Environmental Update » 21 Agustus 2007 » Hit: 232
12 Desa Lagi Korban Lapindo
(JATAM, 15/08/07) Terik siang itu, tak dihiraukan Saidi (51th), untuk mengunjungi tambaknya yang terletak di sebelah utara kali Porong, desa Permisan – sekitar satu jam dari Surabaya. Setahun terakhir – sejak lumpur Lapindo meluap, hasil tambaknya menurun drastis.
Sebelum itu, setidaknya 6 kwintal hingga 1 ton udang windu bisa dipanennya dari 5 ha tambaknya. "Sekarang bisa panen 2 hingga 3 kwintal saja sudah syukur", katanya. Permisan, salah satu desa yang menjadi korban Lapindo berikutnya.
Setelah ulang tahun pertamanya - semburan lumpur Lapindo meluas ke desa Kali Tengah. Tak hanya itu, krisis air sudah mulai dirasakan warga pada 12 desa lainnya, di empat kecamatan – Candi, Tanggul Angin, Jabon dan Porong. Mereka adalah desa Kedung Peluk, Klurak, Gebang, Kupang (Candi), Banjar Panji dan Banjar Asri, Penatar Sewu, Permisan, Kedung Pandan II, Kupang (Jabon), Tambak Kali Sogo dan Plumbon. Lebih dari 5.000 KK menghuni kawasan tersebut.
Menurut Khudori - pengungsi di Pasar Baru Porong, "Perairan di kawasan tersebut, mulai dari sumur, selokan, sungai kecil hingga saluran irigasi sudah mulai terkena air lumpur. Air sumur tidak bisa dikonsumsi karena berbau busuk, kadang air berwarna hitam. Jika dibuat mandi, gatal di kulit. Untuk minum, warga terpaksa membeli air bersih, yang dibawa dengan tanki dari Prigen Pasuruan. Setiap jerigen berisi 30 liter air, warga harus membayar Rp. 1.500".
Lahan pertanian dan tambak tak luput mengalami krisis air. Banyak lahan pertanian tak bisa ditanami, demikian pula sekitar 7.762 hektar tambak di kawasan tersebut. Mereka tak berani lagi mengambil air di kali Porong, sejak lumpur dibuang ke kali Porong menuju laut. "Endapan lumpur telah mencapai kali Porong sepanjang 5,2 km", kata Rudy, pengungsi lainnya. Tambak-tambak tersebut dimiliki oleh sekitar 1.149 penambak dan menghidupi sekitar 1.272 orang pandega – penjaga tambak, belum termasuk pekerja tambak.
Saidi adalah salah satu pemiliknya. Dia memiliki seorang pandega dan 4 hingga 6 orang pekerja. Dalam setahun, tambaknya panen dua kali. Kata Saidi, "Jika udang windu yang dipanen besar-besar, keuntungan bisa berlipat. Sekilonya – isi 15 hingga 20 udang, harganya bisa mencapai Rp 70 ribu. Tapi jika kecil, sekilo berisi 35 hingga 55 udang – harga bisa turun sampai separuhnya". Selain hasil pokok, biasanya tambak juga memberikan hasil tambahan ikan-ikan lainnya, seperti Mujair, Kotok dan jenis lainnya.
Dari jauh, tambak Saidi terlihat suram. Sesuram hati pemiliknya yang gundah memikirkan tambaknya.
***
Sejak semburan lumpur panas, penduduk 11 desa pada 3 kecamatan harus mengungsi, meninggalkan kampungnya – yang tergenang lumpur Lapindo. Sekitar 49 ribu warga harus menghadapi dampak semburan lumpur panas Lapindo. Ganti rugi untuk pengungsi yang jumlahnya lebih dari 24 ribu orang, juga tak kunjung selesai, pemulihan sosial ekonomi semakin sulit dilakukan. Pada bulan Mei 2007, banjir lumpur telah menggenangi sekitar 717 ha lahan. Lahan Khudori salah satunya.
Khudori, dulunya tinggal di desa Reno Kenongo, membuka toko peracangan – berjualan beras, gula dan keperluan sehari-hari warga sekitar. Dalam sehari, transaksi jual beli di tokonya bisa mencapai Rp 800 ribu hingga Rp 1,2 juta. Biasanya, dari jumlah tersebut, Khudori mengambil 10% nya untuk kebutuhan harian keluarga,
Keluarganya juga memiliki 3 petak sawah – yang luasan totalnya mencapai 340 meter persegi. Pada masa panen, mereka bisa mendapatkan 11 kwintal gabah kering. Pada musim kemarau, lahan ini ditanami Semangka, Timun emas dan Garbis atau Belewa. Jika tidak ditanam sendiri, sawah mereka sewakan tahunan. Setahunnya harga sewa mencapai Rp 1,45 juta. Belakangan, banjir lumpur Lapindo, membuat lahan sawahnya tak bisa ditanami lagi.
Selain itu, keluarga Khudori beternak sapi, untuk digemukkan dan dijual. Khudori juga bekerja sebagai Satpam di sebuah pabrik plastik. Hasil kerja keras keluarga ini, cukup membanggakan. Mereka punya empat sepeda motor dan bisa menyekolahkan anak-anaknya.
Kini bagai titik balik, sejak rumah Khudori tenggelam lumpur panas Lapindo, sanak saudaranya yang berjumlah 19 orang harus mengungsi, meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Tinggal di pasar Baru Porong – sejak 8 bulan lalu.
Sejak itu, Lelaki tua ini harus pontang-panting menutupi kebutuhan keluarga. Apalagi, pengungsi hanya mendapat jatah makan ala kadarnya dari Lapindo. Satu bungkus nasi dengan lauk ikan, tempe kadang telur plus sedikit sayur, ditambah air mineral 200 ml – yang diberikan 3 kali sehari. Bahkan bayi dan balita pun, menunya tak berbeda dengan orang dewasa.
Berbagai cara dicoba Khudori. Setelah peracangannya bangkrut, dia mencoba berdagang biscuit. Sayang dalam 6 bulan, modalnya habis. Jika musim buah datang, dia ganti menjual buah-buahan, sesuai mongso – atau musim panen. Pekerjaan menjadi tukang bangunan juga dilakukan Khudori.
Sayang, besar pasak dari pada tiang. Dia terpaksa menjual satu persatu harta bendanya. Mulai sapi, hingga 2 sepeda motornya. "Jika dihitung-hitung, lebih 20 juta, saya habiskan selama tinggal di pengungsian. Belum lagi ngutang kanan kiri", kata Khudori.
Baik Khudori maupun Saidi, tak tahu – kapan kesusahan mereka akibat banjir lumpur panas Lapindo akan berakhir. (JM)






