Ada Valentino Rossi Di Televisi

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Jumat, 03 September 2010
Book Review » 09 Februari 2010 » Hit: 310
Ada Valentino Rossi Di Televisi
Dua keharusan ini datang bersamaan. Yang satu adalah keharusan mengetik karena tuntutan pekerjaan dan satunya lagi adalah keharusan menonton karena kesukaan. Dari dua keharusan ini manakah yang mesti didahulukan? Mestinya, saya mendahulukan pekerjaan. Tapi ternyata tidak. Ternyata saya mendahulukan yang kurang penting untuk kepentingan diri saya sendiri. Persoalannya adalah, kenapa ada persoalan penting yang tiba-tiba menjadi kurang penting dan yang kurang penting menjadi penting. Jawabannya karena ada Valentino Rossi sedang berlomba di televisi.

Siapakah Rossi ini sehingga kehadirannya begitu menggugah dan sanggup mengganggu jadwal penting saya? Toh walaupun dia menang balapan, saya tidak kebagian hadiahnya. Jika ia juara, saya juga tak ikut berprestasi karenanya. Dia itu bukan teman, tetangga apalagi saudara. Apapun yang dia kerjakan mestinya tak saya pedulikan karena bahkan mengenal saya pun dia tidak. Tapi, kenapa orang yang sama sekali asing ini sanggup menghentikan kegiatan mengetik saya.

Padahal, kalau Rossi tau, betapa penting pekerjaan saya karena mengetiklah saya bekerja dan menghidupi anak dan istri saya. Jika mutu hidup Rossi tergantung balapannya, mutu hidup saya pun tergantung dari ketikan saya. Mestinya saya lebih berkonsetrasi pada prestasi saya sendiri ketimbang prestasi dia. Saya fakir, betapa banyak dari kita yang lebih suka berkonsentrasi pada prestasi orang lain. Orang lain yang balapan, kita yang teriak-teriak di pinggir jalan. Orang lain yang lomba nyanyi, kita yang menghabiskan pulsa untuk kirim SMS.

Kita sudah harus rugi waktu, rugi tenaga, rugi biaya pula. Kita sudah rugi sedemikian rupa dan jika orang yang kita dukung kalah, kita masih harus ikut berduka. Jika dia menang, kita ikut gembira seolah-olah kita kebagian hadiahnya. Padahal sama sekali tidak. Ia sama sekali tidak mengerti kita, kenal pun tidak. Susah payah kita mendukungnya hingga ke tampuk juara, sementara prestasi kita tetap seperti sedia kala, tak menanjak. Sementara orang lain menjadi juara, kita tetap di sini, cukup sebagai pemandu sorak saja.

Oleh karena itu, mestinya ketika Valentino Rossi itu sedang balapan, saya harus ngebut dengan pekerjaan saya sendiri. Ini soal hidup dan mati. Tatapi, kenapa selalu ada orang-orang yang kita biarkan mengganggu laju prestasi kita seperti ini. Saya pun tak kuasa mengelak dari dorongan ini. Dorongan untuk menghentikan seluruh kegiatan diri sendiri, betapapun pentingnya, demi merayakan prestasi orang lain, tak peduli dia adalah orang asing dalam hidup kita, bukan tetangga bukan saudara. Tetapi, jika orang itu seperti Rossi, yang berani menikung dengan kecepatan tinggi, yang star dibelakang tapi finish paling depan, yang sanggup menyalip di tikungan, yang kalah di depan tetap selalu menang di belakang, tak peduli apapun tugas saya saat itu, saya rela berhenti untuk menghormati kemampuannya itu.

Saya dengan gembira menghentikan semua urusan demi melihat Muhammad Ali bertinju, Mariah Carey dan Celine Dion menyanyi. Muhammad Ali rela dipukuli si raksasa George Foreman sepanjang pertandingan dan membalas cuma beberapa pukulan untuk membuat si raksasa itu tumbang. Ketika Foreman bangun, bel pertandingan berdentang sebagai akhir pertandingan. Ia kalah dan gelarnya melayang.

“Butuh waktu setahun untuk kembali tidur nyenyak,” kata Foreman mengenang kekalahan yang menyakitkan itu. Saya berulang-ulang menonton rekaman pertandingan ini hingga hari ini. Dan Mariah Carey, dengan suara empat oktafnya, dengan pita suara tanpa cela, jika ia sedang menyanyi, kupu-kupu terbang pun rela berhenti.

Oleh karena itu, siapapun engkau, jika engkau memiliki prestasi sedemikian mempesona, akan saya rayakan setiap kali, dengan cara menghentikan sejenak kesibukan ini senang hati.

Begitulah cara Prie Gs, seorang budayawan cukup fenomenal, mengkritik keseharian kita yang seringkali mendahulukan satu kepentingan yang sebenanrnya tidak terlampau penting dalam memacu laju prestasi kita. Apa yang disampaiakan Prie Gs ini tentu saja nyaris terjadi pada siapapun, kesulitan memilih di antara dua keharusan!

Prie Gs dengan kesehajaan tutur bahasanya, cukup mampu menggugah alam bawah sadar kita betapa masing-masing kita acapkali tak kuasa menolak pengaruh-pengaruh luar yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan masa depan kita. Betapa, sesuatu yang tak penting, tiba-tiba menjadi penting.

Ada beberapa pesan yang mau disampaikan Prie Gs. Pertama, ia ingin menyajikan potret masyarakat kita saat ini banyak yang lebih mengurusi prestasi orang laing dari pada mengurus prestasi diri sendiri. Banyak anak muda yang rela bertengkar lantaran tim sepakbola kesayangannya tumbang di final liga champion. Dan tidak sedikit ibu-ibu yang lebih suka ribut bergunjing tentang pernikahan Tamara Blezinsky dan Mike Lewis ketimbang mengurus anak-anaknya yang sekolahnya berantakan.

Kedua, dalam masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah tentu saja kemiskinan seringkali datang menyapa mereka. Kemiskinan inilah yang membuat seseorang mals berfikir serius, yang ada malah kejenuhan-kejenuhan hidup. Teori sederhanya mengatakan, masyarakat yang jenuh cenderung tidak mampu berfikir secara rasional dan tak inovatif. Yang ada dibenaknya hanyalah fikiran-fikiran hura-hura yang penitng ia semakin tak terbebani hidupnya.

Ketiga, bisa saja apa yang dikemukan Prie Gs merupakan fenomena masyarakat pasca industri yang begitu gampang dipengaruhi kebiasaan dan budaya-budaya asing lewat siaran televisi. Apa saja yang ada di televisi akan cenderung diikuti demi mengejar kesenangannya semata. Sangat mudah kita menemukan orang yang mengidentifikasi dirinya dengan Cristiano Ronaldo, Leonel Messi, Ricardo Kaka, atau Michal Jackson sekalipun untuk memuaskan diri mereka. Banyak orang yang lebih bangga menjadi 'orang lain' ketimbang menjadi diri sendiri karena kecintaan berlebihan pada sang idola.

Tulisan Prie Gs ini merupakan refleksi pribadinya yang mungkin saja terjadi pada banyak orang. Ia hanya ingin mengingatkan, betapa banyak pekerjaan penting yang terbengkalai justeru karena kita lebih asyik dengan aktifitas lain yang sebenarnya tak ada kaitannya sama sekali dengan masa depan kita. Semuanya tertuang dengan lugas dalam bukunya ‘Catatan Harian Penggoda Indonesia’. Selamat membaca!! (Adi)