Articles » 05 Oktober 2006 » Hit: 8953
Akumulasi Teknologi dan Pertumbuhan Industri : Perbandingan Negara Maju dan Berkembang [part 1 of 2]
Pendahuluan
Beberapa bidang analisis ekonomi pada tahun 80-an kembali memberikan perhatian akan pentingnya pembelajaran teknologi dan perubahan teknik dalam jangka panjang. Bahkan isu ini menjadi ciri utama teori baru tentang perdagangan dan pertumbuhan. Pembelajaran teknologi dan perubahan teknik telah menjadi salah satu faktor utama yang menjelaskan perbedaan pertumbuhan dan kinerja perdagangan diantara negara maju serta menjadi sandaran setiap analisis yang mempelajari mengapa negara yang kondisi awal pendapatannya berbeda seiring dengan waktu menjadi menyatu dan menyebar.
Tulisan ini akan mendiskusikan tentang aktivitas akumulasi kemampuan teknologi di negara maju sebagai panduan untuk memahami situasi kontemporer di negara berkembang. Karena proses dasar yang terjadi dalam pembelajaran teknologi dan perubahan teknik berbeda secara fundamental antara sektor pertanian dan industri, maka bab ini akan terfokus pada sektor industri. Di sektor inilah yang mungkin paling banyak terjadi kekecewaan terhadap hasil yang didapat dalam rangka mengejar ketertinggalan, paling tidak relatif terhadap harapan yang telah ada sebelumnya.
Bahkan pada awal periode tersebut, telah ada pemahaman akan kesulitan yang dihadapi dalam mentransfer teknologi pertanian dari negara maju ke negara berkembang. Namun demikian karena karakteristik sektor industri yang tidak terlalu spesifik terhadap lokasi maka diasumsikan negara berkembang lebih mempunyai kesempatan di sektor ini dengan mengambil keuntungan dari difusi teknologi tinggi yang produktif yang telah tersedia dari negara maju. Model yang mendasari argumentasi ini mengambil posisi yang jelas dalam membedakan antara inovasi dan difusi dan diyakini negara berkembang dapat memanfaatkan kesempatan difusi ini tanpa harus mengeluarkan biaya kegiatan inovasi. Akibatnya, ada harapan negara berkembang mencapai pertumbuhan yang tinggi dalam hal produktivitas tenaga kerja dan mungkin pula faktor produktivitas total apabila investasi dalam modal fisik dilakukan secara memadai.
Bell dan Pavitt berpendapat bahwa harapan awal yang optimis akan berhasilnya difusi teknologi ke negara berkembang ini merupakan kekeliruan dan semakin nampak seiring dengan berubahnya karakteristik teknologi di industri. Di negara yang perekonomiannya tergantung dari meminjam teknologi dari luar, akumulasi teknologi disalahartikan dengan mengakumulasi teknologi yang terkandung dalam barang modal. Bahkan proses perubahan teknik di industri yang dinamis di negara berkembang tidaklah sama dengan proses mengadopsi teknologi yang digambarkan dalam model inovasi dan difusi yang konvensional. Konsekuensinya, mereka berdua berpendapat kebijakan teknologi yang didasarkan pada persepsi tersebut akan lebih banyak menghambat daripada meningkatkan kemampuan teknologi negara berkembang dalam mengejar ketertinggalannya.
Dalam menggambarkan realitas proses ini, kita perlu melihat permasalahannya secara mendasar di tingkat mikro dan mengambil pengalaman empiris yang telah ada. Sementara itu karakteristik proses ini telah membawa beberapa akademisi untuk mengembangkan teori evolusi yang menekankan pentingnya dinamika persaingan melalui aktivitas imitasi dan inovasi yang terus-menerus, yang penuh dengan ketidaksetimbangan, ketidakpastian, pembelajaran, disertai perbedaan kemampuan dan perilaku yang ada antarperusahaan dan negara (Nelson & Winter, 1982). Dengan mengumpulkan bukti empiris tentang proses yang terjadi di negara maju, berkembang serta negara sosialis, karakteristik umum dan yang berbeda dalam proses akumulasi kemampuan teknologi dan perubahan teknik dapat diketahui.
Kerangka Analisis
Proses perubahan teknik di industri secara konvensional dipahami melibatkan dua aktivitas. Pertama, melakukan pengembangan dan komersialisasi untuk pertama kali. Kedua, menyebarkan aplikasinya di seluruh sektor ekonomi yang disebut sebagai difusi. Aktivitas yang pertama diasumsikan terjadi sebagian besar di negara maju dan terjadi di negara berkembang ketika kemampuan mereka mulai berada di tingkat teknologi maju seperti Korea dan Taiwan yang ditunjukkan oleh data paten yang tercatat di negara maju. Sebelum tahap tersebut dicapai, negara berkembang diasumsikan berada pada aktivitas difusi teknologi dan karena aktivitas tersebut dipandang hanya berkaitan dengan pemilihan dan adopsi teknologi, maka inovasi yang kreatif dianggap tidak relevan. Dari perspektif ini maka akumulasi teknologi di negara berkembang dipandang hanya melibatkan teknologi yang terkandung dalam barang modal yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dengan teknik tertentu pada fungsi produksi yang efisien.
Sejatinya, difusi melibatkan lebih dari sekadar akuisisi barang modal dan desain produk dan asimilasi pengetahuan cara pengoperasiannya. Difusi sebenarnya melibatkan perubahan teknik yang bertahap dan terus-menerus dimana teknologi yang bersumber dari proses inovasi, diadaptasikan dengan kondisi penggunaan yang berbeda dari spesifikasi awal serta ditingkatkan untuk mencapai standar kinerja yang lebih tinggi dari sebelumnya. Fakta ini pada dasarnya telah dicatat dalam observasi yang dilakukan oleh Rosenberg (1972, 1976) dan Metcalf (1988).
Yang kurang mendapat perhatian adalah bahwa aktivitas inovasi yang kreatif ini sebenarnya melibatkan dua fase dalam proses aplikasi difusi teknologi. Pertama, karakteristik dasar teknologi awal dapat ditingkatkan dan diadaptasi yang disesuaikan dengan kondisi sistem produksi yang baru. Proses yang sebenarnya kompleks dan kreatif ini tidak tertangkap dalam istilah yang sederhana seperti adopsi dan pilihan teknologi. Pentingnya proses ini telah ditekankan oleh Voss (1988) yang mengambil kasus adopsi teknologi manufaktur di negara maju dan Amsalem (1983) dalam adopsi teknologi tekstil dan kertas di negara berkembang. Kedua, setelah teknologi baru diaplikasikan pada sistem produksi, perubahan teknik terjadi sepanjang seluruh waktu operasi fasilitas produksi tersebut. Proses ini meliputi adaptasi dan modifikasi yang meningkatkan kinerja penggunaan teknologi dan mengantisipasi perubahan dalam input dan pasar. Analisis tentang kurva pembelajaran telah menunjukkan keuntungan ekonomi yang signifikan dari aktivitas inovasi yang kreatif tersebut, namun kurang menonjolkan proses internal yang sebenranya terjadi, yang sejatinya dihasilkan oleh perubahan teknik yang kreatif seperti yang digambarkan oleh penurunan biaya di Pabrik Du Pont setelah mengakuisisi teknologi dari Eropa (Hollander, 1965) dan kasus peningkatan yang terus-menerus di perusahaan Jepang (Imai, 1986). Sementara untuk kasus di negara berkembang, dapat dilihat pada kasus yang dibahas oleh Dahlman dan Fonseca (1987) untuk industri baja di Brazil serta Enos dan Park (1988) untuk industri petrokimia di Korea. Sementara dari dimensi pentingnya sisi organisasi dalam proses perubahan teknik dapat dilihat pada Hoffman (1989), Meyer-Stamer dkk (1991) dan Mody (1992).
Dalam proses di atas, sangat penting untuk ditekankan bahwa pengguna dan pengadopsi teknologi memegang peran yang signifikan dalam dua fase perubahan teknik tersebut. Mengadaptasi teknologi yang diimpor terhadap kondisi lokal mengharuskan adanya sumber input dari pihak pemasok namun melibatkan peran yang aktif dari sisi pengguna baik secara independen maupun interaksi antara kedua belah pihak. Pihak pengguna dapat ikut menentukan spesifikasi dan desain dari barang modal yang mereka butuhkan. Sehingga dalam perusahaan yang dinamika teknologinya tinggi, pengguna biasanya mempunyai peran yang aktif yang menyebabkan mereka pada dasarnya adalah inovator yang kreatif.
Di negara maju, perusahaan biasanya, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda, telah memiliki kemampuan menggunakan teknologi secara kreatif dan aktif. Sementara di negara berkembang, kemampuan ini baru ada setelah adanya akuisisi pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang lebih dari sekedar mengoperasikan teknologi impor tersebut. Mereka harus mengakuisisi pengetahuan yang lebih mendalam sehingga mampu mengelola proses perubahan teknik seperti mengaplikasikan teknologi baru dalam sistem produksi yang telah ada, melakukan investasi baru dalam aplikasi yang lain, memodifikasi input dan output produksi untuk memeneuhi permintaan pasar yang berubah. Mereka juga dapat mengakuisisi teknologi dengan mengakuisisi perusahaan lain yang memungkinkan mereka memperkenalkan perubahan teknik yang lebih substansial dan radikal. Ketika perusahaan sudah demikian maju dari sisi kemampuan teknologi, maka ia dapat melakukan perubahan teknik yang sering kita sebut sebagai inovasi.
Sehingga meskipun negara berkembang menggantungkan diri pada teknologi yang berasal dari luar, terdapat berbagai tingkat manfaat dan keuntungan yang didapat dari mengoperasikan teknologi tersebut. Secara khusus intensitas mereka dalam mengakumulasi kemampuan dalam mengelola perubahan teknik akan menjadi variabel yang menentukan kinerja. Variabel lainnya yang juga penting adalah efisiensi investasi kapasitas produksi, laju pertumbuhan produktivitas faktor total dalam perusahaan dan industri serta tingkat daya saing spesifikasi dan desain produknya. Dalam jangka panjang, intensitas usaha tersebut di atas akan mempengaruhi variabel yang lain seperti kekuatan hubungan ke belakang dan ke depan dengan pemasok dan pelanggan, kemudahan perubahan struktural ke produksi yang intensitas teknologinya lebih tinggi dan kemampuan untuk masuk ke pasar produk yang baru.
Dari penjelasan di atas, maka konsep konvensional yang menyatakan aktivitas inovasi mendahului aktivitas difusi menjadi tidak berguna dalam menjelaskan dinamika industrialisasi di negara berkembang. Berbagai alternatif definisi telah diusulkan seperti penguasaan teknologi, kemampuan teknologi, kapasitas teknologi, usaha teknologi, dan pembelajaran teknologi (Teitel, 1982; Katz, 1984; Bell dkk, 1984; Dahlman dkk, 1987; Enos, 1991; Zahlan, 1991; Lall, 1987, 1990).
Pendekatan Bell dan Pavitt perlu mendapat perhatian di sini. Mereka membedakan antara dua stok sumber daya yaitu kapasitas produksi dan kemampuan teknologi. Yang pertama berkaitan dengan sumber daya yang diperlukan untuk memproduksi produk pada tingkat efisiensi tertentu dan inputi tertentu seperti tenaga kerja, barang modal, spesifikasi produk dan input dan sistem organisasi yang digunakan. Sementara yang kedua berhubungan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan dan mengelola perubahan teknik seperti keahlian, pengetahuan dan pengalaman serta struktur dan hubungan kelembagaan. Bell dan Pavitt menekankan untuk membedakan keduanya dalam rangka untuk memahami dinamika industrialisasi dan sumber daya yang diperlukan untuk membangkitkan dan mengelola dinamika tersebut.
Dalam Gambar 1 Bell dan Pavitt juga mengidentifikasi dua proses yaitu perubahan teknik dan pembelajaran atau akumulasi teknologi. Yang pertama berkaitan dengan proses dimana teknologi baru diadopsikan pada kapasitas produksi perusahaan, sementara yang kedua berkaitan dengan proses dimana sumber daya dan kemampuan mengelola perubahan teknik ditingkatkan dan diperkuat. Proses akumulasi dan pembelajaran inilah yang harus menjadi perhatian. Perubahan teknik yang terjadi di perusahaan dapat mengambil dua bentuk yaitu adopsi teknologi baru pada investasi baru atau ekspansi yang substansial dari kapasitas produksi yang sudah ada dan yang kedua, mengadopsi secara inkremental inovasi kreatif dari teknologi yang digunakan tersebut.
Ada dua alasan mendasar mengapa perhatian harus terfokus terhadap kemampuan teknologi baik secara analitis maupun kebijakan. Pertama, sumber daya tak nampak yang diperlukan dalam menghasilkan dan mengelola perubahan teknik tidak lagi dapat dipandang marjinal dalam konteks sumber daya yang urgen bagi perusahaan. Sumber daya ini menjadi signifikan secara kuantitatif yang termanifestasi dalam sistem produksi yang intensitas pengetahuan dan perubahan teknologi yang semakin meningkat. Di negara maju, banyak perusahaan yang nilai investasinya dalam penelitian dan pengembangan lebih besar dari nilai investasi dalam barang modal. Pada saat yang sama, perusahaan juga meningkatkan investasinya dalam pengembangan sumber daya manusia dari aspek keahlian dan pengetahuan serta mekanisme kelembagaan dalam perusahaan untuk mendorongnya. Kedua, adanya pergeseran kualitatif dalam sumber daya pengetahuan yang digunakan oleh perusahaan industri dengan munculnya pembedaan antara keahlian dan pengetahuan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem produksi dan untuk melakukan perubahan teknik terhadapnya. Kesenjangan antara keduanya menyebabkan sumber daya untuk perubahan teknik tidak dapat diperoleh hanya dengan mengandalkan pengalaman yang didapat dari mengoperasikan sistem produksi yang telah ada. Konsekuensinya investasi yang secara eksplisit ditujukan untuk mengakumulasi kemampuan teknologi yang diperlukan dalam mengelola perubahan teknik menjadi basis yang esensial dalam rangka membangun sumber daya manusia dalam perusahaan. Meskipun investasi dalam mengakuisisi keahlian dan pengetahuan operasional adalah kondisi dasar yang dibutuhkan, investasi dalam keahlian dan pengetahuan untuk mengelola perubahan teknik bersifat tambahan dan pilihan. Dan terdapat banyak alasan untuk mengasumsikan perusahaan kurang berinvestasi dalam bidang ini. Oleh karenanya diperlukan peran intervensi kebijakan yang bentuknya berbeda dari yang selama ini direkomendasikan.

Pengalaman Akumulasi Teknologi di Negara Maju
1. Karakteristik Kunci Akumulasi Teknologi
a. Input-input Sumber Daya
Sumber daya yang dibutuhkan untuk mengakumulasi kemampuan teknologi lebih bervariasi dari yang disarankan oleh model proses inovasi yang sederhana. Riset formal hampir tidak pernah menjadi aktivitasnya yang utama dalam mengelola perubahan teknik. Hal ini karena sifat mendasar yang dimiliki oleh teknologi adalah kompleksitas yang diwakili oleh banyak indikator kinerja serta berbagai keterbatasan yang dimilikinya, yang tidak mungkin secara akurat diprediksi oleh teori dan model yang sederhana atau bahkan terspesifikasi dalam cetak biru dan petunjuk operasionalnya. Oleh karenanya usaha yang bersifat uji coba dan pengalaman yang diperoleh menjadi bagian penting usaha meningkatkan kemampuan teknologi. Sehingga pengeluaran untuk mendesain, membangun dan penguji coba produk prototipe di perusahaan menjadi lebih besar ketimbang pengeluaran untuk penelitiannya sendiri. Implementasi perubahan teknik seringkali membutuhkan biaya yang besar dalam hal desain dan rekayasa proses dan produk yang juga menjadi tempat berlangsungnya akumulasi pengetahuan baru dan menjadi wahana mengubah pengetahuan tersebut menjadi aktivitas perubahan teknik yang sebenarnya. Seperti yang terjadi di perusahaan Jepang, keahlian dan pengetahuan ini dapat mendorong peningkatan yang terus-menerus yang menjadi sumber daya saing dalam menghadapi pasar internasional (Imai, 1986).
b. Pengetahuan yang Tacit dan Spesifik
Proses akumulasi teknologi lebih banyak melibatkan pengetahuan yang tacit. Hal ini karena kompleksitas teknologi tidak dapat direduksi menjadi resep praktek yang sederhana dan mudah dimengerti tetapi melibatkan rule of thumb yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman sendiri. Sehingga transfer teknologi agar tingkat penggunaannya efisien tidaklah berlangsung cepat dan tanpa biaya karena ia membutuhkan akusisi pengalaman. Lebih dari itu, komponen pengetahuan yang diperlukan dalam perubahan teknik yang bersifat tacit jauh lebih besar dan proses transfernya lebih mahal dan lama dibanding pengetahuan untuk mengoperasikan. Tidaklah mengherankan apabila ahli sejarah ekonomi memberikan penekanan yang penting pada mobilitas tenaga kerja sebagai mekanisme kunci yang utama di dalam penyebaran difusi teknologi selama periode industrialisasi di Amerika, Perancis dan Jerman.
Baik tacit maupun tidak, keahlian dan pengetahuan sangatlah bersifat spesifik terhadap setiap kategori produk dan proses. Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin kompleks, kekhususan pengetahuan dan keahlian ini menjadi semakin meningkat. Perusahaan yang ingin mengakuisisi teknologi yang baru seringkali harus membentuk aliansi strategis dengan pihak lain untuk mendapatkannya.
c. Pentingnya Perusahaan
Karena karakteristiknya yang spesifik, kumulatif dan sebagian tacit, maka kemampuan teknologi terlokalisasi di perusahaan yang identik dengan pembelajaran dari pengalaman yang spesifik dalam mengoperasikan dan mengembangkan sistem produksi. Sehingga karakteristik akumulasi teknologi di perusahaan bervariasi menurut kelompok produk, ukuran perusahaan dan tingkat pengembangannya. Ukuran investasi penelitian dan pengembangan hanyalah merupakan ‘puncak gunung es’ karena ia merupakan salah satu dari jenis akumulasi dari perusahaan besar yang berbasis teknologi. Di perusahaan yang lebih kecil, aktivitasnya seringkali bersifat paruh waktu dan tersembunyi dalam istilah desain dan rekayasa produk. Studi-studi menunjukkan bahwa fungsi litbang, desain dan rekayasa muncul dari fungsi yang terspesialisasi dalam perusahaan yang berasal dari aktivitas pengendalian kualitas dan manajemen produksi (Mowery & Rosenberg, 1989).
Dalam literatur penelitian manajemen, terdapat tradisi yang produktif dalam megidentifikasi kondisi yang sesuai untuk mengelola perubahan teknik di perusahaan yang telah mengakumulasi kemampuan teknologi secara memadai. Dinyatakan keberhasilan pada tingkat proyek tergantung pada efektivitas integrasi antara spesialisasi, hubungan yang efektif dengan pihak luar serta kebutuhan yang sesungguhnya dari pelanggan. Namun faktor-faktor yang menentukan pilihan strategis perusahaan terhadap pilihan teknologi dan diversifikasinya sebelum itu belumlah dipahami secara mendalam.
Kegagalan dalam memahami karakteristik akumulasi inilah yang menjadi titik lemah kebijakan teknologi di Uni Soviet dan negara sekutunya, dimana fungsi litbang dan desain dipisahkan dari unit produksi baik secara geografis maupun organisasi. Bahkan kebijakan sejenis juga diikuti oleh negara berkembang dimana laboratorium dan lembaga milik pemerintah dibangun dengan mengharapkan hasil yang baik tanpa menyeimbangkan dengan kemampuan teknologi yang ada di perusahaannya.
d. Hubungan dan Jaringan Antarperusahaan
Meskipun peran perusahaan secara individu adalah penting, perusahaan tidaklah dapat diasumsikan mengakumulasi sendiri teknologinya dalam keterasingan. Perubahan teknik dihasilkan melalui interaksi yang kompleks dengan berbagai perusahaan lain. Beberapa melibatkan hubungan berantai antara para pemasok dan para pelanggan. Sebagian yang lain melibatkan kerjasama horizontal diantara para pesaing dan perusahaan penunjang lainnya serta lembaga penelitian milik publik. Dalam sektor industri yang dinamis, hubungan pengguna dan produser menjadi sangat erat. Bahkan dalam sistem ekonomi yang sentralistik pun, terdapat struktur hubungan yang erat antara pemasok dan perusahaan penggunanya. Sehingga dalam konteks ini, proses akumulasi kemampuan teknologi haruslah melibatkan usaha membangun berbagai macam struktur kelembagaan yang memungkinkan perusahaan berinteraksi dalam menciptakan dan meningkatkan efisiensi teknologi yang digunakan.
e. Sifat Kumulatif
Pembelajaran yang dilakukan oleh perusahaan, meskipun diperkuat oleh hubungan dengan perusahaan yang lain adalah bersifat kumulatif. Karena adanya sifat teknologi yang tacit dan spesifik, perusahaan pada dasarnya tidak dapat belajar secara serempak berbagai jenis teknologi dan sistem organisasinya atau mereka dapat begitu saja masuk ke bidang atau jenis teknologi yang sama sekali baru. Bahkan perusahaan sebenarnya menempuh sebuah trajektori tertentu dimana aktivitas pembelajaran sebelumnya memberikan arah pada perubahan teknik dan pengalaman sebelumnya menambah dan memperkuat stok sumber daya pengetahuan dan keahlian yang telah ada.
Sifat kumulatif teknologi mempunyai tiga implikasi penting. Pertama, perbedaan tingkat efisiensi teknik antar negara terjadi tidak saja karena perbedaan sumber daya yang tersedia atau hambatan masuk tetapi juga oleh perbedaan kemampuan teknologi yang diakumulasinya. Kedua, kemampuan teknologi di tingkat nasional tidak dapat dibangun secara cepat. Dan ketiga, laju dan komposisi akumulasi teknologi sebuah negara tidak hanya berpengaruh pada efisiensi pada jangka pendek tetapi juga pada pengembangan fondasi baru untuk daya saing di masa yang akan datang.
f. Ketidaksinambungan Dalam Perubahan Teknik
Karakteristik yang kumulatif tidaklah berarti perubahan teknik terus bersifat inkremental. Pada bagian tertentu terdapat ketidaksinambungan yang signifikan dimana melibatkan perubahan yang radikal dalam teknologi utama produk dan proses atau perubahan radikal dalam sistem arsitektur yang membutuhkan basis pengetahuan yang sama sekali baru untuk menciptakan daya saing. Namun demikian proses akumulasi teknologi yang selama ini dibangun seringkali mampu mengatasi hambatan ini, dengan melakukan antisipasi sebelumnya atau dengan berkolaborasi dengan pihak lain. Namun seringkali pula perusahaan tidak mampu lagi bertahan, dan trajektori teknologi kemudian diteruskan oleh perusahaan baru. Meskipun demikian, perusahaan baru tersebut tidaklah melakukan lompatan yang panjang dalam basis pengetahuannya, tetapi mengikuti trajektorinya sendiri menuju bidang pengetahuan yang baru.
g. Perusahaan Industri Sebagai Penghasil Sumber daya Manusia
Beberapa pandangan terhadap peran sumber daya manusia memberikan penekanan pada pendidikan dan pelatihan formal pada lembaga di luar perusahaan. Seringkali perusahaan juga dilihat sebagai pengguna sumber daya tersebut yang tergambar dalam istilah on the job training. Pandangan tersebut kurang menekankan pentingnya peran perusahaan dalam menghasilkan sumber daya manusia di dalam proses akumulasi kemampuan teknologi seperti pengalaman negara Jepang dan Jerman yang secara efektif mendapatkan keuntungan dari dinamika akumulasi kemampuan teknologi.
Pandangan lain menekankan pada learning by doing sebagai mekanisme yang penting dan pentingnya pengetahuan yang tacit menekankan pada aspek doing sebagai mekanisme pembelajaran. Namun demikian ada dua penjelasan yang perlu diperhatikan sehubungan dengan learning by doing ini. Pertama, melakukan sesuatu tidaklah mencukupi untuk belajar sesuatu yang lain, sehingga pengetahuan dan keahlian dalam melakukan aktivitas rutin tidaklah sama dengan yang diperlukan untuk melakukan perubahan teknik. Kedua, berbagai jenis aktivitas doing dalam akumulasi teknologi tidaklah secara sederhana merupakan proses yang didapat melalui kegiatan lain yang tujuannya jelas-jelas berbeda. Usaha akumulasi teknologi ini harus dilihat sebagai sebuah upaya yang berbeda yang sering bersifat spesifik, memerlukan biaya dan disengaja.
Sehingga dalam konteks ini, kontribusi perusahaan terhadap kemampuan sumber daya manusia tidaklah berbeda jauh dengan lembaga yang aktivitasnya khusus berhubungan dengan pendidikan dan pelatihan, meskipun keduanya tidak dapat saling menggantikan. Ada keahlian dan pengetahuan yang hanya didapat melalui pembelajaran di internal perusahaan. Karena manfaat penuh tidak dapat diperoleh dari usaha tersebut, maka disinyalir adanya investasi yang kurang dari sisi perspektif sosial dan juga individu perusahaan, sehingga intervensi kebijakan menjadi penting untuk mendorong usaha tersebut.
h. Komplementaritas antara Teknologi yang Diimpor dengan Usaha Akumulasi Teknologi Lokal
Teknologi yang diimpor dari negara lain merupakan elemen yang esensial bagi perkembangan industri di negara maju. Hal ini penting baik untuk mereka yang ingin mengejar menuju garis depan teknologi atau yang berada di dekatnya, sehingga terdapat proporsi perdagangan teknologi internasional yang lebih besar antara sesama negara maju dibanding antara negara maju dan berkembang. Dukungan yang kuat akan hal ini juga mencul dari data inovasi di negara maju banyak yang bersifat imitatif dan digunakan untuk memonitor, memodifikasi dan mengasimilasi teknologi yang ditemukan di negara lain. Fenomena ini memunculkan dua isu penting yaitu pertama, tidak ada perbedaan yang jelas antara aktivitas dan sumber daya yang diperlukan untuk kegiatan inovasi dan imitasi. Yang kedua, argumentasi bahwa mengimpor teknologi dan menciptakannya secara lokal sebagai alternatif untuk menghasilkan perubahan teknik tidak menggambarkan pengalaman di negara maju dimana impor teknologi dan usaha lokal bersifat komplementer.
2. Pasar, Pemerintah dan Institusi
a. Struktur Pasar dan Tekanan Persaingan
Studi-studi tentang pengaruh struktur pasar terhadap kinerja teknologi di negara maju tidaklah memberikan informasi yang memadai. Hal ini karena studi terakhir menunjukkan bahwa struktur industri bersifat endogen yang dipengaruhi oleh kesempatan teknologi dan tingkat manfaat yang didapat. Ketika keduanya tinggi, maka konsentrasi menjadi tinggi dan jenis perusahaan yang melakukan inovasi adalah yang besar sementara kalau kesempatannya tinggi dengan appropriabilitas yang rendah maka perusahaan yang berinovasi adalah perusahaan yang kecil. Namun demikian pentingnya tekanan persaingan sebagai insentif untuk melakukan akumulasi teknologi muncul dari studi daya saing yang dilakukan oleh Porter (1990) serta studi statistik aktivitas teknologi perusahaan besar dunia oleh Patel dan Pavitt (1992). Kurangnya persaingan ini pulalah yang menyebabkan perusahaan di negara komunis tidak mempunyai insentif untuk mengadopsi teknik produksi yang lebih efisien.
Pada masa industrialisasi di negara yang baru maju, pemerintahnya melakukan proteksi terhadap industri baru terhadap persaingan dengan negara lain yang telah lebih maju. Tingkat dan lamanya proteksi bervariasi namun hubungan antara proteksi dan pembelajaran masih belum banyak diketahui. Ada yang pendek dan ada yang panjang, namun seperti yang ditunjukkan dalam kasus industri otomotif di Jepang, lamanya proteksi menjadi penting dalam membangun kemampuan penguasaan teknologi.
b. Pemerintah dan Kegagalan Pasar : Pendidikan, Pelatihan dan Penelitian
Hampir semua pemerintah di negara yang berorientasi pasar bebas mempunyai kebijakan dasar yang mirip yang dimaksudkan secara eksplisit untuk mempengaruhi arah dan laju perubahan teknik yang dijustifikasi oleh adanya kegagalan pasar. Kebijakan tersebut meliputi memberlakukan berbagai standar teknis, penciptaan pengetahuan melalui penelitian serta difusi pengetahuan melalui pendidikan dan pelatihan. Terdapat eksternalitas yang signifikan dalam aktivitas tersebut dalam pengertian manfaat yang penuh tidak dapat diambil semuanya oleh perusahaan yang melakukan investasi, sehingga diperlukan peran pemerintah untuk mendorongnya. Diantara yang dilakukan adalah memberlakukan hak kekayaan intelektual dan memberikan dukungan finansial terhadap aktivitas litbang. Kontribusi pemerintah sangatlah besar dalam bidang pendidikan dan pelatihan. Namun demikian terdapat perbedaan dalam hal kinerja diantara negara maju, yang semakin kentara dalam tingkat pendidikan dan pelatihan dua pertiga populasi yang tidak mendapat kesempatan pendidikan tinggi.
c. Manfaat Ekonomi Penelitian Akademis
Teori konvensional banyak mengabaikan analisis tentang kontribusi ekonomi penelitian akademis. Pertama, banyak ekonom yang menggunakan model proses inovasi linier yang sederhana mengasumsikan manfaat dari penelitian akademis berupa informasi dalam bentuk publikasi yang menjadi input bagi aplikasi teknologi di industri. Kedua, para sosiolog banyak yang terfokus pada publikasi ilmiah sebagai hasil utama, kalau bukan satu-satunya, dari penelitian akademis. Kedua pandangan ini salah karena banyak studi yang menyatakan bahwa manfaat utama dari kegiatan penelitian bukanlah informasi dalam publikasi ilmiah melainkan pasokan sumber daya manusia yang mempunyai pengetahuan dan keahlian akan metodologi riset dan instrumentasi serta hubungan dengan jaringan profesional dan akademisi. Sehingga kebijakan yang bermaksud mengembangkan kapasitas penelitian akademis telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap akumulasi kemampuan teknologi meskipun secara tidak langsung dapat memberikan input yang dapat dilacak bagi aktivitas inovasi.
d. Intervensi Kebijakan dan Ketidaksinambungan Teknologi
Biaya dan resiko perubahan teknik dan pembelajaran teknologi bervariasi sesuai dengan jarak lompatan yang diinginkan dengan kompetensi teknologi yang sudah dimiliki. Hal ini menyebabkan pemerintah di negara maju mendukung penuh upaya untuk melakukan lompatan yang jauh dalam garis depan tingkat teknologi. Meskipun didominasi oleh kegiatan inovasi yang bersifat imitatif, negara industri yang baru majupun menghadapi risiko yang tinggi ketika mereka melakukan lompatan yang jauh menuju garis depan teknologi. Resiko ini dapat bersifat teknis maupun yang berhubungan dengan kinerja pasar. Berdasarkan studi perusahaan Jepang, tingkat resiko teknis tergantung pada ekspektasi tujuan pembelajaran, makin tinggi tujuannya, makin beresiko dan dapat mencapai lompatan pembelajaran yang tinggi (Nakaoka, 1987). Pemerintah Jepang dalam hal ini mendukung upaya pembelajaran yang beresiko ini dengan menyediakan bantuan keuangan untuk mengurangi resiko, memberikan dana pelatihan untuk keahlian tertentu dan memberikan akses pasar selama masa pembelajaran.
e. Komplementaritas Antara Infrastruktur Kelembagaan dan Perusahaan
Untuk mendorong proses difusi pengetahuan serta mendukung peran regulator pemerintah, seluruh negara maju membangun lembaga di luar perusahaan untuk menghasilkan pengetahuan dan informasi baru yang dibutuhkan oleh sektor industri. Lembaga ini meliputi yang bersifat publik dan semi publik seperti universitas, lembaga litbang pemerintah dan pusat penelitian yang disubsidi serta juga bersifat komersial seperti organisasi yang melakukan kontrak riset dan pusat penelitian yang didanai oleh perusahaan. Hasil dari lembaga ini menjadi input bagi perusahaan industri. Namun yang lebih penting adalah komplementaritas aktivitas inovasi di kedua jenis organisasi tersebut.
Sangatlah jarang infrastruktur kelembagaan ini menghasilkan inovasi yang langsung dapat diaplikasikan oleh perusahaan. Yang sering terjadi adalah mereka menghasilkan hanya sebagian dari perangkat pengetahuan dan keahlian yang diperlukan oleh perusahaan untuk melakukan perubahan teknik. Meskipun karakteristik hubungan perusahaan dan infrastruktur ini belum banyak diketahui, beberapa studi menunjukkan bahwa perusahaan yang bekerja sama dengan mereka adalah perusahaan yang intensitasnya litbangnya tinggi yang ingin mencari input yang spesifik untuk melengkapi usaha inovasi internal yang selama ini dilakukan.
f. Lembaga Finansial dan Manajemen
Adanya perbedaan yang menetap dalam hal akumulasi teknologi diantara negara maju dapat dijelaskan sebagian oleh perbedaan kondisi ekonomi makro. Pandangan yang lain mengemukakan adanya perbedaan karakteristik kelembagaan yang berhubungan dengan masalah finansial dan manajemen. Sehingga saat ini telah muncul pandangan yang menyatakan bahwa sistem keuangan yang berlaku di Jepang dan Jerman lebih efektif daripada sistem Anglo-Saxon dalam mencapai tujuan jangka panjang seperti akumulasi kemampuan teknologi. Demikian pula manajemen korporasi yang berorientasi keuntungan jangka pendek dan tingkat hirarkinya tinggi mendapat kritik yang tajam.
Inti sebenarnya dari diskusi di atas adalah bagaimana mendesain sistem kelembagaan yang mendukung mekanisme pasar dalam mengevaluasi dan mendorong proses akumulasi teknologi. Tambahan pula, karena konsekuensi dari ketidaksempurnaan dalam appropriabilitas, maka proses spesialisasi dan profesionalisasi akan mengakibatkan investasi yang lebih rendah dari yang diinginkan dalam hal pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh dua alasan yaitu pertama, potensi manfaat dari pembelajaran tidaklah lagi dapat cepat dirasakan dan bersifat kasat mata tetapi lebih bersifat jangka panjang dan tidak pasti. Yang kedua, pengetahuan yang diperlukan untuk mengevaluasi secara akurat manfaat pembelajaran menjadi semakin kompleks dan tidak seorangpun yang mengetahuinya.
Dalam konteks ini teknik penilaian proyek yang digunakan oleh para manajer dan pembuat kebijakan menjadi tidak memadai lagi karena sepenuhnya mengabaikan pilihan manfaat yang ditawarkan pembelajaran teknologi yang bersifat path dependent. Dari sisi lembaga finansial, haruslah banyak sarjana teknik yang dapat mengimbangi ‘rabun jauh’ yang diidap oleh para akuntan dan lulusan sekolah bisnis dalam memahami investasi teknologi.
Beberapa bidang analisis ekonomi pada tahun 80-an kembali memberikan perhatian akan pentingnya pembelajaran teknologi dan perubahan teknik dalam jangka panjang. Bahkan isu ini menjadi ciri utama teori baru tentang perdagangan dan pertumbuhan. Pembelajaran teknologi dan perubahan teknik telah menjadi salah satu faktor utama yang menjelaskan perbedaan pertumbuhan dan kinerja perdagangan diantara negara maju serta menjadi sandaran setiap analisis yang mempelajari mengapa negara yang kondisi awal pendapatannya berbeda seiring dengan waktu menjadi menyatu dan menyebar.
Tulisan ini akan mendiskusikan tentang aktivitas akumulasi kemampuan teknologi di negara maju sebagai panduan untuk memahami situasi kontemporer di negara berkembang. Karena proses dasar yang terjadi dalam pembelajaran teknologi dan perubahan teknik berbeda secara fundamental antara sektor pertanian dan industri, maka bab ini akan terfokus pada sektor industri. Di sektor inilah yang mungkin paling banyak terjadi kekecewaan terhadap hasil yang didapat dalam rangka mengejar ketertinggalan, paling tidak relatif terhadap harapan yang telah ada sebelumnya.
Bahkan pada awal periode tersebut, telah ada pemahaman akan kesulitan yang dihadapi dalam mentransfer teknologi pertanian dari negara maju ke negara berkembang. Namun demikian karena karakteristik sektor industri yang tidak terlalu spesifik terhadap lokasi maka diasumsikan negara berkembang lebih mempunyai kesempatan di sektor ini dengan mengambil keuntungan dari difusi teknologi tinggi yang produktif yang telah tersedia dari negara maju. Model yang mendasari argumentasi ini mengambil posisi yang jelas dalam membedakan antara inovasi dan difusi dan diyakini negara berkembang dapat memanfaatkan kesempatan difusi ini tanpa harus mengeluarkan biaya kegiatan inovasi. Akibatnya, ada harapan negara berkembang mencapai pertumbuhan yang tinggi dalam hal produktivitas tenaga kerja dan mungkin pula faktor produktivitas total apabila investasi dalam modal fisik dilakukan secara memadai.
Bell dan Pavitt berpendapat bahwa harapan awal yang optimis akan berhasilnya difusi teknologi ke negara berkembang ini merupakan kekeliruan dan semakin nampak seiring dengan berubahnya karakteristik teknologi di industri. Di negara yang perekonomiannya tergantung dari meminjam teknologi dari luar, akumulasi teknologi disalahartikan dengan mengakumulasi teknologi yang terkandung dalam barang modal. Bahkan proses perubahan teknik di industri yang dinamis di negara berkembang tidaklah sama dengan proses mengadopsi teknologi yang digambarkan dalam model inovasi dan difusi yang konvensional. Konsekuensinya, mereka berdua berpendapat kebijakan teknologi yang didasarkan pada persepsi tersebut akan lebih banyak menghambat daripada meningkatkan kemampuan teknologi negara berkembang dalam mengejar ketertinggalannya.
Dalam menggambarkan realitas proses ini, kita perlu melihat permasalahannya secara mendasar di tingkat mikro dan mengambil pengalaman empiris yang telah ada. Sementara itu karakteristik proses ini telah membawa beberapa akademisi untuk mengembangkan teori evolusi yang menekankan pentingnya dinamika persaingan melalui aktivitas imitasi dan inovasi yang terus-menerus, yang penuh dengan ketidaksetimbangan, ketidakpastian, pembelajaran, disertai perbedaan kemampuan dan perilaku yang ada antarperusahaan dan negara (Nelson & Winter, 1982). Dengan mengumpulkan bukti empiris tentang proses yang terjadi di negara maju, berkembang serta negara sosialis, karakteristik umum dan yang berbeda dalam proses akumulasi kemampuan teknologi dan perubahan teknik dapat diketahui.
Kerangka Analisis
Proses perubahan teknik di industri secara konvensional dipahami melibatkan dua aktivitas. Pertama, melakukan pengembangan dan komersialisasi untuk pertama kali. Kedua, menyebarkan aplikasinya di seluruh sektor ekonomi yang disebut sebagai difusi. Aktivitas yang pertama diasumsikan terjadi sebagian besar di negara maju dan terjadi di negara berkembang ketika kemampuan mereka mulai berada di tingkat teknologi maju seperti Korea dan Taiwan yang ditunjukkan oleh data paten yang tercatat di negara maju. Sebelum tahap tersebut dicapai, negara berkembang diasumsikan berada pada aktivitas difusi teknologi dan karena aktivitas tersebut dipandang hanya berkaitan dengan pemilihan dan adopsi teknologi, maka inovasi yang kreatif dianggap tidak relevan. Dari perspektif ini maka akumulasi teknologi di negara berkembang dipandang hanya melibatkan teknologi yang terkandung dalam barang modal yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dengan teknik tertentu pada fungsi produksi yang efisien.
Sejatinya, difusi melibatkan lebih dari sekadar akuisisi barang modal dan desain produk dan asimilasi pengetahuan cara pengoperasiannya. Difusi sebenarnya melibatkan perubahan teknik yang bertahap dan terus-menerus dimana teknologi yang bersumber dari proses inovasi, diadaptasikan dengan kondisi penggunaan yang berbeda dari spesifikasi awal serta ditingkatkan untuk mencapai standar kinerja yang lebih tinggi dari sebelumnya. Fakta ini pada dasarnya telah dicatat dalam observasi yang dilakukan oleh Rosenberg (1972, 1976) dan Metcalf (1988).
Yang kurang mendapat perhatian adalah bahwa aktivitas inovasi yang kreatif ini sebenarnya melibatkan dua fase dalam proses aplikasi difusi teknologi. Pertama, karakteristik dasar teknologi awal dapat ditingkatkan dan diadaptasi yang disesuaikan dengan kondisi sistem produksi yang baru. Proses yang sebenarnya kompleks dan kreatif ini tidak tertangkap dalam istilah yang sederhana seperti adopsi dan pilihan teknologi. Pentingnya proses ini telah ditekankan oleh Voss (1988) yang mengambil kasus adopsi teknologi manufaktur di negara maju dan Amsalem (1983) dalam adopsi teknologi tekstil dan kertas di negara berkembang. Kedua, setelah teknologi baru diaplikasikan pada sistem produksi, perubahan teknik terjadi sepanjang seluruh waktu operasi fasilitas produksi tersebut. Proses ini meliputi adaptasi dan modifikasi yang meningkatkan kinerja penggunaan teknologi dan mengantisipasi perubahan dalam input dan pasar. Analisis tentang kurva pembelajaran telah menunjukkan keuntungan ekonomi yang signifikan dari aktivitas inovasi yang kreatif tersebut, namun kurang menonjolkan proses internal yang sebenranya terjadi, yang sejatinya dihasilkan oleh perubahan teknik yang kreatif seperti yang digambarkan oleh penurunan biaya di Pabrik Du Pont setelah mengakuisisi teknologi dari Eropa (Hollander, 1965) dan kasus peningkatan yang terus-menerus di perusahaan Jepang (Imai, 1986). Sementara untuk kasus di negara berkembang, dapat dilihat pada kasus yang dibahas oleh Dahlman dan Fonseca (1987) untuk industri baja di Brazil serta Enos dan Park (1988) untuk industri petrokimia di Korea. Sementara dari dimensi pentingnya sisi organisasi dalam proses perubahan teknik dapat dilihat pada Hoffman (1989), Meyer-Stamer dkk (1991) dan Mody (1992).
Dalam proses di atas, sangat penting untuk ditekankan bahwa pengguna dan pengadopsi teknologi memegang peran yang signifikan dalam dua fase perubahan teknik tersebut. Mengadaptasi teknologi yang diimpor terhadap kondisi lokal mengharuskan adanya sumber input dari pihak pemasok namun melibatkan peran yang aktif dari sisi pengguna baik secara independen maupun interaksi antara kedua belah pihak. Pihak pengguna dapat ikut menentukan spesifikasi dan desain dari barang modal yang mereka butuhkan. Sehingga dalam perusahaan yang dinamika teknologinya tinggi, pengguna biasanya mempunyai peran yang aktif yang menyebabkan mereka pada dasarnya adalah inovator yang kreatif.
Di negara maju, perusahaan biasanya, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda, telah memiliki kemampuan menggunakan teknologi secara kreatif dan aktif. Sementara di negara berkembang, kemampuan ini baru ada setelah adanya akuisisi pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang lebih dari sekedar mengoperasikan teknologi impor tersebut. Mereka harus mengakuisisi pengetahuan yang lebih mendalam sehingga mampu mengelola proses perubahan teknik seperti mengaplikasikan teknologi baru dalam sistem produksi yang telah ada, melakukan investasi baru dalam aplikasi yang lain, memodifikasi input dan output produksi untuk memeneuhi permintaan pasar yang berubah. Mereka juga dapat mengakuisisi teknologi dengan mengakuisisi perusahaan lain yang memungkinkan mereka memperkenalkan perubahan teknik yang lebih substansial dan radikal. Ketika perusahaan sudah demikian maju dari sisi kemampuan teknologi, maka ia dapat melakukan perubahan teknik yang sering kita sebut sebagai inovasi.
Sehingga meskipun negara berkembang menggantungkan diri pada teknologi yang berasal dari luar, terdapat berbagai tingkat manfaat dan keuntungan yang didapat dari mengoperasikan teknologi tersebut. Secara khusus intensitas mereka dalam mengakumulasi kemampuan dalam mengelola perubahan teknik akan menjadi variabel yang menentukan kinerja. Variabel lainnya yang juga penting adalah efisiensi investasi kapasitas produksi, laju pertumbuhan produktivitas faktor total dalam perusahaan dan industri serta tingkat daya saing spesifikasi dan desain produknya. Dalam jangka panjang, intensitas usaha tersebut di atas akan mempengaruhi variabel yang lain seperti kekuatan hubungan ke belakang dan ke depan dengan pemasok dan pelanggan, kemudahan perubahan struktural ke produksi yang intensitas teknologinya lebih tinggi dan kemampuan untuk masuk ke pasar produk yang baru.
Dari penjelasan di atas, maka konsep konvensional yang menyatakan aktivitas inovasi mendahului aktivitas difusi menjadi tidak berguna dalam menjelaskan dinamika industrialisasi di negara berkembang. Berbagai alternatif definisi telah diusulkan seperti penguasaan teknologi, kemampuan teknologi, kapasitas teknologi, usaha teknologi, dan pembelajaran teknologi (Teitel, 1982; Katz, 1984; Bell dkk, 1984; Dahlman dkk, 1987; Enos, 1991; Zahlan, 1991; Lall, 1987, 1990).
Pendekatan Bell dan Pavitt perlu mendapat perhatian di sini. Mereka membedakan antara dua stok sumber daya yaitu kapasitas produksi dan kemampuan teknologi. Yang pertama berkaitan dengan sumber daya yang diperlukan untuk memproduksi produk pada tingkat efisiensi tertentu dan inputi tertentu seperti tenaga kerja, barang modal, spesifikasi produk dan input dan sistem organisasi yang digunakan. Sementara yang kedua berhubungan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan dan mengelola perubahan teknik seperti keahlian, pengetahuan dan pengalaman serta struktur dan hubungan kelembagaan. Bell dan Pavitt menekankan untuk membedakan keduanya dalam rangka untuk memahami dinamika industrialisasi dan sumber daya yang diperlukan untuk membangkitkan dan mengelola dinamika tersebut.
Dalam Gambar 1 Bell dan Pavitt juga mengidentifikasi dua proses yaitu perubahan teknik dan pembelajaran atau akumulasi teknologi. Yang pertama berkaitan dengan proses dimana teknologi baru diadopsikan pada kapasitas produksi perusahaan, sementara yang kedua berkaitan dengan proses dimana sumber daya dan kemampuan mengelola perubahan teknik ditingkatkan dan diperkuat. Proses akumulasi dan pembelajaran inilah yang harus menjadi perhatian. Perubahan teknik yang terjadi di perusahaan dapat mengambil dua bentuk yaitu adopsi teknologi baru pada investasi baru atau ekspansi yang substansial dari kapasitas produksi yang sudah ada dan yang kedua, mengadopsi secara inkremental inovasi kreatif dari teknologi yang digunakan tersebut.
Ada dua alasan mendasar mengapa perhatian harus terfokus terhadap kemampuan teknologi baik secara analitis maupun kebijakan. Pertama, sumber daya tak nampak yang diperlukan dalam menghasilkan dan mengelola perubahan teknik tidak lagi dapat dipandang marjinal dalam konteks sumber daya yang urgen bagi perusahaan. Sumber daya ini menjadi signifikan secara kuantitatif yang termanifestasi dalam sistem produksi yang intensitas pengetahuan dan perubahan teknologi yang semakin meningkat. Di negara maju, banyak perusahaan yang nilai investasinya dalam penelitian dan pengembangan lebih besar dari nilai investasi dalam barang modal. Pada saat yang sama, perusahaan juga meningkatkan investasinya dalam pengembangan sumber daya manusia dari aspek keahlian dan pengetahuan serta mekanisme kelembagaan dalam perusahaan untuk mendorongnya. Kedua, adanya pergeseran kualitatif dalam sumber daya pengetahuan yang digunakan oleh perusahaan industri dengan munculnya pembedaan antara keahlian dan pengetahuan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem produksi dan untuk melakukan perubahan teknik terhadapnya. Kesenjangan antara keduanya menyebabkan sumber daya untuk perubahan teknik tidak dapat diperoleh hanya dengan mengandalkan pengalaman yang didapat dari mengoperasikan sistem produksi yang telah ada. Konsekuensinya investasi yang secara eksplisit ditujukan untuk mengakumulasi kemampuan teknologi yang diperlukan dalam mengelola perubahan teknik menjadi basis yang esensial dalam rangka membangun sumber daya manusia dalam perusahaan. Meskipun investasi dalam mengakuisisi keahlian dan pengetahuan operasional adalah kondisi dasar yang dibutuhkan, investasi dalam keahlian dan pengetahuan untuk mengelola perubahan teknik bersifat tambahan dan pilihan. Dan terdapat banyak alasan untuk mengasumsikan perusahaan kurang berinvestasi dalam bidang ini. Oleh karenanya diperlukan peran intervensi kebijakan yang bentuknya berbeda dari yang selama ini direkomendasikan.

Pengalaman Akumulasi Teknologi di Negara Maju
1. Karakteristik Kunci Akumulasi Teknologi
a. Input-input Sumber Daya
Sumber daya yang dibutuhkan untuk mengakumulasi kemampuan teknologi lebih bervariasi dari yang disarankan oleh model proses inovasi yang sederhana. Riset formal hampir tidak pernah menjadi aktivitasnya yang utama dalam mengelola perubahan teknik. Hal ini karena sifat mendasar yang dimiliki oleh teknologi adalah kompleksitas yang diwakili oleh banyak indikator kinerja serta berbagai keterbatasan yang dimilikinya, yang tidak mungkin secara akurat diprediksi oleh teori dan model yang sederhana atau bahkan terspesifikasi dalam cetak biru dan petunjuk operasionalnya. Oleh karenanya usaha yang bersifat uji coba dan pengalaman yang diperoleh menjadi bagian penting usaha meningkatkan kemampuan teknologi. Sehingga pengeluaran untuk mendesain, membangun dan penguji coba produk prototipe di perusahaan menjadi lebih besar ketimbang pengeluaran untuk penelitiannya sendiri. Implementasi perubahan teknik seringkali membutuhkan biaya yang besar dalam hal desain dan rekayasa proses dan produk yang juga menjadi tempat berlangsungnya akumulasi pengetahuan baru dan menjadi wahana mengubah pengetahuan tersebut menjadi aktivitas perubahan teknik yang sebenarnya. Seperti yang terjadi di perusahaan Jepang, keahlian dan pengetahuan ini dapat mendorong peningkatan yang terus-menerus yang menjadi sumber daya saing dalam menghadapi pasar internasional (Imai, 1986).
b. Pengetahuan yang Tacit dan Spesifik
Proses akumulasi teknologi lebih banyak melibatkan pengetahuan yang tacit. Hal ini karena kompleksitas teknologi tidak dapat direduksi menjadi resep praktek yang sederhana dan mudah dimengerti tetapi melibatkan rule of thumb yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman sendiri. Sehingga transfer teknologi agar tingkat penggunaannya efisien tidaklah berlangsung cepat dan tanpa biaya karena ia membutuhkan akusisi pengalaman. Lebih dari itu, komponen pengetahuan yang diperlukan dalam perubahan teknik yang bersifat tacit jauh lebih besar dan proses transfernya lebih mahal dan lama dibanding pengetahuan untuk mengoperasikan. Tidaklah mengherankan apabila ahli sejarah ekonomi memberikan penekanan yang penting pada mobilitas tenaga kerja sebagai mekanisme kunci yang utama di dalam penyebaran difusi teknologi selama periode industrialisasi di Amerika, Perancis dan Jerman.
Baik tacit maupun tidak, keahlian dan pengetahuan sangatlah bersifat spesifik terhadap setiap kategori produk dan proses. Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin kompleks, kekhususan pengetahuan dan keahlian ini menjadi semakin meningkat. Perusahaan yang ingin mengakuisisi teknologi yang baru seringkali harus membentuk aliansi strategis dengan pihak lain untuk mendapatkannya.
c. Pentingnya Perusahaan
Karena karakteristiknya yang spesifik, kumulatif dan sebagian tacit, maka kemampuan teknologi terlokalisasi di perusahaan yang identik dengan pembelajaran dari pengalaman yang spesifik dalam mengoperasikan dan mengembangkan sistem produksi. Sehingga karakteristik akumulasi teknologi di perusahaan bervariasi menurut kelompok produk, ukuran perusahaan dan tingkat pengembangannya. Ukuran investasi penelitian dan pengembangan hanyalah merupakan ‘puncak gunung es’ karena ia merupakan salah satu dari jenis akumulasi dari perusahaan besar yang berbasis teknologi. Di perusahaan yang lebih kecil, aktivitasnya seringkali bersifat paruh waktu dan tersembunyi dalam istilah desain dan rekayasa produk. Studi-studi menunjukkan bahwa fungsi litbang, desain dan rekayasa muncul dari fungsi yang terspesialisasi dalam perusahaan yang berasal dari aktivitas pengendalian kualitas dan manajemen produksi (Mowery & Rosenberg, 1989).
Dalam literatur penelitian manajemen, terdapat tradisi yang produktif dalam megidentifikasi kondisi yang sesuai untuk mengelola perubahan teknik di perusahaan yang telah mengakumulasi kemampuan teknologi secara memadai. Dinyatakan keberhasilan pada tingkat proyek tergantung pada efektivitas integrasi antara spesialisasi, hubungan yang efektif dengan pihak luar serta kebutuhan yang sesungguhnya dari pelanggan. Namun faktor-faktor yang menentukan pilihan strategis perusahaan terhadap pilihan teknologi dan diversifikasinya sebelum itu belumlah dipahami secara mendalam.
Kegagalan dalam memahami karakteristik akumulasi inilah yang menjadi titik lemah kebijakan teknologi di Uni Soviet dan negara sekutunya, dimana fungsi litbang dan desain dipisahkan dari unit produksi baik secara geografis maupun organisasi. Bahkan kebijakan sejenis juga diikuti oleh negara berkembang dimana laboratorium dan lembaga milik pemerintah dibangun dengan mengharapkan hasil yang baik tanpa menyeimbangkan dengan kemampuan teknologi yang ada di perusahaannya.
d. Hubungan dan Jaringan Antarperusahaan
Meskipun peran perusahaan secara individu adalah penting, perusahaan tidaklah dapat diasumsikan mengakumulasi sendiri teknologinya dalam keterasingan. Perubahan teknik dihasilkan melalui interaksi yang kompleks dengan berbagai perusahaan lain. Beberapa melibatkan hubungan berantai antara para pemasok dan para pelanggan. Sebagian yang lain melibatkan kerjasama horizontal diantara para pesaing dan perusahaan penunjang lainnya serta lembaga penelitian milik publik. Dalam sektor industri yang dinamis, hubungan pengguna dan produser menjadi sangat erat. Bahkan dalam sistem ekonomi yang sentralistik pun, terdapat struktur hubungan yang erat antara pemasok dan perusahaan penggunanya. Sehingga dalam konteks ini, proses akumulasi kemampuan teknologi haruslah melibatkan usaha membangun berbagai macam struktur kelembagaan yang memungkinkan perusahaan berinteraksi dalam menciptakan dan meningkatkan efisiensi teknologi yang digunakan.
e. Sifat Kumulatif
Pembelajaran yang dilakukan oleh perusahaan, meskipun diperkuat oleh hubungan dengan perusahaan yang lain adalah bersifat kumulatif. Karena adanya sifat teknologi yang tacit dan spesifik, perusahaan pada dasarnya tidak dapat belajar secara serempak berbagai jenis teknologi dan sistem organisasinya atau mereka dapat begitu saja masuk ke bidang atau jenis teknologi yang sama sekali baru. Bahkan perusahaan sebenarnya menempuh sebuah trajektori tertentu dimana aktivitas pembelajaran sebelumnya memberikan arah pada perubahan teknik dan pengalaman sebelumnya menambah dan memperkuat stok sumber daya pengetahuan dan keahlian yang telah ada.
Sifat kumulatif teknologi mempunyai tiga implikasi penting. Pertama, perbedaan tingkat efisiensi teknik antar negara terjadi tidak saja karena perbedaan sumber daya yang tersedia atau hambatan masuk tetapi juga oleh perbedaan kemampuan teknologi yang diakumulasinya. Kedua, kemampuan teknologi di tingkat nasional tidak dapat dibangun secara cepat. Dan ketiga, laju dan komposisi akumulasi teknologi sebuah negara tidak hanya berpengaruh pada efisiensi pada jangka pendek tetapi juga pada pengembangan fondasi baru untuk daya saing di masa yang akan datang.
f. Ketidaksinambungan Dalam Perubahan Teknik
Karakteristik yang kumulatif tidaklah berarti perubahan teknik terus bersifat inkremental. Pada bagian tertentu terdapat ketidaksinambungan yang signifikan dimana melibatkan perubahan yang radikal dalam teknologi utama produk dan proses atau perubahan radikal dalam sistem arsitektur yang membutuhkan basis pengetahuan yang sama sekali baru untuk menciptakan daya saing. Namun demikian proses akumulasi teknologi yang selama ini dibangun seringkali mampu mengatasi hambatan ini, dengan melakukan antisipasi sebelumnya atau dengan berkolaborasi dengan pihak lain. Namun seringkali pula perusahaan tidak mampu lagi bertahan, dan trajektori teknologi kemudian diteruskan oleh perusahaan baru. Meskipun demikian, perusahaan baru tersebut tidaklah melakukan lompatan yang panjang dalam basis pengetahuannya, tetapi mengikuti trajektorinya sendiri menuju bidang pengetahuan yang baru.
g. Perusahaan Industri Sebagai Penghasil Sumber daya Manusia
Beberapa pandangan terhadap peran sumber daya manusia memberikan penekanan pada pendidikan dan pelatihan formal pada lembaga di luar perusahaan. Seringkali perusahaan juga dilihat sebagai pengguna sumber daya tersebut yang tergambar dalam istilah on the job training. Pandangan tersebut kurang menekankan pentingnya peran perusahaan dalam menghasilkan sumber daya manusia di dalam proses akumulasi kemampuan teknologi seperti pengalaman negara Jepang dan Jerman yang secara efektif mendapatkan keuntungan dari dinamika akumulasi kemampuan teknologi.
Pandangan lain menekankan pada learning by doing sebagai mekanisme yang penting dan pentingnya pengetahuan yang tacit menekankan pada aspek doing sebagai mekanisme pembelajaran. Namun demikian ada dua penjelasan yang perlu diperhatikan sehubungan dengan learning by doing ini. Pertama, melakukan sesuatu tidaklah mencukupi untuk belajar sesuatu yang lain, sehingga pengetahuan dan keahlian dalam melakukan aktivitas rutin tidaklah sama dengan yang diperlukan untuk melakukan perubahan teknik. Kedua, berbagai jenis aktivitas doing dalam akumulasi teknologi tidaklah secara sederhana merupakan proses yang didapat melalui kegiatan lain yang tujuannya jelas-jelas berbeda. Usaha akumulasi teknologi ini harus dilihat sebagai sebuah upaya yang berbeda yang sering bersifat spesifik, memerlukan biaya dan disengaja.
Sehingga dalam konteks ini, kontribusi perusahaan terhadap kemampuan sumber daya manusia tidaklah berbeda jauh dengan lembaga yang aktivitasnya khusus berhubungan dengan pendidikan dan pelatihan, meskipun keduanya tidak dapat saling menggantikan. Ada keahlian dan pengetahuan yang hanya didapat melalui pembelajaran di internal perusahaan. Karena manfaat penuh tidak dapat diperoleh dari usaha tersebut, maka disinyalir adanya investasi yang kurang dari sisi perspektif sosial dan juga individu perusahaan, sehingga intervensi kebijakan menjadi penting untuk mendorong usaha tersebut.
h. Komplementaritas antara Teknologi yang Diimpor dengan Usaha Akumulasi Teknologi Lokal
Teknologi yang diimpor dari negara lain merupakan elemen yang esensial bagi perkembangan industri di negara maju. Hal ini penting baik untuk mereka yang ingin mengejar menuju garis depan teknologi atau yang berada di dekatnya, sehingga terdapat proporsi perdagangan teknologi internasional yang lebih besar antara sesama negara maju dibanding antara negara maju dan berkembang. Dukungan yang kuat akan hal ini juga mencul dari data inovasi di negara maju banyak yang bersifat imitatif dan digunakan untuk memonitor, memodifikasi dan mengasimilasi teknologi yang ditemukan di negara lain. Fenomena ini memunculkan dua isu penting yaitu pertama, tidak ada perbedaan yang jelas antara aktivitas dan sumber daya yang diperlukan untuk kegiatan inovasi dan imitasi. Yang kedua, argumentasi bahwa mengimpor teknologi dan menciptakannya secara lokal sebagai alternatif untuk menghasilkan perubahan teknik tidak menggambarkan pengalaman di negara maju dimana impor teknologi dan usaha lokal bersifat komplementer.
2. Pasar, Pemerintah dan Institusi
a. Struktur Pasar dan Tekanan Persaingan
Studi-studi tentang pengaruh struktur pasar terhadap kinerja teknologi di negara maju tidaklah memberikan informasi yang memadai. Hal ini karena studi terakhir menunjukkan bahwa struktur industri bersifat endogen yang dipengaruhi oleh kesempatan teknologi dan tingkat manfaat yang didapat. Ketika keduanya tinggi, maka konsentrasi menjadi tinggi dan jenis perusahaan yang melakukan inovasi adalah yang besar sementara kalau kesempatannya tinggi dengan appropriabilitas yang rendah maka perusahaan yang berinovasi adalah perusahaan yang kecil. Namun demikian pentingnya tekanan persaingan sebagai insentif untuk melakukan akumulasi teknologi muncul dari studi daya saing yang dilakukan oleh Porter (1990) serta studi statistik aktivitas teknologi perusahaan besar dunia oleh Patel dan Pavitt (1992). Kurangnya persaingan ini pulalah yang menyebabkan perusahaan di negara komunis tidak mempunyai insentif untuk mengadopsi teknik produksi yang lebih efisien.
Pada masa industrialisasi di negara yang baru maju, pemerintahnya melakukan proteksi terhadap industri baru terhadap persaingan dengan negara lain yang telah lebih maju. Tingkat dan lamanya proteksi bervariasi namun hubungan antara proteksi dan pembelajaran masih belum banyak diketahui. Ada yang pendek dan ada yang panjang, namun seperti yang ditunjukkan dalam kasus industri otomotif di Jepang, lamanya proteksi menjadi penting dalam membangun kemampuan penguasaan teknologi.
b. Pemerintah dan Kegagalan Pasar : Pendidikan, Pelatihan dan Penelitian
Hampir semua pemerintah di negara yang berorientasi pasar bebas mempunyai kebijakan dasar yang mirip yang dimaksudkan secara eksplisit untuk mempengaruhi arah dan laju perubahan teknik yang dijustifikasi oleh adanya kegagalan pasar. Kebijakan tersebut meliputi memberlakukan berbagai standar teknis, penciptaan pengetahuan melalui penelitian serta difusi pengetahuan melalui pendidikan dan pelatihan. Terdapat eksternalitas yang signifikan dalam aktivitas tersebut dalam pengertian manfaat yang penuh tidak dapat diambil semuanya oleh perusahaan yang melakukan investasi, sehingga diperlukan peran pemerintah untuk mendorongnya. Diantara yang dilakukan adalah memberlakukan hak kekayaan intelektual dan memberikan dukungan finansial terhadap aktivitas litbang. Kontribusi pemerintah sangatlah besar dalam bidang pendidikan dan pelatihan. Namun demikian terdapat perbedaan dalam hal kinerja diantara negara maju, yang semakin kentara dalam tingkat pendidikan dan pelatihan dua pertiga populasi yang tidak mendapat kesempatan pendidikan tinggi.
c. Manfaat Ekonomi Penelitian Akademis
Teori konvensional banyak mengabaikan analisis tentang kontribusi ekonomi penelitian akademis. Pertama, banyak ekonom yang menggunakan model proses inovasi linier yang sederhana mengasumsikan manfaat dari penelitian akademis berupa informasi dalam bentuk publikasi yang menjadi input bagi aplikasi teknologi di industri. Kedua, para sosiolog banyak yang terfokus pada publikasi ilmiah sebagai hasil utama, kalau bukan satu-satunya, dari penelitian akademis. Kedua pandangan ini salah karena banyak studi yang menyatakan bahwa manfaat utama dari kegiatan penelitian bukanlah informasi dalam publikasi ilmiah melainkan pasokan sumber daya manusia yang mempunyai pengetahuan dan keahlian akan metodologi riset dan instrumentasi serta hubungan dengan jaringan profesional dan akademisi. Sehingga kebijakan yang bermaksud mengembangkan kapasitas penelitian akademis telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap akumulasi kemampuan teknologi meskipun secara tidak langsung dapat memberikan input yang dapat dilacak bagi aktivitas inovasi.
d. Intervensi Kebijakan dan Ketidaksinambungan Teknologi
Biaya dan resiko perubahan teknik dan pembelajaran teknologi bervariasi sesuai dengan jarak lompatan yang diinginkan dengan kompetensi teknologi yang sudah dimiliki. Hal ini menyebabkan pemerintah di negara maju mendukung penuh upaya untuk melakukan lompatan yang jauh dalam garis depan tingkat teknologi. Meskipun didominasi oleh kegiatan inovasi yang bersifat imitatif, negara industri yang baru majupun menghadapi risiko yang tinggi ketika mereka melakukan lompatan yang jauh menuju garis depan teknologi. Resiko ini dapat bersifat teknis maupun yang berhubungan dengan kinerja pasar. Berdasarkan studi perusahaan Jepang, tingkat resiko teknis tergantung pada ekspektasi tujuan pembelajaran, makin tinggi tujuannya, makin beresiko dan dapat mencapai lompatan pembelajaran yang tinggi (Nakaoka, 1987). Pemerintah Jepang dalam hal ini mendukung upaya pembelajaran yang beresiko ini dengan menyediakan bantuan keuangan untuk mengurangi resiko, memberikan dana pelatihan untuk keahlian tertentu dan memberikan akses pasar selama masa pembelajaran.
e. Komplementaritas Antara Infrastruktur Kelembagaan dan Perusahaan
Untuk mendorong proses difusi pengetahuan serta mendukung peran regulator pemerintah, seluruh negara maju membangun lembaga di luar perusahaan untuk menghasilkan pengetahuan dan informasi baru yang dibutuhkan oleh sektor industri. Lembaga ini meliputi yang bersifat publik dan semi publik seperti universitas, lembaga litbang pemerintah dan pusat penelitian yang disubsidi serta juga bersifat komersial seperti organisasi yang melakukan kontrak riset dan pusat penelitian yang didanai oleh perusahaan. Hasil dari lembaga ini menjadi input bagi perusahaan industri. Namun yang lebih penting adalah komplementaritas aktivitas inovasi di kedua jenis organisasi tersebut.
Sangatlah jarang infrastruktur kelembagaan ini menghasilkan inovasi yang langsung dapat diaplikasikan oleh perusahaan. Yang sering terjadi adalah mereka menghasilkan hanya sebagian dari perangkat pengetahuan dan keahlian yang diperlukan oleh perusahaan untuk melakukan perubahan teknik. Meskipun karakteristik hubungan perusahaan dan infrastruktur ini belum banyak diketahui, beberapa studi menunjukkan bahwa perusahaan yang bekerja sama dengan mereka adalah perusahaan yang intensitasnya litbangnya tinggi yang ingin mencari input yang spesifik untuk melengkapi usaha inovasi internal yang selama ini dilakukan.
f. Lembaga Finansial dan Manajemen
Adanya perbedaan yang menetap dalam hal akumulasi teknologi diantara negara maju dapat dijelaskan sebagian oleh perbedaan kondisi ekonomi makro. Pandangan yang lain mengemukakan adanya perbedaan karakteristik kelembagaan yang berhubungan dengan masalah finansial dan manajemen. Sehingga saat ini telah muncul pandangan yang menyatakan bahwa sistem keuangan yang berlaku di Jepang dan Jerman lebih efektif daripada sistem Anglo-Saxon dalam mencapai tujuan jangka panjang seperti akumulasi kemampuan teknologi. Demikian pula manajemen korporasi yang berorientasi keuntungan jangka pendek dan tingkat hirarkinya tinggi mendapat kritik yang tajam.
Inti sebenarnya dari diskusi di atas adalah bagaimana mendesain sistem kelembagaan yang mendukung mekanisme pasar dalam mengevaluasi dan mendorong proses akumulasi teknologi. Tambahan pula, karena konsekuensi dari ketidaksempurnaan dalam appropriabilitas, maka proses spesialisasi dan profesionalisasi akan mengakibatkan investasi yang lebih rendah dari yang diinginkan dalam hal pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh dua alasan yaitu pertama, potensi manfaat dari pembelajaran tidaklah lagi dapat cepat dirasakan dan bersifat kasat mata tetapi lebih bersifat jangka panjang dan tidak pasti. Yang kedua, pengetahuan yang diperlukan untuk mengevaluasi secara akurat manfaat pembelajaran menjadi semakin kompleks dan tidak seorangpun yang mengetahuinya.
Dalam konteks ini teknik penilaian proyek yang digunakan oleh para manajer dan pembuat kebijakan menjadi tidak memadai lagi karena sepenuhnya mengabaikan pilihan manfaat yang ditawarkan pembelajaran teknologi yang bersifat path dependent. Dari sisi lembaga finansial, haruslah banyak sarjana teknik yang dapat mengimbangi ‘rabun jauh’ yang diidap oleh para akuntan dan lulusan sekolah bisnis dalam memahami investasi teknologi.