan teknologinya dengan menyesuaikan desainnya dengan permintaan pelanggan. Transfer teknologi melibatkan aktivitas pembelian perusahaan besar yang menjadi pengguna teknologi.
Pembagian kelima kategori di atas berlaku di negara maju dan sebuah perusahaan dapat saja masuk ke lebih dari satu kategori. Kategori ini memungkinkan terlihatnya pola yang berbeda dalam spesialisasi teknologi dan juga dapat menjelaskan mekanisme dimana fondasi daya saing negara berubah seiring dengan waktu.
2. Dinamika Daya Saing dan Perubahan Struktural
Pola sektoral di atas dapat membantu menjelaskan hubungan antara proses akumulasi teknologi dan ciri penting yang berkaitan dengan pola pembangunan industri yaitu perubahan fondasi daya saing dalam pasar dunia dan yang kedua perubahan komposisi dalam output.
Dalam pasar ekspor dapat diidentifikasi dua kondisi ekonomi yang ekstrim. Di satu sisi, di sektor yang supplier-dominated, asumsi Heckscher-Ohlin tentang keunggulan komparatif berlaku dengan baik yaitu teknologi dalam bentuk barang modal dan baku tersedia dengan mudah dan pilihan teknologi tergantung pada sumber daya yang tersedia. Negara dengan upah buruh yang murah dapat memanfaatkan keunggulan komparatifnya dalam sektor ini dengan mengefektifkan proses akuisisi teknologi. Sementara disisi lain yang ekstrim, keunggulan komparatif negara yang upahnya tinggi didominasi oleh kemajuan kemampuan teknologi dalam sektor science-based, scale-intensive dan specialized-supplier. Diantara dua ekstrem terdapat negara industri baru yang secara progresif melakukan penggeseran basis daya saing kompetitif dari satu sektor ke sektor lainnya. Berhubungan dengan pergeseran tersebut adalah perubahan outputi dan ekspor yang bergeser dari sektor yang sumber daya yang banyak tersedia (tekstil, pertambangan, dan makanan) ke sektor yang lebih maju seperti permesinan, transportasi dan bahan kimia.
Pada saat yang sama, pengalaman sejarah negara maju menunjukkan bahwa pola pengembangan teknologi nasional berlangsung kumulatif dan dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya dan dalam tradisi yang berbeda. Dalam pengertian yang umum, akumulasi teknologi melibatkan akuisisi yang progresif modal tak nyata dalam bentuk keahlian personal, organisasi dan kelembagaan yang memungkinkan negara mengadopsi dan mengembangkan teknologi produk dan proses dengan kompleksitas yang semakin meningkat. Pergeseran fondasi daya saing internasional berevolusi menurut dan sebagai akibat dari trajektori teknologi ini.
Sehingga setiap dari lima kategori trajektori di atas mempunyai implikasi tempat terpusatnya pembelajaran teknologi yaitu di :
• Operasional dan produksi di perusahaan yang supplier-dominated
• Peningkatan proses dan produk di perusahaan yang scale-intensive
• Pengembangan komponen dan peralatan di perusahaan yang specialized-supplier
• Eksploitasi penelitian dasar produk dan pengembangan proses yang berhubungan dengannya di perusahaan yang science-based
Seiring dengan waktu, proses pembelajaran dalam sektor tersebut meletakkan dasar pengetahuan dan keahlian untuk produksi lokal di sektor lain seperti misalnya disintegrasi vertikal aktivitas produksi yang pada awalnya dibangun dalam salah satu kategori, mentransfer pengetahuan yang telah terakumulasi untuk memperkuat daya saing perusahaan di sektor lain, perpindahan tenaga ahli dari satu perusahaan ke perusahaan dalam kategori yang berbeda, atau secara lebih umum meningkatkan kesadaran akan pengembangan pengetahuan dan keahlian baru diantara perusahaan lokal dan lembaga teknologi.
Pada beberapa kasus, perubahan akibat pembelajaran dalam struktur produksi menyebabkan perubahan pada karakteristik industri tersebut. Sebagai contoh, akumulasi teknologi menyebabkan industri otomotif berubah dari sektor yang supplier-dominated dan berskala kecil menjadi industri yang bervolume besar dan scale-intensive. Bahkan yang lebih umum lagi, perubahan struktural akibat pembelajaran melibatkan munculnya sektor yang berbeda dan teknologinya kompleks yang didasarkan pada akumulasi teknologi sebelumnya di sektor yang teknologinya sederhana seperti :
• Munculnya industri permesinan tekstil di Amerika sebagai sektor yang specialized-supplier berdasarkan akumulasi teknologi sebagai perusahaan tekstil (yang sekarang menjadi supplier-dominated)
• Munculnya specialized-supplier dalam peralatan produksi berdasarkan akumulasi teknologi di sektor yang scale-intensive (seperti otomotif dan industri proses)
• Munculnya industri yang science-based berdasarkan akumulasi teknologi sebelumnya di sektor yang lain (seperti industri elektronik yang berdasarkan sektor specialized-supplier dan industri kimia berdasarkan sektor yang kurang kandungan science-based-nya)
Trajektori di atas tidaklah dapat ditentukan dan direncanakan sebelumnya baik dari sisi arah maupun lajunya. Namun dalam banyak kasus tiga mekanisme nampaknya sangat berpengaruh yaitu ketersediaan sumber daya, arah investasi yang tetap terutama yang kuat intensitas hubungan multisektoralnya dan penguasaan kumulatif teknologi inti dan basis pengetahuan yang mendasarinya. Signifikansi relatif dari tiga mekanisme ini berubah selama proses industrialisasi. Pada fase awal, arah perubahan teknik di sebuah negara sangatlah kuat dipengaruhi oleh mekanisme yang didorong oleh pasar lokal yang berhubungan dengan ketersediaan faktor produksi dan kesempatan investasi. Pada tingkat pembangunan yang lebih tinggi akumulasi lokal dari keahlian teknologi yang spesifik menjadi pemberi arah pada perubahan teknik.
Ketersediaan faktor. Mekanisme pendorong lokal yang paling kasat mata adalah pencarian untuk memecahkan masalah ketiadaan sumber daya. Data sejarah mencatat pentingnya pengembangan teknik yang hemat tenaga kerja di Amerika Utara. Perubahan teknik juga terjadi dalam merespon perbedaan harga bahan bakar yang menentukan arah industri mobil dan permesinan di Amerika, Eropa dan Asia Timur. Di Jepang pascaperang dunia kedua, pencarian teknologi yang hemat tempat memberi arah bagi peningkatan metode produksi masal. Di masa datang, pencarian teknologi yang ramah lingkungan sebagai mekanisme pendorong akan menjadi semakin penting.
Investasi sebagai pendorong dan hubungan antarsektor. Seperangkat mekanisme yang kedua ini tergambar dalam dalam tradisi analitis yang lain yang menekankan pada pentingnya investasi sebagai pendorong proses perubahan teknik (Schmookler, 1966), serta hubungan teknik dan ketidakseimbangan hubungan antar perusahaan (Carlsson & Henriksson, 1991). Salah satu variannya adalah eksploitasi sumber daya alam yang melimpah, dengan menciptakan perubahan teknik lokal, serta akumulasi teknologi dan daya saing proses dan ekstraksi. Seperti misalnya Kanada, Amerika Serikat dan Negara Skandinavia yang mengembangkan teknologi yang menggunakan kayu telah memberikan kontribusi terhadap daya saing industri permesinan yang mengolah kayu. Hubungan antarsektor terjadi di sektor otomotif yang investasinya mendorong sektor barang modal yang berhubungan dengannya. Juga program investasi Pemerintah Jepang pada awal modernisasinya yang memberikan dampak pada sektor perkapalan, rel kereta api dan peralatan komunikasi (Nakaoka, 1987).
Penguasaan teknologi inti. Biaya dan investasi sebagai mekanisme pendorong perubahan teknik tidak dapat menjelaskan munculnya semua bidang daya saing yang berbasis teknologi. Sebagai contoh, daya saing Swiss dalam mesin diesel kapal tidaklah berhubungan dengan ketersediaan sumber daya maritim tetapi lebih berhubungan dengan kemampuan teknologi yang terakumulasi dalam sektor industri tekstil. Pada tingkat yang lebih tinggi, akumulasi teknologi di negara maju saat ini lebih dipengaruhi oleh penguasaan kumulatif selama ini dan eksploitasi teknologi inti pasar dunia dengan potensi aplikasi yang sangat bervariasi. Ketika teknologi intinya adalah science-based dan hubungan yang terjadi bersifat horizontal maka trajektori tidak akan terjadi karena dorongan pengguna terhadap produsen barang modal tetapi melalui diversifikasi ke pasar produk baru dari basis aktivitas litbang. Sehingga daya saing Swiss dalam industri farmasi bermula dari bahan pewarna seperti halnya Jerman tetap mempertahankan daya saingnya melalui serangkaian aktivitas inovasi dalam bahan kimia. Pola Swedia lebih kompleks, bermula dari industri pertambangan dan berakhir di industri robot yang teknologi intinya adalah permesinan dan aneka logam.
Dua karakteristik yang umum di negara yang mengikuti trajektori berdasarkan penguasaan teknologi. Pertama, mereka cenderung melakukan pemilihan teknologi tidak secara sederhana berdasarkan pada imbalan finansial yang akan didapat tetapi berdasarkan nilai yang akan didapat pembelajaran untuk mengeksploitasi kesempatan yang terbuka oleh teknologi tersebut. Kedua, di sektor science-based dan scale-intensive mekanisme pendorong yang spesifik dan keuntungan teknologi tercermin pada aktivitas teknologi di perusahaan besar yang berbasis di dalam negeri.
Pengalaman Akumulasi Teknologi di Negara Berkembang
Selama lebih dari 50 tahun, negara-negara berkembang secara cepat mengakumulasi dan mendiversifikasi kapasitas produksi nasionalnya. Proporsinya dalam output manufaktur dan ekspor telah meningkat dan bergeser dari produk yang berada di sektor supplier-dominated yang teknologinya terkandung dalam barang modal (seperti tekstil) dan bahan baku menuju sektor yang scale-intensive dan specialized-supplier (seperti bahan logam, barang modal, bahan kimia dan produk konsumen) dan bahkan ke sektor yang science-based (seperti semikonduktor dan peralatan komunikasi).
Meskipun demikian, pola ekspansi dan diversifikasi ini berhubungan dengan perbedaan antarnegara dalam hal, pertama, efisiensi dinamis pertumbuhan industri dan kedua, laju akumulasi teknologi di industri. Perbedaan dalam kedua hal di atas dalam proses generalisasinya, akan merupakan hipotesis yang semakin bersifat tentatif, seiring dengan berkurangnya bukti-bukti empiris.
1. Efisiensi Dinamis Pertumbuhan Industri
Bukti-bukti semakin banyak ditemukan yang menunjukkan adanya variasi diantara negara berkembang dalam tingkat efisiensi kapasitas produksi industri selama lebih dari empat dekade. Tingkat efisiensi statis yang rendah di banyak sektor industri nampak pada studi-studi yang menelaah biaya sumber daya domestik, tingkat efektif proteksi dan studi mikro yang lebih mendetail dalam penggunaan teknologi impor (Pack, 1987). Namun dalam tulisan ini, kita akan terfokus pada efisiensi dinamis.
Studi yang menelaah laju pertumbuhan produktivitas industri di negara berkembang menunjukkan bahwa optimisme awal tahun 50-an dan 60-an, ternyata hanya terealisasi di beberapa kasus saja seperti Korea dimana pertumbuhan produktivitas tenaga kerja pertahun lebih besar dari 10% sejak tahun 60-an serta produktivitas faktor produksi total di sektor manufaktur lebih tinggi dibanding negara maju lainnya. Di banyak negara berkembang lainnya justru kebalikannyalah yang terjadi.
Dalam studi yang lebih mikro di tingkat perusahaan, terdapat variasi dalam intensitas peningkatan efisiensi penggunaan teknologi seperti yang ditunjukkan oleh Dahlman dan Fonseca (1984) di perusahaan Amerika Latin. Perubahan teknik lebih banyak ditujukan untuk mengadaptasi dengan kebutuhan lokal daripada mengembangkan dan meningkatkan penggunaan teknologinya. Lall (1987) juga menemukan hal yang serupa di industri India. Meyer-Stamer (1991) mencatat adanya usaha yang terbatas dalam mengeksploitasi potensi teknologi informasi dan otomatisasi dan inovasi organisasi. Sebaliknya perusahaan Korea sukses besar menuju ke teknologi produk dan proses setelah investasi awal (Enos & Park, 1988; Hobday, 1993). Studi lainnya juga menunjukkan bahwa perusahaan di negara lain lebih terbatas lagi uasaha pembelajaran teknologinya dibanding perusahaan di negara Amerika Latin dan India (Bell dkk, 1984; Mytelka, 1992).
Dalam hal menumbuhkan fondasi baru bagi keunggulan komparatif dalam industri yang lebih tinggi intensitas teknologinya, setiap negara juga menunjukkan perbedaan. Yang jelas terlihat adalah melambatnya pertumbuhan sektor industri baru, meskipun sebelumnya telah terjadi pertumbuhan yang signifikan. Poznanski (1984) mencatat kinerja buruk perusahaan-perusahaan di sektor scale-intensive dan specialized-supplieri di negara-negara komunis. Diantara negara industri baru, negara Amerika Latin tercatat paling lambat. Brazil yang pada tahun 50-an telah memulai industri barang modal, tetap tidak beranjak menuju ke sektor yang yang lebih kompleks dan technology-intensive (Felix, 1978). Industri mobil di Argentina yang tumbuh baik di tahun 50-an, pada tahun 90-an hanya bisa pada posisi bertahan hidup saja (Katz & Bercovich, 1993).
Kebalikannya, negara industri baru di Asia Timur malah dengan cara yang berbeda berhasil mengubah struktur industri mereka secara cepat. Korea misalnya, bergerak cepat dari sektor supplier-dominated (tekstil) menjadi scale-intensive (otomotif, baja dan bahan kimia) dan specialized-supplier. Di sektor elektronik, terjadi peningkatan dari perakitan sederhana ke produksi yang lebih technology intensive meskipun belum sampai ke garis depan teknologi (science-based). Singapura dengan melewati industri berat, malah menuju ke sektor yang padat teknologi rekayasa dan informasi. Sementara negara seperti Malaysia, Thailand dan Indonesia berada diantara Asia Timur dan Amerika Latin. Waktulah yang akan membuktikan apakah mereka akan bergerak cepat ke sektor yang lebih technology intensive atau terperangkap pada sektor yang nilai tambahnya rendah. Tentu saja banyak faktor yang berpengaruh terhadap perbedaan di atas, namun yang mulai muncul adalah adanya korelasi dengan pola-pola perubahan teknik dan akumulasi teknologi yang mendasarinya.
2. Akumulasi Teknologi yang Tidak Merata
Ada tiga variabel yang nampak pada aktivitas akumulasi kemampuan teknologi yaitu kedalaman dan intensitas akumulasi di perusahaan, struktur akumulasi dalam hal kapabilitas internal dan infrastruktur serta interaksinya diantara keduanya serta komplementaritas antara impor teknologi dan akumulasi teknologi lokal.
a. Akumulasi di Perusahaan
Kedalaman dan intensitas akumulasi teknologi di beberapa perusahaan sangatlah substansial di beberapa negara yang polanya mengikuti negara yang industrialisasinya sukses sebelumnya. Secara khusus, Korea dan Taiwan telah mampu mengakumulasi teknologi melalui proses peningkatan inkremental secara terus-menerus terhadap teknologi yang diimpornya, proses sintesis elemen teknologi yang membentuk sistem yang lebih kompleks, proses replikasi teknologi yang ditentukan di negara lain serta proses pengembangan inovasi yang lebih original. Prestasi ini pada awalnya ditentukan oleh usaha membangun kemampuan rekayasa (Enos & Park, 1988).
Perubahan struktur industri ini juga ditunjang oleh mobilitas sumber daya manusia termasuk upaya repatriasi yang dilakukan Pemerintah Korea terhadap ilmuwannya yang ada di luar negeri. Pengalaman dan keahlian mereka yang didapat sebelumnya akhirnya memperkuat struktur kemampuan teknologi Korea secara umum. Di negara lain seperti India dan Brazil, upaya akumulasi teknologi di perusahaan lebih terbatas pada sektor tertentu saja seperti pesawat terbang, peralatan komunikasi dan pertahanan.
b. Infrastruktur Kelembagaan
Meskipun semua negara berkembang berusaha membangun dan mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihannya, namun terdapat perbedaan dari segi skala dan orientasi. Korea dan Taiwan tercatat sebagai negara yang tingkat pendidikan dasar dan menengahnya paling tinggi diantara negara berkembang lainnya. Setiap negara berkembang juga membangun struktur lembaga penelitian, meskipun lagi-lagi Korea dan Taiwanlah yang paling intensif dalam hal ini yang dimulai sejak tahun 70-an. Dua ciri penting dari lembaga ini adalah bahwa sebagian besar inisiatif masih dari pemerintah yang dananya mencapai 80% dan hasil penelitian yang didapat sangat sedikit kontribusinya terhadap perubahan teknik yang terjadi di perusahaan.
Dua hal yang patut dicatat dari pengalaman Korea dalam hal ini. Pertama, lembaga litbang di sana berkonsentrasi pada dua hal yaitu inovasi dan pembelajaran (Cohen & Levinthal, 1989). Dari aspek pembelajaran ini, mereka mempelajari teknologi yang telah ada di samping melakukan inovasi yang original, yang hal ini tidak nampak di negara berkembang lainnya. Hal ini terlihat jelas di sektor industri elektronika. Di Taiwan, ERSO (Electronic Research and Service Organization) yang berada di bawah ITRI (Industrial Technology Research Institute) lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator masuknya teknologi dari luar, memberikan pelatihan dan mengasimilasikannya ke sektor industri dalam negeri daripada sebagai penghasil inovasi baru. Kalaupun mereka melakukan R&D, sifatnya lebih merupakan replikasi dari apa yang sudah dikerjakan orang lain dalam rangka memonitor teknologi baru yang muncul.
Kedua, meskipun infrastruktur pendidikan dan pelatihan memainkan peran yang sangat penting, ia hanya memberikan sebagian kontribusi terhadap akumulasi teknologi. Sebagian besar justru disumbangkan oleh perusahaan sendiri. Meskipun sedikit informasi tentang peran ini di sektor supplier-dominated, namun diyakini akan semakin menonjol ketika perusahaan masuk ke sektor yang scale dan knowledge-intensive. Pelatihan yang diberikan kepada para manajer dalam hal manajemen proyek, rekayasa produk dan proses memperjelas hal ini (Amsden, 1989). Dengan kata lain, perusahaan telah berperan pula sebagai pembangun sumber daya manusia, bukan hanya pengguna saja. Lebih jauh, beberapa perusahaan bahkan mendirikan universitas sendiri seperti Tatung di Taiwan dan Samsung di Korea.
c. Impor Teknologi dan Akumulasi Teknologi Lokal
Pengalaman Korea dan Taiwan juga menunjukkan mereka termasuk yang paling banyak mengimpor teknologi dari luar. Bahkan telah menjadi program pemerintahnya untuk memfasilitasi hal ini dengan mencanangkan pertumbuhan sektor industri tertentu yang menjadi prioritas nasional. Namun hal ini diikuti oleh upaya yang substansial dalam mengakuisisi kemampuan teknologi lokal dalam satu paket yang dibutuhkan dalam proses investasi pabrik baru dan peluncuran produk baru. Komplementaritas antara aktivitas impor teknologi dan akumulasi teknologi lokal dalam melakukan perubahan teknik diimbangi dengan upaya intensif untuk meningkatkan dan mengembangkan teknologi yang sebelumnya telah diakuisisi tersebut. Dengan kata lain mereka tidak memilih salah satu tetapi kedua-duanya. Hal ini disebabkan oleh sifat komplementaritas yang ada dalam dua kegiatan tersebut, yaitu kontribusi transfer teknologi terhadap kemampuan teknologi lokal. Bentuk-bentuk yang terjadi adalah perjanjian alih teknologi tidak hanya melibatkan pengetahuan operasional dan pemeliharaan saja tetapi juga mencakup desain, rekayasa dan keahlian manajemen proyek. Pendidikan lanjutan yang diambil negara maju yang dilengkapi dengan pengalaman magang di perusahaan terbukti tidak hanya memberikan kemampuan memecahkan persoalan saja namun juga menyediakan akses terhadap jaringan profesional dan akademis yang penting untuk sektor science-based. Perusahaan elektronik Korea seperti Samsung juga mengambil langkah aktif dengan mendirikan pusat litbang di negara maju untuk memonitor penemuan inovasi baru yang potensial untuk diadaptasikan ke sistem produksi perusahaan. Sementara di negara berkembang yang lain, aktivitas transfer teknologi sangat lemah kaitannya dengan akumulasi kemampuan teknologi lokal. Ia lebih banyak berperan dalam membangun kapasitas produksi yang statis daripada kemampuan teknologi yang dinamis. Dengan kata lain tidak terjadi komplementaritas di negara-negara tersebut.
Semua penjelasan di atas, tidak dimaksudkan bahwa selain di negara Asia Timur, tidak ada akumulasi kemampuan teknologi sama sekali. Namun harus diakui pertumbuhannya secara umum sangatlah lambat (sedikit di atas nol) kecuali di beberapa perusahaan di beberapa negara. Bahkan di sebagian negara-negara di Afrika, pertumbuhannya menunjukkan angka yang negatif yang berarti mereka malah mundur ke belakang.
3. Konstrain dalam Akumulasi Teknologi
Kita dapat saja membuat daftar penyebab mengapa sebagian besar perusahaan di sebagian besar negara berkembang mengalami pertumbuhan yang lambat dalam akumulasi kemampuan teknologi. Mungkin saja dalam daftar tersebut tercantum penyebab antara lain perbedaan kebijakan perdagangan yang berarti membagi menjadi negara yang liberal, yang berorientasi ke luar dan sukses dibandingkan dengan negara yang proteksionis, berorientasi ke dalam dan tidak terlalu sukses. Sejatinya adalah pengalaman negara-negara Asia Timur menunjukkan mereka menerapkan kebijakan perdagangan yang berbeda-beda. Bahkan pengalaman Jepang sebelumnya, mereka memulai industrialisasi dengan proteksi yang ketat dan berorientasi ke dalam negeri. Sehingga meskipun terdapat bukti bahwa insentif tertentu dapat mendorong akumulasi teknologi di perusahaan, tidak terdapat bukti bahwa suatu kebijakan perdagangan tertentu dapat mendorong semua sektor industri pada setiap tahap industrialisasi. Pack (1988) bahkan menyatakan tidak ada hubungan yang jelas antara kebijakan perdagangan dengan pertumbuhan produktivitas faktor produksi total.
Nakaoka (1987) menemukan adanya hubungan antara asimilasi teknologi yang diimpor dengan tahapan siklus hidup teknologi. Kesuksesan Korea dibanding Jepang dalam akusisi teknologi otomotif pada masing-masing awal industrialisasi bersumber dari tingkat kedewasaan teknologi tersebut. Pada saat Korea mengakuisisi, teknologi otomotif telah mencapai masa kedewasaan dimana teknologi sudah lebih standar, terkodifikasi sehingga lebih mudah diakusisi. Namun Nakaoka juga berpendapat karena itu pulalah Korea lebih sedikit mengakumulasi kemampuan teknologi pembuatan barang modal di industri tersebut dibanding Jepang. Faktor inilah yang mungkin menjadi konstrain bagi negara berkembang yang akan mengakumulasi kemampuan teknologi.
Namun trade-off Nakaoka di atas mempunyai kelemahan dan tidak dapat membantu menjelaskan perbedaan yang dialami oleh sebagian besar negara berkembang. Pertama, aktivitas praktek (doing) bukanlah satu-satunya sarana pembelajaran, sehingga investasi yang khusus ditujukan untuk pembelajaran dapat mengatasi masalah kedewasaan teknlogi. Kedua, industri otomotif Korea menunjukkan kemampuan teknologi yang tinggi dalam hal rekayasa produk dan peralatan yang menyertainya. Ketiga, adanya hambatan akibat kedewasaan teknologi tidak menjelaskan perbedaan yang terjadiantara negara-negara yang sama-sama masuk ke sektor industri yang telah dewasa.
Pandangan lain lebih terfokus pada pembagian kategori dalam tulisan di atas. Kemajuan teknologi sekarang ini paling cepat berada di perusahaan besar di sektor yang scale-intensive dan science-based dengan aktivitas teknologi yang terspesialisasi dan profesional di lembaga semacam litbang dan laboratorium. Hal ini membuat proses akumulasi teknologi menjadi terbatasi dan lebih rumit. Tambahan pula, perusahaan besar yang menguasai sektor ini tidak mau memberikan aksesnya dengan mudah kepada perusahaan lain. Mereka mengembangkan teknologi di negeri asalnya atau di negara maju lainnya. Dan kalaupun mereka memproduksi di negara berkembang, mereka menggunakan mekanisme lisensi. Di sisi lain, teknologi barang modal seperti mesin, proses dan peralatan dapat diakses dengan mudah oleh negara berkembang. Namun akses terhadap teknologi yang mendasarinya tidaklah semudah dengan membeli barang modal tersebut.
Nakaoka (1987) dan Kim (1985) berpendapat bahwa karakteristik teknologi saat yang lebih kompleks dan bergerak lebih cepat dibanding ketika Korea dan Jepang mengakuisisinya dulu. Sehingga negara berkembang saat ini lebih mengalami kesulitan dalam membangun kemampuan teknologi. Namun demikian peningkatan akses terhadap pendidikan dan pelatihan teknologi tinggi di negara maju akan sedikit banyak mengatasi masalah ini. Bell dan Pavitt mengajukan dua faktor yang akan menghambat negara berkembang dalam proses akumulasi kemampuan teknologi. Pertama, meningkatnya spesialisasi dan diferensiasi telah menyebabkan perbedaan yang tajam antara kapasitas produksi dan kemampuan teknologi. Kedua, skala produksi yang meningkat secara progresif mengurangi kesempatan dan insentif untuk melakukan pembelajaran teknologi.
a. Peningkatan Spesialisasi dan Diferensiasi
Karakteristik utama trajektori teknologi pada awal industrialisasi adalah kesejajaran dan interaksi yang besar antara kapasitas produksi dan kemampuan teknologi. Hal ini difasilitasi oleh adanya overlap antara pengetahuan dan kelembagaannya. Pada akhir abad 18 misalnya, pengetahuan yang diperlukan untuk meningkatkan, mendesain dan memproduksi mesin tekstil dapat diakses dengan mudah oleh mereka yang menggunakannya. Konsekwensinya “doing” memberikan basis untuk mempelajari teknologi yang mendasarinya. Bahkan sejatinya, kedua macam pengetahuan tersebut berada di satu bagian di perusahaan seperti misalnya shop floor.
Namun demikian meningkatnya spesialisasi telah memperlebar jarak antara pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melakukan operasi dan yang diperlukan untuk menciptakan dan melakukan perubahan teknik. Pada saat yang tempat keduanya pun mulai terpisah dengan munculnya divisi desain, rekayasa dan litbang. Bahkan lebih jauh muncullah perusahaan dan industri yang berbeda. Hal ini terjadi di industri tekstil Lowell di Amerika pada abad ke-19, yang tadinya memproduksi sendiri sebagian besar mesinnya. Disintegrasi vertikal menyebabkan munculnya perusahaan yang terpisah yang khusus memasok mesin tekstil, sementara industri tekstilnya sendiri menjadi sektor yang supplier-dominated (Gibb, 1950).
Implikasi penting dari fenomena ini adalah semakin lemahnya hubungan yang otomatis terjadiantara akumulasi kapasitas produksi dengan kemampuan teknologi. Sehingga pembelajaran membutuhkan investasi yang eksplisit dan terpisah dalam rangka mengakumulasi kemampuan teknologi. Meningkatnya spesialisasi dan diversifikasi ini pula menyebabkan kesempatan menjadi lebih terbatas. Hal ini terjadi di industri tekstil Korea yang tidak pernah menjadi basis bagi industri yang lebih kompleks (Amsden, 1989). Ketidaksinambungan struktural inilah yang mungkin dapat menghambat proses evolusi keunggulan komparatif yang dimulai dari sektor supplier-dominated.
b. Peningkatan Skala Produksi
Sejalan dengan meningkatnya skala minimum untuk tercapainya efisiensi, frekuensi investasi per unit ekspansi industri menurun yang berakibat menurunnya insentif dan kesempatan untuk melakukan investasi dalam pembelajaran teknologi. Seiring dengan menurunnya frekuensi harapan proyek investasi, demikian pula harapan imbalan dari investasi yang melibatkan peningkatan keahlian dan skill yang dibutuhkan dalam investasi tersebut, yang merupakan hal yang dibutuhkan dalam proses perubahan teknik sistem produksi yang telah ada. Tambahan pula ketika dilakukan investasi proyek yang besarlah kesempatan pembelajaran teknologi terbuka paling besar seperti akses kepada pendidikan dan pelatihan, pengalaman magang dengan pemasok dan konsultan, dibanding masa operasional teknologi tersebut.
Dua hal tersebut di atas menyebabkan akumulasi kemampuan teknologi berada semakin jauh dari proses industrialisasi. Oleh karenanya diperlukan investasi tersendiri untuk mengakumulasi kemampuan teknologi, meskipun masalah ketidaksempurnaan appropriabilitas masih terus menggelayuti.
Dalam konteks historis, dari pengalaman negara Korea dan Taiwan diatas, memberikan karakteristik khusus yang membantu proses akumulasi kemampuan teknologi. Kebijakan perdagangan memang penting menjadi catatan. Orientasi ekspor tidak saja telah memberikan tekanan dan insentif terhadap perusahaan, tetapi juga meningkatkan frekuensi investasi di sektor industri tertentu. Namun demikian selama periode substitusi impor yang berorientasi ke dalam di Korea dan Taiwan telah memberikan fondasi bagi terakumulasinya kemampuan teknologi. Yang lebih penting adalah adanya kebijakan yang langsung secara eksplisit ditujukan untuk mendorong perusahaan mengakumulasi kemampuan teknologi.
Di banyak negara berkembang yang lain, kebijakan perdagangan telah gagal dalam memberikan kesempatan dan insentif dengan terus-menerus dilakukan proteksi. Yang terjadi hanyalah terakumulasinya kapasitas produksi dengan sedikit atau tidak ada sama sekali akumulasi kemampuan teknologi. Demikian pula dengan diberlakukannya kebijakan yang mendorong akumulasi kemampuan teknologi di lembaga litbang tetapi tidak di perusahaan. Berlakunya kebijakan yang mendorong sektor tertentu yang memfragmentasi sektor industri yang scale-intensive berakibat rendahnya akumulasi kemampuan teknologi karena skala industri yang efisien tidak tercapai. Demikian pula diberlakukannya kebijakan yang mendorong tumbuhnya sektor industri dalam jangka pendek namun mengabaikan pengelolaan proses pembelajaran yang harus terjadi di sektor tersebut dalam jangka panjang.
Penutup
Setidaknya ada lima hal yang dapat direkomendasikan untuk peningkatan proses akumulasi teknologi di negara berkembang, yaitu :
Pertama, model perubahan teknik yang secara sederhana mengasumsikan proses adopsi teknologi dalam barang modal yang diikuti oleh prosedur operasional akan diikuti oleh peningkatan produktivitas penggunaannya tidaklah memadai lagi. Selain tidak sesuai dengan data empiris, model tersebut juga mengabaikan pentingnya investasi tambahan yang tidak kasat mata dalam mengakumulasi kemampuan untuk melakukan perubahan teknik.
Kedua, sumber daya baik keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam proses perubahan teknik semakin kompleks dan terspesialisasi. Oleh karenanya pembedaan antara kapasitas produksi dan kemampuan teknologi menjadi penting. Diperlukan upaya yang berbeda dan terpisah untuk mengakumulasi keduanya.
Ketiga, proses pembelajaran yang diperlukan untuk mengakumulasi kemampuan teknologi juga semakin terspesialisasi dan kompleks. Pendidikan formal yang sebelumnya diperoleh haruslah diikuti dengan proses pembelajaran internal di perusahaan. Pembelajaran dengan “doing” hanyalah bagian kecil dari kemampuan yang dibutuhkan. Tambahan pula, pengetahuan dan keahlian di bidang yang spesifik hanyalah meberi sumbangan yang kecil pada bidang yang lain.
Keempat, pengalaman industrialisasi baik di negara maju maupun berkembang, proses pembelajaran yang berbeda dan path dependent menjadi basis bagi evolusi keunggulan komparatif. Diperlukan analisis sejarah dan kontemporer yang serius untuk memahami proses yang telah terjadi. Sementara kita hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa kondisi pembelajaran sekarang berbeda dari kondisi yang lalu ketika Korea dan Taiwan memulainya. Perhatian khusus perlu diperhatikan adalah adanya jarak antara kapasitas produksi dan kemampuan teknologi serta institusi tempat kedua hal tersebut diakumulasi.
Kelima, debat steril yang selama ini terjadi tentang implikasi kebijakan perdagangan mengabaikan lebih dari separuh hal-hal yang mempengaruhi dinamika pertumbuhan industri dalam jangka panjang. Kebijakan proteksi dan pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan mungkin memadai untuk melakukan industrialisasi di abad ke-19. Namun keduanya tidaklah cukup untuk melakukan industrialisasi di abad ke-21. Pada saat yang sama, meskipun kebijakan ekspor dapat memberikan tekanan dan insentif, namun ia tidaklah cukup untuk mendorong investasi dalam pembelajaran dalam jumlah yang cukup. Oleh karenanya aktivitas pembelajaran teknologi, baik itu karakteristik, faktor pendorong dan dampaknya terhadap ekonomi, haruslah menjadi fokus dan perhatian para pemerhati pembangunan industri di negara berkembang.






