Book Review » 16 Juli 2007 » Hit: 1047
"Brainware Leadership Mastery" by Taufik Bahaudin (2007)
Kita yang hidup di era the century of brain and millennium of mind, sekarang, diharuskan memiliki kemampuan memimpin yang cerdas dengan daya saing tinggi berkelanjutan (sustainable) yang mampu menjawab tantangan brain to brain competition in knowledge economy.
Leadership Mastery di sini menekankan tidak sekadar penguasaan pengetahuan secara konseptual (explicit knowledge), akan tetapi lebih dari itu, yakni kemampuan kepemimpinan yang sudah menjadi bagian dari pola pikir, sehingga akan tampil dan menjadi bagian dari perilakunya (embodied) sehari-hari.
Leader yang cerdas adalah leader yang mampu mengoptimalkan tiga kecerdasan yang ada pada dirinya, yakni IQ, EQ, serta SQ--SQ harus menjadi sumber atau dasar dari kecerdasan IQ dan EQ. Kualitas modal spiritualnya (SQ) yang tinggi menjadikan seorang leader memiliki kemampuan melakukan transformasi terhadap organisasi pada pola pikir dan perilaku orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.
Leader yang dapat menggabungkan SQ, IQ, dan EQ, hampir dapat dipastikan mampu menghadapi tantangan lingkungan turbulensi yang menghadang, sebagaimana ditunjukkan dalam hasil penelitian lapangan oleh Jim Collins (2001). Leader seperti ini bahkan mampu membuat perusahaan (organisasi) yang dipimpinnya tidak sekadar menjadi Good Company melainkan Great Company. Tak salah bila pemimpin semacam ini kita sebut sebagai pemimpin super (Super Leaders).
Nilai plus dari seorang leader yang berbasiskan SQ adalah dia memiliki jatidiri, dia tahu siapa dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan dia bangga tanpa berlebihan terhadap kelebihannya itu, dan menyikapinya dengan rasa syukur serta rendah hati yang tidak jatuh pada arogansi. Kelebihan—seperti talenta memimpin--yang dimilikinya ia maknai sebagai amanah yang diberikan Allah SWT. Dia mau belajar dari siapa saja, baik yang berhasil maupun yang gagal. Dia selalu menjadi pembelajar yang dari waktu ke waktu selalu menjadi kian lebih baik.
Super Leader, dari hasil penelitian para pakar, dan pengamatan penulis, adalah pemimpin yang telah memiliki Brainware Leadership Mastery. Dalam praktiknya, Super Leader dapat diukur dengan kemampuannya membangun dua rasa yang berlaku untuk dirinya sendiri maupun dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, terutama mereka yang dipimpinnya. Dua rasa itu adalah Rasa Saling Percaya dan Rasa Saling Hormat (mutual trust and mutual respect) yang tulus dan jujur antara dirinya dengan orang lain yang menjadi pengikutnya (followers) atau siapa pun yang berinteraksi dengannya.
Sikap memercayai dan menghormati the followers atau orang lain merupakan strategi agar perubahan yang kita harapkan dapat diterima dengan baik. Bila kita menerapkan strategi ini maka otak orang-orang tersebut (dalam organisasi) akan mendeteksi perilaku kita sebagai kawan (friend), bukan lawan (foe), sehingga membuat daya akseptasi mereka tinggi untuk menerima masukan.
Kualitas leader terefleksi dalam bentuk motivasi seseorang yang merupakan akumulasi dari keyakinan, nilai-nilai (prinsip), dan hal-hal mendasar lainnya dalam hidup dan kehidupan yang akan bermuara dalam pola pikirnya. Secara kasat mata dapat terlihat dalam perilakunya sehari-hari.
Perilaku sendiri merupakan refleksi dari dominasi otak. Jika dominasi otak seorang leader adalah gabungan rasa SQ, IQ, dan EQ, maka dapat dipastikan perilakunya akan dapat dinilai orang lain sebagai leader yang kecerdasan menonjolnya (strengths) adalah street smartness yang didukung oleh social smartness dan academic smartness. Perilaku leader terlihat dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah, berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain, menentukan sikap atau pilihan keputusannya terutama dalam situasi krisis.
Leader-lah yang memiliki peran paling besar dalam melakukan perubahan (the change) atau dalam bahasa Islam adalah "semangat hijrah". Perubahan dalam diri, dalam keluarga, dalam masyarakat, dan dalam kehidupan berbangsa-bernegara.
(Misroji)
Brainware Leadership Mastery by Taufik Bahaudin (2007)
We, who live in the era of the century of brain and millennium of mind, are required to have smart leadership ability with a high, sustainable competitive power that is able to answer the challenge of brain to brain competition in knowledge economy.
Here, Leadership Mastery emphasizes not only mastery of conceptual knowledge (explicit knowledge) but, more than that, also a leadership ability which is part of thinking pattern so that it will appear and become embodied in our daily life.
A smart leader is a leader who is able to optimize three intelligences: Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) and Spiritual Quotient (SQ) – SQ must be the fundament or basis of Intelligence Quotient (IQ) and Emotional Quotient (EQ). High Spiritual Quotient (SQ) moral qualities make a leader have an ability to transform his organization into the thinking patterns of his followers.
A leader who can combine SQ, IQ, and IQ can be ensured to be able to face his turbulence atmosphere challenge that hampers as shown by Jim Collins in his research (2001). A leader like this can even make the company (organization) that he runs not just a good company but also a great company. No wonder if we call this leader as Super Leader.
The added value of an SQ-based leader is that he has integrity, that he knows who he really is with all the advantages and disadvantages and that he is modestly, humbly and thankfully proud of his advantages and does not show them off with arrogance. He regards his advantages such as his leadership skills as a mandate from Allah. He is willing to learn from anybody, from achievers or from losers. He is always a good learner who becomes better from time to time.
Super Leader, based on many experts` research findings and my observation, is a leader who owns Brainware Leadership Mastery. In practice, there are two parameters to measure Super Leader`s ability to develop qualities between him and people who interact with him especially his followers. They are genuine and honest mutual trust and mutual respect.
Trusting and respecting the followers or other people are our strategies to make changes that we are carrying out accepted well. If we apply these strategies, these people’s brains (in the organization) will detect our behaviors as a friend not as a foe so as to make their acceptance power high to accept inputs.
These leadership qualities that are accumulations of belief, principles, and other fundamental matters in his life are reflected on his motivation and his thought and apparently seen in his daily behaviors.
Behaviors themselves are reflections of brain domination. If the leader`s brain domination is a combination of SQ, IQ, and EQ, it can be ensured that his behaviors will be regarded by other people as a leader whose strength is street smartness that is supported with social smartness and academic smartness. We can see his behaviors in the decision-making and problem solving, interacting with environment and other people, determining his stance especially in critical situations.
It is a leader who takes the most important roles in making changes – or in Islamic term – spirit of hijra. Changes in one`s self, in family, in society and in nation life.
Leadership Mastery di sini menekankan tidak sekadar penguasaan pengetahuan secara konseptual (explicit knowledge), akan tetapi lebih dari itu, yakni kemampuan kepemimpinan yang sudah menjadi bagian dari pola pikir, sehingga akan tampil dan menjadi bagian dari perilakunya (embodied) sehari-hari.
Leader yang cerdas adalah leader yang mampu mengoptimalkan tiga kecerdasan yang ada pada dirinya, yakni IQ, EQ, serta SQ--SQ harus menjadi sumber atau dasar dari kecerdasan IQ dan EQ. Kualitas modal spiritualnya (SQ) yang tinggi menjadikan seorang leader memiliki kemampuan melakukan transformasi terhadap organisasi pada pola pikir dan perilaku orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.
Leader yang dapat menggabungkan SQ, IQ, dan EQ, hampir dapat dipastikan mampu menghadapi tantangan lingkungan turbulensi yang menghadang, sebagaimana ditunjukkan dalam hasil penelitian lapangan oleh Jim Collins (2001). Leader seperti ini bahkan mampu membuat perusahaan (organisasi) yang dipimpinnya tidak sekadar menjadi Good Company melainkan Great Company. Tak salah bila pemimpin semacam ini kita sebut sebagai pemimpin super (Super Leaders).
Nilai plus dari seorang leader yang berbasiskan SQ adalah dia memiliki jatidiri, dia tahu siapa dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan dia bangga tanpa berlebihan terhadap kelebihannya itu, dan menyikapinya dengan rasa syukur serta rendah hati yang tidak jatuh pada arogansi. Kelebihan—seperti talenta memimpin--yang dimilikinya ia maknai sebagai amanah yang diberikan Allah SWT. Dia mau belajar dari siapa saja, baik yang berhasil maupun yang gagal. Dia selalu menjadi pembelajar yang dari waktu ke waktu selalu menjadi kian lebih baik.
Super Leader, dari hasil penelitian para pakar, dan pengamatan penulis, adalah pemimpin yang telah memiliki Brainware Leadership Mastery. Dalam praktiknya, Super Leader dapat diukur dengan kemampuannya membangun dua rasa yang berlaku untuk dirinya sendiri maupun dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, terutama mereka yang dipimpinnya. Dua rasa itu adalah Rasa Saling Percaya dan Rasa Saling Hormat (mutual trust and mutual respect) yang tulus dan jujur antara dirinya dengan orang lain yang menjadi pengikutnya (followers) atau siapa pun yang berinteraksi dengannya.
Sikap memercayai dan menghormati the followers atau orang lain merupakan strategi agar perubahan yang kita harapkan dapat diterima dengan baik. Bila kita menerapkan strategi ini maka otak orang-orang tersebut (dalam organisasi) akan mendeteksi perilaku kita sebagai kawan (friend), bukan lawan (foe), sehingga membuat daya akseptasi mereka tinggi untuk menerima masukan.
Kualitas leader terefleksi dalam bentuk motivasi seseorang yang merupakan akumulasi dari keyakinan, nilai-nilai (prinsip), dan hal-hal mendasar lainnya dalam hidup dan kehidupan yang akan bermuara dalam pola pikirnya. Secara kasat mata dapat terlihat dalam perilakunya sehari-hari.
Perilaku sendiri merupakan refleksi dari dominasi otak. Jika dominasi otak seorang leader adalah gabungan rasa SQ, IQ, dan EQ, maka dapat dipastikan perilakunya akan dapat dinilai orang lain sebagai leader yang kecerdasan menonjolnya (strengths) adalah street smartness yang didukung oleh social smartness dan academic smartness. Perilaku leader terlihat dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah, berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain, menentukan sikap atau pilihan keputusannya terutama dalam situasi krisis.
Leader-lah yang memiliki peran paling besar dalam melakukan perubahan (the change) atau dalam bahasa Islam adalah "semangat hijrah". Perubahan dalam diri, dalam keluarga, dalam masyarakat, dan dalam kehidupan berbangsa-bernegara.
(Misroji)
Brainware Leadership Mastery by Taufik Bahaudin (2007)
We, who live in the era of the century of brain and millennium of mind, are required to have smart leadership ability with a high, sustainable competitive power that is able to answer the challenge of brain to brain competition in knowledge economy.
Here, Leadership Mastery emphasizes not only mastery of conceptual knowledge (explicit knowledge) but, more than that, also a leadership ability which is part of thinking pattern so that it will appear and become embodied in our daily life.
A smart leader is a leader who is able to optimize three intelligences: Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) and Spiritual Quotient (SQ) – SQ must be the fundament or basis of Intelligence Quotient (IQ) and Emotional Quotient (EQ). High Spiritual Quotient (SQ) moral qualities make a leader have an ability to transform his organization into the thinking patterns of his followers.
A leader who can combine SQ, IQ, and IQ can be ensured to be able to face his turbulence atmosphere challenge that hampers as shown by Jim Collins in his research (2001). A leader like this can even make the company (organization) that he runs not just a good company but also a great company. No wonder if we call this leader as Super Leader.
The added value of an SQ-based leader is that he has integrity, that he knows who he really is with all the advantages and disadvantages and that he is modestly, humbly and thankfully proud of his advantages and does not show them off with arrogance. He regards his advantages such as his leadership skills as a mandate from Allah. He is willing to learn from anybody, from achievers or from losers. He is always a good learner who becomes better from time to time.
Super Leader, based on many experts` research findings and my observation, is a leader who owns Brainware Leadership Mastery. In practice, there are two parameters to measure Super Leader`s ability to develop qualities between him and people who interact with him especially his followers. They are genuine and honest mutual trust and mutual respect.
Trusting and respecting the followers or other people are our strategies to make changes that we are carrying out accepted well. If we apply these strategies, these people’s brains (in the organization) will detect our behaviors as a friend not as a foe so as to make their acceptance power high to accept inputs.
These leadership qualities that are accumulations of belief, principles, and other fundamental matters in his life are reflected on his motivation and his thought and apparently seen in his daily behaviors.
Behaviors themselves are reflections of brain domination. If the leader`s brain domination is a combination of SQ, IQ, and EQ, it can be ensured that his behaviors will be regarded by other people as a leader whose strength is street smartness that is supported with social smartness and academic smartness. We can see his behaviors in the decision-making and problem solving, interacting with environment and other people, determining his stance especially in critical situations.
It is a leader who takes the most important roles in making changes – or in Islamic term – spirit of hijra. Changes in one`s self, in family, in society and in nation life.






